;

MINGGU PAGI DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN

MINGGU PAGI
DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN

Di sepanjang Gang Lurung Cilik, Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jatim, tak jauh dari balai desa, ibu-ibu penjaja makanan dan pengunjung sama-sama menebar bahagia. Saling sapa dan  tersenyum ramah, berbalut canda. Di kanan-kiri gang, deretan lapak kuliner berjajar rapi di sepanjang gang yang memiliki lebar 2 meter. Dagangan dipajang di atas meja lapak dengan sederhana. Ada yang menuliskan nama jualannya di atas kertas, dan ada yang lebih memilih menjelaskan langsung saat ada pembeli mendekat. Ibu-ibu penjual di pasar jajanan Kampung Osing Kemiren pun melayani pembeli dengan berdandan rapi, mengenakan kebaya warna hitam, dan kain batik sebagai bawahan. Sangat memikat hati. Desa Kemiren adalah salah satu desa wisata adat di Indonesia.

”Silakan, ada pecel pithik (pecel ayam), ada semanggi, ada kue apem gula aren juga,” sambut Raja Onah alias Mak Onah (53), warga Desa Kemiren, yang menjadi salah satu penjual di pasar jajanan Osing, Minggu (19/11). Mak Onah memiliki banyak pelanggan, hampir tiap hari Minggu, pelanggannya menyempatkan datang dari pelosok Banyuwangi atau bahkan dari luar kota. Salah satu pengunjung, Didik Enggot (60), warga yang rumahnya di selatan Banyuwangi, daerah Bangorejo, berboncengan motor dengan istrinya sejauh 50 km, untuk menikmati kuliner Osing di Desa Kemiren. Didik bercerita bahwa dia sudah sering memesan pecel pithik pada Mak Onah. Selain harga terjangkau, masakan Mak Onah dinilainya cocok di lidah. Sebelum pulang, Didik meminta jajanan tradisional seperti apem gula aren, cucur, dan serabi untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk keluarganya di rumah. Setidaknya Didik menghabiskan uang sekitar Rp 100.000. Belum dia membeli es dan camilan di lapak lain.

Dedi Wahyu Hernanda (30), pengarah pasar Kampung Osing, bercerita bahwa pasar tersebut mulai muncul tahun 2018, diinisiasi Kementerian Pariwisata. ”Awalnya hanya berjualan makanan, kemudian tahun 2019 kami tambah dengan spot hiburan atau budaya seperti angklung paglak dan lesung, serta yang instagramable sehingga pengunjung lebih bersemangat datang,” kata Dedi. Selain orang berjualan, memang ada sekelompok pemusik memainkan alat musik lesung untuk menghibur para pengunjung di pasar jajanan tersebut. Di pasar jajanan kampong Osing, setidaknya ada 20 penjual jajanan dan 23 penjual nasi. Pendapatan total dalam sehari (selama lebih kurang 4 jam) bisa mencapai sekitar Rp 70 juta. Dedi mengatakan, pasar tersebut sebenarnya dibuat untuk memberikan pemasukan tambahan bagi warga Kemiren yang sehari hari bertani. Namun, lama-lama pasar itu justru menjadi pasar wisata. Pedagang jajanan dibebani pajak Rp 5.000 dan pedagang nasi terkena pajak Rp 10.000 per jualan. Dari uang pajak itu, dalam setahun, kami akan sumbangkan 50 % untuk Bumdes (badan usaha milik desa),” kata Dedi. Sisanya, dana kas akan digunakan untuk operasional pasar tersebut. (Yoga)

Tags :
#Varia #UMKM
Download Aplikasi Labirin :