HUTAN ADAT, Kami Wariskan Hutan ke Tangan Anak Muda
Semakin banyak anak muda terbuka dan sadar akan potensi
hutan adatnya. Kaum milenial perlu terus
merawat kelestarian hutan agar kelak dapat mewariskannya ke generasi
berikutnya. Di usia yang masih kepala dua, Tulus Sinambela lega mendapatkan
pengakuan atas hutan adat mereka. Seumur hidup ia menyaksikan orangtuanya
berjuang merebut kembali hutan adat itu dari perusahaan monokultur. Tulus (24)
bersama 76 pemuda lain dari Kabupaten Tapanuli Utara, Samosir, Toba, dan
Humbang Hasundutan, Sumut, bergabung membentuk organisasi pemuda petani Naposo
Pature Bona (NPB). ”Cikal bakalnya karena masih banyak ancaman dari perusahaan,
juga dari pemerintah. Kalau enggak dilindungi sama anak muda, ya, hutannya selesai
juga,” ungkap anggota Masyarakat Adat Pandumaan Sipituhuta itu, Rabu (15/11). Masyarakat
Adat Pandumaan Sipituhuta di Humbang Hasundutan dua tahun lalu mendapatkan
legalitas seluas 4.399 hektar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK). Mereka bersama lima kelompok masyarakat adat di Sumut bisa mengelola
7.224 hektar.
Lewat organisasi dampingan Kelompok Studi dan Pengembangan
Prakarsa Masyarakat (KSPPM), mereka mempelajari potensi hutan. Salah satunya
dengan mengurus tanaman kemenyan warisan. Pohon kemenyan merupakan andalan
ekonomi keluarganya meski mereka menggarap tanaman kebun lainnya untuk
kebutuhan harian. Sejak konflik lahan dengan perusahaan, pohon mereka
berkurang, produktivitasnya menurun. Lima tahun menjadi petani, Tulus merasakan
penurunan hasil getah bernilai ekspor itu karena faktor iklim. ”Di luar masa
panen raya, kami juga rutin ke hutan untuk ambil tahir (sisa getah panen).
Tetapi, sehari di hutan paling dapat 2 kg, bahkan satu bakul saja enggak penuh.
Padahal, dulu bisa dapat dua-tiga kalinya,” kata Tulus. Harga tahir kemenyan
sekitar Rp 100.000 per kg, lebih murah dari getah panen Rp 300.000 per kg.
Mereka mulai mencari cara meningkatkan nilai tambah daripada menjualnya
langsung. Salah satunya dengan berlatih membuat minyak wangi dari getah
kemenyan. Ia juga ingin lebih banyak pemuda yang lebih terbuka dan paham dengan
potensi wilayah adat mereka. ”Makanya, NPB itu dibentuk bukan cuma untuk
mengelola dan melindungi wilayah adat dan hutannya, tetapi juga
mengembangkannya,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023