;

Jakarta dalam Sepiring Gultik

Jakarta dalam Sepiring Gultik

Sepiring gulai tikungan alias gultik di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, telah merekam rupa-rupa wajah Jakarta dalam tiga dekade terakhir. Ia melalui krisis ekonomi, pandemi Covid-19, dan meniti pemulihan pasca-krisis sambil jadi ”media darling”. Dapur Budi Nugroho (34) mulai menunjukkan tanda kehidupan pukul 10.00 pagi, Jumat (3/11). Ada yang memasak nasi, menggoreng kerupuk, menyiapkan 400 tusuk sate telur puyuh, kulit ayam, bakso, dan ampela. Ada yang merebus daging sapi sampai empuk selama sekitar 1 jam, lalu dipotong tipis-tipis dan ditumis dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, lengkuas, kemiri, ketumbar, dan kunyit. Setelah bumbu meresap di daging, santan dimasukkan dan dimasak hingga mendidih. Itulah pembuatan gulai khas Sukoharjo, Jateng. Walakin, Budi yang berasal dari Sukoharjo ini nyaris tak menemukan warung nasi gulai di sana.

Pegiat sekaligus penulis produktif buku-buku kuliner Nusantara, Kevindra Soemantri, menyebut gultik sebagai contoh sempurna kuliner urban sebuah kota besar seperti Jakarta. Kuliner urban biasanya hadir sejalan dengan proses migrasi. ”Mereka mengakui awalnya gultik dari seorang pedagang nasi gulai asal Sukoharjo yang berjualan di sekitar Jalan Lumandau, tak jauh daritempat gultik yang terkenal sampai sekarang,” ujar Kevindra. Budi sendiri pedagang gultik generasi ketiga di keluarganya. Ia mewarisi usaha ini dari bapak mertuanya sejak 2016. Gultiknya dijual di atas trotoar di persimpangan Jalan Mahakam-Bulungan, Blok M. Ia mulai berjualan mulai jam pukul 16.00 sore hingga sekitar pukul 03.00-04.00 pagi.

Dalam sehari, mereka tidur hanya lima jam demi melayani para warga Jakarta yang tak kunjung tidur. Jumlah porsi yang terjual pada hari biasa dan akhir pekan pun bisa selisih hingga ratusan porsi. ”Contoh  dari sate saja. Di hari biasa saya bawa 400 tusuk. Kalau malam Sabtu bisa 500-600 tusuk, dan kalau malam Minggu 750-800 tusuk,” ucap Budi. Walau jumlah konsumen gultik ratusan hingga ribuan orang, kondisi penjualan gultik di Blok M dinilai belum kembali normal. Menurut para pedagang, masa penjualan sebelum pandemi Covid-19 jauh lebih baik ketimbang sekarang. Sebelum pandemi, tidak akan ada kursi kosong selama jualan. Setelah tengah malam pun dagangan tetap diserbu konsumen. Adapun seporsi gultik dijual seharga Rp 10.000. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :