UMKM
( 688 )MINGGU PAGI DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN
Di sepanjang Gang Lurung Cilik, Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi,
Jatim, tak jauh dari balai desa, ibu-ibu penjaja makanan dan pengunjung
sama-sama menebar bahagia. Saling sapa dan tersenyum ramah, berbalut canda. Di kanan-kiri
gang, deretan lapak kuliner berjajar rapi di sepanjang gang yang memiliki lebar
2 meter. Dagangan dipajang di atas meja lapak dengan sederhana. Ada yang
menuliskan nama jualannya di atas kertas, dan ada yang lebih memilih menjelaskan
langsung saat ada pembeli mendekat. Ibu-ibu penjual di pasar jajanan Kampung
Osing Kemiren pun melayani pembeli dengan berdandan rapi, mengenakan kebaya
warna hitam, dan kain batik sebagai bawahan. Sangat memikat hati. Desa Kemiren adalah
salah satu desa wisata adat di Indonesia.
”Silakan, ada pecel pithik (pecel ayam), ada semanggi, ada kue
apem gula aren juga,” sambut Raja Onah alias Mak Onah (53), warga Desa Kemiren,
yang menjadi salah satu penjual di pasar jajanan Osing, Minggu (19/11). Mak
Onah memiliki banyak pelanggan, hampir tiap hari Minggu, pelanggannya menyempatkan
datang dari pelosok Banyuwangi atau bahkan dari luar kota. Salah satu
pengunjung, Didik Enggot (60), warga yang rumahnya di selatan Banyuwangi,
daerah Bangorejo, berboncengan motor dengan istrinya sejauh 50 km, untuk menikmati
kuliner Osing di Desa Kemiren. Didik bercerita bahwa dia sudah sering memesan pecel
pithik pada Mak Onah. Selain harga terjangkau, masakan Mak Onah dinilainya
cocok di lidah. Sebelum pulang, Didik meminta jajanan tradisional seperti apem
gula aren, cucur, dan serabi untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk
keluarganya di rumah. Setidaknya Didik menghabiskan uang sekitar Rp 100.000.
Belum dia membeli es dan camilan di lapak lain.
Dedi Wahyu Hernanda (30), pengarah pasar Kampung Osing,
bercerita bahwa pasar tersebut mulai muncul tahun 2018, diinisiasi Kementerian
Pariwisata. ”Awalnya hanya berjualan makanan, kemudian tahun 2019 kami tambah
dengan spot hiburan atau budaya seperti angklung paglak dan lesung, serta yang instagramable
sehingga pengunjung lebih bersemangat datang,” kata Dedi. Selain orang
berjualan, memang ada sekelompok pemusik memainkan alat musik lesung untuk
menghibur para pengunjung di pasar jajanan tersebut. Di pasar jajanan kampong Osing,
setidaknya ada 20 penjual jajanan dan 23 penjual nasi. Pendapatan total dalam
sehari (selama lebih kurang 4 jam) bisa mencapai sekitar Rp 70 juta. Dedi
mengatakan, pasar tersebut sebenarnya dibuat untuk memberikan pemasukan tambahan
bagi warga Kemiren yang sehari hari bertani. Namun, lama-lama pasar itu justru menjadi
pasar wisata. Pedagang jajanan dibebani pajak Rp 5.000 dan pedagang nasi
terkena pajak Rp 10.000 per jualan. Dari uang pajak itu, dalam setahun, kami
akan sumbangkan 50 % untuk Bumdes (badan usaha milik desa),” kata Dedi. Sisanya,
dana kas akan digunakan untuk operasional pasar tersebut. (Yoga)
Memperkuat Ekosistem Usaha Koperasi & UMKM
Tantangan ekonomi global datang silih berganti dan makin berat pada masa mendatang. Di antaranya terjadi disrupsi teknologi, residu pandemi Covid-19, perubahan iklim, perang Rusia-Ukraina, dan yang paling menyedihkan perang Israel dan Palestina. Patut kita syukuri, perekonomian Indonesia sudah kembali pulih dan stabil. Kendati pada kuartal III/2023 terjadi perlambatan, ekonomi masih tumbuh 4,9% YoY (BPS, 2023). Ini tidak lepas dari peran UMKM dan koperasi. Namun, kita patut waspada dengan terus menjaga inflasi jangan sampai melambung tinggi yang akan mengancam daya beli masyarakat. Menurut Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, jalan utama agar ekonomi Indonesia tetap kokoh adalah dengan pengembangan UMKM dan koperasi yang terintegrasi dan terencana, serta harus keluar dari jebakan pendekatan survival ke pendekatan kewirausahaan. Adanya PP No. 7/2021 makin berpihak kepada UMKM dan Koperasi, yakni perizinan sederhana, regulasi tidak tumpang-tindih, akses pembiayaan mudah dan murah, on boarding ke digital, perlindungan hukum, dan berbagai insentif lainnya. Pemerintah juga serius dalam pengembangan kewirausahaan nasional dengan menerbitkan Perpres No. 2/2022 tentang Kewirausahaan dengan target meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95% pada 2024 atau 8% pada 2045. Ini menjadi tantangan besar, karena rasio kewirausahaan kita masih di bawah 3%. Pada koperasi, ekosistem terus dibangun melalui pendampingan digitalisasi, berbasis komoditas, dan adanya pembiayaan murah. Pendampingan dilakukan melalui lembaga inkubator; kemudahan administrasi dan digitalisasi perizinan Koperasi; serta pengembangan sistem digitalisasi bagi Koperasi. Kemitraan diperkuat melalui pengembangan rantai nilai industri melalui kemitraan usaha kecil dengan usaha besar sesuai amanat UU Cipta Kerja. Kemitraan diperluas awalnya hanya enam BUMN menjadi 17 BUMN, begitupun dengan Swasta. Idealnya, produk UMKM haruslah menyuplai industri pada core bisnis utamanya. Misalnya di Jepang industri otomotifnya butuh baut, hal itu dikerjakan oleh UMKM-nya. Jangan usaha kesehatan, tapi yang dibina UMKM kerajinan, sehingga terkesan ini hanya pelepas tanggung jawab perusahaan. Tantangan besar kita bagaimana menggelorakan bangga dengan produk buatan sendiri. Jangan sampai anak-anak negeri bangga memakai baju buangan atau bekas dari luar negeri. Dari sisi pembiayaan dan investasi dilakukan melalui perluasan akses investasi UKM melalui securities crowd funding, saham dan sukuk, pendampingan KUR klaster dan kecil, serta pembiayaan ekspor UKM oleh BNI Xpora dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.
Buka UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023, Presiden Joko Widodo Apresiasi Keberpihakan BRI Majukan UMKM
Komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dalam mendorong pemberdayaan dan pendampingan pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM, memperoleh apresiasi tinggi dari Presiden Joko Widodo.Saat menghadiri pembukaan UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023 yang menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-128 Bank Rakyat Indonesia (BRI), Presiden Jokowi menegaskan peran penting pelaku UMKM sebagai penopang ekonomi nasional. “61% PDB nasional disumbang oleh UMKM dan 97% tenaga kerja di Indonesia diserap oleh UMKM. Oleh karenanya, saya menghargai dan mengapresiasi event ini, karena produk yang ditampilkan dikurasi sangat baik. Kemasan dan branding serta yang paling penting BRI mempertemukan UMKM dengan para buyer,” kata Presiden.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menekankan pen tingnya pelaku UMKM naik kelas, lebih terampil dalam pemanfaatan teknologi atau go digital, dan mampu menembus pasar internasional atau go internasional. “UMKM harus mampu menguasai pasar lokal namun tidak melupakan pasar global,” kata Presiden Joko Widodo.Senada dengan Presiden, Menteri BUMN RI Erick Thohir yang turut hadir pada acara tersebut mengungkapkan berbagai program yang telah diterapkan oleh BRI, termasuk program pemberdayaan seperti UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023, terbukti sukses memutar perekonomian.
Melalui program tersebut diharapkan menum buh kembang kan pelaku UMKM dan meningkatkan ekspor nasional. BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-5 dengan mengambil tema “Crafting Global Connection” atau Merakit Koneksi Global.Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan program UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023 menjadi langkah konkret perseroan sebagai lembaga keuangan yang turut bertanggung jawab memajukan UMKM Indonesia.
Dalam UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023, BRI mengajak 700 UMKM yang telah melewati proses terkurasi.Terdapat lima kategori UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR tahun ini yang dapat berpartisipasi yakni Home Decor & Craft, Food & Beverage, Accessories & Beauty, dan Fashion & Wastra, serta Healthcare/Wellness.
Buka UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2023, Presiden Joko Widodo Apresiasi Keberpihakan BRI Majukan UMKM
"KEUMAMAH” ACEH, MENGOLAH IKAN BUANGAN JADI BERKELAS
Pengolahan ikan menjadi keumamah atau disebut ikan kayu di
Provinsi Aceh diwariskan secara turun-temurun. Memanfaatkan ikan ”buangan” dari
pasar ekspor dan domestik, keumamah tetap tidak kalah pamor. Usaha ikan olahan
yang diberi nama Puteh Meulu di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh,
ini telah berusia 45 tahun. Meski dianggap kuliner tradisional, keumamah Puteh
Meulu laku keras di pasaran. Bahkan, pada momen tertentu tidak mampu memenuhi
permintaan. ”Ikan-ikan yang tidak lewat ke pabrik karena kepalanya putus atau
koyak kami beli untuk diolah menjadi keumamah,” ujar Mukhtar (42), pengelola usaha
Puteh Meulu, Selasa (5/12). Pagi itu, Mukhtar menjemur ikan tongkol di atas jaring
kawat, untuk bahan baku keumamah.
Keumamah mampu bertahan hingga setahun. Ikan-ikan tersebut
dibeli dari Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo yang berjarak 1 km dari
lokasi usaha Puteh Meulu. Setiap pagi, Mukhtar memburu ikan segar ke pelabuhan.
Meski dianggap ikan buangan, ikan tersebut masih segar karena baru dibongkar
dari kapal. Untuk menghilangkan bau amis, ikan itu dilumuri garam dan jeruk
nipis, lalu direbus 30 menit menggunakan kayu bakar. Saat perebusan, Mukhtar
menambahkan rempah, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang putih. Ada
satu rempah khusus dalam keumamah Aceh, yakni asam sunti alias belimbing wuluh
kering. Ikan yang sudah direbus lalu dibelah dan tulangnya dipisahkan. Kemudian
ikan-ikan itu dijemur di bawah terik matahari langsung selama tiga hari.
Setelahnya, ikan tersebut mengeras dan siap dipasarkan. Satu kg keumamah Puteh
Meulu dijual Rp 35.000. Sekali produksi mencapai 35 kg. Namun, produksi
tergantung ketersediaan ikan segar di pelabuhan. (Yoga)
Kredit Bermasalah UMKM Meningkat
Rasio kredit bermasalah pada segmen UMKM merangkak naik menjelang
berakhirnya masa restrukturisasi kredit Covid-19. Kendati demikian, industri
perbankan dinilai cukup tangguh dalam memitigasi potensi yang muncul tersebut. Mengutip data Statistik Ekonomi dan Keuangan
Indonesia Oktober 2023, penyaluran kredit UMKM oleh bank umum pada September
2023 tercatat tumbuh 8,33 % secara tahunan dengan outstanding mencapai Rp 1.426
triliun atau 20,65 % terhadap total kredit perbankan. Di sisi lain, rasio
kredit bermasalah (non-performing loan/ NPL) kredit UMKM selama periode tahun
kalender terlihat merangkak naik hingga berada di level 3,87 % pada September
2023.
Pada akhir tahun 2022, NPL kredit UMKM berada pada level
3,41 %. Ekonom senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia
(LPPI), Ryan Kiryanto, Selasa (5/12) berpendapat, kenaikan NPL kredit UMKM
tersebut diduga akibat kinerja sektor UMKM yang belum mampu beradaptasi dengan
perubahan dunia bisnis, terutama digitalisasi. Selain itu, kualitas produk
turut berpengaruh terhadap daya saing pelaku UMKM. ”Semua itu berujung pada ketidakmampuan
debitor UMKM memenuhi kewajibannya dan terjadilah NPL yang harus ditanggung
oleh bank. Maka, bank harus membimbing dan membina debitor UMKM-nya agar dapat menyesuaikan
diri dengan perubahan sehingga pelaku usaha lebih tangguh dan mampu mencetak
keuntungan,” tuturnya. (Yoga)
2024, Pemerintah Optimistis 30 Juta UMKM Lakukan Transformasi Digital
Cerita Tali di Karama
Desa Karama di Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar,
Sulawesi Barat, punya kisah tentang tali. Ini tentang limbah tali yang diolah kembali
menjadi tali baru dan sebagian besar dikerjakan kaum perempuan, yang sudah
dilakoni sebagian warga selama puluhan tahun. Konon, penamaan Paotere,
pelabuhan pendaratan ikan terbesar di Makassar, terinspirasi dari pekerja tali
ini. ”Otere bahasa Makassar yang berarti tali. Paotere adalah pembuat tali. Ini
merujuk pada pembuatan tali yang saat itu banyak dilakukan warga Tinambung di
Paotere. Dulu, mereka mengerjakan tali di sana. Lama kelamaan dibawa pulang dan
dikerjakan di kampung,” kata Ridwan Alimuddin, pegiat literasi yang juga
kelahiran Tinambung. Limbah tali yang diolah umumnya tali bekas kapal yang berasal
dari berbagai pelabuhan. Tali diurai untuk dipisahkan bagian yang rusak. Membuat
tali baru dilakukan dengan memilin bagian yang masih bagus menjadi untaian tali
kecil.
Selanjutnya tali kecil ini dipilin lagi dan disatukan hingga
menjadi tali berukuran besar. Pengerjaan ataupun alat yang digunakan sederhana.
Di Desa Karama, kaum perempuan berperan besar dalam usaha limbah tali ini.
Mereka bekerja berkelompok dengan jumlah 6-8 orang per kelompok, sejak pagi
hingga pukul 17.00, rata-rata setiap kelompok menyelesaikan belasan hingga puluhan
rol tali per hari. Satu rol berukuran panjang antara 80-100 meter. Umumnya
limbah tali didatangkan oleh juragan atau pemilik usaha tali. Mereka yang mengupah
para pekerja dan kemudian memasarkan tali baru yang dihasilkan. Tali dari limbah
ini dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk kebutuhan rumpon serta peruntukan
lain. Upah pekerja tali umumnya Rp 50.000-75.000 per hari, bergantung berapa
rol yang diselesaikan. Bagi perempuan di Karama, upah ini sangat berharga untuk
membantu keuangan keluarga terutama saat suami-suami mereka melaut
berbulan-bulan ke pulau lain. (Yoga)
*Lampu Kuning” Menjamurnya Usaha Mikro
Ekonomi negara ini dimotori oleh usaha mikro yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke. Mereka ada di mana-mana di keseharian masyarakat. Ada warung
andalan yang saban hari disambangi ketika stok telur dan minyak di rumah habis.
Tukang pangkas rambut langganan yang sudah paham betul gaya dan kemauan kita.
Penatu (laundry) kiloan yang dengan sigap mengantar-jemput tumpukan baju kita. Para
pelaku usaha mikro ini, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM pada tahun
2021, mencapai 99,6 % dari total jumlah usaha di Indonesia yang sebanyak 64,2
juta unit. Jumlah usaha mikro mendominasi dengan 64 juta unit, sedangkan usaha kecil
193.959 unit, usaha menengah 44.728 unit, dan usaha besar hanya 5.550 unit.
Kajian ”Bangkit dan Berjuang: Potret Kondisi UKM di Indonesia” oleh The SMERU Research
Institute pada Juni 2023 mengibaratkan, untuk setiap 1.000 populasi Indonesia,
terdapat sekitar 242 usaha mikro. Mereka memiliki asset atau modal di bawah Rp
1 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) serta omzet di bawah
Rp 2 miliar per tahun.
Pada 2022, UMKM berkontribusi 61,9 persen terhadap total PDB
nasional. Usaha mikro menjadi penyumbang terbesar kedua (37,4 %), mendekati kontribusi
usaha besar (39,5 %). Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, selama
periode 4 Agustus 2021-27 November 2023, muncul 11,67 juta investasi baru di
skala mikro dan kecil (56,1 % dari total investasi. Sekilas, menjamurnya usaha mikro
terkesan positif karena bisa membantu menciptakan lapangan kerja baru dan kerap
dilihat sebagai solusi mengatasi problem pengangguran yang tinggi sekaligus pertanda
bangkitnya kesadaran warga untuk menjadi wirausaha. Menteri Koperasi dan UKM
Teten Masduki telah berkali-kali mengingatkan pemerintah agar tidak cepat berbangga
diri ketika usaha mikro tumbuh pesat. Sebab, penambahan usaha mikro bukan
indikator keberhasilan, melainkan pertanda gagalnya Indonesia membangun
industri dan ekonomi formal untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak dan
layak. Mengutip laporan the SMERU Research Institute, negara-negara dengan
pendapatan tinggi cenderung memiliki tingkat usaha mikro atau berusaha sendiri
(self-employment) yang rendah karena pekerja sudah dapat terserap sebagai pegawai
di lapangan usaha formal. (Yoga)
Peluang untuk UKM ASEAN
ASEAN dan AS mencatatkan neraca perdagangan 508 miliar USD
per tahun. ASEAN juga menjadi tujuan investasi utama AS di Indo-Pasifik. Agar
manfaatnya dirasakan lebih luas, perlu akses bagi usaha kecil dan menengah atau
UKM di negara-negara ASEAN dalam hubungan ekonomi itu. Mengacu data pada edisi
VI ASEAN Matters for America, America Matters for ASEAN, ada 71 juta UKM di
seluruh ASEAN. Dari 650 juta warga ASEAN, 143 juta orang menjadi pegawai UKM.
Ada ratusan juta orang lainnya yang mendapatkan pekerjaan dengan menjadi mitra
dan pemasok UKM. ”Angka ini menunjukkan makna penting UKM bagi ASEAN,” kata
Direktur Pengelola Regional Dewan Bisnis ASEAN-AS (US-ABC) Brian McFeeters di
sela-sela peluncuran ASEAN Matters for America, America Matters for ASEAN,
Senin (27/11) di Jakarta. US-ABC menggandeng East-WestCenter di Hawaii dan ISEAS-Yusof
Ishak Institute di Singapura untuk menyusun laporan itu. Laporan itu memaparkan
interaksi dan dampak ekonomi, politik, dan budaya dari hubungan AS-ASEAN.
Analisis dilakukan di tingkat nasional dan lokal di AS dan ASEAN.
Dalam kajian US-ABC, UKM ASEAN bisa berperan secara lokal di
berbagai negara anggota ASEAN. Sayangnya, jika akan masuk ke pasar ekspor, UKM menghadapi
aneka kendala. McFeeters mengatakan, salah satu solusi untuk membantu UKM ASEAN
adalah mengintegrasikan dalam ekonomi digital. Kini, hanya 17 juta dari 64 juta
UKM Indonesia terlibat dalam ekonomi digital. Padahal, Indonesia mempunyai
potensi ekonomi digital bernilai puluhan miliar USD per tahun. Dalam jajak
pendapat terhadap 1.500 pelaku UKM ASEAN, hanya 33 % yang memanfaatkan
lokapasar. Padahal, 80 % responden mengaku sudah berusaha masuk ke ekonomi
digital. Mereka memacu integrasi selama pandemi Covid-19. Karena itu, bersama
sejumlah pihak lain, US-ABC berusaha membantu UKM ASEAN beradaptasi dengan
lokapasar dan ekonomi digital. Wujudnya berupa Akademi UKM ASEAN dan US-ABC
ikut mengelolanya. Sejauh ini, 4.200 pelaku UKM ASEAN memanfaatkan fasilitas
itu. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









