UMKM
( 686 )Kopi Bintang Lima dari Tangan Kaki Lima
Empat gerobak kopi diparkir di sisi jalan kompleks
perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Di dalam boks gerobak itu
tersusun minuman kopi robusta racikan barista. Sungguh-sungguh ibarat di mal
atau kedai kopi langganan penikmat kopi kalangan menengah ke atas. Senin (13/11)
siang itu, suhu udara melampaui 32 derajat celsius. Sejak pagi, penjual kopi
yang kebanyakan anak muda menunggu kehadiran pembeli. Ada pelanggan setia dan
ada yang kebetulan melintas. Benny (23), pedagang kopi dari salah satu merek
berjejaring, menuturkan, kurang dari tiga jam, ia berhasil menjual 100 gelas
kopi. Harga per gelas Rp 8.000 untuk kopi susu biasa atau dicampur es. Mayoritas
pembeli adalah pegawai kantoran setempat. Ada juga tamu dari luar daerah yang
hendak mengikuti acara di sekitar tempat itu.
“Ada pejabat, seperti anggota DPR, yang mau ke situ,” kata
Benny menunjuk gedung berwarna merah putih, kantor KPK itu hanya berjarak beberapa
ratus meter dari tempat berjualannya. Benny pun bergurau, pejabat yang hendak
ke kantor KPK memang butuh kopi agar lebih fokus ketika menjawab pertanyaan
dari penyidik. Menurut Benny, tren menjual kopi premium di jalanan mulai ramai
satu tahun belakangan. Metode tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran
untuk mendekati pelanggan. Produsen minuman memilih keluar dari mal atau kedai
kopi yang selama ini dirasakan eksklusif bagi kalangan menengah ke atas. ”Kita
berusaha mendekati pelanggan. Pelanggan tidak perlu susah-susah menembus
kemacetan hanya untuk menikmati kopi di mal atau kedai. Pelanggan tidak lagi
bayar parkir. Harga kopi di sini juga jauh lebih murah dibandingkan di mal atau
kedai kopi premium,” kata Benny.
Deni Hardimansyah (39), salah satu karyawan swasta yang bekerja
di kawasan Kuningan, Jaksel, memilih kopi keliling premium sejak dua bulan yang
lalu. Dalam sehari, ia bisa meminum kopi sebanyak dua sampai tiga gelas. Ia
memilih kopi keliling premium lantaran kemasannya lebih mudah dibawa ke mana saja,
seperti saat menongkrong ataupun ke kantor. Kemasannya yang menggunakan gelas
plastik bertutup itu berbeda dengan kopi keliling biasa yang hanya menggunakan
gelas plastik tanpa tutupan. Deni tidak mempersoalkan lingkungan tempat ia
membeli kopi keliling premium. Ia tidak meminum kopinya di lokasi, tetapi
menikmatinya di tempat yang nyaman. Dari sisi rasa, menurut Deni, kopi keliling
premium tidak kalah dengan kopi yang dijual di gerai dengan harga yang lebih mahal.
Begitu mudahnya penikmat kopi merasakan kopi bintang lima dari tangan para
pedagang kaki lima. (Yoga)
UMKM MERAH PUTIH 2023 : Bank Mandiri & Jaringan Prima Targetkan 2.000 UMKM Go Digital Baru
Bank Mandiri terus mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat terus berkembang, memberikan nilai tambah, serta mampu untuk bersaing di pasar. Salah satunya upaya Bank Mandiri agar UMKM naik kelas yakni dengan menggelar kembali program UMKM Merah Putih 2023 bertajuk “Accelerate Growth Through Digital Innovation” hasil kolaborasi antara Bank Mandiri dengan PT Rintis Sejahtera (Jaringan Prima).Kegiatantersebut berlangsung pada 14—17 November 2023 di Assembly Hall, Menara Mandiri Lantai 9, Jakarta Selatan, dengan fokus pada peningkatan kemampuan adaptasi serta perkembangan bisnis terhadap ekosistem digital.Senior Executive Vice President Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Josephus K. Triprakoso menjelaskan bahwa tren belanja masyarakat telah beralih dari offline ke online sehingga para pelaku UMKM harus bisa menyesuaikan diri dengan tren baru supaya bisa menjual produk unggulan mereka kepada lebih banyak orang.
“Rangkaian acara UMKM Merah Putih merupakan wadah bagi para pelaku UMKM agar terus berkembang dan bertransformasi. Inisiatif ini juga selaras dengan program Pemerintah yang aktif untuk menyukseskan UMKM naik kelas dan Go Digital,” ujar Josephus dalam seremoni pembukaan di Jakarta, Selasa (14/11).Hadir pada seremoni pembukaan tersebut antara lain Staf Khusus III Kementerian BUMN Arya Sinulingga, Deputi Kewirausahaan Kementerian Koperasi UKM Siti Azizah, Penasihat Utama IIKBM Henny Darmawan, dan Advisor Marketing PT Rintis Sejahtera Hariyanto Djumali.Dalam program UMKM Merah Putih tahun ini diharapkan lebih dari 2.000 pelaku UMKM bisa Go Digital dan memaksimalkan teknologi untuk mendorong pertumbuhan bisnis ke depan yang mampu berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
Adapun UMKM yang terlibat antara lain puluhan UMKM Rumah Binaan (RB) Bank Mandiri dan Kementerian BUMN, mitra binaan Ikatan Istri Karyawan Bank Mandiri (IIKBM) dan Johnny Andrean Group serta alumni program Mandiri Sahabatku (MS) bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Bank Mandiri juga berkolaborasi dengan mitra e-commerceTokopedia untuk mendukung transformasi digital para pelaku UMKM yang tergabung dalam UMKM Merah Putih agar bisa berjualan secara daring di Tokopedia.
Tuntaskan Program Sertifikasi Halal UMKM
”Laga” Seru Pelaku UMKM di Luar Stadion Piala Dunia U-17
Tidak hanya pemain muda dari beberapa negara yang berlaga di Piala Dunia U-17, pelaku UMKM dari berbagai daerah tak kalah semangat ikut unjuk gigi. Pasangan suami-istri, Pratama Anggi Wibowo (30) dan Intan Ratnawati, percaya diri memasuki toko Bandung Kunafe di Soreang, Bandung, Jabar, Jumat (10/11) siang. Mereka membawa ratusan bungkus camilan stik keju dengan tiga varian rasa untuk dititipkan di toko oleh-oleh di samping Gedung Budaya Sabilulungan (GBS) itu. GBS vital selama Piala Dunia U-17 di Bandung pada 11-21 November. Keberadaannya menjadi pusat bus pengumpan atau shuttle penonton menuju Stadion Si Jalak Harupat, tempat laga digelar. ”Rencananya kami akan memasok hingga 5.000 bungkus aneka produk camilan selama Piala Dunia U-17,” kata Pratama, produsen berbagai produk camilan dan beragam kerajinan tangan itu.
Agus Asmara (52), produsen kopi luwak di Kabupaten Bandung, juga tak mau kehilangan peluang mencetak cuan. Ayah tiga anak ini berencana berjualan di tenda yang disiapkan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung di GBS. Selama dua hari, Agus dan lima karyawannya menyiapkan 100 kemasan produk kopi luwak dan arabika buatannya. Ia menempelkan merek Kopi Lembah Cimanong, merujuk perkebunan kopi milik sendiri seluas satu hektar di Ciwidey. Agus menjual kopi dalam bentuk biji sangrai dan bubuk siap seduh. Ia juga turut menjual minuman kop ”Kami menargetkan keuntungan hingga Rp 10 juta se- lama perhelatan Piala Dunia U-17. Jumlah itu tiga kali lipat dari penjualan daring dan ikut bazar,” tuturnya.
Di Surabaya, Jatim, penjualan jersei sepak bola tim Indonesia untuk Piala Dunia U-17 tak kalah menggeliat. Penjualan jersei tiruan tersebut berjarak 6-7 kilometer dari Stadion Gelora Bung Tomo. Stadion ini satu dari empat venue Piala Dunia U-17. ”Aduh, berat kalau lokasi jualan jauh begini. Semoga saja bisa banyak laku,” harap Deden Firmansah, penjual jersey Indonesia dari Bandung, Jumat petang, di Surabaya. Jersei tiruan tersebut dijual Rp 100.000-Rp 200.000. Kepala UPTD PLUT Kabupaten Bandung Dewi Windiani memaparkan, selama Piala Dunia U-17, UMKM akan difokuskan di area GBS. Pihaknya menyediakan 8 tenda yang bisa menampung 16 pelaku usaha. Bupati Bandung Dadang Supriatna menambahkan, penonton di Piala Dunia U-17 di Jalak Harupat diperkirakaan 10.000 orang tiap laga. Ia yakin ajang ini akan memberi manfaat bagi ekonomi warga. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menambahkan, di penjualan pernak-pernik Piala Dunia U-17, ada keterlibatan UMKM Surabaya. (Yoga)
Suka Duka Usaha Desa
Setelah tamat SMA, Nina Safitri bekerja di pabrik tapioka. Dua
tahun kemudian ia pindah ke pabrik pupuk organik, lalu berhenti karena menikah.
Terbiasa bekerja, Nina akhirnya memutuskan aktif dalam kelompok perempuan, melalui
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Program ini
bertujuan mengatasi kemiskinan di desa-desa dan memperluas lapangan kerja di
bawah naungan Kemendagri. Pada 2014 PNPM dibubarkan. Pemerintah Indonesia
membentuk Kemendes, PDTT untuk menangani masalah di perdesaan. ”Kami seperti
anak ayam kehilangan induk,” kata Nina, mengenang masa transisi itu. Ia lega
ketika Permendes PDTTi No 15/2021 menetapkan transformasi eks PNPM menjadi
badan usaha milik desa bersama atau disingkat bumdesma.
Nina kini Direktur Bumdesma Barokah Jaya di Kecamatan Baron,
Nganjuk, Jatim. Pada 2021, Bumdesma Barokah Jaya memperoleh bantuan modal dari
Kemendes PDTT untuk program peternakan terpadu.Ada hewan ternak, ada kebun.
Kotoran ternak diproduksi menjadi biogas dan kompos. Lingkungan akan terbebas
dari limbah. Lokasi peternakan diputuskan melalui musyawarah dengan 11 kepala
desa di Kecamatan Baron: di Agrowisata Onokabe, Dusun Kuniran, Desa Jekek. Luas
Onokabe empat hektar berada di tanah milik desa, yang disebut tanah bengkok.
Sebelas desa di Kecamatan Baron diminta pihak kementerian menyertakan modal
masing-masing Rp 100 juta dari dana desa untuk bumdesma. Program peternakan
diharapkan berjalan lancar dan desa-desa memperoleh manfaat. Tujuan
strategisnya adalah ketahanan pangan.
Usaha Bumdesma Barokah Jaya ada tiga, yaitu simpan pinjam,
yang praktiknya hanya meminjamkan, peternakan terpadu, dan kredit barang. Pengembalian
dana pinjaman tak memberatkan peminjam. Pemerintah memberi masyarakat modal tanpa
jaminan agar selamat dari jeratan bank kecil ataupun tengkulak. Ini tujuan
utama bantuan. Hal itu memengaruhi cara menagih, menurut Nina. ”Kalau menagih
pinjaman, tidak boleh kasar.” Bunga pinjaman dipatok 1,5 %. Bumdesma mengambil
1,2 %, sedangkan 0,3 % dikelola dan dikembalikan manfaatnya kepada kelompok
penerima pinjaman. Tantangan Bumdesma Barokah Jaya saat ini adalah membuka
lapangan kerja untuk warga. Meski UMKM cukup populer, penjualan terbanyak
didapat saat pameran produk saja. Sementara warga desa membutuhkan pekerjaan
yang hasilnya bisa didapat setiap hari. (Yoga)
CUAN DARI BISNIS KULINER DI KOTA MEDAN
Budaya kuliner masyarakat urban di Kota Medan menjadi
peluang bisnis bagi orang-orang yang jeli. Usaha makanan dan minuman menjamur
di mana-mana di kota ini, mulai dari mi balap, lontong, kedai kopi, hingga
warung teh susu telur. Hari masih gelap, Irsan Lubis (40) sibuk memasak mi balap
di Jalan Willem Iskandar, Medan, Sumu, Rabu (8/11) pukul 05.00. Ia buka lebih awal
menyasar pedagang di Pasar Raya MMTC. ”Harus pandai-pandai cari celah agar
usaha bisa jalan. Persaingan usaha kuliner di Medan itu sangat ketat,” kata
Irsan. Sudah lebih dari tiga tahun Irsan jualan mi balap. Dia berjualan di
Jalan Willem Iskandar, atau Jalan Pancing, karena di sana banyak pekerja,
mahasiswa, dan pedagang pasar. Tak kurang dari 15 pedagang mi balap berjejer di
3 kilometer Jalan Willem Iskandar, rasanya juga enak-enak. Tapi, Irsan optimistis
bisa bersaing. Dia berfokus untuk menang di rasa. Setelah mencoba beberapa
resep dan melakukan perbaikan-perbaikan, dia menemukan resep memasak yang lebih
pas dilidah dan di kantong masyarakat urban Medan. Tiga tahun membuka usaha, dagangan
Irsan kian diminati. Dalam sehari, tidak kurang dari enam baskom besar mi ludes
dia jual. Menu paling laris adalah mi balap standar. Beberapa memilih tambahan
telur dadar dengan tambahan harga Rp 3.000.
Target pasar dan kawasan memang sangat menentukan menu dan
harga mi balap. Mi balap seafood justru jadi favorit di warung Mi Balap Mail di
Jalan Gunung Krakatau. Maklum, targetnya masyarakat kelas menengah. Warung itu
berada di kawasan pusat bisnis. ”Salah satu menu favorit di warung kami ini
adalah mi balap seafood, tetapi soal harga kami sebenarnya tetap bersaing,”
kata Edu Gunanda (26), juru masak Mi Balap Mail. Mi Balap Mail adalah yang
paling laris di Medan. Dua juru masaknya tak henti-henti memasak mi balap dari
pagi sampai siang. Satu kuali besar mi bisa ludes dalam sekejap dan langsung lanjut
memasak mi lagi. Sekali memasak bisa sampai 16 porsi. ”Salah satu keunggulan
kami adalah telurnya yang banyak. Untuk sekali masak 16 porsi, kami buat hampir
40 butir telur. Jadi, satu porsi itu lebih dari dua butir telur orak-arik,”
kata Edu. Satu porsi mi balap standar dijual Rp 10.000. Sementara mi balap sea food
dijual Rp 22.000 per porsi. Namun, udang dan potongan cuminya terbilang banyak
untuk ukuran harga itu. Antropolog Universitas Negeri Medan, Erond Litno Damanik,
mengatakan, usaha kuliner memang tak pernah mati di tengah masyarakat Kota
Medan. Kuliner berkembang sesuai budaya dan kondisi sosiologis masyarakat kota.
(Yoga)
Gultik, dari Konsumen Kelas Bawah sampai ”Blink-blink”
Gulai tikungan atau gultik tak Cuma terkonsentrasi di Blok
M, Jakarta. Sudut-sudut lain turut dirambahi, hingga kota yang jauh dari
asal-usulnya. Murah meriah. Gultik bergeming dari gerusan zaman. Konsumennya
kelas jelata sampai perlente alias blink-blink. Mudah saja berkunjung ke Blok
M, Jakarta. Bisa dengan MRT, Transjakarta, atau ojek dan taksi daring. Pensiunan
ASN, Tuti Meindarwati (60), bersama lima temannya memilih naik Transjakarta
dari SCBD, Rabu (1/11), lalu berjalan kaki sebentar, tibalah di persimpangan Jalan
Mahakam dan Jalan Bulungan. Pusat gultik itu tak ubahnya jejeran pedagang kaki
lima yang mengokupasi trotoar. Puluhan pedagang mulai menggelar lapaknya pada
pukul 15.00 dan 16.00, tapi ada pula yang baru berjualan sekitar pukul 21.00.
Gultik mulai dijual pada tahun 1990-an. Suatu masa, pedagang di Blok M mengajak
pedagang lain ikut berjualan. Ramailah pedagang gultik di sana hingga sekarang.
Sepiring gultik biasanya berisi sedikit nasi, yang disiram
kuah gulai dengan beberapa potong daging. Beberapa pedagang juga menyertakan
gajih sapi. Setelahnya, nasi gultik dilengkapi segenggam kerupuk dan taburan
bawang goreng. Kuah santan yang dimasak bersama bumbu-bumbu halus, seperti
bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan daun jeruk, itu terasa gurih.
Dagingnya pun empuk. Dengan beberapa suapan saja, sepiring gultik porsi
minimalis tandas.”Rasanya enak dan yang penting, harganya pas untuk kantong
pensiunan,” kata Tuti. Selain nikmat, makan gultik di pinggir jalan juga punya
sensasi tersendiri. Pelanggan bisa makan sambil mengamati dinamika kota:
kendaraan yang tak henti berlalu lalang, deru mesin, bising tukang tahu bulat, pengemis
dan pemulung yang hilir mudik, hingga suara bel sepeda penjual kopi keliling
alias starling.
Gultik pun jadi makanan favorit muda-mudi yang habis jalan-jalan
di akhir pekan atau setelah menjejakkan kaki tempat hiburan malam. Maklum,
gultik biasanya buka hingga dini hari atau pukul 03.00-04.00. Pada hari biasa, gultik
mulai ramai pukul 20.00-21.00. Konsumen gultik datang dari beragam lapisan masyarakat.
Ada mahasiswa, pekerja kantoran, anak tongkrongan, artis, pejabat, hingga
atlet. Ada yang dating dengan pakaian kasual, ada pula yang makan gultik sambil
menenteng tas Dior dan Louis Vuitton. Walakin, semuanya melebur ketika duduk di
kursi plastik pedagang gultik. ”Food vlogger, artis, sampai atlet
timnas (sepak bola) yang lagi libur pernah makan di sini,” kata Bebek (27),
salah satu pedagang gultik di Blok M. Muhammad Gunawan alias Gugun, gitaris
Gugun Blues Shelter (GBS), misalnya, sudah memfavoritkan sentra gultik itu
untuk nongkrong. Sejak masih kuliah, awal 1990-an, sampai saat Gugun berpacaran
dengan Rohmah Dianingkarti alias Ansi, istrinya sekarang. Kebiasaan jajan
gultik berlanjut sampai Gugun Blues Shelter terkenal. (Yoga)
Jakarta dalam Sepiring Gultik
Sepiring gulai tikungan alias gultik di kawasan Blok M,
Jakarta Selatan, telah merekam rupa-rupa wajah Jakarta dalam tiga dekade
terakhir. Ia melalui krisis ekonomi, pandemi Covid-19, dan meniti pemulihan pasca-krisis
sambil jadi ”media darling”. Dapur Budi Nugroho (34) mulai menunjukkan tanda
kehidupan pukul 10.00 pagi, Jumat (3/11). Ada yang memasak nasi, menggoreng
kerupuk, menyiapkan 400 tusuk sate telur puyuh, kulit ayam, bakso, dan ampela.
Ada yang merebus daging sapi sampai empuk selama sekitar 1 jam, lalu dipotong
tipis-tipis dan ditumis dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah,
bawang putih, cabai merah, lengkuas, kemiri, ketumbar, dan kunyit. Setelah
bumbu meresap di daging, santan dimasukkan dan dimasak hingga mendidih. Itulah
pembuatan gulai khas Sukoharjo, Jateng. Walakin, Budi yang berasal dari
Sukoharjo ini nyaris tak menemukan warung nasi gulai di sana.
Pegiat sekaligus penulis produktif buku-buku kuliner Nusantara,
Kevindra Soemantri, menyebut gultik sebagai contoh sempurna kuliner urban sebuah
kota besar seperti Jakarta. Kuliner urban biasanya hadir sejalan dengan proses
migrasi. ”Mereka mengakui awalnya gultik dari seorang pedagang nasi gulai asal
Sukoharjo yang berjualan di sekitar Jalan Lumandau, tak jauh daritempat gultik
yang terkenal sampai sekarang,” ujar Kevindra. Budi sendiri pedagang gultik generasi
ketiga di keluarganya. Ia mewarisi usaha ini dari bapak mertuanya sejak 2016. Gultiknya
dijual di atas trotoar di persimpangan Jalan Mahakam-Bulungan, Blok M. Ia mulai
berjualan mulai jam pukul 16.00 sore hingga sekitar pukul 03.00-04.00 pagi.
Dalam sehari, mereka tidur hanya lima jam demi melayani para
warga Jakarta yang tak kunjung tidur. Jumlah porsi yang terjual pada hari biasa
dan akhir pekan pun bisa selisih hingga ratusan porsi. ”Contoh dari sate saja. Di hari biasa saya bawa 400
tusuk. Kalau malam Sabtu bisa 500-600 tusuk, dan kalau malam Minggu 750-800
tusuk,” ucap Budi. Walau jumlah konsumen gultik ratusan hingga ribuan orang, kondisi
penjualan gultik di Blok M dinilai belum kembali normal. Menurut para pedagang,
masa penjualan sebelum pandemi Covid-19 jauh lebih baik ketimbang sekarang.
Sebelum pandemi, tidak akan ada kursi kosong selama jualan. Setelah tengah
malam pun dagangan tetap diserbu konsumen. Adapun seporsi gultik dijual seharga
Rp 10.000. (Yoga)
Pembangunan Pasar UMKM di Lampung
Ekonomi Sirkular di Kampung Bandeng
Sejak pagi, sejumlah pedagang ikan bandeng hilir mudik di
lingkungan RT 017 RW 004, di Desa Kalanganyar, Sidoarjo, Jatim. Mereka
mengantarkan ikan-ikan segar kepada para ibu yang tengah berdiam di rumah
masing-masing, Minggu (29/10). Zulfa
(40), salah satu ibu rumah tangga, mengatakan sehari bisa mengerjakan jasa cabut
duri pada 25-30 ikan bandeng segar dengan upah Rp 1.500 per ekor. Jika
dikalkulasi, penghasilannya Rp 45.000 per hari. Hampir setiap hari ada pedagang
ikan yang memanfaatkan jasanya. ”Di sini ibu-ibu sudah punya pelanggan pedagang
ikan. Lumayan buat nambah uang belanja kebutuhan rumah tangga,” ujar Zulfa yang
sudah 13 tahun bekerja sebagai pencabut duri ikan di rumah.
Koordinator Kucari, akronim dari Kampung Cabut Duri Desa
Kalanganyar, Ahmad Arif Wibowo mengatakan, di lingkungan RT 017 RW 004 saja terdapat
36 usaha cabut duri dari total 40 keluarga. Usaha itu dikelola para perempuanibu rumah
tangga dengan bekerja di sela kesibukan mengurus suami, anak-anak, rumah, dan
kehidupan sosial masyarakat. ”Para ibu rumah tangga ini bisa memiliki
penghasilan sendiri dan menambah pendapatan keluarganya,” ucap Arif. Anggota
BPD Kalanganyar ini menambahkan, selain di RT 017 RW 004, usaha cabut duri juga
ditekuni sebagian besar ibu rumah tangga di desanya. Mereka tidak hanya
melayani pedagang ikan, tetapi juga para pemancing ikan di wisata kolam pemancingan.
Wisata pemancingan ikan jadi salah satu destinasi wisata unggulan di Desa
Kalanganyar. Obyek wisata ini terintegrasi dengan wisata kuliner ikan bakar dan
aneka makanan olahan bandeng, seperti otak-otak, bandeng presto, bandeng asap, sambal
bandeng asap, serta kerupuk ikan bandeng. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022









