;
Tags

UMKM

( 688 )

Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu

KT3 23 Dec 2023 Kompas

Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut   empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.

”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo, Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo, Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar, tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak, dan kunir putih. (Yoga)

MEWAKILI KASIH NATAL LEWAT ”GIFT BOX”

KT3 23 Dec 2023 Kompas

Di Manado, Natal tak hanya dirayakan pada 25 Desember, tetapi juga sepanjang bulan itu. Jalanan yang semarak oleh kelap-kelip lampu hias mendadak macet setiap hari, orang dari segala penjuru tumpah ruah untuk belanja, dari baju, kue, hingga kado natal. Bersama ingar-bingar itu tumbuh tren memberi semacam hamper atau kotak berisi aneka hadiah untuk saudara, teman, atau kekasih. Peluang pasar ini segera ditangkap para pengusaha mikro yang merintis bisnis kreatifnya dari rumah atau bahkan indekos. Ketiadaan toko fisik tak menjadi masalah selama ada media sosial. Christy Natalia (29) salah satunya. Empat tahun lalu, ia mulai merintis usaha cendera mata bernama Unboxingme.id. Produk utamanya adalah plakat akrilik yang kian diminati sebagai bentuk ucapan selamat atas ulang tahun, kelulusan, hingga kelanggengan hubungan asmara orang-orang terkasih. Menariknya, bisnis tersebut dijalankan dari kamar kosnya di bilangan Sario Kotabaru. Etalase Unboxingme.id sepenuhnya digital dalam bentuk akun Instagram, Facebook, Tiktok, dan Whatsapp Business.

Siapa pun dapat melihat produknya langsung dari genggaman tangan. ”Memang, selama ini banyak yang tanya, ’Ada tokonya enggak?’ Soalnya, mereka mau lihat langsung. Tapi, memang enggak ada. Biasanya, saya langsung arahkan ke Instagram karena semua (produk) ada fotonya,” kata lulusan Ilmu Manajemen Universitas Klabat, Minahasa Utara, itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember ini Christy membuka pesanan kotak hadiah (gift box) bertema Natal. Dengan harga promosi Rp 95.000, setiap kotak umumnya berisi empat barang, misalnya boneka beruang bertopi sinterklas, mug bertuliskan ”Merry Christmas”, serta dua stoples kue kering. Ada pula paket yang berisi plakat akrilik bertuliskan ”Merry Christmas” dan nama penerima, satu stoples kukis, sebuah termos, dan sekotak alat makan. ”Tapi, bisa juga sesuai request (permintaan) customer (pelanggan). Kalau mau tambah satu barang, harga mengikuti,” kata Christy. Dua pekan menjelang 25 Desember, pesanan datang bertubi-tubi. ”Dimasa biasa, (omzet) Rp 5 juta-Rp 10 juta per bulan. Kalau sekarang (Natal), sih, pasti lumayan, kisaran Rp 25 juta per bulan,” ujarnya. (Yoga)

Keringat Para Puan Rintis Wisata di Pulau Kecil

KT3 22 Dec 2023 Kompas (H)

Di Batam, kaum perempuan menjadi pelopor yang merintis wisata di pulau kecil. Suhana (41) memandu tiga wisatawan berjalan mengelilingi Kampung Melayu di Pulau Ngenang. Rumah-rumah warga tertata apik. Halamannya ditanami rumput jepang dan berbagai jenis bunga. Di pinggir kampung, hutan bakau dijaga agar tetap rindang untuk melindungi rumah warga dari hantaman ombak. ”Pemerintah banyak kasih bantuan sejak wisata di Ngenang berkembang. Pelabuhan dipercantik, jalan kampong dicor, juga dibikinkan saluran air,” kata Suhana, Kamis (14/12). Pulau Ngenang berada di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepri. Wisatawan bisa pergi ke Ngenang dengan menyewa perahu mesin, 15 menit dari Pelabuhan Telaga Punggur di Batam. Suhana adalah Ketua Perajin Tenun di Pulau Ngenang, dengan 18 perajin. Mereka awalnya diajari menenun oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Batam pada 2018. ”Pertama kali belajar, saya heran banget benang kusut, kok, bisa jadi kain cantik. Dari pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta,” ujarnya. Seperti umumnya perempuan Melayudi pulau-pulau kecil Nusantara, Suhana juga nelayan pesisir. Saat air surut, ia turun kelaut untuk memancing dan mencari siput. Setelah menenun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Tenun yang dibangun Pemkot Batam pada 2022. Disini tersedia lima alat tenun bukan mesin (ATBM) yang bisa digunakan para perajin. Kain tenun dijual Rp 400.000 hingga Rp 750.000 per meter, tergantung kerumitan motif. Motif tenun banyak terinspirasi dari alam pesisir, seperti burung layang-layang, ikan marlin, daun sirih, dan bunga setu. Setiap perajin rata-rata bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta per bulan.

Antusiasme perempuan Ngenang menjadi perajin tenun menular ke warga lainnya. Selain kelompok perajin tenun, di pulau itu dibentuk juga kelompok perajin batik dan perajin rajut. Salah satu perajin batik, Suminah (65), menuturkan, saat ini ada 10 orang yang bergiat di Rumah Batik Ngenang. Batik karya para perempuan Ngenang dijual Rp 160.000 per 2 meter untuk batik cap dan Rp 500.000 per 2 meter untuk batik tulis. Tak jauh dari Rumah Batik terdapat juga Rumah Rajut. Di situ, para perempuan Ngenang biasa berkumpul untuk membuat berbagai macam cendera mata dari benang wol. Gantungan kunci dijual Rp 10.000, sedangkan tas kecil dibanderol Rp 100.000. Perajin rajut di Ngenang ada belasan orang. Mereka memasarkan karya dengan memajang di kios-kios sepanjang jalan yang dilalui wisatawan. Setiap kali ada rombongan turis datang, mereka bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 500.000. Arus wisatawan ke Ngenang menumbuhkan kesadaran warga untuk bersama-sama membangun wisata kampung. Suami Apsah, Abdul Gani (63), bahkan rela menghibahkan tanahnya untuk dijadikan tempat bagi perajin menenun. ”Saya berikan tanah itu demi kemajuan kampung. Harapannya, kalau wisata di kampung semakin ramai, ekonomi warga juga akan lebih terangkat,” kata Abdul. Apsah menambahkan, warga Ngenang selalu antusias mengikuti pelatihan terkait wisata yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. ”Kami juga minta diajari Bahasa Inggris sama mahasiswa yang lagi KKN di sini. Biar kami bisa bercakap-cakap sama turis-turis yang datang,” ujar Apsah. (Yoga)

Wirausaha Penyandang Disabilitas, dari Katering hingga Rias Wajah

KT3 19 Dec 2023 Kompas

Penyandang disabilitas dengan segala keterbatasannya jatuh bangun berwirausaha mandiri. Mereka berdaya dan bermanfaat bagi keluarga dan sesama disabilitas. Paini (52), perempuan disabilitas asal Wonogiri, Jateng, memiliki jari-jari tangan dan kaki yang pendek sejak lahir. Berbekal ijazah SMA, pada 1992 dia memutuskan merantau ke Bekasi, Jabar, untuk mencari lapangan kerja yang lebih baik. Kenyataannya berbeda. Dari enam perusahaan yang ia kirimi surat lamaran kerja, tak satu pun yang memanggil. ”Saya perempuan, bertubuh pendek, disabilitas, dan memakai hijab. Diskriminasi tersebut dialamatkan ke saya sehingga saya susah diterima kerja. Saya kelelahan, hampir menyerah, hingga di pabrik boneka milik Korea Selatan, saya nekat menyodorkan diri meski tiga hari pertama tidak dibayar dulu,” ujarnya, Minggu (17/12) di Jakarta. Dalam tiga hari itu, Paini belajar menjahit dengan mesin jahit modern yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Salah seorang supervisor yang, menurut dia, baik hati mau mengajari, sampai dia akhirnya bisa menjahit semua bagian boneka. Perusahaan akhirnya mau mempekerjakan dan menggajinya. Ia bekerja selama dua tahun di situ hingga menikah.

Upah sebagai buruh pabrik pas-pasan meskipun ia mengambil lembur sampai pulang malam. Suaminya yang bekerja sebagai kernet metromini juga mendapat upah pas-pasan. ”Saya juga mulai mengalami masalah penglihatan. Tahun 2000-an, akhirnya saya memutuskan tidak bekerja di pabrik. Uang pesangon digunakan sebagai modal membuat usaha onde-onde ketawa,” kata Paini. Awalnya Paini menitipkan onde-onde ketawa ke satu warung hingga berkembang jadi 200 warung. Dari hanya onde-onde ketawa, usahanya berkembang jadi aneka camilan kering. Semua pendapatan dari usaha itu dipakai untuk mendirikan dan mengoperasikan Rumah Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi, untuk menampung dan membina kelompok disabilitas yang mengalami diskriminasi di masyarakat agar berdaya. Di situ, Paini mengajari penyandang disabilitas lain memasak dan menjahit. Sejumlah lembaga, seperti Badan Amil Zakat Nasional, pernah membantu memberi pelatihan wirausaha. Saat ini sudah ada ratusan penyandang disabilitas yang keluar dari rumah singgah yang sederhana itu dan berwirausaha sendiri. (Yoga)

UMKM Terus Didorong Berjejaring di Platform Digital

KT1 19 Dec 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Pelaku usaha UMKM di Tanah Air terus didorong untuk ke platform digital (marketplace/e-commerce) guna meningkatkan jejaring dan memaksimalkan peluang bisnis. Optimalisasi potensi UMKM untuk menggerakkan  ekonomi digital  nasional diyakini menjadi salah satu solusi agar Indonesia dapat keluar  dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap/MIT) agar berubah menjadi negara maju. Saat ini, Indonesia memiliki setidaknya total sekitar 65 juta UMKM yang terus dibina  agar naik kelas  secara skala bisnis serta memperluas jangkauan pasar ke kancah  nasional dan global. Mereka punya peran strategis dalam perekonomian karena berkontribusi sekitar 61% terhadap PDB dan menyerap tenaga kerja 97% secara nasional. Menurut data Kementerian Koperasi dan UMKM RI serta Kemenkominfo Perekonomian, total ada 22 juta lebih UMKM yang sudah memasarkan produk/jasanya di platform digital hingga akhir 2023, diperkirakan mencapai 27 juta UMKM. 

Janji untuk UMKM Indonesia

KT3 13 Dec 2023 Kompas

Perdagangan lintas negara membuat produk impor mudah diperoleh konsumen. Persaingan dengan produk UMKM lokal terbuka. Kesepakatan bisnis antara Tiktok dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengawali pekan ini. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/12) kedua pihak mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, dengan fokus pada pemberdayaan serta perluasan pasar bagi pelaku UMKM nasional. Indonesia disebut sebagai pasar terbesar kedua Tiktok. Kolaborasi Tiktok dan Tokopedia akan saling melengkapi. Sekitar 125 juta pengguna aktif bulanan Tiktok di Indonesia merupakan target konsumen bagi Tokopedia dan GoTo. Bersamaan dengan Hari Belanja Online Nasional, Selasa (12/12), Tokopedia dan Tiktok  meluncurkan kampanye Beli Lokal 12.12. Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan harapannya agar e-dagang membantu pemerintah meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM Indonesia serta memberi ruang bagi produk Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2021 ada 67 juta UMKM di Indonesia, yang berkontribusi 61 % terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Belum semua UMKM menjangkau pasar melalui jejaring digital secara langsung. Ada yang bergabung dengan lokapasar atau memasarkan produk melalui pihak ketiga. Ruang bagi produk Indonesia, khususnya karya UMKM, di dalam ekosistem e-dagang, layak dicatat dengan huruftebal. Di tengah perdagangan global yang kian masif, suatu produk dapat dengan mudah dan murah melintasi batas negara. Jika tak dilindungi, produk UMKM Indonesia bisa tersingkir karena kalah bersaing dari produk impor berharga murah. Ekonomi digital di Indonesia berpotensi terus berkembang. Data e-Conomy South East Asia yang dirilis Google, Temasek, dan Bain and Company pada 1 November 2023 menunjukkan, e-dagang merupakan penopang utama ekonomi digital di Indonesia. Dari gross merchandise value (GMV) ekonomi digital di Indonesia senilai 76 miliar USD pada 2022, sebesar 58 miliar USD di antaranya dari e-dagang. (Yoga)

Kemenyan yang Mendunia

KT3 13 Dec 2023 Kompas

Peradaban kemenyan hidup berabad-abad di Tanah Batak. Dalam jalan sunyi menjaga hutan, masyarakat adat menghasilkan triliunan rupiah. Semerbak kemenyan menyebar ke seluruh dunia. Kaum bapak dan pria dewasa Desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut, pergi ke hutan kemenyan sejak Senin (13/12). Bahkan, ada yang sudah hampir dua pekan belum pulang. November merupakan awal musim panen kemenyan di kawasan itu. Menjelang sore, Tulus Fransiskus Sinambela (24) pulang membawa bakul berisi kemenyan yang baru dipanen. ”Baru dua malam saya sudah pulang karena sudah dapat hasil kemenyan,” katanya. Tulus adalah generasi muda masyarakat adat yang konsisten melanjutkan peradaban kemenyan (marhaminjon). Mereka mewarisinya dari leluhur yang hidup dalam wilayah dan hukum masyarakat adat yang membentuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Hampir semua aspek kehidupan mereka dipengaruhi kemenyan.

Kemenyan membawa kemakmuran bagi petaninya. Dengan harga kemenyan kualitas 1 Rp 300.000 per kg, petani bisa mendapatkan Rp 45 juta saat musim panen, yang digunakan untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak petani yang umumnya bersekolah di kota. Peneliti BRIN di Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Aswandi mengatakan, peradaban kemenyan berjalan berabad-abad di hutan adat kawasan Danau Toba. Perdagangan kemenyan dan kapur barus di Pelabuhan Barus, pantai barat Sumut, bahkan sudah tercatat lebih dari 1.000 tahun lalu. Menurut data Dinas Peternakan dan Perkebunan Sumut, produksi kemenyan pada 2021 mencapai 8.845 ton dengan luas 23.172 hektar. Produksinya pernah mencapai 11.000 ton. Dengan harga Rp 300.000 di tingkat petani, nilai ekonomi yang beredar di petani Rp 2,65 triliun. Kemenyan dikenal sebagai benzoin di perdagangan dunia. Benzoin digunakan untuk bahan obat, pengawet makanan, kosmetik, dan parfum. Harga 1 liter minyak benzoin mencapai Rp 5 juta. Biaya produksi 1 liter minyak benzoin hanya Rp 400.000. ”Produksinya bisa dibuat di tingkat petani dengan skala UMKM. Dengan hilirisasi ini, nilai tambah yang didapat bisa berkali lipat,” kata Aswandi. (Yoga)

HUTAN ADAT, Kami Wariskan Hutan ke Tangan Anak Muda

KT3 12 Dec 2023 Kompas (H)

Semakin banyak anak muda terbuka dan sadar akan potensi hutan adatnya. Kaum milenial perlu  terus merawat kelestarian hutan agar kelak dapat mewariskannya ke generasi berikutnya. Di usia yang masih kepala dua, Tulus Sinambela lega mendapatkan pengakuan atas hutan adat mereka. Seumur hidup ia menyaksikan orangtuanya berjuang merebut kembali hutan adat itu dari perusahaan monokultur. Tulus (24) bersama 76 pemuda lain dari Kabupaten Tapanuli Utara, Samosir, Toba, dan Humbang Hasundutan, Sumut, bergabung membentuk organisasi pemuda petani Naposo Pature Bona (NPB). ”Cikal bakalnya karena masih banyak ancaman dari perusahaan, juga dari pemerintah. Kalau enggak dilindungi sama anak muda, ya, hutannya selesai juga,” ungkap anggota Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta itu, Rabu (15/11). Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta di Humbang Hasundutan dua tahun lalu mendapatkan legalitas seluas 4.399 hektar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Mereka bersama lima kelompok masyarakat adat di Sumut bisa mengelola 7.224 hektar.

Lewat organisasi dampingan Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), mereka mempelajari potensi hutan. Salah satunya dengan mengurus tanaman kemenyan warisan. Pohon kemenyan merupakan andalan ekonomi keluarganya meski mereka menggarap tanaman kebun lainnya untuk kebutuhan harian. Sejak konflik lahan dengan perusahaan, pohon mereka berkurang, produktivitasnya menurun. Lima tahun menjadi petani, Tulus merasakan penurunan hasil getah bernilai ekspor itu karena faktor iklim. ”Di luar masa panen raya, kami juga rutin ke hutan untuk ambil tahir (sisa getah panen). Tetapi, sehari di hutan paling dapat 2 kg, bahkan satu bakul saja enggak penuh. Padahal, dulu bisa dapat dua-tiga kalinya,” kata Tulus. Harga tahir kemenyan sekitar Rp 100.000 per kg, lebih murah dari getah panen Rp 300.000 per kg. Mereka mulai mencari cara meningkatkan nilai tambah daripada menjualnya langsung. Salah satunya dengan berlatih membuat minyak wangi dari getah kemenyan. Ia juga ingin lebih banyak pemuda yang lebih terbuka dan paham dengan potensi wilayah adat mereka. ”Makanya, NPB itu dibentuk bukan cuma untuk mengelola dan melindungi wilayah adat dan hutannya, tetapi juga mengembangkannya,” ujarnya. (Yoga)

Saring Sampah Dulang Manfaat

KT3 12 Dec 2023 Kompas

Agus (54) memilah sampah plastik dari cacahan sampah kayu yang digerakkan oleh sabuk pemindah  (conveyor belt) di tempat penyaringan sampah Sungai Ciliwung di TB Simatupang, Jaksel, Senin (11/12). Sampah harus dipilah karena akan diolah menjadi pupuk kompos dan bahan bakar alternatif. Sampah yang dicacah bersumber dari hulu Sungai Ciliwung yang berasal dari Depok dan Bogor. Dalam sehari, ada 8 ton sampah yang terangkut, 70 % di antaranya merupakan sampah organik berupa kayu dan bambu. Ada 40 petugas lain yang turut memilah sampah. Selain sampah plastik, ada beberapa jenis sampah yang tidak boleh ikut dicacah, antara lain sampah besi, baja, paku, dan batang kayu yang terlalu besar.

”Proses pemilahan harus dilakukan seketat mungkin agar sampah yang dikelola bisa berfungsi dengan baik,” kata Agus yang juga koordinator tim pemilah. Pemilahan menjadi bagian penting karena hasilnya dijadikan pupuk kompos dan bahan bakar alternatif (refuse derived fuel/RDF). Hasil pupuk kompos disalurkan ke warga sekitar tempat penyaringan, kelurahan hingga ke kecamatan yang ada di Jakarta, diantaranya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pondok Kopi, Jaktim. Pupuk digunakan untuk menanam tanaman di RPTRA ini. Dari pupuk itu tumbuh berbagai tanaman, seperti cabai, terung, anggur, pepaya, dan sejumlah tanaman sayur lain. ”Hasil panen dijual ke masyarakat dengan harga lebih murah dari harga pasar,” kata Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi Asti Sitorus.  (Yoga)

Tantangan Hapus Buku Kredit Macet UMKM

KT1 12 Dec 2023 Tempo
Angin segar segera berembus di industri perbankan. Pemerintah akan melakukan hapus buku dan hapus tagih pada kredit macet usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apa manfaatnya? Faktor apa saja yang wajib dipenuhi agar upaya itu berjalan mulus?. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 3 November 2023 menunjukkan kredit UMKM naik 8,9 persen, dari Rp 1.296,93 triliun per Agustus 2022 menjadi Rp 1.412,39 triliun per Agustus 2023. Angka pertumbuhan itu naik 7,6 persen dibanding pada bulan sebelumnya, Juli 2023. Total kredit UMKM yang sebesar Rp 1.412,39 triliun itu meliputi kredit modal kerja yang naik 5,06 persen, dari Rp 983,16 triliun menjadi Rp 1.032,93 triliun. Kredit investasi pun naik signifikan sebesar 20,93 persen, dari Rp 313,77 triliun menjadi Rp 379,45 triliun. Kredit bermasalah (NPL) membaik, dari 4,09 persen menjadi 3,99 persen, yang masih di bawah ambang batas aman 5 persen. (Yetede)