;

"KEUMAMAH” ACEH, MENGOLAH IKAN BUANGAN JADI BERKELAS

Ekonomi Yoga 07 Dec 2023 Kompas
"KEUMAMAH” ACEH, MENGOLAH IKAN BUANGAN JADI BERKELAS

Pengolahan ikan menjadi keumamah atau disebut ikan kayu di Provinsi Aceh diwariskan secara turun-temurun. Memanfaatkan ikan ”buangan” dari pasar ekspor dan domestik, keumamah tetap tidak kalah pamor. Usaha ikan olahan yang diberi nama Puteh Meulu di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, ini telah berusia 45 tahun. Meski dianggap kuliner tradisional, keumamah Puteh Meulu laku keras di pasaran. Bahkan, pada momen tertentu tidak mampu memenuhi permintaan. ”Ikan-ikan yang tidak lewat ke pabrik karena kepalanya putus atau koyak kami beli untuk diolah menjadi keumamah,” ujar Mukhtar (42), pengelola usaha Puteh Meulu, Selasa (5/12). Pagi itu, Mukhtar menjemur ikan tongkol di atas jaring kawat, untuk bahan baku keumamah.

Keumamah mampu bertahan hingga setahun. Ikan-ikan tersebut dibeli dari Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo yang berjarak 1 km dari lokasi usaha Puteh Meulu. Setiap pagi, Mukhtar memburu ikan segar ke pelabuhan. Meski dianggap ikan buangan, ikan tersebut masih segar karena baru dibongkar dari kapal. Untuk menghilangkan bau amis, ikan itu dilumuri garam dan jeruk nipis, lalu direbus 30 menit menggunakan kayu bakar. Saat perebusan, Mukhtar menambahkan rempah, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang putih. Ada satu rempah khusus dalam keumamah Aceh, yakni asam sunti alias belimbing wuluh kering. Ikan yang sudah direbus lalu dibelah dan tulangnya dipisahkan. Kemudian ikan-ikan itu dijemur di bawah terik matahari langsung selama tiga hari. Setelahnya, ikan tersebut mengeras dan siap dipasarkan. Satu kg keumamah Puteh Meulu dijual Rp 35.000. Sekali produksi mencapai 35 kg. Namun, produksi tergantung ketersediaan ikan segar di pelabuhan. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :