Kemenyan yang Mendunia
Peradaban kemenyan hidup berabad-abad di Tanah Batak. Dalam
jalan sunyi menjaga hutan, masyarakat adat menghasilkan triliunan rupiah.
Semerbak kemenyan menyebar ke seluruh dunia. Kaum bapak dan pria dewasa Desa
Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut,
pergi ke hutan kemenyan sejak Senin (13/12). Bahkan, ada yang sudah hampir dua
pekan belum pulang. November merupakan awal musim panen kemenyan di kawasan
itu. Menjelang sore, Tulus Fransiskus Sinambela (24) pulang membawa bakul
berisi kemenyan yang baru dipanen. ”Baru dua malam saya sudah pulang karena
sudah dapat hasil kemenyan,” katanya. Tulus adalah generasi muda masyarakat
adat yang konsisten melanjutkan peradaban kemenyan (marhaminjon). Mereka
mewarisinya dari leluhur yang hidup dalam wilayah dan hukum masyarakat adat
yang membentuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat adat. Hampir semua aspek
kehidupan mereka dipengaruhi kemenyan.
Kemenyan membawa kemakmuran bagi petaninya. Dengan harga
kemenyan kualitas 1 Rp 300.000 per kg, petani bisa mendapatkan Rp 45 juta saat
musim panen, yang digunakan untuk membayar uang sekolah dan uang kuliah anak
petani yang umumnya bersekolah di kota. Peneliti BRIN di Pusat Riset Biomassa
dan Bioproduk Aswandi mengatakan, peradaban kemenyan berjalan berabad-abad di
hutan adat kawasan Danau Toba. Perdagangan kemenyan dan kapur barus di Pelabuhan
Barus, pantai barat Sumut, bahkan sudah tercatat lebih dari 1.000 tahun lalu. Menurut
data Dinas Peternakan dan Perkebunan Sumut, produksi kemenyan pada 2021
mencapai 8.845 ton dengan luas 23.172 hektar. Produksinya pernah mencapai 11.000
ton. Dengan harga Rp 300.000 di tingkat petani, nilai ekonomi yang beredar di
petani Rp 2,65 triliun. Kemenyan dikenal sebagai benzoin di perdagangan dunia.
Benzoin digunakan untuk bahan obat, pengawet makanan, kosmetik, dan parfum.
Harga 1 liter minyak benzoin mencapai Rp 5 juta. Biaya produksi 1 liter minyak
benzoin hanya Rp 400.000. ”Produksinya bisa dibuat di tingkat petani dengan
skala UMKM. Dengan hilirisasi ini, nilai tambah yang didapat bisa berkali
lipat,” kata Aswandi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023