UMKM
( 686 )Keringat Para Puan Rintis Wisata di Pulau Kecil
Di Batam, kaum perempuan menjadi pelopor yang merintis wisata
di pulau kecil. Suhana (41) memandu tiga wisatawan berjalan mengelilingi
Kampung Melayu di Pulau Ngenang. Rumah-rumah warga tertata apik. Halamannya
ditanami rumput jepang dan berbagai jenis bunga. Di pinggir kampung, hutan bakau
dijaga agar tetap rindang untuk melindungi rumah warga dari hantaman ombak. ”Pemerintah
banyak kasih bantuan sejak wisata di Ngenang berkembang. Pelabuhan dipercantik,
jalan kampong dicor, juga dibikinkan saluran air,” kata Suhana, Kamis (14/12). Pulau
Ngenang berada di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepri. Wisatawan bisa pergi ke
Ngenang dengan menyewa perahu mesin, 15 menit dari Pelabuhan Telaga Punggur di
Batam. Suhana adalah Ketua Perajin Tenun di Pulau Ngenang, dengan 18 perajin.
Mereka awalnya diajari menenun oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Kota Batam pada 2018. ”Pertama kali belajar, saya heran banget benang kusut, kok,
bisa jadi kain cantik. Dari pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta,”
ujarnya. Seperti umumnya perempuan Melayudi pulau-pulau kecil Nusantara, Suhana
juga nelayan pesisir. Saat air surut, ia turun kelaut untuk memancing dan mencari
siput. Setelah menenun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Tenun yang dibangun
Pemkot Batam pada 2022. Disini tersedia lima alat tenun bukan mesin (ATBM) yang
bisa digunakan para perajin. Kain tenun dijual Rp 400.000 hingga Rp 750.000 per
meter, tergantung kerumitan motif. Motif tenun banyak terinspirasi dari alam
pesisir, seperti burung layang-layang, ikan marlin, daun sirih, dan bunga setu.
Setiap perajin rata-rata bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta per bulan.
Antusiasme perempuan Ngenang menjadi perajin tenun menular
ke warga lainnya. Selain kelompok perajin tenun, di pulau itu dibentuk juga kelompok
perajin batik dan perajin rajut. Salah satu perajin batik, Suminah (65),
menuturkan, saat ini ada 10 orang yang bergiat di Rumah Batik Ngenang. Batik
karya para perempuan Ngenang dijual Rp 160.000 per 2 meter untuk batik cap dan Rp
500.000 per 2 meter untuk batik tulis. Tak jauh dari Rumah Batik terdapat juga
Rumah Rajut. Di situ, para perempuan Ngenang biasa berkumpul untuk membuat
berbagai macam cendera mata dari benang wol. Gantungan kunci dijual Rp 10.000, sedangkan
tas kecil dibanderol Rp 100.000. Perajin rajut di Ngenang ada belasan orang.
Mereka memasarkan karya dengan memajang di kios-kios sepanjang jalan yang
dilalui wisatawan. Setiap kali ada rombongan turis datang, mereka bisa
mengantongi pendapatan sekitar Rp 500.000. Arus wisatawan ke Ngenang menumbuhkan
kesadaran warga untuk bersama-sama membangun wisata kampung. Suami Apsah, Abdul
Gani (63), bahkan rela menghibahkan tanahnya untuk dijadikan tempat bagi
perajin menenun. ”Saya berikan tanah itu demi kemajuan kampung. Harapannya,
kalau wisata di kampung semakin ramai, ekonomi warga juga akan lebih terangkat,”
kata Abdul. Apsah menambahkan, warga Ngenang selalu antusias mengikuti pelatihan
terkait wisata yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. ”Kami juga minta
diajari Bahasa Inggris sama mahasiswa yang lagi KKN di sini. Biar kami bisa
bercakap-cakap sama turis-turis yang datang,” ujar Apsah. (Yoga)
Wirausaha Penyandang Disabilitas, dari Katering hingga Rias Wajah
Penyandang disabilitas dengan segala keterbatasannya jatuh
bangun berwirausaha mandiri. Mereka berdaya dan bermanfaat bagi keluarga dan sesama
disabilitas. Paini (52), perempuan disabilitas asal Wonogiri, Jateng, memiliki
jari-jari tangan dan kaki yang pendek sejak lahir. Berbekal ijazah SMA, pada
1992 dia memutuskan merantau ke Bekasi, Jabar, untuk mencari lapangan kerja
yang lebih baik. Kenyataannya berbeda. Dari enam perusahaan yang ia kirimi
surat lamaran kerja, tak satu pun yang memanggil. ”Saya perempuan, bertubuh
pendek, disabilitas, dan memakai hijab. Diskriminasi tersebut dialamatkan ke
saya sehingga saya susah diterima kerja. Saya kelelahan, hampir menyerah,
hingga di pabrik boneka milik Korea Selatan, saya nekat menyodorkan diri meski
tiga hari pertama tidak dibayar dulu,” ujarnya, Minggu (17/12) di Jakarta. Dalam
tiga hari itu, Paini belajar menjahit dengan mesin jahit modern yang belum pernah
ia lihat sebelumnya. Salah seorang supervisor yang, menurut dia, baik hati mau
mengajari, sampai dia akhirnya bisa menjahit semua bagian boneka. Perusahaan
akhirnya mau mempekerjakan dan menggajinya. Ia bekerja selama dua tahun di situ
hingga menikah.
Upah sebagai buruh pabrik pas-pasan meskipun ia mengambil
lembur sampai pulang malam. Suaminya yang bekerja sebagai kernet metromini juga
mendapat upah pas-pasan. ”Saya juga mulai mengalami masalah penglihatan. Tahun
2000-an, akhirnya saya memutuskan tidak bekerja di pabrik. Uang pesangon digunakan
sebagai modal membuat usaha onde-onde ketawa,” kata Paini. Awalnya Paini
menitipkan onde-onde ketawa ke satu warung hingga berkembang jadi 200 warung.
Dari hanya onde-onde ketawa, usahanya berkembang jadi aneka camilan kering. Semua
pendapatan dari usaha itu dipakai untuk mendirikan dan mengoperasikan Rumah
Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi, untuk menampung dan membina kelompok
disabilitas yang mengalami diskriminasi di masyarakat agar berdaya. Di situ,
Paini mengajari penyandang disabilitas lain memasak dan menjahit. Sejumlah lembaga,
seperti Badan Amil Zakat Nasional, pernah membantu memberi pelatihan
wirausaha. Saat ini sudah ada ratusan penyandang disabilitas yang keluar dari
rumah singgah yang sederhana itu dan berwirausaha sendiri. (Yoga)
UMKM Terus Didorong Berjejaring di Platform Digital
Janji untuk UMKM Indonesia
Perdagangan lintas negara membuat produk impor mudah diperoleh
konsumen. Persaingan dengan produk UMKM lokal terbuka. Kesepakatan bisnis
antara Tiktok dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengawali pekan ini. Dalam
keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/12) kedua pihak
mengumumkan kemitraan strategis untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi digital
Indonesia, dengan fokus pada pemberdayaan serta perluasan pasar bagi pelaku UMKM
nasional. Indonesia disebut sebagai pasar terbesar kedua Tiktok. Kolaborasi
Tiktok dan Tokopedia akan saling melengkapi. Sekitar 125 juta pengguna aktif
bulanan Tiktok di Indonesia merupakan target konsumen bagi Tokopedia dan GoTo. Bersamaan
dengan Hari Belanja Online Nasional, Selasa (12/12), Tokopedia dan Tiktok meluncurkan kampanye Beli Lokal 12.12. Mendag
Zulkifli Hasan menyampaikan harapannya agar e-dagang membantu pemerintah
meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM Indonesia serta memberi ruang bagi
produk Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada 2021 ada
67 juta UMKM di Indonesia, yang berkontribusi 61 % terhadap produk domestik
bruto (PDB) Indonesia. Belum semua UMKM menjangkau pasar melalui jejaring digital
secara langsung. Ada yang bergabung dengan lokapasar atau memasarkan produk
melalui pihak ketiga. Ruang bagi produk Indonesia, khususnya karya UMKM, di dalam
ekosistem e-dagang, layak dicatat dengan huruftebal. Di tengah perdagangan
global yang kian masif, suatu produk dapat dengan mudah dan murah melintasi
batas negara. Jika tak dilindungi, produk UMKM Indonesia bisa tersingkir karena
kalah bersaing dari produk impor berharga murah. Ekonomi digital di Indonesia
berpotensi terus berkembang. Data e-Conomy South East Asia yang dirilis Google,
Temasek, dan Bain and Company pada 1 November 2023 menunjukkan, e-dagang merupakan
penopang utama ekonomi digital di Indonesia. Dari gross merchandise value (GMV)
ekonomi digital di Indonesia senilai 76 miliar USD pada 2022, sebesar 58 miliar
USD di antaranya dari e-dagang. (Yoga)
Kemenyan yang Mendunia
Peradaban kemenyan hidup berabad-abad di Tanah Batak. Dalam
jalan sunyi menjaga hutan, masyarakat adat menghasilkan triliunan rupiah.
Semerbak kemenyan menyebar ke seluruh dunia. Kaum bapak dan pria dewasa Desa
Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut,
pergi ke hutan kemenyan sejak Senin (13/12). Bahkan, ada yang sudah hampir dua
pekan belum pulang. November merupakan awal musim panen kemenyan di kawasan
itu. Menjelang sore, Tulus Fransiskus Sinambela (24) pulang membawa bakul
berisi kemenyan yang baru dipanen. ”Baru dua malam saya sudah pulang karena
sudah dapat hasil kemenyan,” katanya. Tulus adalah generasi muda masyarakat
adat yang konsisten melanjutkan peradaban kemenyan (marhaminjon). Mereka
mewarisinya dari leluhur yang hidup dalam wilayah dan hukum masyarakat adat
yang membentuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Hampir semua aspek
kehidupan mereka dipengaruhi kemenyan.
Kemenyan membawa kemakmuran bagi petaninya. Dengan harga
kemenyan kualitas 1 Rp 300.000 per kg, petani bisa mendapatkan Rp 45 juta saat
musim panen, yang digunakan untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak
petani yang umumnya bersekolah di kota. Peneliti BRIN di Pusat Riset Biomassa
dan Bioproduk Aswandi mengatakan, peradaban kemenyan berjalan berabad-abad di
hutan adat kawasan Danau Toba. Perdagangan kemenyan dan kapur barus di Pelabuhan
Barus, pantai barat Sumut, bahkan sudah tercatat lebih dari 1.000 tahun lalu. Menurut
data Dinas Peternakan dan Perkebunan Sumut, produksi kemenyan pada 2021
mencapai 8.845 ton dengan luas 23.172 hektar. Produksinya pernah mencapai 11.000
ton. Dengan harga Rp 300.000 di tingkat petani, nilai ekonomi yang beredar di
petani Rp 2,65 triliun. Kemenyan dikenal sebagai benzoin di perdagangan dunia.
Benzoin digunakan untuk bahan obat, pengawet makanan, kosmetik, dan parfum.
Harga 1 liter minyak benzoin mencapai Rp 5 juta. Biaya produksi 1 liter minyak
benzoin hanya Rp 400.000. ”Produksinya bisa dibuat di tingkat petani dengan
skala UMKM. Dengan hilirisasi ini, nilai tambah yang didapat bisa berkali
lipat,” kata Aswandi. (Yoga)
HUTAN ADAT, Kami Wariskan Hutan ke Tangan Anak Muda
Semakin banyak anak muda terbuka dan sadar akan potensi
hutan adatnya. Kaum milenial perlu terus
merawat kelestarian hutan agar kelak dapat mewariskannya ke generasi
berikutnya. Di usia yang masih kepala dua, Tulus Sinambela lega mendapatkan
pengakuan atas hutan adat mereka. Seumur hidup ia menyaksikan orangtuanya
berjuang merebut kembali hutan adat itu dari perusahaan monokultur. Tulus (24)
bersama 76 pemuda lain dari Kabupaten Tapanuli Utara, Samosir, Toba, dan
Humbang Hasundutan, Sumut, bergabung membentuk organisasi pemuda petani Naposo
Pature Bona (NPB). ”Cikal bakalnya karena masih banyak ancaman dari perusahaan,
juga dari pemerintah. Kalau enggak dilindungi sama anak muda, ya, hutannya selesai
juga,” ungkap anggota Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta itu, Rabu (15/11). Masyarakat
Adat Pandumaan Sipituhuta di Humbang Hasundutan dua tahun lalu mendapatkan
legalitas seluas 4.399 hektar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK). Mereka bersama lima kelompok masyarakat adat di Sumut bisa mengelola
7.224 hektar.
Lewat organisasi dampingan Kelompok Studi dan Pengembangan
Prakarsa Masyarakat (KSPPM), mereka mempelajari potensi hutan. Salah satunya
dengan mengurus tanaman kemenyan warisan. Pohon kemenyan merupakan andalan
ekonomi keluarganya meski mereka menggarap tanaman kebun lainnya untuk
kebutuhan harian. Sejak konflik lahan dengan perusahaan, pohon mereka
berkurang, produktivitasnya menurun. Lima tahun menjadi petani, Tulus merasakan
penurunan hasil getah bernilai ekspor itu karena faktor iklim. ”Di luar masa
panen raya, kami juga rutin ke hutan untuk ambil tahir (sisa getah panen).
Tetapi, sehari di hutan paling dapat 2 kg, bahkan satu bakul saja enggak penuh.
Padahal, dulu bisa dapat dua-tiga kalinya,” kata Tulus. Harga tahir kemenyan
sekitar Rp 100.000 per kg, lebih murah dari getah panen Rp 300.000 per kg.
Mereka mulai mencari cara meningkatkan nilai tambah daripada menjualnya
langsung. Salah satunya dengan berlatih membuat minyak wangi dari getah
kemenyan. Ia juga ingin lebih banyak pemuda yang lebih terbuka dan paham dengan
potensi wilayah adat mereka. ”Makanya, NPB itu dibentuk bukan cuma untuk
mengelola dan melindungi wilayah adat dan hutannya, tetapi juga
mengembangkannya,” ujarnya. (Yoga)
Saring Sampah Dulang Manfaat
Agus (54) memilah sampah plastik dari cacahan sampah kayu
yang digerakkan oleh sabuk pemindah (conveyor
belt) di tempat penyaringan sampah Sungai Ciliwung di TB Simatupang, Jaksel,
Senin (11/12). Sampah harus dipilah karena akan diolah menjadi pupuk kompos dan
bahan bakar alternatif. Sampah yang dicacah bersumber dari hulu Sungai Ciliwung
yang berasal dari Depok dan Bogor. Dalam sehari, ada 8 ton sampah yang
terangkut, 70 % di antaranya merupakan sampah organik berupa kayu dan bambu. Ada
40 petugas lain yang turut memilah sampah. Selain sampah plastik, ada beberapa
jenis sampah yang tidak boleh ikut dicacah, antara lain sampah besi, baja,
paku, dan batang kayu yang terlalu besar.
”Proses pemilahan harus dilakukan seketat mungkin agar
sampah yang dikelola bisa berfungsi dengan baik,” kata Agus yang juga koordinator
tim pemilah. Pemilahan menjadi bagian penting karena hasilnya dijadikan pupuk
kompos dan bahan bakar alternatif (refuse derived fuel/RDF). Hasil pupuk kompos
disalurkan ke warga sekitar tempat penyaringan, kelurahan hingga ke kecamatan
yang ada di Jakarta, diantaranya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pondok
Kopi, Jaktim. Pupuk digunakan untuk menanam tanaman di RPTRA ini. Dari pupuk
itu tumbuh berbagai tanaman, seperti cabai, terung, anggur, pepaya, dan sejumlah
tanaman sayur lain. ”Hasil panen dijual ke masyarakat dengan harga lebih murah
dari harga pasar,” kata Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi
Asti Sitorus. (Yoga)
Tantangan Hapus Buku Kredit Macet UMKM
MINGGU PAGI DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN
Di sepanjang Gang Lurung Cilik, Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi,
Jatim, tak jauh dari balai desa, ibu-ibu penjaja makanan dan pengunjung
sama-sama menebar bahagia. Saling sapa dan tersenyum ramah, berbalut canda. Di kanan-kiri
gang, deretan lapak kuliner berjajar rapi di sepanjang gang yang memiliki lebar
2 meter. Dagangan dipajang di atas meja lapak dengan sederhana. Ada yang
menuliskan nama jualannya di atas kertas, dan ada yang lebih memilih menjelaskan
langsung saat ada pembeli mendekat. Ibu-ibu penjual di pasar jajanan Kampung
Osing Kemiren pun melayani pembeli dengan berdandan rapi, mengenakan kebaya
warna hitam, dan kain batik sebagai bawahan. Sangat memikat hati. Desa Kemiren adalah
salah satu desa wisata adat di Indonesia.
”Silakan, ada pecel pithik (pecel ayam), ada semanggi, ada kue
apem gula aren juga,” sambut Raja Onah alias Mak Onah (53), warga Desa Kemiren,
yang menjadi salah satu penjual di pasar jajanan Osing, Minggu (19/11). Mak
Onah memiliki banyak pelanggan, hampir tiap hari Minggu, pelanggannya menyempatkan
datang dari pelosok Banyuwangi atau bahkan dari luar kota. Salah satu
pengunjung, Didik Enggot (60), warga yang rumahnya di selatan Banyuwangi,
daerah Bangorejo, berboncengan motor dengan istrinya sejauh 50 km, untuk menikmati
kuliner Osing di Desa Kemiren. Didik bercerita bahwa dia sudah sering memesan pecel
pithik pada Mak Onah. Selain harga terjangkau, masakan Mak Onah dinilainya
cocok di lidah. Sebelum pulang, Didik meminta jajanan tradisional seperti apem
gula aren, cucur, dan serabi untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk
keluarganya di rumah. Setidaknya Didik menghabiskan uang sekitar Rp 100.000.
Belum dia membeli es dan camilan di lapak lain.
Dedi Wahyu Hernanda (30), pengarah pasar Kampung Osing,
bercerita bahwa pasar tersebut mulai muncul tahun 2018, diinisiasi Kementerian
Pariwisata. ”Awalnya hanya berjualan makanan, kemudian tahun 2019 kami tambah
dengan spot hiburan atau budaya seperti angklung paglak dan lesung, serta yang instagramable
sehingga pengunjung lebih bersemangat datang,” kata Dedi. Selain orang
berjualan, memang ada sekelompok pemusik memainkan alat musik lesung untuk
menghibur para pengunjung di pasar jajanan tersebut. Di pasar jajanan kampong Osing,
setidaknya ada 20 penjual jajanan dan 23 penjual nasi. Pendapatan total dalam
sehari (selama lebih kurang 4 jam) bisa mencapai sekitar Rp 70 juta. Dedi
mengatakan, pasar tersebut sebenarnya dibuat untuk memberikan pemasukan tambahan
bagi warga Kemiren yang sehari hari bertani. Namun, lama-lama pasar itu justru menjadi
pasar wisata. Pedagang jajanan dibebani pajak Rp 5.000 dan pedagang nasi
terkena pajak Rp 10.000 per jualan. Dari uang pajak itu, dalam setahun, kami
akan sumbangkan 50 % untuk Bumdes (badan usaha milik desa),” kata Dedi. Sisanya,
dana kas akan digunakan untuk operasional pasar tersebut. (Yoga)
Memperkuat Ekosistem Usaha Koperasi & UMKM
Tantangan ekonomi global datang silih berganti dan makin berat pada masa mendatang. Di antaranya terjadi disrupsi teknologi, residu pandemi Covid-19, perubahan iklim, perang Rusia-Ukraina, dan yang paling menyedihkan perang Israel dan Palestina. Patut kita syukuri, perekonomian Indonesia sudah kembali pulih dan stabil. Kendati pada kuartal III/2023 terjadi perlambatan, ekonomi masih tumbuh 4,9% YoY (BPS, 2023). Ini tidak lepas dari peran UMKM dan koperasi. Namun, kita patut waspada dengan terus menjaga inflasi jangan sampai melambung tinggi yang akan mengancam daya beli masyarakat. Menurut Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, jalan utama agar ekonomi Indonesia tetap kokoh adalah dengan pengembangan UMKM dan koperasi yang terintegrasi dan terencana, serta harus keluar dari jebakan pendekatan survival ke pendekatan kewirausahaan. Adanya PP No. 7/2021 makin berpihak kepada UMKM dan Koperasi, yakni perizinan sederhana, regulasi tidak tumpang-tindih, akses pembiayaan mudah dan murah, on boarding ke digital, perlindungan hukum, dan berbagai insentif lainnya. Pemerintah juga serius dalam pengembangan kewirausahaan nasional dengan menerbitkan Perpres No. 2/2022 tentang Kewirausahaan dengan target meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95% pada 2024 atau 8% pada 2045. Ini menjadi tantangan besar, karena rasio kewirausahaan kita masih di bawah 3%. Pada koperasi, ekosistem terus dibangun melalui pendampingan digitalisasi, berbasis komoditas, dan adanya pembiayaan murah. Pendampingan dilakukan melalui lembaga inkubator; kemudahan administrasi dan digitalisasi perizinan Koperasi; serta pengembangan sistem digitalisasi bagi Koperasi. Kemitraan diperkuat melalui pengembangan rantai nilai industri melalui kemitraan usaha kecil dengan usaha besar sesuai amanat UU Cipta Kerja. Kemitraan diperluas awalnya hanya enam BUMN menjadi 17 BUMN, begitupun dengan Swasta. Idealnya, produk UMKM haruslah menyuplai industri pada core bisnis utamanya. Misalnya di Jepang industri otomotifnya butuh baut, hal itu dikerjakan oleh UMKM-nya. Jangan usaha kesehatan, tapi yang dibina UMKM kerajinan, sehingga terkesan ini hanya pelepas tanggung jawab perusahaan. Tantangan besar kita bagaimana menggelorakan bangga dengan produk buatan sendiri. Jangan sampai anak-anak negeri bangga memakai baju buangan atau bekas dari luar negeri. Dari sisi pembiayaan dan investasi dilakukan melalui perluasan akses investasi UKM melalui securities crowd funding, saham dan sukuk, pendampingan KUR klaster dan kecil, serta pembiayaan ekspor UKM oleh BNI Xpora dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









