UMKM
( 686 )93 UMKM Binaan Bank Mandiri Unjuk Gigi di Bazaar UMKM Sarinah
NILAI TAMBAH LIMBAH KAYU DI SENTRA PRODUKSI PERAHU PULAU SEWANGI
Limbah kayu dari sisa produksi
perahu di Desa Pulau Sewangi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel,
kini diolah menjadi kriya kayu. Pemanfaatan di sentra produksi perahu atau
jukung ini berpotensi menambah pendapatan warga di kawasan Geopark Meratus.
Yunus (37), warga Pulau Sewangi, duduk beralaskan sandal di halaman balai desa,
Senin (23/10) siang. Dengan hati-hati, ia memahat sepotong kayu untuk membentuk
miniatur perahu atau jukung. ”Rasanya lebih rumit bikin miniatur daripada bikin
jukungnya sendiri,” ujar perajin jukung itu sambil tertawa. Syarifuddin alias
Anang (51), perajin jukung lainnya, yang juga duduk memahat berhadapan dengan
Yunus, menimpali, ”Benar, ini sudah tiga hari belum jadi juga.”
Senin itu adalah hari
ketiga bagi Yunus, Anang, dan kawan-kawan mengikuti pelatihan pembuatan produk
geopark di Balai Desa Pulau Sewangi. Dalam pelatihan itu, mereka diajarkan
membuat aneka produk kriya kayu dengan memanfaatkan limbah kayu dari sisa
produksi perahu. Pelatihan diadakan Badan Pengelola Geopark Meratus bekerja
sama dengan Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel pada 21-23 Oktober dan 28
Oktober 2023. Warga setempat dilatih membuat produk geopark karena Pulau
Sewangi sudah ditetapkan sebagai salah satu situs dari Geopark Meratus.
”Limbah kayu seperti ini
tidak ada harganya. Kalau ada yang memerlukan untuk kayu bakar atau urukan,
kami biasanya memberikan secara cuma-cuma,” kata yunus. Selama ini, limbah kayu
dari sisa produksi perahu tidak dimanfaatkan karena warga setempat memang hanya
berfokus pada produksi dan perbaikan perahu. Jukung tersebut dijual mulai dari
harga Rp 4 juta hingga Rp 30 juta per buah, tergantung ukuran. Kebanyakan
jukung dari Pulau Sewangi dijual ke daerah Tabunganen dan Marabahan, Kabupaten
Barito Kuala, serta Aluh Aluh, Kabupaten. Sekdes Desa Pulau Sewangi Syarifah
Zakiah Mabrurah menuturkan, pelatihan pembuatan produk geopark baru kali ini
diadakan. Kegiatan ini sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat desa setempat setelah
Pulau Sewangi ditetapkan sebagai salah satu situs Geopark Meratus. (Yoga)
UMKM, Lokapasar, dan Produk Impor Murah
Membanjirnya produk impor
murah di pasar daring membuat produk dalam negeri kian tersisih dari persaingan
pasar. Segenap upaya mesti dilakukan pelaku usaha agar produk mereka tetap
dapat mencuri perhatian. Kebangkitan industri konfeksi pada 2016 sempat menjadikan
produk T-shirt lokal sebagai primadona di pasaran. Momen ini ditandai dengan
kemunculan banyak UMKM di sejumlah daerah. Hal ini setidaknya diakui oleh Ecky
Nugraha, pemilik jenama perlengkapan outdoor Ammossi. Kala itu, Ecky melihat antusiasme
pasar terhadap T-shirt lokal sebagai peluang yang menjanjikan. Terbukti,
T-shirt menjadi produk andalan dengan tingkat penjualan hampir 1.000 potong
sebulan. Cerita kemudian berbalik pada tahun 2019, saat produk T-shirt impor
murah mulai membanjiri lokapasar. T-shirt dengan harga lebih rendah dari produk
lokal mulai bermunculan. Hal ini membuat produk T-shirt lokal perlahan-lahan
tersingkir dari persaingan.
”Kalau pasar diibaratkan kue,
ini kuenya makin kecil. Pilihannya, (UMKM) mau berebutan kue dengan ikut banting
harga atau mati dengan sendirinya karena tidak sanggup memakan kue itu,” ujarnya
saat ditemui di Tangsel, Kamis (5/10). Meski mengaku memiliki segmen
tersendiri, Ecky menilai banjirnya produk impor tetap berpengaruh terhadap penjualan
produk T-shirt Ammossi. T-shirt dengan harga di atas Rp 50.000, dinilai terlalu
mahal. Padahal, harga T-shirt yang dijual Ammossi di atas Rp 100.000.
”Penginnya bisnis di marketplace bisa fair. Pemerintah sebagai wasit seharusnya
bisa kasih kartu kuning atau kartu merah kalau ada yang main curang,”
ungkapnya.
Direktur Bisnis dan
Pemasaran Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (Smesco) Kementerian
Koperasi dan UKM Wientor Rah Mada menjelaskan pentingnya perlindungan pelaku
UMKM di tengah gempuran produk impor melalui platform e-commerce. Sebanyak 64
juta usaha atau 99 % populasi usaha merupakan UMKM. Sebesar 97 % angkatan kerja
ada di UMKM. ”Jadi, kalau ekosistem UMKM-nya terganggu, ini kami bicara ekonomi
domestik yang mungkin akan terganggu,” ujar Wientor. Untuk melindungi UMKM, pemerintah
menerbitkan Permendag No 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan,
Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik,
untuk memberi perlindungan terhadap UMKM dari produk impor serta platform
e-dagang. (Yoga)
Maju Festival Angkat UMKM melalui Budaya
Merayakan Kekayaan Bahari Sulut dengan Festival Tuna
Festival Tuna Sulawesi Utara dimotori oleh jajaran kanwil Kemenkeu serta Ikatan Pengusaha Perikanan (IPP) Sulut. Acara yang dimu lai pada Jumat (20/10) malam ini berlangsung hingga Minggu (29/10) di lapangan parkir Megamall, Kota Manado. Puluhan gerai kuliner, termasuk olahan tuna, meramaikan acara ini. Pada puncak perayaan di hari terakhir, 1.000 paket rahang tuna bakar dan 1.000 dada tuna bakar, yang biasanya disajikan dengan nasi putih, tumis kangkung, serta rica bakar dan dabu-dabu, akan diberikan secara gratis kepada 2.000 orang pemilik kupon. Kupon bisa didapatkan dengan berbelanja di kawasan festival dan membayar dengan QRIS (standar kode respons cepat Indonesia). Semua olahan tuna yang dibagikan massal itu disediakan oleh 18 anggota IPP Sulut. Ketua IPP Sulut Budi Wahono mengatakan, nilai rahang dan dada tuna untuk festival itu Rp 60 juta-Rp 70 juta, dan didanai dengan anggaran tanggung jawab sosial korporasi (CSR). Budi memastikan olahan tuna tersebut telah melalui sistem manajemen keamanan pangan bersertifikasi ISO 22000 yang berstandar ekspor. Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Manado telah memastikan keamanannya. ”Jadi, kalau ambil di IPP, udah pasti kelas satu semua,” ucapnya, Jumat sore.
”Tahun lalu, kami ingin memperkenalkan sashimi, yang selama ini kita ekspor ke Jepang, sebagai makanan sehat di Sulut. Kedua, kami juga ingin mengantisipasi peluang dari KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pariwisata Likupang sehingga para turis asing bisa menikmatinya dan menjadikannya buah tangan,” ujarnya. Tahun ini, fokus penyelenggara beralih untuk memperkuat pemasaran lokal dengan menggandeng pengusaha kuliner UMKM. Jika permintaan lokal kuat, kata Budi, pengusaha juga diuntungkan karena tetap dapat meraup cuan atau untung maksimal. Di samping itu, konsumen lokal pun tetap mendapatkan kualitas terbaik. Kabid Fasilitas Kepabeanan dan Cukai di Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara (Kanwil DJBC Sulbagtara) Kemenkeu, yakin akan ada efek pengganda dari perhelatan ini, utamanya dari sisi pariwisata serta pertumbuhan investasi di bidang industri. ”Dari sisi budaya, budaya makan ikan akan menguat. Tentunya, konsumsi akan semakin banyak sehingga dapat mendukung industri perikanan. Kalau stan-stan kuliner ramai dan pengunjung banyak, perekonomian tentu akan bergerak,” ujarnya. (Yoga)
Revolusi Digital Usaha Kecil Pemuas Lidah
Usaha kuliner Moqafe menjadi bukti kesuksesan digitalisasi
melampaui masa-masa sulit saat pandemi Covid-19. Berdiri sejak 1 Maret 2020 di
sekitar daerah perkantoran di bilangan Gelora, Tanah Abang, Jakpus, usaha kecil
itu bertahan karena memanfaatkan beberapa aplikasi penjualan dan pengantaran
makanan secara daring. Pemilik usaha, Willy Ramadhan (28), bernostalgia. Ia
sempat kalut karena kasus Covid-19 pertama yang menakutkan masyarakat muncul
pada hari pertamanya membuka kedai berukuran 2 x 7 meter. Tempat yang awalnya
berkonsep kafe itu menjajakan pempek dengan aneka camilan dan minuman artisan.
Usaha luar jaringan itu dibuka setelah Willy terjun di usaha produksi pempek
yang dipasarkan di platform e-dagang sejak 2015. Pembatasan kegiatan social sempat
membuat penjualan sepi karena sebagian besar pekerja tidak pergi ke kantor dan
Moqafe tidak bisa melayani makan di tempat. Namun, Willy kembali menyesuaikan
diri dengan digitalisasi dan menggunakan beberapa aplikasi online delivery.
”Akhirnya, ada penjualan dan pada Oktober 2020 melonjak
karena ditopang online,” ucapnya kepada Kompas, Kamis (5/10). Adaptasi saat itu
membantu pengenalan usaha dan penjualan produknya hingga ke luar kotamadya.
Omzet pada 2020 menyentuh Rp 1,8 juta sehari. Sekitar 80 % omzet ditopang
penjualan daring dan sisanya dari luar jaringan. Setelah pandemi berakhir,
omzet yang rata-rata Rp 1 juta per hari berbalik didominasi penjualan di
tempat. Perluas pengenalan Willy tetap memanfaatkan digitalisasi untuk
memperluas pengenalan Moqafe. Ia juga memanfaatkan pembayaran nontunai yang
semakin populer. Upaya ini tidak lepas dari kendala terbatasnya dana pemasaran.
Penghasilan selama ini, termasuk bantuan kredit usaha rakyat (KUR) perbankan
yang ia dapat sejak 2020, masih digunakan untuk modal usaha. Ia menghindari
tren kenaikan biaya layanan dan algoritma pemasaran penyedia aplikasi online
delivery yang kurang menguntungkan dengan menggunakan aplikasi bisnis lainnya.
Aplikasi baru itu membantunya menyebarkan promosi produk ke pelanggan secara
personal. (Yoga)
50 UMKM Binaan Pertamina di Ajang MotoGP
Sebanyak 50 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan dari PT Pertamina (Persero) turut meramaikan pergelaran balap motor MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, Jumat (13/10/2023), UMKM binaan tersebut akan menjual beragam produk makanan dan minuman, serta suvenir khas Lombok. (Yoga)
Pelaku Usaha Harus Adaptif pada Teknologi
Wapres Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa disrupsi dan kemajuan
teknologi digital perlu segera disikapi dunia usaha. Pelaku UMKM serta ekonomi
keuangan syariah harus mengikuti perkembangan dan menyesuaikan diri. Dalam
pembukaan Ijtima Sanawi (Pertemuan Tahunan) Dewan Pengawas Syariah XIX 2023, di
Jakarta, Jumat (13/10) Wapres Amin mengingatkan, pasar konvensional seperti Pasar
Tanah Abang akhirnya tergerus oleh pasar digital. Padahal, hampir semua pelaku
di pasar konvensional di Indonesia adalah pelaku UMKM.
”Oleh karenanya, mesti segera dilakukan langkah penyadaran
kepada para pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk menyiapkan diri dan terus
adaptif dengan dinamika zaman, termasuk menghadapi tantangan disrupsi,” ujar
Wapres. Dalam kesempatan itu, Wapres mengatakan, pelaku ekonomi dan keuangan
syariah juga harus memitigasi tantangan disrupsi ini. Apalagi, perkembangan ini
menuntut tersedianya ragam produk keuangan syariah sesuai kebutuhan masyarakat yang
semakin familiar dengan dunia digital. Oleh karena itu, Wapres Amin meminta
para regulator, pelaku industri, Dewan Syariah Nasional(DSN), MUI, dan Dewan
Pengawas Syariah (DPS) untuk merespons perubahan ini. (Yoga)
Jenama Lokal Pakaian Olahraga Didukung
Kementerian Perindustrian menyelenggarakan pameran bertajuk ”Indonesia Sport & Active Wear Exhibition 2023” untuk mendukung pengembangan jenama lokal pakaian olahraga. Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita, Kamis (12/10/2023), pameran itu akan diselenggarakan pada 1-4 November 2023 di Jakarta. Pameran tersebut bakal memamerkan produksi dari 40 jenama lokal pakaian dan alat olahraga. (Yoga)
Jaga Denyut Nadi UMKM dengan Pengetatan Impor Barang Konsumsi
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









