UMKM
( 686 )UMKM Naik Kelas Kunci RI Jadi Negara Maju
Peningkatan kelas dan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diyakini menjadi salah satu cara agar Indonesia menjadi negara maju dengan perekonomian masuk dalam jajaran terbesar dunia pada 2045. Dengan UMKM yang naik kelas, kesejahteraan masyarakat juga meningkat dan tecermin dalam perekonomian nasional yang maju. Demikian dikatakan Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto dalam jumpa pers Pengusaha Muda Brilian 2023 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Jumat (4/8/2023). (Yoga)
Penghapusan Kredit Macet Dorong UMKM
Rencana pemerintah menerbitkan aturan yang membolehkan bank-bank BUMN menghapus kredit macet usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan mendorong UMKM untuk bangkit setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, Kamis (3/8/2023), menjelaskan, hal itu juga akan mendorong bank-bank BUMN lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor UMKM. (Yoga)
Masih Rendah, Serapan Belanja Produk Dalam Negeri Dikebut
Empat bulan menjelang akhir tahun, ruang APBN yang belum dibelanjakan masih tersisa banyak. Pemerintah pusat dan daerah diminta mengoptimalkan sisa anggarannya itu untuk mempercepat penyerapan produk dalam negeri, khususnya barang dan jasa keluaran UMKM. Sampai semester I-2023, APBN baru terserap 41 % atau Rp 1.255,7 triliun daritotal pagu Rp 3.061,2 triliun. Artinya, ada 60 % APBN atau Rp 1.805,5 triliun yang belum dibelanjakan oleh kementerian/lembaga dan pemda.
Dari total realisasi belanja itu, pengadaan barang dan jasa pemerintah baru 34,9 % dari total nilai pada Rencana Umum Pengadaan (RUP) Rp 1.112,45 triliun dengan 5,3 juta paket pengadaan. Secara rinci, realisasi RUP sampai akhir Juli 2023 sebesar Rp 387,81 triliun dengan 768.000 paket pengadaan. Sebanyak Rp 216,36 triliun sudah terverifikasi sebagai produk dalam negeri, sisanya masih dalam proses verifikasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Saat membuka ajang Temu Bisnis Tahap VI dan Indonesia Catalogue Expo and Forum (ICEF), Menkeu Sri Mulyani berharap, kementerian dan lembaga serta pemda dapat menggunakan waktu empat bulan terakhir untuk mengebut belanja penggunaan produk dalam negeri sesuaitarget, yakni 95 % dari total belanja pengadaan. Penyerapan produk dalam negeri juga diharapkan lebih memprioritaskan barang dan jasa dari UMKM, industri kecil menengah, dan artisan. Targetnya, realisasi belanja produk UMKM Rp 250 triliun dari total pengadaan tahun ini. (Yoga)
Gurih Mete Sultra yang Melintasi Benua
Berjaya sejak puluhan tahun lalu, jambu mete asal Sulawesi Tenggara kini dikomodifikasi dalam beragam bentuk olahan. seperti Keripik, cokelat, dan brownies yang diolah dengan mete. Penganan ini berlayar dari Teluk Kendari, mengarungi Selat Makassar, melintasi samudra, dan mendarat di beberapa benua. Pada 2019, La Ato (25), yang masih kuliah, menerima pesan di telepon pintarnya. Seseorang tidak mengirimkan foto cokelat mete buatannya yang berlatar belakang sebuah kota di AS. ”Ada yang kirimkan, saya tidak tahu juga siapa. Hasil karya saya bisa sampai di luar negeri dan dikenal orang. Saya saja belum pernah keluar dari Sultra,” kata Ato, akhir Juli lalu. Di sebuah kamar kos-kosan berukuran 3x6meter di Kendari, Sulawesi Tenggara, Ato mengolah mete dan cokelat menjadi penganan khas ”Bumi Anoa”, sebutan untuk Sultra sejak 2017.
Jumat (28/7) ia mengecek stok dan bahan yang ada. Ato membuat olahan mete setelah melihat potensi yang ada. Mete ciri khas daerahnya. Sejak kecil ia akrab dengan mete. ”Belajar otodidak, akhirnya dapat komposisinya, lalu berani buat dan kemas sendiri. Ternyata disukai pembeli. Akhirnya serius urus izin dan bikin produk sendiri,” katanya. Sejak itu, produksinya bertambah, dari 1 kg mete sebulan hingga 10 kg. Penjualannya meningkat dengan omzet rerata Rp 50 juta dalam sebulan. Meski pandemi Covid-19 membuatnya jungkir balik, ia kini mulai bisa bernapas lega. Pesanan meningkat. ”Terakhir ada pesanan untuk dikirim ke Madagaskar. Tapi, karena izin dan rumah produksi belum lengkap, belum bisa. Saya upayakan bisa selesai tahun ini,” kata Ato.
Koordinator Program dan Evaluasi Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Sulawesi Tenggara Assayuthi Ma’suf mengungkapkan, produk jambu mete di wilayah ini diprioritaskan menjadi andalan. ”Tetapi, dua tahun terakhir ekspornya turun. Tahun lalu itu 18 ton dan tahun sebelumnya 48 ton,” katanya. Jambu mete di wilayah ini, ujar Assayuthi, memiliki sejumlah kendala, mulai dari tanaman berusia tua, teknologi, dan intervensi pertanian yang lemah, hingga pengaruh cuaca. Akibatnya, produksi menurun beberapa tahun terakhir. La Ato juga khawatir sebab ia tahu bahan baku jambu mete banyak didatangkan dari luar, lalu diolah di wilayah ini. ”Jangan sampai kita bilang, Sultra penghasil mete, tetapi ternyata dari luar semua,” kata ayah satu anak itu. (Yoga)
Jaring Laba Digitalisasi Ekonomi Hijau
Ciayumajakuning Entrepreneur Festival (CEF) telah tuntas digelar pada Jumat hingga Minggu (21-23/7/2023). Ajang ini tidak hanya memanggungkan produk UMKM yang fokus pada ekonomi hijau digital, tetapi juga mencatatkan transaksi penjualan hingga Rp 1,2 miliar. Ingatan Yuli Hasan (46) belum bisa lepas dari CEF yang digelar Kantor Perwakilan BI Cirebon kedelapan kali tahun ini. CEF menampilkan aneka produk UMKM dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) di Provinsi Jabar. Puluhan pelaku UMKM, termasuk Yuli, mencoba membawa pesan sesuai tema, ”Ciayumajakuning Tumbuh, Hijau, dan Berkelanjutan”.
Saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Larangan, Kota Cirebon, Jabar, Selasa (1/8), pemilik UMKM dengan jenama Swarna Alam ini antusias bercerita soal CEF. ”Saya sudah tiga kali ikut CEF. Setiap ikut, omzetnya bisa sampai Rp 10 juta,” ucap Yuli, yang menjual produk fashion berbasis ecoprint, teknik mewarnai kain dan membentuk motif menggunakan bahan alam, seperti dedaunan, bunga, hingga ranting pohon. Bagi Yuli, meraup uang sejumlah itu dalam tiga hari hanya bisa terwujud dalam ajang seperti CEF. Namun, bagi Yuli, cuan bukan satu-satunya tujuan. Baginya, ajang itu menjadi ruang kampanye ecoprint, yang belum setenar batik.
”Baju dari pabrik, misalnya, hanya digunakan dua tahun. Tapi, kalau baju ecoprint bisa bertahan empat tahun. Bahan-nya juga tidak membuat kulit iritasi,” ucapnya menunjukkan telapak tangannya yang mulus. Suja’i, pengelola Galeri Batik Ciwaringin, juga menikmati berkah CEF. Mengusung batik tulis pewarna alam, produknya termasuk jadi incaran pengunjung. ”CEF tahun ini, hasil penjualan semuanya Rp 12 juta. Ini meningkat dibandingkan tahun lalu, Rp 6 juta,” katanya. ”Perkiraan penjualan UMKM selama periode kegiatan (CEF) mencapai Rp 1,2 miliar, meningkat 15 % dari tahun lalu,” ucap Kepala KPw BI Cirebon Hestu Wibowo. (Yoga)
RI-Jepang Perluas Kemitraan UMKM dalam Rantai Pasok Global
JAKARTA,ID-Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) bersama pemerintah jepang, berkomitmen memperluas kemitraan UMKM dan ekonomi antar kedua negara. Kesepakatan perluasaan kemitraan itu ditandai dengan penandatangaan MoU antar Kemenkop UKM dan Organization for Small and Medium Enterprise and Regional Innovation (SMRJ) Jepang. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjelaskan, kerja sama Indonesia-Jepang dalam hal pengembangan UMKM telah berlangsung lama. Untuk itu, dalam kunjungan kerjanya ke Jepang, Senin (31/7/2023), dilakukan pembaharuan lingkup kerja sama kedua negara agar program kedepan lebih fokus dalam mendukung pengembangan beberapa sektor termasuk UMKM. Ini antara lain melingkupi pengembangan star-up, perluasan kemitraan rantai pasok, dan promosi produk UMKM ke pasar global. "Saya berharap melalui MoU dan pertemuan ini akan lebih banyak lagi kemitraan usaha dapat dilakukan dengan UMKM Indonesia dan pelaku usaha di Jepang. Khususnya dalam promosi produk UMKM di pasar global, kemitraan rantai pasok, dan pengembangan startup," jelas Menteri Teten dalam keterangan tertulis. (Yetede)
Apa Itu Barang Impor Cross Border dan Dampaknya bagi UMKM Indonesia
TRANSAKSI jual-beli online melalui platform e-commerce atau toko online semakin berkembang pesat di Indonesia. Kehadiran platform, seperti TikTok Shop dan Shopee, memungkinkan adanya barang impor cross border yang dikirim langsung dari luar negeri dengan harga lebih murah. Di sisi lain, praktik perdagangan cross border justru meresahkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) domestik. Lantas, apa yang dimaksud dengan barang impor cross border? Apa saja dampaknya bagi pelaku UMKM di Indonesia?Pengertian Cross Border: Praktik perdagangan lintas batas atau cross border trading adalah masuknya barang impor ke dalam wilayah suatu negara tanpa perlu proses pemeriksaan pabean. Barang impor cross border umumnya dipesan melalui platform e-commerce, lalu dikirimkan secara langsung ke konsumen oleh penjual dari luar negeri. Penjualan barang secara cross border mengemuka sejak masa pandemi Covid-19. Kala itu, barang impor yang dipasarkan di e-commerce masuk deras ke dalam negeri tanpa adanya kontribusi terhadap penerimaan negara. Pada waktu itu, sejumlah platform e-commerce menyediakan layanan perdagangan lintas batas langsung dengan harga yang lebih murah dari penjual asal Cina kepada konsumen di dalam negeri. (Yetede)
Ekonomi Ramah Lingkungan, Peluang Baru Bagi UMKM
JAKARTA,ID-Bank Indonesia (BI) mempersiapkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bertransformasi menuju UMKM hijau untuk mendukung ekonomi berkelanjutan. Hal ini tidak terlepas dari semakin tingginya kesadaran akan isu kegiatan ekonomi yang berkelanjutan pada sektor riil. "Upaya tersebut juga penting untuk menjawab peluang usaha bagi pengembang produk hijau, tantangan perubahan iklim kedepan, tuntutan internasional, arah sektor keuangan yang inklusif dan berkelanjutan serta menjawab fenomena eco wakening," ucap Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta dalam acara Karya Kreatif Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu. Pengembangan UMKM hijau merupakan salah satu inisitif dalam framework kebijakan ekonomi keuangan hijau oleh BI. Bila dirinci, pengembangan UMKM hijau dilakukan berdasarkan tiga pilar utama yaitu meningkatkan penerapan praktik ramah lingkungan dan zero waste, meningkatkan penerapan ekonomi sirkular, meningkatkan akses pembiayaan. (Yetede)
Mahasiswa Dituntut Terlibat dalam Pengembangan UMKM
Mahasiswa dianggap perlu terlibat dalam pengembangan UMKM. Sebab, pemanfaatan maksimal dari bonus demografi tak bisa hanya bergantung pada penciptaan lapangan kerja oleh industri atau perusahaan saja. Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia 2020-2050 berbasis data Sensus Penduduk 2020, periode bonus demografi berlangsung 2012 hingga 2041. Negara yang berada dalam periode bonus demografi biasanya memiliki penduduk usia produktif berlimpah. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani berpendapat, visi utama dalam pemanfaatan bonus demografi adalah penciptaan lapangan pekerjaan sebesar-besarnya. Namun, kondisi ini harus didukung oleh penyerapan tenaga kerja sebagai pelaku UMKM.
”Bonus demografi bisa menjadi bencana jika penciptaan lapangan pekerjaan tidak terjadi melalui UMKM. Indonesia harus lebih banyak menciptakan UMKM berdaya dan berkelanjutan,” ujarnya dalam peluncuran Festival Apindo UMKM Merdeka (AUM), di Jakarta, Jumat (28/7). Festival AUM berlangsung pada 28 Juli hingga 1 Agustus 2023 dan melibatkan 259 UMKM. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, peran UMKM di Indonesia sangat besar terhadap pembangunan ekonomi nasional, yakni 60,51 % terhadap PDB dengan serapan tenaga kerja UMKM mencapai 96,92 % atau 120 juta orang. Menurut Shinta, bonus demografi Indonesia, khususnya kalangan mahasiswa, perlu diarahkan untuk terlibat dalam pengembangan UMKM. Apalagi, kurikulum pendidikan tinggi telah mengakomodasi mahasiswa untuk magang atau bekerja paruh waktu. (Yoga)
UMKM Tercekik Perdagangan Lintas Batas, Pemerintah Bertindak
JAKARTA,ID-UMKM jadi critical engine bagi perekonomian di Tanah Air. Eksistensinya diperkuat lewat skema onboarding di eksositem digital, untuk memulihkan daya mereka yang sempat ambrol saat pandemi. Namun ekosistem digital juga menghadirkan tantangan yang pelik buat UMKM. “Usaha kecil itu layaknyan jalan darah dari perekonomian kita. Kita mencipatkan lapangan kerja, mendorong inovasi, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi,” Richard Branson, seorang miliarder Inggris yang pada Juni 2023 lalu oleh Forbes diperkirakan memiliki kekayaan sebesar US$ 3 miliar atau sekira Rp 45.36 triliun. Memiliki kekayaan sebesar itu dan dikenal sebagai astronot komersil, Branson juga pernah bercerita bahwa ia memulai bisnisnya dari kelas UMKM. Ia pernah berjualan majalah “Student” di London era tahun 1960-an. Dan asal tahu saja, dia pernah gagal menjalankan bisnis pohon natal dan pembiakan burung parkit. Jelas bahwa sebagian besar usaha besar dimanapun, mereka dibesarkan dari skala kecil, yang biasa kita sebut sebagai UMKM. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022 -
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022









