"KEUMAMAH” ACEH, MENGOLAH IKAN BUANGAN JADI BERKELAS
Pengolahan ikan menjadi keumamah atau disebut ikan kayu di
Provinsi Aceh diwariskan secara turun-temurun. Memanfaatkan ikan ”buangan” dari
pasar ekspor dan domestik, keumamah tetap tidak kalah pamor. Usaha ikan olahan
yang diberi nama Puteh Meulu di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh,
ini telah berusia 45 tahun. Meski dianggap kuliner tradisional, keumamah Puteh
Meulu laku keras di pasaran. Bahkan, pada momen tertentu tidak mampu memenuhi
permintaan. ”Ikan-ikan yang tidak lewat ke pabrik karena kepalanya putus atau
koyak kami beli untuk diolah menjadi keumamah,” ujar Mukhtar (42), pengelola usaha
Puteh Meulu, Selasa (5/12). Pagi itu, Mukhtar menjemur ikan tongkol di atas jaring
kawat, untuk bahan baku keumamah.
Keumamah mampu bertahan hingga setahun. Ikan-ikan tersebut
dibeli dari Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo yang berjarak 1 km dari
lokasi usaha Puteh Meulu. Setiap pagi, Mukhtar memburu ikan segar ke pelabuhan.
Meski dianggap ikan buangan, ikan tersebut masih segar karena baru dibongkar
dari kapal. Untuk menghilangkan bau amis, ikan itu dilumuri garam dan jeruk
nipis, lalu direbus 30 menit menggunakan kayu bakar. Saat perebusan, Mukhtar
menambahkan rempah, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang putih. Ada
satu rempah khusus dalam keumamah Aceh, yakni asam sunti alias belimbing wuluh
kering. Ikan yang sudah direbus lalu dibelah dan tulangnya dipisahkan. Kemudian
ikan-ikan itu dijemur di bawah terik matahari langsung selama tiga hari.
Setelahnya, ikan tersebut mengeras dan siap dipasarkan. Satu kg keumamah Puteh
Meulu dijual Rp 35.000. Sekali produksi mencapai 35 kg. Namun, produksi
tergantung ketersediaan ikan segar di pelabuhan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023