;
Tags

UMKM

( 686 )

UMKM Didorong Membangun Jenama

KT3 30 Aug 2023 Kompas

Kesadaran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam membangun jenama masih rendah. Seluruh pihak perlu bekerja sama untuk membangun kesadaran pentingnya jenama. ”Brand sangat penting karena merupakan intangible asset yang besar nilainya,” kata Asisten Deputi Kemitraan dan Perluasan Pasar Kementerian Koperasi dan UKM Pixy saat Pameran Puncak UKM Indonesia (ISSE) 2023 di Tangerang, Banten, Selasa (29/8/2023). (Yoga)

Layanan Urun Dana Jadi Alternatif Permodalan

KT3 30 Aug 2023 Kompas

Otoritas Jasa Keuangan mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengakses alternatif permodalan melalui layanan urun dana dari pasar modal (securities crowd funding/SCF). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, Selasa (29/8/2023), mengatakan, selama ini usaha mikro kerap kali mengalami kesulitan mengakses permodalan dari layanan jasa keuangan karena berbagai faktor. (Yoga)

Kredit Wong Cilik Semakin Menanjak

KT1 30 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Laju pertumbuhan pinjaman terus mengalami perbaikan. Tercermin dari kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang digulirkan sebesar Rp 1.308,9 triliun, tumbuh 7,3 secara tahunan (year on year/yoy) per Juli 2023. Pertumbuhan pinjaman segmen UMKM pada Juli lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang menjadi motor penggerak segmen UMKM. Data Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa dari skala usahanya, kredit mikro yang dialirkan perbankan mencapai Rp595,3 triliun, melesat 41,5% (yoy) per Juli 2023 yang sebesar 39,8% (yoy). Sementara itu, kredit skala kecil  terkoreksi 9,8% (yoy) menjadi 419,3 triliun pada Juli 2023 yang terkoreksi 9,8 (yoy) menjadi 8,6% (yoy) menjadi Rp 294,3 triliun, tapi cenderung membaik dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 12,4% (yoy). Sebagai bank yang fokus pada segmen wong cilik, riset PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencatatkan bahwa pelaku UMKM semakin optimis dan melanjutkan ekspansinya di kuartal III-2023. Hal tersebut tercermin dari hasil Indeks Bisnis UMKM yang dikeluarkan BRI Reserach Institute. (Yetede)

Inisiatif Mengenalkan Foraging

KT1 27 Aug 2023 Tempo

Kegiatan mencari tumbuhan liar sebagai kebutuhan pangan sekarang punya istilah kekinian: foraging. Sebelumnya, kegiatan ini lazim disebut "meramban", yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya mencari daun-daunan muda untuk makanan kambing dan sebagainya. Namun Thobib Hasan Al Yamini, anggota Yayasan Generasi Biologi Indonesia (Genbinesia), lebih suka mempopulerkan istilah foraging. Istilah ini diketahui Thobib pada 2016 ketika ia bekerja di Malang. Di luar negeri, foraging sudah dikenal luas. Di Indonesia, ujar Thobib, praktik itu sudah dilakukan masyarakat perdesaan setiap hari. Misalnya, mengambil tanaman liar lamtoro atau petai cina. "Bahkan dari zaman dulu sebelum masyarakat mengenal istilah foraging," kata Thobib kepada Tempo, Selasa, 22 Agustus lalu.

Sebagai ahli botani, kegiatan pria berusia 31 tahun itu tak jauh-jauh dari tumbuhan. Saat hendak mengangkat potensi tumbuh-tumbuhan di daerah tempat kerjanya, Thobib pun menemukan istilah foraging yang merujuk pada kegiatan mencari tumbuhan di sekitar. Akhirnya, ia pun memperdalam ilmu foraging dan mulai mengenalkan tumbuhan liar berguna untuk kebutuhan pangan ke sekolah-sekolah hingga mengadakan lokakarya. Lewat Genbinesia, Thobib bersama rekan-rekannya di divisi botani membuat program dengan konsep foraging. Kegiatan bernama Botani Adventure ini telah terselenggara di beberapa daerah, seperti Mojokerto, Malang, dan Yogyakarta, sejak 2018. Di awal, kegiatan eksplorasi tumbuhan liar berguna ini diikuti sekitar 20 orang. Seiring dengan berjalannya waktu, minat masyarakat kian bertambah. Puncaknya, pada Maret 2019, ketika diadakan di Yogyakarta, ada 50 peserta yang ikut. Mereka datang dari berbagai latar, seperti siswa, mahasiswa, peneliti, dosen, pencinta alam, dan masyarakat umum. (Yetede)

UMKM Dominasi Transaksi Menggunakan QRIS

KT1 25 Aug 2023 Investor Daily

JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) mencatat nominal transaksi Quick Response Indonesia Standard (QRIS) terus menunjukkan pertumbuhan sebesar 84,5% secara year on year (yoy) sehingga mencapai Rp18,01 triliun, dengan jumlah pengguna 38,24 juta dan jumlah merchant 27,51 juta yang sebagian besar merupakan UMKM. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI terus mendorong akselerasi digitalisasi sistem pembayaran antar negara guna mendorong inklusi ekonomi keuangan serta perluasan ekonomi dan keuangan digital. "Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap kuat didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar,dan aman," jelas Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Agustus 2023 pada Kamis. Adapun nilai transaksi uang elektronik pada Juli 2023 meningkat 10,50% (yoy) sehingga mencapai Rp39,21 triliun, sementara niai transaksi digital banking tercatat Rp 5.035,37 triliun atau tumbuh sebesar 15,50% (yoy). sementara itu, nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit mencapai Rp707,9 triliun atau turun sebesar 4,26% (yoy). (Yetede)

F8 Dibuka, Pemkot Targetkan Puluhan Miliar

KT3 24 Aug 2023 Kompas

Festival Delapan atau F8 dibuka di kawasan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/8/2023). Pemerintah Kota Makassar menargetkan perputaran uang puluhan miliar dari acara lima hari ini. Sebanyak 16 negara berpartisipasi. Wali Kota Makassar M  Ramdhan Pomanto mengatakan, acara ini ingin menghidupkan ekonomi melalui pariwisata dan UMKM. Tahun lalu, perputaran uang di F8 mencapai Rp 50 miliar. (Yoga)

Terangkat Produk Mikro Pedesaan

HR1 23 Aug 2023 Kontan

Kinerja positif Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dinilai masih berlanjut hingga akhir tahun ini. Salah satu pendorongnya adalah pertumbuhan penyaluran kredit yang dicatatkan oleh bank ini. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, terbentuknya holding ultra mikro memang telah memberikan dampak yang positif bagi BBRI. Ini dilihat dari akses keuangan yang telah diberikan kepada lebih dari 36 juta nasabah sejak berdiri tahun 2021. Nico melihat, jumlah tersebut meningkat 19,6% secara tahunan atau year on year (yoy). UMi mempunyai target 45 juta nasabah hingga tahun 2024. "Ini akan mendorong pertumbuhan kredit mikro BBRI," ujarnya, Selasa (22/8). Di sisi lain, pemerintah mengurangi alokasi kredit usaha rakyat (KUR) tahun ini dari Rp 450 triliun menjadi Rp 297 triliun. Ini berkaitan dengan penyaluran dana KUR di semester I-2023 sebesar Rp 10,5 triliun atau hanya 23% dari target awal. Pemerintah juga telah melakukan beberapa perubahan mendasar pada sistem KUR di tahun ini, termasuk penerapan suku bunga dan margin berjenjang bagi debitur KUR. Kriteria peminjam KUR juga diubah menjadi hanya mereka yang belum pernah mengambil pinjaman komersial. Kepada Riset Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi melihat, hal tersebut berpotensi membuat BBRI alami penurunan alokasi KUR. Namun, ini dinilai tidak akan berdampak besar. "Karena BBRI telah meningkatkan penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) yakni produk pinjaman modal kerja dan investasi di tahun ini dengan target pertumbuhan tahunan sebesar 14%-16%," kata Prasetya, kemarin (22/8). Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim berpendapat bahwa saat ini suku bunga acuan masih tertahan di 5,75%. Alhasil, adanya penuruan suku bunga di akhir tahun membuat likuiditas semakin tinggi. Ini juga berpotensi menjadi katalis positif untuk BBRI dalam menurunkan biaya dana atau cost of fund.

Taufik, Limbah Kelapa yang Mendunia

KT3 22 Aug 2023 Kompas (H)

Taufik (31), petani kelapa asal Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Pangandaran, Jabar, unjuk gigi lewat ekspor cocopeat, olahan limbah sabut kelapa untuk media tanam. Kreativitasnya ikut memberi tambahan penghasilan bagi petani lainnya agar lepas dari jerat utang. ”Cocopeat diambil dari limbah sabut kelapa. Dulu, petani hanya mengambil buahnya. Ternyata, nilai ekonominya lebih besar ketimbang buahnya bila diolah dengan benar, bisa sampai belasan kali lipat,” kata Taufik, di Pangandaran. Di pabrik pengolahan berkapasitas 2 ton per hari di Cintakarya. Selain cocopeat ada juga cocofiber, sabut dengan serat lebih kasar untuk furnitur hingga jok kendaraan kelas premium.

Setelah cocopeat masuk proses pencucian, berlanjutlah ke mesin pemerasan yang dibuat oleh Yohan Wijaya Noerahmat (40), pendiri Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KP-MK). Sejak rampung dibuat pada 2022, dia tak perlu lagi mengandalkan proses pemerasan dan penjemuran cocopeat pada alam untuk mendapatkan kadar air 20 %. ”Dulu harus dijemur selama dua hari. Sekarang dengan mesin hanya butuh dua jam,” katanya. Dengan kemudahan itu, pasar ekspor terbuka lebar. Salah satu pasarnya adalah Jepang. Awal tahun 2023, dia mengirimkan 28 ton.  Ekspornya berulang kembali pada Maret dan Juni. Selain itu, Taufik dan belasan kawan-kawannya tetap memenuhi pasar lokal sekitar 500 karung per minggu, seperti di Jakarta dan Bandung. Dimana satu karung seberat 50 kg, dengan harga per kg Rp 3.000. (Yoga)


Kreativitas dan Kesukarelaan yang Menyelamatkan

KT3 19 Aug 2023 Kompas (H)

Asep Hidayat Mustofa (36) tak pernah menyangka bakal membawa trofi Kalpataru pulang ke rumahnya di Kampung Waluran 2, Kabupaten Sukabumi, Jabar. Dia menerima Kalpataru Perintis Lingkungan pada 5 Juni 2023, lewat kiprahnya bersama Desa Wisata Hanjeli yang dirintis sejak 2017. Lewat tanaman hanjeli (Coix lacryma–jobi L), dia mengajak warga di Kampung Waluran untuk berdaya. Secara sukarela, Asep mendampingi warga menanam dan mengolah hanjeli sebagai sumber makanan bergizi. Warga yang sebagian besar perempuan juga dilatih menata rumahnya menjadi penginapan untuk wisatawan. Ada juga yang belajar beragam kerajinan, mulai dari gelang hingga tasbih. Hasilnya, sajian wisata menambah kesejahteraan bagi sedikitnya 40 warga. ”Dari wisata, warga bisa mendapat hasil tambahan Rp 1 juta. Bisa lebih kalau ada warga yang rumahnya dijadikan tempat menginap,” ujar Asep, Selasa (15/8).

Lebih dari sekadar rupiah, kiprah hanjeli ternyata ikut menyelamatkan nyawa. Selain menguatkan struktur tanah rawan longsor, Desa Wisata Hanjeli juga memberikan harapan baru. Sebelumnya, akibat minim pilihan, banyak warga bekerja sebagai pekerja migran hingga petambang emas ilegal. Kini, mereka tidak perlu lagi bertaruh nyawa. ”Meski tidak ingin mengulanginya, banyak pelajaran yang didapatkan (dari menjadi pekerja migran). Salah satunya kemampuan berbahasa asing. Lama di luar negeri, sebagian warga fasih bahasa Inggris, Arab, hingga Kanton,” kata Asep, pekerja migran di Arab Saudi periode 2007-2010. Salah satu warga yang jago bahasa asing adalah Cum Ahmawati, yang 16 tahun wira-wiri ke Arab Saudi, Hong Kong, Oman, Malaysia, dan Bahrain. Sempat menjadi pemecah batu hasil tambang emas, ia bergabung dengan Desa Hanjeli pada 2017. Kemampuannya berbahasa Arab, Inggris, dan Kanton memikat Asep. Ahmawati kini menjadi koordinator pemandu wisata di Desa Wisata Hanjeli. (Yoga)


Ekonomi Lokal Bersemi di Kota Industri

KT3 16 Aug 2023 Kompas

Siang itu, Minggu (11/6) sambil duduk di kursi kecil, Astuti (47) sibuk mencatat sejumlah makanan kemasan atau snack yang baru datang di toko pusat oleh-oleh miliknya, Fara Snack, di Kecamatan Bontang Utara, Bontang. Selesai pencatatan, pegawai toko menaruh makanan kemasan tersebut ke salah satu sudut rak yang kosong. Di ruangan 22 x 10 meter tersebut berjajar makanan kemasan, seperti berbagai jenis keripik, terutama berbahan dasar ikan laut. Mulai dari amplang tenggiri hingga keripik ikan bawis yang merupakan ikan khas Bontang. Ada juga berbagai jenis keripik lain, seperti bayam hingga singkong. Beberapa macam suvenir juga dijual. Fara Snack menjadi wadah bagi produk lokal Bontang, di samping beberapa jenis keripik yang mereka produksi sendiri. Didirikan sejak 2010, toko ini terus berkembang dari awalnya hanya lima UMKM yang menitipkan produknya menjadi lebih dari 50 UMKM.

Dari jumlah itu, 70 % asal Bontang, sedangkan sisanya dari daerah sekitar. Fara Snack merupakan salah satu UMKM binaan PT Pupuk Kalimantan Timur. ”Produk yang paling laku di sini amplang dan keripik ikan bawis. Kalau amplang di kota lain di Kaltim banyak, tapi kalau ikan bawis memang menjadi khas Bontang,” ujar Astuti. Dengan pemasaran ”dari mulut ke mulut”, kian banyak pelaku UMKM yang menitipkan produknya di Fara Snack. Hal itu menguntungkan, baik bagi Astuti maupun para mitra. Apalagi, semakin banyak pilihan produk di satu tempat oleh-oleh, pembeli kian dimudahkan. Menurut Astuti, omzet Fara Snack sekitar Rp 10 juta per hari. ”Kalau saat libur Lebaran, bisa meningkat sampai 15 kali lipat,” katanya. Astuti berharap ia dan UMKM local Bontang bisa tumbuh dan berkembang bersama. Kadang kala, saat stok produk merek tertentu sudah terjual, ia tidak langsung memberi tahu kepada mitranya tersebut. Itu semata memberikan kesempatan pada merek-merek lain dengan produk sejenis agar laku juga. (Yoga)