;

Alarm Bencana Pangan di NTT

Lingkungan Hidup Yoga 20 Dec 2023 Kompas
Alarm Bencana Pangan di NTT

Tingkat konsumsi beras masyarakat NTT tahun 2022 mencapai 117,189 kg per kapita per tahun, melampaui rata-rata nasional. Tingginya kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi produksi beras di NTT. Upaya swasembada melalui program lumbung pangan pun belum mampu mengurangi ketergantungan. Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di NTT menyebutkan, produksi beras di daerah itu 430.948,5 ton pada tahun 2022, sedang kebutuhannya 642.367,53 ton. Dari tahun ke tahun, selalu dibutuhkan pasokan dari luar untuk menambal kekurangan tersebut. Ketika daerah pemasok mengalami gagal panen atau pengirimannya terlambat akibat cuaca buruk, masyarakat NTT kelabakan. Seperti awal tahun 2023, NTT mengalami krisis beras akibat kurangnya pasokan dari luar. Krisis beras menjadi salah satu peristiwa menonjol di NTT sepanjang tahun ini. Akibat kelangkaan itu, harga beras kualitas medium yang biasa Rp 13.000 per kg melonjak hingga Rp 18.000 per kg. Warga panik. Banyak rumah tangga, terutama kalangan menengah ke bawah, mengurangi jatah makan beras dari semula tiga kali sehari menjadi dua hingga satu kali.

Kenaikan harga beras terjadi ketika daya beli masyarakat NTT belum pulih. Pandemi Covid-19, badai Seroja, dan serangan virus demam babi Afrika memukul ekonomi masyarakat NTT. Krisis beras yang datang dengan mudah menumbangkan ketahanan mereka. Lewat Perum Bulog, operasi pasar digelar di sejumlah tempat. Dengan harga jual Rp 9.000 per kg atau separuh harga tertinggi di masyarakat, langkah ini sangat membantu. Namun, jatah pembeliannya tergolong sedikit, yakni 5 kg per keluarga. Di Kota Kupang, antrean memperebutkan jatah beras murah berlangsung di sejumlah titik. Di bawah terik matahari, mereka menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan kupon pembelian. Bahkan, ada yang sampai pingsan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Krisis teratasi setelah kiriman beras bantuan dari pemerintah pusat tiba dan beras yang dipasok pedagang mulai masuk. ”Sebagian besar beras yang berada di pasar NTT berasal dari Jatim dan Sulsel,” ucap Melky Bano (56), pedagang beras di Kota Kupang, Senin (11/12).

Padahal praktik pertanian lahan kering terbukti membuat masyarakat mandiri secara pangan. Pada Agustus 2023, Kompas menemukan keberhasilan praktik itu ketika datang ke komunitas masyarakat adat suku Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka nyaris tidak kekurangan makanan. Sepanjang tahun, mereka mengonsumsi padi dari ladang tadah hujan, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan berbagai jenis pangan lokal. Berbagai tanaman pangan itu ditanam secara tumpang sari di dalam lahan tadah hujan. Raja Boti, Usif Nama Benu, menyebutkan, makanan mereka tersedia hingga musim panen berikutnya. Ketika banyak daerah di NTT mengalami rawan pangan, masyarakat suku Boti masih berkecukupan. Sepanjang sejarah komunitas itu ada, belum pernah terjadi kelaparan. Usif juga secara tegas menolak bantuan beras pemerintah seperti dalam program beras miskin atau raskin, agar bantuan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, ujarnya dalam bahasa daerah Dawan. (Yoga)

Tags :
#Bencana #Pangan
Download Aplikasi Labirin :