;

Kopi Bintang Lima dari Tangan Kaki Lima

Kopi Bintang Lima dari Tangan Kaki Lima

Empat gerobak kopi diparkir di sisi jalan kompleks perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Di dalam boks gerobak itu tersusun minuman kopi robusta racikan barista. Sungguh-sungguh ibarat di mal atau kedai kopi langganan penikmat kopi kalangan menengah ke atas. Senin (13/11) siang itu, suhu udara melampaui 32 derajat celsius. Sejak pagi, penjual kopi yang kebanyakan anak muda menunggu kehadiran pembeli. Ada pelanggan setia dan ada yang kebetulan melintas. Benny (23), pedagang kopi dari salah satu merek berjejaring, menuturkan, kurang dari tiga jam, ia berhasil menjual 100 gelas kopi. Harga per gelas Rp 8.000 untuk kopi susu biasa atau dicampur es. Mayoritas pembeli adalah pegawai kantoran setempat. Ada juga tamu dari luar daerah yang hendak mengikuti acara di sekitar tempat itu.  

“Ada pejabat, seperti anggota DPR, yang mau ke situ,” kata Benny menunjuk gedung berwarna merah putih, kantor KPK itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat berjualannya. Benny pun bergurau, pejabat yang hendak ke kantor KPK memang butuh kopi agar lebih fokus ketika menjawab pertanyaan dari penyidik. Menurut Benny, tren menjual kopi premium di jalanan mulai ramai satu tahun belakangan. Metode tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran untuk mendekati pelanggan. Produsen minuman memilih keluar dari mal atau kedai kopi yang selama ini dirasakan eksklusif bagi kalangan menengah ke atas. ”Kita berusaha mendekati pelanggan. Pelanggan tidak perlu susah-susah menembus kemacetan hanya untuk menikmati kopi di mal atau kedai. Pelanggan tidak lagi bayar parkir. Harga kopi di sini juga jauh lebih murah dibandingkan di mal atau kedai kopi premium,” kata Benny.

Deni Hardimansyah (39), salah satu karyawan swasta yang bekerja di kawasan Kuningan, Jaksel, memilih kopi keliling premium sejak dua bulan yang lalu. Dalam sehari, ia bisa meminum kopi sebanyak dua sampai tiga gelas. Ia memilih kopi keliling premium lantaran kemasannya lebih mudah dibawa ke mana saja, seperti saat menongkrong ataupun ke kantor. Kemasannya yang menggunakan gelas plastik bertutup itu berbeda dengan kopi keliling biasa yang hanya menggunakan gelas plastik tanpa tutupan. Deni tidak mempersoalkan lingkungan tempat ia membeli kopi keliling premium. Ia tidak meminum kopinya di lokasi, tetapi menikmatinya di tempat yang nyaman. Dari sisi rasa, menurut Deni, kopi keliling premium tidak kalah dengan kopi yang dijual di gerai dengan harga yang lebih mahal. Begitu mudahnya penikmat kopi merasakan kopi bintang lima dari tangan para pedagang kaki lima. (Yoga)

Tags :
#Varia #Kopi #UMKM
Download Aplikasi Labirin :