UMKM
( 686 )Standardisasi Produk Impor Perlu Diperkuat
Pemerintah perlu memperkuat pengawasan pemberlakuan
ketentuan standardisasi produk impor yang akan dijual di dalam negeri, menyusul
penetapan harga minimum 100 USD barang impor yang boleh diperdagangkan di
platform e-dagang. Dalam jangka panjang, pemerintah juga perlu memiliki peta jalan
pengembangan industri dalam negeri agar
produk lokal bisa bersaing dengan produk impor. Menurut Dewan Pembina Asosiasi
E-Commerce Indonesia (idEA) Daniel Tumiwa, Jumat (24/11) di Jakarta, kebijakan
harga minimum 100 USD barang impor yang boleh diperdagangkan di platform
e-dagang sebenarnya bertujuan melindungi konsumen. Lantaran tujuannya positif,
pemerintah semestinya menguatkan pemberlakuan ketentuan standardisasi produk,
seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan ketentuan yang dikeluarkan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selain itu, lanjut dia, pemerintah sebaiknya
mulai menyusun peta jalan memajukan industri dalam negeri untuk mengembangkan
produk-produk impor yang laku keras diperjualbelikan di platform e-dagang.
Pengembangan itu mulai dari proses manufaktur, desain produk,
hingga pelibatan UMKM atau dengan industri kecil menengah (IKM). ”Para
pengelola platform e-dagang, seperti lokapasar, biasanya memiliki data produk apa
saja yang paling banyak laku dibeli konsumen. Pemerintah semestinya bisa menggandeng
mereka untuk menyusun peta jalan tersebut,” ujar Daniel. Hal senada disampaikan
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose
Rizal Damuri. Menurut dia, pemerintah sebaiknya sibuk meningkatkan kapasitas
industri dalam negeri, seperti memfasilitasi produk-produk yang diproduksi
industri besar ataupun UMKM/IKM bisa mendapatkan sertifikasi nasional dan
internasional. Ia meyakini bahwa belum banyak perusahaan dalam negeri mengantongi
sertifikasi produk bertaraf internasional. (Yoga)
Kemkop UKM Usulkan Syarat Hapus Tagih UMKM
Pemerintah terus menggodok aturan hapus tagih kredit UMKM. Terbaru, Kementerian Koperasi dan UKM mengusulkan tambahan potensi nilai hapus tagih mencapai Rp 10,96 triliun dari yang terdampak bencana.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki berujar, nilai ini dihitung berdasarkan debitur yang mengalami bencana gempa bumi 2006 dan pandemi Covid-19. Hanya saja, hal ini belum dibahas lebih lanjut dalam rapat kabinet. Dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Teten merinci, potensi dari bencana gempa bumi 2006 senilai Rp 30,22 miliar dengan 11 debitur. Nah, debitur tersisa ini berharap 100% kreditnya dihapus tagih. Teten menambahkan, pihaknya telah mengusulkan beberapa kriteria untuk memilih debitur yang bisa dilakukan hapus tagih UMKM. Di antaranya, piutang telah macet dengan masuk dalam golongan lima dan sudah dilakukan hapus buku. Minimal usia hapus buku sekitar 10 tahun.
Usul lainnya, debitur sudah membayar angsuran pertama dengan batas maksimal pinjaman Rp 500 juta. Dan, tidak ada agunan bernilai uang untuk dijual. Kriteria lain, debitur sudah meninggal dunia dan tidak memiliki ahli waris.
Sebelumnya, Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo mengaku belum bisa memproyeksikan berapa nilai kredit BTN yang bisa dihapus tagih. Per September 2023, BTN telah melakukan hapus buku kredit Rp 2,7 triliun. Sekitar Rp 300 miliar di antaranya kredit UMKM.
Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menimpali, implementasi hapus tagih perlu peraturan pelaksana. Ini untuk menentukan kriteria nasabah yang bisa dihapustagih.
Program Populis Pemutihan Utang UMKM
Kredit UMKM Bakal Dipacu
Industri perbankan berkomitmen mengoptimalkan penyaluran kredit
kepada sektor UMKM. Hal ini dilakukan melalui pengembangan infrastruktur
digital dan kebijakan pemerintah. Dirut PT Bank BTPN Tbk (Bank BTPN) Henoch
Munandar mengatakan, pihaknya akan terus mendorong penyaluran kredit kepada
segmen UMKM yang saat ini cenderung melambat. Meski ruang gerak yang dimiliki
tidak seleluasa bank pemerintah, BTPN optimistis dapat mendorong penyaluran kredit
UMKM, salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur digital. ”Menurunnya
penyerapan kredit usaha rakyat (KUR) ini mencerminkan kegiatan usaha di segmen
tertentu terbatas. Namun, pembiayaan mikro kami tahun ini justru meningkat
hampir 60 %. Kami akan terus meningkatkan penyaluran kredit UMKM dengan
berbasis infrastruktur digital (digital mikro) sebagai strategi mengatasi
kekurangan infrastruktur masing-masing bank,” katanya seusai acara BTPN
Economic Outlook 2024, di Jakarta, Rabu (22/11).
Peningkatan pembiayaan mikro yang cukup signifikan tersebut salah satunya karena dasar (base)
penyaluran kredit BTPN relatif lebih rendah ketimbang bank pemerintah lainnya.
Selain itu, transformasi digital melalui produk Jenius juga semakin mempermudah
korporasi dalam melakukan penetrasi terhadap segmen mikro. Henoch menambahkan, BTPN
optimistis pada 2024 dapat mencatatkan pertumbuhan produk digital mikro pada
level dua digit atau mencapai 40 %. Hal ini sejalan dengan ketentuan BI yang
mengamanatkan perbandingan kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit perbankan sebesar
30 %. Saat ini rasio kredit UMKM BTPN tercatat 29 persen. Komitmen serupa turut
digaungkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Selama periode
Januari-Oktober 2023, BRI telah menyalurkan KUR Rp 123,51 triliun kepada 2,7
juta debitor atau 63 % dari target yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp
194,4 triliun. (Yoga)
Penyaluran KUR 80 Persen dari Target
UMKM Malaysia Berkolaborasi di Indonesia
BOROBUDUR MARATHON, Pelari Antusias, Pelaku UMKM Dulang Rezeki
Borobudur Marathon 2023 Powered by Bank Jateng bakal digelar
di kawasan Borobudur, Magelang, Minggu (19/11). Sejumlah pelaku UMKM bidang kuliner
pun turut mendulang rezeki dari ajang tersebut Jumlah peserta lomba lari 10.000
orang dan terbagi ke dalam tiga kategori, yakni 10 kilometer, separuh maraton,
dan maraton. Pada Jumat (17/11) dan Sabtu (18/11) digelar race pack collection
atau pengambilan perlengkapan lomba Borobudur Marathon di Hotel Artos,
Magelang. Dalam kesempatan yang sama, digelar acara race expo yang menawarkan
beragam produk, termasuk sejumlah kuliner khas Magelang. Sejumlah pelari yang
ditemui saat race pack collection mengaku antusias mengikuti Borobudur
Marathon. Bahkan, beberapa pelari yang sudah tergolong lanjut usia pun menyatakan
siap memeriahkan Borobudur Marathon. Triono (65), salah seorang peserta
Borobudur Marathon kategori separuh maraton, mengaku siap berkompetisi dalam lomba
tersebut. Tahun ini merupakan kali kedua dirinya mengikuti Borobudur Marathon.
Tahun lalu, dia mengikuti kategori separuh maraton. Oleh karena itu, dia
menargetkan bisa finis dengan catatan waktu lebih baik pada tahun ini.
Sejumlah pelari memanfaatkan kesempatan mengikuti Borobudur
Marathon untuk berwisata. Arrahmana (27), pelari asal Tangerang Selatan, menyebut,
dirinya sempat berjalan-jalan dan menyantap sop senerek yang merupakan kuliner
khas Magelang. Sejumlah pelaku UMKM kuliner asal Magelang pun turut mendulang
rezeki dari antusiasme pelari yang mengikuti Borobudur Marathon 2023. Selama
berjualan di acara race expo Borobudur Marathon 2023, mereka mengaku mendapat pemasukan
yang lumayan. Salah satu UMKM asal Magelang yang ikut berjualan dalam acara itu
adalah Kupat Tahu Yu Nah. Pemilik usaha Kupat TahuYu Nah, KevinRivera (30),
mengatakan, antusiasme para pelari untuk membeli kuliner khas Magelang sangat
tinggi. ”Sampai saya enggak bisa duduk istirahat. Yang beli ada dari Lampung,
Banten, dan Kalimantan,” ujarnya. Kevin menuturkan, pada Jumat ada 74 porsi
kupat tahu terjual, dengan harga Rp 15.000 per porsi. Sementara pada Sabtu, ada
94 porsi terjual hingga siang. (Yoga)
Pemberdayaan UMKM Hadapi Sejumlah Tantangan
Prospek Bisnis Batu Akik
Momentum dari Pawone Kuliner
Rasa syukur terucap dari sejumlah pelaku usaha kuliner di
Magelang, Jateng, yang mengikuti program Pawone Kuliner Borobudur Marathon.
Selain mendapat pembinaan, mereka juga diajak berkeliling ke sejumlah kota
untuk menjajakan produk. Peluang untuk lepas landas mengembangkan bisnis pun
terbuka lebar. ”Ternyata jualan nasi goreng bisa membuat saya naik pesawat,”
kata Siti Nuryati Puji Prihatin (40), pemilik
usaha Nasi Goreng Magelangan Handayani, saat ditemui di Desa Deyangan, Kecamatan
Mertoyudan, Magelang, Jateng, Selasa
(24/10). Puji bersama suaminya, Rokhman (45), sehari-hari berjualan nasi goreng
di rest area Desa Deyangan sejak 2016. Keduanya berjualan pukul 17.00-24.00.
Dalam sehari, mereka bisa menjual 30 porsi nasi goreng dengan harga Rp 15.000-Rp
17.000 per porsi. Sejak 2019, Puji dan Rokhman ikut serta dalam program Pawone
Kuliner Borobudur Marathon. Program itu bagian dari lomba lari Borobudur Marathon
yang digelar atas kerja sama Pemprov Jateng, Bank Jateng, harian Kompas, dan
Yayasan Borobudur Marathon.
Setelah bergabung dengan program Pawone Kuliner, usaha Puji
dan Rokhman mengalami lompatan. Sebab, selain mendapat pembinaan dari chef profesional,
peserta program itu juga diajak berkeliling ke sejumlah kota untuk memeriahkan
acara Bank Jateng Friendship Run, kegiatan lari bersama untuk menyambut Borobudur
Marathon 2023. Pada 2022, Puji dan Rokhman diajak ke Semarang, Jakarta, dan
Makassar untuk berjualan di sela-sela acara Bank Jateng Friendship Run. Pada
tahun ini, mereka diajak ke Surabaya, Makassar, Banjarmasin, dan Palembang. ”Di
Surabaya, dagangan kami laku 500 porsi, di Makassar 375 porsi, serta di
Banjarmasin dan Palembang masing-masing 500 porsi,” ucap Puji. Puji bersyukur
karena hasil berjualan nasi goreng itu bisa menyekolahkan
kedua putranya di pondok pesantren.
Vice GM Event Harian Kompas Budhi Sarwiadi mengatakan,
program Pawone Kuliner Borobudur Marathon diinisiasi mulai 2018. Sejak itu,
total ada 35 pelaku UMKM kuliner yang dibina. ”Dari awal, kami mendampingi
tidak hanya dari produk, tetapi juga dari pelayanan dan pengelolaan sehingga
mereka merasakan manfaat,” katanya.Sejumlah pelaku UMKM kuliner akan berjualan
dalam rangkaian acara Borobudur Marathon 2023 Powered by Bank Jateng, yakni
saat pengambilan perlengkapan lomba (race pack collection) pada 17-18 November
dan saat lomba, 19 November 2023. ”Di rangkaian acara itu, mereka diarahkan
sebagai entrepreneur murni. Kami sediakan tempat dan promosinya, mereka
menyiapkan lain-lainnya sendiri. Ini ajang mereka untuk tumbuh,” kata Budhi. Peluang
terbuka, siap dimanfaatkan dan lepas landas menjadi pelaku UMKM yang sukses. (Yoga)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









