;
Tags

UMKM

( 686 )

Keringat Para Puan Rintis Wisata di Pulau Kecil

KT3 22 Dec 2023 Kompas (H)

Di Batam, kaum perempuan menjadi pelopor yang merintis wisata di pulau kecil. Suhana (41) memandu tiga wisatawan berjalan mengelilingi Kampung Melayu di Pulau Ngenang. Rumah-rumah warga tertata apik. Halamannya ditanami rumput jepang dan berbagai jenis bunga. Di pinggir kampung, hutan bakau dijaga agar tetap rindang untuk melindungi rumah warga dari hantaman ombak. ”Pemerintah banyak kasih bantuan sejak wisata di Ngenang berkembang. Pelabuhan dipercantik, jalan kampong dicor, juga dibikinkan saluran air,” kata Suhana, Kamis (14/12). Pulau Ngenang berada di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepri. Wisatawan bisa pergi ke Ngenang dengan menyewa perahu mesin, 15 menit dari Pelabuhan Telaga Punggur di Batam. Suhana adalah Ketua Perajin Tenun di Pulau Ngenang, dengan 18 perajin. Mereka awalnya diajari menenun oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Batam pada 2018. ”Pertama kali belajar, saya heran banget benang kusut, kok, bisa jadi kain cantik. Dari pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta,” ujarnya. Seperti umumnya perempuan Melayudi pulau-pulau kecil Nusantara, Suhana juga nelayan pesisir. Saat air surut, ia turun kelaut untuk memancing dan mencari siput. Setelah menenun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Tenun yang dibangun Pemkot Batam pada 2022. Disini tersedia lima alat tenun bukan mesin (ATBM) yang bisa digunakan para perajin. Kain tenun dijual Rp 400.000 hingga Rp 750.000 per meter, tergantung kerumitan motif. Motif tenun banyak terinspirasi dari alam pesisir, seperti burung layang-layang, ikan marlin, daun sirih, dan bunga setu. Setiap perajin rata-rata bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta per bulan.

Antusiasme perempuan Ngenang menjadi perajin tenun menular ke warga lainnya. Selain kelompok perajin tenun, di pulau itu dibentuk juga kelompok perajin batik dan perajin rajut. Salah satu perajin batik, Suminah (65), menuturkan, saat ini ada 10 orang yang bergiat di Rumah Batik Ngenang. Batik karya para perempuan Ngenang dijual Rp 160.000 per 2 meter untuk batik cap dan Rp 500.000 per 2 meter untuk batik tulis. Tak jauh dari Rumah Batik terdapat juga Rumah Rajut. Di situ, para perempuan Ngenang biasa berkumpul untuk membuat berbagai macam cendera mata dari benang wol. Gantungan kunci dijual Rp 10.000, sedangkan tas kecil dibanderol Rp 100.000. Perajin rajut di Ngenang ada belasan orang. Mereka memasarkan karya dengan memajang di kios-kios sepanjang jalan yang dilalui wisatawan. Setiap kali ada rombongan turis datang, mereka bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 500.000. Arus wisatawan ke Ngenang menumbuhkan kesadaran warga untuk bersama-sama membangun wisata kampung. Suami Apsah, Abdul Gani (63), bahkan rela menghibahkan tanahnya untuk dijadikan tempat bagi perajin menenun. ”Saya berikan tanah itu demi kemajuan kampung. Harapannya, kalau wisata di kampung semakin ramai, ekonomi warga juga akan lebih terangkat,” kata Abdul. Apsah menambahkan, warga Ngenang selalu antusias mengikuti pelatihan terkait wisata yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. ”Kami juga minta diajari Bahasa Inggris sama mahasiswa yang lagi KKN di sini. Biar kami bisa bercakap-cakap sama turis-turis yang datang,” ujar Apsah. (Yoga)

Wirausaha Penyandang Disabilitas, dari Katering hingga Rias Wajah

KT3 19 Dec 2023 Kompas

Penyandang disabilitas dengan segala keterbatasannya jatuh bangun berwirausaha mandiri. Mereka berdaya dan bermanfaat bagi keluarga dan sesama disabilitas. Paini (52), perempuan disabilitas asal Wonogiri, Jateng, memiliki jari-jari tangan dan kaki yang pendek sejak lahir. Berbekal ijazah SMA, pada 1992 dia memutuskan merantau ke Bekasi, Jabar, untuk mencari lapangan kerja yang lebih baik. Kenyataannya berbeda. Dari enam perusahaan yang ia kirimi surat lamaran kerja, tak satu pun yang memanggil. ”Saya perempuan, bertubuh pendek, disabilitas, dan memakai hijab. Diskriminasi tersebut dialamatkan ke saya sehingga saya susah diterima kerja. Saya kelelahan, hampir menyerah, hingga di pabrik boneka milik Korea Selatan, saya nekat menyodorkan diri meski tiga hari pertama tidak dibayar dulu,” ujarnya, Minggu (17/12) di Jakarta. Dalam tiga hari itu, Paini belajar menjahit dengan mesin jahit modern yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Salah seorang supervisor yang, menurut dia, baik hati mau mengajari, sampai dia akhirnya bisa menjahit semua bagian boneka. Perusahaan akhirnya mau mempekerjakan dan menggajinya. Ia bekerja selama dua tahun di situ hingga menikah.

Upah sebagai buruh pabrik pas-pasan meskipun ia mengambil lembur sampai pulang malam. Suaminya yang bekerja sebagai kernet metromini juga mendapat upah pas-pasan. ”Saya juga mulai mengalami masalah penglihatan. Tahun 2000-an, akhirnya saya memutuskan tidak bekerja di pabrik. Uang pesangon digunakan sebagai modal membuat usaha onde-onde ketawa,” kata Paini. Awalnya Paini menitipkan onde-onde ketawa ke satu warung hingga berkembang jadi 200 warung. Dari hanya onde-onde ketawa, usahanya berkembang jadi aneka camilan kering. Semua pendapatan dari usaha itu dipakai untuk mendirikan dan mengoperasikan Rumah Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi, untuk menampung dan membina kelompok disabilitas yang mengalami diskriminasi di masyarakat agar berdaya. Di situ, Paini mengajari penyandang disabilitas lain memasak dan menjahit. Sejumlah lembaga, seperti Badan Amil Zakat Nasional, pernah membantu memberi pelatihan wirausaha. Saat ini sudah ada ratusan penyandang disabilitas yang keluar dari rumah singgah yang sederhana itu dan berwirausaha sendiri. (Yoga)

UMKM Terus Didorong Berjejaring di Platform Digital

KT1 19 Dec 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Pelaku usaha UMKM di Tanah Air terus didorong untuk ke platform digital (marketplace/e-commerce) guna meningkatkan jejaring dan memaksimalkan peluang bisnis. Optimalisasi potensi UMKM untuk menggerakkan  ekonomi digital  nasional diyakini menjadi salah satu solusi agar Indonesia dapat keluar  dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap/MIT) agar berubah menjadi negara maju. Saat ini, Indonesia memiliki setidaknya total sekitar 65 juta UMKM yang terus dibina  agar naik kelas  secara skala bisnis serta memperluas jangkauan pasar ke kancah  nasional dan global. Mereka punya peran strategis dalam perekonomian karena berkontribusi sekitar 61% terhadap PDB dan menyerap tenaga kerja 97% secara nasional. Menurut data Kementerian Koperasi dan UMKM RI serta Kemenkominfo Perekonomian, total ada 22 juta lebih UMKM yang sudah memasarkan produk/jasanya di platform digital hingga akhir 2023, diperkirakan mencapai 27 juta UMKM. 

Janji untuk UMKM Indonesia

KT3 13 Dec 2023 Kompas

Perdagangan lintas negara membuat produk impor mudah diperoleh konsumen. Persaingan dengan produk UMKM lokal terbuka. Kesepakatan bisnis antara Tiktok dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengawali pekan ini. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/12) kedua pihak mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, dengan fokus pada pemberdayaan serta perluasan pasar bagi pelaku UMKM nasional. Indonesia disebut sebagai pasar terbesar kedua Tiktok. Kolaborasi Tiktok dan Tokopedia akan saling melengkapi. Sekitar 125 juta pengguna aktif bulanan Tiktok di Indonesia merupakan target konsumen bagi Tokopedia dan GoTo. Bersamaan dengan Hari Belanja Online Nasional, Selasa (12/12), Tokopedia dan Tiktok  meluncurkan kampanye Beli Lokal 12.12. Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan harapannya agar e-dagang membantu pemerintah meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM Indonesia serta memberi ruang bagi produk Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2021 ada 67 juta UMKM di Indonesia, yang berkontribusi 61 % terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Belum semua UMKM menjangkau pasar melalui jejaring digital secara langsung. Ada yang bergabung dengan lokapasar atau memasarkan produk melalui pihak ketiga. Ruang bagi produk Indonesia, khususnya karya UMKM, di dalam ekosistem e-dagang, layak dicatat dengan huruftebal. Di tengah perdagangan global yang kian masif, suatu produk dapat dengan mudah dan murah melintasi batas negara. Jika tak dilindungi, produk UMKM Indonesia bisa tersingkir karena kalah bersaing dari produk impor berharga murah. Ekonomi digital di Indonesia berpotensi terus berkembang. Data e-Conomy South East Asia yang dirilis Google, Temasek, dan Bain and Company pada 1 November 2023 menunjukkan, e-dagang merupakan penopang utama ekonomi digital di Indonesia. Dari gross merchandise value (GMV) ekonomi digital di Indonesia senilai 76 miliar USD pada 2022, sebesar 58 miliar USD di antaranya dari e-dagang. (Yoga)

Kemenyan yang Mendunia

KT3 13 Dec 2023 Kompas

Peradaban kemenyan hidup berabad-abad di Tanah Batak. Dalam jalan sunyi menjaga hutan, masyarakat adat menghasilkan triliunan rupiah. Semerbak kemenyan menyebar ke seluruh dunia. Kaum bapak dan pria dewasa Desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut, pergi ke hutan kemenyan sejak Senin (13/12). Bahkan, ada yang sudah hampir dua pekan belum pulang. November merupakan awal musim panen kemenyan di kawasan itu. Menjelang sore, Tulus Fransiskus Sinambela (24) pulang membawa bakul berisi kemenyan yang baru dipanen. ”Baru dua malam saya sudah pulang karena sudah dapat hasil kemenyan,” katanya. Tulus adalah generasi muda masyarakat adat yang konsisten melanjutkan peradaban kemenyan (marhaminjon). Mereka mewarisinya dari leluhur yang hidup dalam wilayah dan hukum masyarakat adat yang membentuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Hampir semua aspek kehidupan mereka dipengaruhi kemenyan.

Kemenyan membawa kemakmuran bagi petaninya. Dengan harga kemenyan kualitas 1 Rp 300.000 per kg, petani bisa mendapatkan Rp 45 juta saat musim panen, yang digunakan untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak petani yang umumnya bersekolah di kota. Peneliti BRIN di Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Aswandi mengatakan, peradaban kemenyan berjalan berabad-abad di hutan adat kawasan Danau Toba. Perdagangan kemenyan dan kapur barus di Pelabuhan Barus, pantai barat Sumut, bahkan sudah tercatat lebih dari 1.000 tahun lalu. Menurut data Dinas Peternakan dan Perkebunan Sumut, produksi kemenyan pada 2021 mencapai 8.845 ton dengan luas 23.172 hektar. Produksinya pernah mencapai 11.000 ton. Dengan harga Rp 300.000 di tingkat petani, nilai ekonomi yang beredar di petani Rp 2,65 triliun. Kemenyan dikenal sebagai benzoin di perdagangan dunia. Benzoin digunakan untuk bahan obat, pengawet makanan, kosmetik, dan parfum. Harga 1 liter minyak benzoin mencapai Rp 5 juta. Biaya produksi 1 liter minyak benzoin hanya Rp 400.000. ”Produksinya bisa dibuat di tingkat petani dengan skala UMKM. Dengan hilirisasi ini, nilai tambah yang didapat bisa berkali lipat,” kata Aswandi. (Yoga)

HUTAN ADAT, Kami Wariskan Hutan ke Tangan Anak Muda

KT3 12 Dec 2023 Kompas (H)

Semakin banyak anak muda terbuka dan sadar akan potensi hutan adatnya. Kaum milenial perlu  terus merawat kelestarian hutan agar kelak dapat mewariskannya ke generasi berikutnya. Di usia yang masih kepala dua, Tulus Sinambela lega mendapatkan pengakuan atas hutan adat mereka. Seumur hidup ia menyaksikan orangtuanya berjuang merebut kembali hutan adat itu dari perusahaan monokultur. Tulus (24) bersama 76 pemuda lain dari Kabupaten Tapanuli Utara, Samosir, Toba, dan Humbang Hasundutan, Sumut, bergabung membentuk organisasi pemuda petani Naposo Pature Bona (NPB). ”Cikal bakalnya karena masih banyak ancaman dari perusahaan, juga dari pemerintah. Kalau enggak dilindungi sama anak muda, ya, hutannya selesai juga,” ungkap anggota Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta itu, Rabu (15/11). Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta di Humbang Hasundutan dua tahun lalu mendapatkan legalitas seluas 4.399 hektar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Mereka bersama lima kelompok masyarakat adat di Sumut bisa mengelola 7.224 hektar.

Lewat organisasi dampingan Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), mereka mempelajari potensi hutan. Salah satunya dengan mengurus tanaman kemenyan warisan. Pohon kemenyan merupakan andalan ekonomi keluarganya meski mereka menggarap tanaman kebun lainnya untuk kebutuhan harian. Sejak konflik lahan dengan perusahaan, pohon mereka berkurang, produktivitasnya menurun. Lima tahun menjadi petani, Tulus merasakan penurunan hasil getah bernilai ekspor itu karena faktor iklim. ”Di luar masa panen raya, kami juga rutin ke hutan untuk ambil tahir (sisa getah panen). Tetapi, sehari di hutan paling dapat 2 kg, bahkan satu bakul saja enggak penuh. Padahal, dulu bisa dapat dua-tiga kalinya,” kata Tulus. Harga tahir kemenyan sekitar Rp 100.000 per kg, lebih murah dari getah panen Rp 300.000 per kg. Mereka mulai mencari cara meningkatkan nilai tambah daripada menjualnya langsung. Salah satunya dengan berlatih membuat minyak wangi dari getah kemenyan. Ia juga ingin lebih banyak pemuda yang lebih terbuka dan paham dengan potensi wilayah adat mereka. ”Makanya, NPB itu dibentuk bukan cuma untuk mengelola dan melindungi wilayah adat dan hutannya, tetapi juga mengembangkannya,” ujarnya. (Yoga)

Saring Sampah Dulang Manfaat

KT3 12 Dec 2023 Kompas

Agus (54) memilah sampah plastik dari cacahan sampah kayu yang digerakkan oleh sabuk pemindah  (conveyor belt) di tempat penyaringan sampah Sungai Ciliwung di TB Simatupang, Jaksel, Senin (11/12). Sampah harus dipilah karena akan diolah menjadi pupuk kompos dan bahan bakar alternatif. Sampah yang dicacah bersumber dari hulu Sungai Ciliwung yang berasal dari Depok dan Bogor. Dalam sehari, ada 8 ton sampah yang terangkut, 70 % di antaranya merupakan sampah organik berupa kayu dan bambu. Ada 40 petugas lain yang turut memilah sampah. Selain sampah plastik, ada beberapa jenis sampah yang tidak boleh ikut dicacah, antara lain sampah besi, baja, paku, dan batang kayu yang terlalu besar.

”Proses pemilahan harus dilakukan seketat mungkin agar sampah yang dikelola bisa berfungsi dengan baik,” kata Agus yang juga koordinator tim pemilah. Pemilahan menjadi bagian penting karena hasilnya dijadikan pupuk kompos dan bahan bakar alternatif (refuse derived fuel/RDF). Hasil pupuk kompos disalurkan ke warga sekitar tempat penyaringan, kelurahan hingga ke kecamatan yang ada di Jakarta, diantaranya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pondok Kopi, Jaktim. Pupuk digunakan untuk menanam tanaman di RPTRA ini. Dari pupuk itu tumbuh berbagai tanaman, seperti cabai, terung, anggur, pepaya, dan sejumlah tanaman sayur lain. ”Hasil panen dijual ke masyarakat dengan harga lebih murah dari harga pasar,” kata Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi Asti Sitorus.  (Yoga)

Tantangan Hapus Buku Kredit Macet UMKM

KT1 12 Dec 2023 Tempo
Angin segar segera berembus di industri perbankan. Pemerintah akan melakukan hapus buku dan hapus tagih pada kredit macet usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apa manfaatnya? Faktor apa saja yang wajib dipenuhi agar upaya itu berjalan mulus?. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 3 November 2023 menunjukkan kredit UMKM naik 8,9 persen, dari Rp 1.296,93 triliun per Agustus 2022 menjadi Rp 1.412,39 triliun per Agustus 2023. Angka pertumbuhan itu naik 7,6 persen dibanding pada bulan sebelumnya, Juli 2023. Total kredit UMKM yang sebesar Rp 1.412,39 triliun itu meliputi kredit modal kerja yang naik 5,06 persen, dari Rp 983,16 triliun menjadi Rp 1.032,93 triliun. Kredit investasi pun naik signifikan sebesar 20,93 persen, dari Rp 313,77 triliun menjadi Rp 379,45 triliun. Kredit bermasalah (NPL) membaik, dari 4,09 persen menjadi 3,99 persen, yang masih di bawah ambang batas aman 5 persen. (Yetede)

MINGGU PAGI DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN

KT3 11 Dec 2023 Kompas

Di sepanjang Gang Lurung Cilik, Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jatim, tak jauh dari balai desa, ibu-ibu penjaja makanan dan pengunjung sama-sama menebar bahagia. Saling sapa dan  tersenyum ramah, berbalut canda. Di kanan-kiri gang, deretan lapak kuliner berjajar rapi di sepanjang gang yang memiliki lebar 2 meter. Dagangan dipajang di atas meja lapak dengan sederhana. Ada yang menuliskan nama jualannya di atas kertas, dan ada yang lebih memilih menjelaskan langsung saat ada pembeli mendekat. Ibu-ibu penjual di pasar jajanan Kampung Osing Kemiren pun melayani pembeli dengan berdandan rapi, mengenakan kebaya warna hitam, dan kain batik sebagai bawahan. Sangat memikat hati. Desa Kemiren adalah salah satu desa wisata adat di Indonesia.

”Silakan, ada pecel pithik (pecel ayam), ada semanggi, ada kue apem gula aren juga,” sambut Raja Onah alias Mak Onah (53), warga Desa Kemiren, yang menjadi salah satu penjual di pasar jajanan Osing, Minggu (19/11). Mak Onah memiliki banyak pelanggan, hampir tiap hari Minggu, pelanggannya menyempatkan datang dari pelosok Banyuwangi atau bahkan dari luar kota. Salah satu pengunjung, Didik Enggot (60), warga yang rumahnya di selatan Banyuwangi, daerah Bangorejo, berboncengan motor dengan istrinya sejauh 50 km, untuk menikmati kuliner Osing di Desa Kemiren. Didik bercerita bahwa dia sudah sering memesan pecel pithik pada Mak Onah. Selain harga terjangkau, masakan Mak Onah dinilainya cocok di lidah. Sebelum pulang, Didik meminta jajanan tradisional seperti apem gula aren, cucur, dan serabi untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk keluarganya di rumah. Setidaknya Didik menghabiskan uang sekitar Rp 100.000. Belum dia membeli es dan camilan di lapak lain.

Dedi Wahyu Hernanda (30), pengarah pasar Kampung Osing, bercerita bahwa pasar tersebut mulai muncul tahun 2018, diinisiasi Kementerian Pariwisata. ”Awalnya hanya berjualan makanan, kemudian tahun 2019 kami tambah dengan spot hiburan atau budaya seperti angklung paglak dan lesung, serta yang instagramable sehingga pengunjung lebih bersemangat datang,” kata Dedi. Selain orang berjualan, memang ada sekelompok pemusik memainkan alat musik lesung untuk menghibur para pengunjung di pasar jajanan tersebut. Di pasar jajanan kampong Osing, setidaknya ada 20 penjual jajanan dan 23 penjual nasi. Pendapatan total dalam sehari (selama lebih kurang 4 jam) bisa mencapai sekitar Rp 70 juta. Dedi mengatakan, pasar tersebut sebenarnya dibuat untuk memberikan pemasukan tambahan bagi warga Kemiren yang sehari hari bertani. Namun, lama-lama pasar itu justru menjadi pasar wisata. Pedagang jajanan dibebani pajak Rp 5.000 dan pedagang nasi terkena pajak Rp 10.000 per jualan. Dari uang pajak itu, dalam setahun, kami akan sumbangkan 50 % untuk Bumdes (badan usaha milik desa),” kata Dedi. Sisanya, dana kas akan digunakan untuk operasional pasar tersebut. (Yoga)

Memperkuat Ekosistem Usaha Koperasi & UMKM

HR1 09 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Tantangan ekonomi global datang silih berganti dan makin berat pada masa mendatang. Di antaranya terjadi disrupsi teknologi, residu pandemi Covid-19, perubahan iklim, perang Rusia-Ukraina, dan yang paling menyedihkan perang Israel dan Palestina. Patut kita syukuri, perekonomian Indonesia sudah kembali pulih dan stabil. Kendati pada kuartal III/2023 terjadi perlambatan, ekonomi masih tumbuh 4,9% YoY (BPS, 2023). Ini tidak lepas dari peran UMKM dan koperasi. Namun, kita patut waspada dengan terus menjaga inflasi jangan sampai melambung tinggi yang akan mengancam daya beli masyarakat. Menurut Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, jalan utama agar ekonomi Indonesia tetap kokoh adalah dengan pengembangan UMKM dan koperasi yang terintegrasi dan terencana, serta harus keluar dari jebakan pendekatan survival ke pendekatan kewirausahaan. Adanya PP No. 7/2021 makin berpihak kepada UMKM dan Koperasi, yakni perizinan sederhana, regulasi tidak tumpang-tindih, akses pembiayaan mudah dan murah, on boarding ke digital, perlindungan hukum, dan berbagai insentif lainnya. Pemerintah juga serius dalam pengembangan kewirausahaan nasional dengan menerbitkan Perpres No. 2/2022 tentang Kewirausahaan dengan target meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95% pada 2024 atau 8% pada 2045. Ini menjadi tantangan besar, karena rasio kewirausahaan kita masih di bawah 3%. Pada koperasi, ekosistem terus dibangun melalui pendampingan digitalisasi, berbasis komoditas, dan adanya pembiayaan murah. Pendampingan dilakukan melalui lembaga inkubator; kemudahan administrasi dan digitalisasi perizinan Koperasi; serta pengembangan sistem digitalisasi bagi Koperasi. Kemitraan diperkuat melalui pengembangan rantai nilai industri melalui kemitraan usaha kecil dengan usaha besar sesuai amanat UU Cipta Kerja. Kemitraan diperluas awalnya hanya enam BUMN menjadi 17 BUMN, begitupun dengan Swasta. Idealnya, produk UMKM haruslah menyuplai industri pada core bisnis utamanya. Misalnya di Jepang industri otomotifnya butuh baut, hal itu dikerjakan oleh UMKM-nya. Jangan usaha kesehatan, tapi yang dibina UMKM kerajinan, sehingga terkesan ini hanya pelepas tanggung jawab perusahaan. Tantangan besar kita bagaimana menggelorakan bangga dengan produk buatan sendiri. Jangan sampai anak-anak negeri bangga memakai baju buangan atau bekas dari luar negeri. Dari sisi pembiayaan dan investasi dilakukan melalui perluasan akses investasi UKM melalui securities crowd funding, saham dan sukuk, pendampingan KUR klaster dan kecil, serta pembiayaan ekspor UKM oleh BNI Xpora dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.