UMKM
( 688 )Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu
Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu
tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu
tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran
secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara
lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak
tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu
memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga
tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras
karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga
kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.
”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon
anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu
Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo,
Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi
lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis
berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa
yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan
jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk
mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo,
Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin
penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses
selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di
atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya
racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar,
tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu
berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga
kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak,
dan kunir putih. (Yoga)
MEWAKILI KASIH NATAL LEWAT ”GIFT BOX”
Di Manado, Natal tak hanya dirayakan pada 25 Desember,
tetapi juga sepanjang bulan itu. Jalanan yang semarak oleh kelap-kelip lampu
hias mendadak macet setiap hari, orang dari segala penjuru tumpah ruah untuk belanja,
dari baju, kue, hingga kado natal. Bersama ingar-bingar itu tumbuh tren memberi
semacam hamper atau kotak berisi aneka hadiah untuk saudara, teman, atau
kekasih. Peluang pasar ini segera ditangkap para pengusaha mikro yang merintis
bisnis kreatifnya dari rumah atau bahkan indekos. Ketiadaan toko fisik tak
menjadi masalah selama ada media sosial. Christy Natalia (29) salah satunya. Empat
tahun lalu, ia mulai merintis usaha cendera mata bernama Unboxingme.id. Produk
utamanya adalah plakat akrilik yang kian diminati sebagai bentuk ucapan selamat
atas ulang tahun, kelulusan, hingga kelanggengan hubungan asmara orang-orang
terkasih. Menariknya, bisnis tersebut dijalankan dari kamar kosnya di bilangan
Sario Kotabaru. Etalase Unboxingme.id sepenuhnya digital dalam bentuk akun
Instagram, Facebook, Tiktok, dan Whatsapp Business.
Siapa pun dapat melihat produknya langsung dari genggaman
tangan. ”Memang, selama ini banyak yang tanya, ’Ada tokonya enggak?’ Soalnya,
mereka mau lihat langsung. Tapi, memang enggak ada. Biasanya, saya langsung arahkan
ke Instagram karena semua (produk) ada fotonya,” kata lulusan Ilmu Manajemen Universitas
Klabat, Minahasa Utara, itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember ini
Christy membuka pesanan kotak hadiah (gift box) bertema Natal. Dengan harga
promosi Rp 95.000, setiap kotak umumnya berisi empat barang, misalnya boneka
beruang bertopi sinterklas, mug bertuliskan ”Merry Christmas”, serta dua
stoples kue kering. Ada pula paket yang berisi plakat akrilik bertuliskan ”Merry
Christmas” dan nama penerima, satu stoples kukis, sebuah termos, dan sekotak
alat makan. ”Tapi, bisa juga sesuai request (permintaan) customer (pelanggan).
Kalau mau tambah satu barang, harga mengikuti,” kata Christy. Dua pekan menjelang
25 Desember, pesanan datang bertubi-tubi. ”Dimasa biasa, (omzet) Rp 5 juta-Rp
10 juta per bulan. Kalau sekarang (Natal), sih, pasti lumayan, kisaran Rp 25
juta per bulan,” ujarnya. (Yoga)
Keringat Para Puan Rintis Wisata di Pulau Kecil
Di Batam, kaum perempuan menjadi pelopor yang merintis wisata
di pulau kecil. Suhana (41) memandu tiga wisatawan berjalan mengelilingi
Kampung Melayu di Pulau Ngenang. Rumah-rumah warga tertata apik. Halamannya
ditanami rumput jepang dan berbagai jenis bunga. Di pinggir kampung, hutan bakau
dijaga agar tetap rindang untuk melindungi rumah warga dari hantaman ombak. ”Pemerintah
banyak kasih bantuan sejak wisata di Ngenang berkembang. Pelabuhan dipercantik,
jalan kampong dicor, juga dibikinkan saluran air,” kata Suhana, Kamis (14/12). Pulau
Ngenang berada di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepri. Wisatawan bisa pergi ke
Ngenang dengan menyewa perahu mesin, 15 menit dari Pelabuhan Telaga Punggur di
Batam. Suhana adalah Ketua Perajin Tenun di Pulau Ngenang, dengan 18 perajin.
Mereka awalnya diajari menenun oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Kota Batam pada 2018. ”Pertama kali belajar, saya heran banget benang kusut, kok,
bisa jadi kain cantik. Dari pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta,”
ujarnya. Seperti umumnya perempuan Melayudi pulau-pulau kecil Nusantara, Suhana
juga nelayan pesisir. Saat air surut, ia turun kelaut untuk memancing dan mencari
siput. Setelah menenun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Tenun yang dibangun
Pemkot Batam pada 2022. Disini tersedia lima alat tenun bukan mesin (ATBM) yang
bisa digunakan para perajin. Kain tenun dijual Rp 400.000 hingga Rp 750.000 per
meter, tergantung kerumitan motif. Motif tenun banyak terinspirasi dari alam
pesisir, seperti burung layang-layang, ikan marlin, daun sirih, dan bunga setu.
Setiap perajin rata-rata bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta per bulan.
Antusiasme perempuan Ngenang menjadi perajin tenun menular
ke warga lainnya. Selain kelompok perajin tenun, di pulau itu dibentuk juga kelompok
perajin batik dan perajin rajut. Salah satu perajin batik, Suminah (65),
menuturkan, saat ini ada 10 orang yang bergiat di Rumah Batik Ngenang. Batik
karya para perempuan Ngenang dijual Rp 160.000 per 2 meter untuk batik cap dan Rp
500.000 per 2 meter untuk batik tulis. Tak jauh dari Rumah Batik terdapat juga
Rumah Rajut. Di situ, para perempuan Ngenang biasa berkumpul untuk membuat
berbagai macam cendera mata dari benang wol. Gantungan kunci dijual Rp 10.000, sedangkan
tas kecil dibanderol Rp 100.000. Perajin rajut di Ngenang ada belasan orang.
Mereka memasarkan karya dengan memajang di kios-kios sepanjang jalan yang
dilalui wisatawan. Setiap kali ada rombongan turis datang, mereka bisa
mengantongi pendapatan sekitar Rp 500.000. Arus wisatawan ke Ngenang menumbuhkan
kesadaran warga untuk bersama-sama membangun wisata kampung. Suami Apsah, Abdul
Gani (63), bahkan rela menghibahkan tanahnya untuk dijadikan tempat bagi
perajin menenun. ”Saya berikan tanah itu demi kemajuan kampung. Harapannya,
kalau wisata di kampung semakin ramai, ekonomi warga juga akan lebih terangkat,”
kata Abdul. Apsah menambahkan, warga Ngenang selalu antusias mengikuti pelatihan
terkait wisata yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. ”Kami juga minta
diajari Bahasa Inggris sama mahasiswa yang lagi KKN di sini. Biar kami bisa
bercakap-cakap sama turis-turis yang datang,” ujar Apsah. (Yoga)
Wirausaha Penyandang Disabilitas, dari Katering hingga Rias Wajah
Penyandang disabilitas dengan segala keterbatasannya jatuh
bangun berwirausaha mandiri. Mereka berdaya dan bermanfaat bagi keluarga dan sesama
disabilitas. Paini (52), perempuan disabilitas asal Wonogiri, Jateng, memiliki
jari-jari tangan dan kaki yang pendek sejak lahir. Berbekal ijazah SMA, pada
1992 dia memutuskan merantau ke Bekasi, Jabar, untuk mencari lapangan kerja
yang lebih baik. Kenyataannya berbeda. Dari enam perusahaan yang ia kirimi
surat lamaran kerja, tak satu pun yang memanggil. ”Saya perempuan, bertubuh
pendek, disabilitas, dan memakai hijab. Diskriminasi tersebut dialamatkan ke
saya sehingga saya susah diterima kerja. Saya kelelahan, hampir menyerah,
hingga di pabrik boneka milik Korea Selatan, saya nekat menyodorkan diri meski
tiga hari pertama tidak dibayar dulu,” ujarnya, Minggu (17/12) di Jakarta. Dalam
tiga hari itu, Paini belajar menjahit dengan mesin jahit modern yang belum pernah
ia lihat sebelumnya. Salah seorang supervisor yang, menurut dia, baik hati mau
mengajari, sampai dia akhirnya bisa menjahit semua bagian boneka. Perusahaan
akhirnya mau mempekerjakan dan menggajinya. Ia bekerja selama dua tahun di situ
hingga menikah.
Upah sebagai buruh pabrik pas-pasan meskipun ia mengambil
lembur sampai pulang malam. Suaminya yang bekerja sebagai kernet metromini juga
mendapat upah pas-pasan. ”Saya juga mulai mengalami masalah penglihatan. Tahun
2000-an, akhirnya saya memutuskan tidak bekerja di pabrik. Uang pesangon digunakan
sebagai modal membuat usaha onde-onde ketawa,” kata Paini. Awalnya Paini
menitipkan onde-onde ketawa ke satu warung hingga berkembang jadi 200 warung.
Dari hanya onde-onde ketawa, usahanya berkembang jadi aneka camilan kering. Semua
pendapatan dari usaha itu dipakai untuk mendirikan dan mengoperasikan Rumah
Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi, untuk menampung dan membina kelompok
disabilitas yang mengalami diskriminasi di masyarakat agar berdaya. Di situ,
Paini mengajari penyandang disabilitas lain memasak dan menjahit. Sejumlah lembaga,
seperti Badan Amil Zakat Nasional, pernah membantu memberi pelatihan
wirausaha. Saat ini sudah ada ratusan penyandang disabilitas yang keluar dari
rumah singgah yang sederhana itu dan berwirausaha sendiri. (Yoga)
UMKM Terus Didorong Berjejaring di Platform Digital
Janji untuk UMKM Indonesia
Perdagangan lintas negara membuat produk impor mudah diperoleh
konsumen. Persaingan dengan produk UMKM lokal terbuka. Kesepakatan bisnis
antara Tiktok dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengawali pekan ini. Dalam
keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/12) kedua pihak
mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi digital
Indonesia, dengan fokus pada pemberdayaan serta perluasan pasar bagi pelaku UMKM
nasional. Indonesia disebut sebagai pasar terbesar kedua Tiktok. Kolaborasi
Tiktok dan Tokopedia akan saling melengkapi. Sekitar 125 juta pengguna aktif
bulanan Tiktok di Indonesia merupakan target konsumen bagi Tokopedia dan GoTo. Bersamaan
dengan Hari Belanja Online Nasional, Selasa (12/12), Tokopedia dan Tiktok meluncurkan kampanye Beli Lokal 12.12. Mendag
Zulkifli Hasan menyampaikan harapannya agar e-dagang membantu pemerintah
meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM Indonesia serta memberi ruang bagi
produk Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2021 ada
67 juta UMKM di Indonesia, yang berkontribusi 61 % terhadap produk domestik
bruto (PDB) Indonesia. Belum semua UMKM menjangkau pasar melalui jejaring digital
secara langsung. Ada yang bergabung dengan lokapasar atau memasarkan produk
melalui pihak ketiga. Ruang bagi produk Indonesia, khususnya karya UMKM, di dalam
ekosistem e-dagang, layak dicatat dengan huruftebal. Di tengah perdagangan
global yang kian masif, suatu produk dapat dengan mudah dan murah melintasi
batas negara. Jika tak dilindungi, produk UMKM Indonesia bisa tersingkir karena
kalah bersaing dari produk impor berharga murah. Ekonomi digital di Indonesia
berpotensi terus berkembang. Data e-Conomy South East Asia yang dirilis Google,
Temasek, dan Bain and Company pada 1 November 2023 menunjukkan, e-dagang merupakan
penopang utama ekonomi digital di Indonesia. Dari gross merchandise value (GMV)
ekonomi digital di Indonesia senilai 76 miliar USD pada 2022, sebesar 58 miliar
USD di antaranya dari e-dagang. (Yoga)
Kemenyan yang Mendunia
Peradaban kemenyan hidup berabad-abad di Tanah Batak. Dalam
jalan sunyi menjaga hutan, masyarakat adat menghasilkan triliunan rupiah.
Semerbak kemenyan menyebar ke seluruh dunia. Kaum bapak dan pria dewasa Desa
Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut,
pergi ke hutan kemenyan sejak Senin (13/12). Bahkan, ada yang sudah hampir dua
pekan belum pulang. November merupakan awal musim panen kemenyan di kawasan
itu. Menjelang sore, Tulus Fransiskus Sinambela (24) pulang membawa bakul
berisi kemenyan yang baru dipanen. ”Baru dua malam saya sudah pulang karena
sudah dapat hasil kemenyan,” katanya. Tulus adalah generasi muda masyarakat
adat yang konsisten melanjutkan peradaban kemenyan (marhaminjon). Mereka
mewarisinya dari leluhur yang hidup dalam wilayah dan hukum masyarakat adat
yang membentuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Hampir semua aspek
kehidupan mereka dipengaruhi kemenyan.
Kemenyan membawa kemakmuran bagi petaninya. Dengan harga
kemenyan kualitas 1 Rp 300.000 per kg, petani bisa mendapatkan Rp 45 juta saat
musim panen, yang digunakan untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak
petani yang umumnya bersekolah di kota. Peneliti BRIN di Pusat Riset Biomassa
dan Bioproduk Aswandi mengatakan, peradaban kemenyan berjalan berabad-abad di
hutan adat kawasan Danau Toba. Perdagangan kemenyan dan kapur barus di Pelabuhan
Barus, pantai barat Sumut, bahkan sudah tercatat lebih dari 1.000 tahun lalu. Menurut
data Dinas Peternakan dan Perkebunan Sumut, produksi kemenyan pada 2021
mencapai 8.845 ton dengan luas 23.172 hektar. Produksinya pernah mencapai 11.000
ton. Dengan harga Rp 300.000 di tingkat petani, nilai ekonomi yang beredar di
petani Rp 2,65 triliun. Kemenyan dikenal sebagai benzoin di perdagangan dunia.
Benzoin digunakan untuk bahan obat, pengawet makanan, kosmetik, dan parfum.
Harga 1 liter minyak benzoin mencapai Rp 5 juta. Biaya produksi 1 liter minyak
benzoin hanya Rp 400.000. ”Produksinya bisa dibuat di tingkat petani dengan
skala UMKM. Dengan hilirisasi ini, nilai tambah yang didapat bisa berkali
lipat,” kata Aswandi. (Yoga)
HUTAN ADAT, Kami Wariskan Hutan ke Tangan Anak Muda
Semakin banyak anak muda terbuka dan sadar akan potensi
hutan adatnya. Kaum milenial perlu terus
merawat kelestarian hutan agar kelak dapat mewariskannya ke generasi
berikutnya. Di usia yang masih kepala dua, Tulus Sinambela lega mendapatkan
pengakuan atas hutan adat mereka. Seumur hidup ia menyaksikan orangtuanya
berjuang merebut kembali hutan adat itu dari perusahaan monokultur. Tulus (24)
bersama 76 pemuda lain dari Kabupaten Tapanuli Utara, Samosir, Toba, dan
Humbang Hasundutan, Sumut, bergabung membentuk organisasi pemuda petani Naposo
Pature Bona (NPB). ”Cikal bakalnya karena masih banyak ancaman dari perusahaan,
juga dari pemerintah. Kalau enggak dilindungi sama anak muda, ya, hutannya selesai
juga,” ungkap anggota Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta itu, Rabu (15/11). Masyarakat
Adat Pandumaan Sipituhuta di Humbang Hasundutan dua tahun lalu mendapatkan
legalitas seluas 4.399 hektar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK). Mereka bersama lima kelompok masyarakat adat di Sumut bisa mengelola
7.224 hektar.
Lewat organisasi dampingan Kelompok Studi dan Pengembangan
Prakarsa Masyarakat (KSPPM), mereka mempelajari potensi hutan. Salah satunya
dengan mengurus tanaman kemenyan warisan. Pohon kemenyan merupakan andalan
ekonomi keluarganya meski mereka menggarap tanaman kebun lainnya untuk
kebutuhan harian. Sejak konflik lahan dengan perusahaan, pohon mereka
berkurang, produktivitasnya menurun. Lima tahun menjadi petani, Tulus merasakan
penurunan hasil getah bernilai ekspor itu karena faktor iklim. ”Di luar masa
panen raya, kami juga rutin ke hutan untuk ambil tahir (sisa getah panen).
Tetapi, sehari di hutan paling dapat 2 kg, bahkan satu bakul saja enggak penuh.
Padahal, dulu bisa dapat dua-tiga kalinya,” kata Tulus. Harga tahir kemenyan
sekitar Rp 100.000 per kg, lebih murah dari getah panen Rp 300.000 per kg.
Mereka mulai mencari cara meningkatkan nilai tambah daripada menjualnya
langsung. Salah satunya dengan berlatih membuat minyak wangi dari getah
kemenyan. Ia juga ingin lebih banyak pemuda yang lebih terbuka dan paham dengan
potensi wilayah adat mereka. ”Makanya, NPB itu dibentuk bukan cuma untuk
mengelola dan melindungi wilayah adat dan hutannya, tetapi juga
mengembangkannya,” ujarnya. (Yoga)
Saring Sampah Dulang Manfaat
Agus (54) memilah sampah plastik dari cacahan sampah kayu
yang digerakkan oleh sabuk pemindah (conveyor
belt) di tempat penyaringan sampah Sungai Ciliwung di TB Simatupang, Jaksel,
Senin (11/12). Sampah harus dipilah karena akan diolah menjadi pupuk kompos dan
bahan bakar alternatif. Sampah yang dicacah bersumber dari hulu Sungai Ciliwung
yang berasal dari Depok dan Bogor. Dalam sehari, ada 8 ton sampah yang
terangkut, 70 % di antaranya merupakan sampah organik berupa kayu dan bambu. Ada
40 petugas lain yang turut memilah sampah. Selain sampah plastik, ada beberapa
jenis sampah yang tidak boleh ikut dicacah, antara lain sampah besi, baja,
paku, dan batang kayu yang terlalu besar.
”Proses pemilahan harus dilakukan seketat mungkin agar
sampah yang dikelola bisa berfungsi dengan baik,” kata Agus yang juga koordinator
tim pemilah. Pemilahan menjadi bagian penting karena hasilnya dijadikan pupuk
kompos dan bahan bakar alternatif (refuse derived fuel/RDF). Hasil pupuk kompos
disalurkan ke warga sekitar tempat penyaringan, kelurahan hingga ke kecamatan
yang ada di Jakarta, diantaranya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pondok
Kopi, Jaktim. Pupuk digunakan untuk menanam tanaman di RPTRA ini. Dari pupuk
itu tumbuh berbagai tanaman, seperti cabai, terung, anggur, pepaya, dan sejumlah
tanaman sayur lain. ”Hasil panen dijual ke masyarakat dengan harga lebih murah
dari harga pasar,” kata Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi
Asti Sitorus. (Yoga)
Tantangan Hapus Buku Kredit Macet UMKM
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









