Keringat Para Puan Rintis Wisata di Pulau Kecil
Di Batam, kaum perempuan menjadi pelopor yang merintis wisata
di pulau kecil. Suhana (41) memandu tiga wisatawan berjalan mengelilingi
Kampung Melayu di Pulau Ngenang. Rumah-rumah warga tertata apik. Halamannya
ditanami rumput jepang dan berbagai jenis bunga. Di pinggir kampung, hutan bakau
dijaga agar tetap rindang untuk melindungi rumah warga dari hantaman ombak. ”Pemerintah
banyak kasih bantuan sejak wisata di Ngenang berkembang. Pelabuhan dipercantik,
jalan kampong dicor, juga dibikinkan saluran air,” kata Suhana, Kamis (14/12). Pulau
Ngenang berada di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepri. Wisatawan bisa pergi ke
Ngenang dengan menyewa perahu mesin, 15 menit dari Pelabuhan Telaga Punggur di
Batam. Suhana adalah Ketua Perajin Tenun di Pulau Ngenang, dengan 18 perajin.
Mereka awalnya diajari menenun oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Kota Batam pada 2018. ”Pertama kali belajar, saya heran banget benang kusut, kok,
bisa jadi kain cantik. Dari pertama kali lihat, saya langsung jatuh cinta,”
ujarnya. Seperti umumnya perempuan Melayudi pulau-pulau kecil Nusantara, Suhana
juga nelayan pesisir. Saat air surut, ia turun kelaut untuk memancing dan mencari
siput. Setelah menenun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Tenun yang dibangun
Pemkot Batam pada 2022. Disini tersedia lima alat tenun bukan mesin (ATBM) yang
bisa digunakan para perajin. Kain tenun dijual Rp 400.000 hingga Rp 750.000 per
meter, tergantung kerumitan motif. Motif tenun banyak terinspirasi dari alam
pesisir, seperti burung layang-layang, ikan marlin, daun sirih, dan bunga setu.
Setiap perajin rata-rata bisa mengantongi pendapatan Rp 2 juta per bulan.
Antusiasme perempuan Ngenang menjadi perajin tenun menular
ke warga lainnya. Selain kelompok perajin tenun, di pulau itu dibentuk juga kelompok
perajin batik dan perajin rajut. Salah satu perajin batik, Suminah (65),
menuturkan, saat ini ada 10 orang yang bergiat di Rumah Batik Ngenang. Batik
karya para perempuan Ngenang dijual Rp 160.000 per 2 meter untuk batik cap dan Rp
500.000 per 2 meter untuk batik tulis. Tak jauh dari Rumah Batik terdapat juga
Rumah Rajut. Di situ, para perempuan Ngenang biasa berkumpul untuk membuat
berbagai macam cendera mata dari benang wol. Gantungan kunci dijual Rp 10.000, sedangkan
tas kecil dibanderol Rp 100.000. Perajin rajut di Ngenang ada belasan orang.
Mereka memasarkan karya dengan memajang di kios-kios sepanjang jalan yang
dilalui wisatawan. Setiap kali ada rombongan turis datang, mereka bisa
mengantongi pendapatan sekitar Rp 500.000. Arus wisatawan ke Ngenang menumbuhkan
kesadaran warga untuk bersama-sama membangun wisata kampung. Suami Apsah, Abdul
Gani (63), bahkan rela menghibahkan tanahnya untuk dijadikan tempat bagi
perajin menenun. ”Saya berikan tanah itu demi kemajuan kampung. Harapannya,
kalau wisata di kampung semakin ramai, ekonomi warga juga akan lebih terangkat,”
kata Abdul. Apsah menambahkan, warga Ngenang selalu antusias mengikuti pelatihan
terkait wisata yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. ”Kami juga minta
diajari Bahasa Inggris sama mahasiswa yang lagi KKN di sini. Biar kami bisa
bercakap-cakap sama turis-turis yang datang,” ujar Apsah. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023