;

Gultik, dari Konsumen Kelas Bawah sampai ”Blink-blink”

Gultik, dari Konsumen Kelas Bawah sampai ”Blink-blink”

Gulai tikungan atau gultik tak Cuma terkonsentrasi di Blok M, Jakarta. Sudut-sudut lain turut dirambahi, hingga kota yang jauh dari asal-usulnya. Murah meriah. Gultik bergeming dari gerusan zaman. Konsumennya kelas jelata sampai perlente alias blink-blink. Mudah saja berkunjung ke Blok M, Jakarta. Bisa dengan MRT, Transjakarta, atau ojek dan taksi daring. Pensiunan ASN, Tuti Meindarwati (60), bersama lima temannya memilih naik Transjakarta dari SCBD, Rabu (1/11), lalu berjalan kaki sebentar, tibalah di persimpangan Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan. Pusat gultik itu tak ubahnya jejeran pedagang kaki lima yang mengokupasi trotoar. Puluhan pedagang mulai menggelar lapaknya pada pukul 15.00 dan 16.00, tapi ada pula yang baru berjualan sekitar pukul 21.00. Gultik mulai dijual pada tahun 1990-an. Suatu masa, pedagang di Blok M mengajak pedagang lain ikut berjualan. Ramailah pedagang gultik di sana hingga sekarang.

Sepiring gultik biasanya berisi sedikit nasi, yang disiram kuah gulai dengan beberapa potong daging. Beberapa pedagang juga menyertakan gajih sapi. Setelahnya, nasi gultik dilengkapi segenggam kerupuk dan taburan bawang goreng. Kuah santan yang dimasak bersama bumbu-bumbu halus, seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan daun jeruk, itu terasa gurih. Dagingnya pun empuk. Dengan beberapa suapan saja, sepiring gultik porsi minimalis tandas.”Rasanya enak dan yang penting, harganya pas untuk kantong pensiunan,” kata Tuti. Selain nikmat, makan gultik di pinggir jalan juga punya sensasi tersendiri. Pelanggan bisa makan sambil mengamati dinamika kota: kendaraan yang tak henti berlalu lalang, deru mesin, bising tukang tahu bulat, pengemis dan pemulung yang hilir mudik, hingga suara bel sepeda penjual kopi keliling alias starling.

Gultik pun jadi makanan favorit muda-mudi yang habis jalan-jalan di akhir pekan atau setelah menjejakkan kaki tempat hiburan malam. Maklum, gultik biasanya buka hingga dini hari atau pukul 03.00-04.00. Pada hari biasa, gultik mulai ramai pukul 20.00-21.00. Konsumen gultik datang dari beragam lapisan masyarakat. Ada mahasiswa, pekerja kantoran, anak tongkrongan, artis, pejabat, hingga atlet. Ada yang dating dengan pakaian kasual, ada pula yang makan gultik sambil menenteng tas Dior dan Louis Vuitton. Walakin, semuanya melebur ketika duduk di kursi plastik pedagang gultik. ”Food vlogger, artis, sampai atlet timnas (sepak bola) yang lagi libur pernah makan di sini,” kata Bebek (27), salah satu pedagang gultik di Blok M. Muhammad Gunawan alias Gugun, gitaris Gugun Blues Shelter (GBS), misalnya, sudah memfavoritkan sentra gultik itu untuk nongkrong. Sejak masih kuliah, awal 1990-an, sampai saat Gugun berpacaran dengan Rohmah Dianingkarti alias Ansi, istrinya sekarang. Kebiasaan jajan gultik berlanjut sampai Gugun Blues Shelter terkenal. (Yoga)

Tags :
#Varia #UMKM
Download Aplikasi Labirin :