Data Industri Tekstil dan Pakaian Bekas Impor
Mengapa Penjualan Pakaian Bekas Impor Tetap Marak
Kuota Wisata untuk Perairan Konservasi
Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP akan memberlakukan
pembatasan pada kegiatan pariwisata alam perairan di kawasan konservasi
nasional, untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumber daya ekosistem di
dalam kawasan konservasi. Namun, penerapannya dinilai perlu mempertimbangkan
dampak sosial dan ekonomi. Salah satu kawasan konservasi prioritas yang
direncanakan akan menerapkan pembatasan atau sistem kuota adalah kawasan
konservasi Pulau Gili Matra di NTB yang merupakan konservasi perairan nasional.
Penerapan kuota bertujuan untuk menghindari wisatawan berlebih yang
mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya alam sebagai nilai jual pariwisata.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University
Luky Adrianto berpendapat, penetapan sebuah kawasan sebagai kawasan konservasi
berimplikasi pada tujuan pengelolaan kawasan tersebut, yaitu konservasi ekosistem
dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Karena itu, pembatasan jumlah wisatawan
atau kegiatan wisata di kawasan konservasi merupakan salah satu instrumen untuk
menjaga ekosistem, sumber daya hayati, dan keberlanjutan kawasan konservasi.
Meski demikian, penetapan kuota wisata dalam kawasan konservasi
perlu mempertimbangkan daya dukung sosial dan ekologis (sosial-ekologis) dalam satu
kesatuan kawasan, meliputi faktor ekologis, sosial ekonomi, dan manajemen
sebagai parameter untuk menentukan kuota wisata. ”Secara ekonomi, pembatasan
kuota wisata di kawasan konservasi dapat diukur dengan pemberlakuan wisata
premium sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
lokal dan sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Luky, Jumat (12/4).
(Yoga)
Berburu Kuliner di Hari Raya
Suasana lebaran tak hanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi
dan bermaaf-maafan. Di Kota Bandung, Jabar, masyarakat hingga pengunjung dari
luar kota berburu kuliner memanjakan lidah dalam kebersamaan. Hujan yang
mengguyur Bandung tidak menyurutkan niat Isna (50) bersama lima temannya
menikmati Bakso Tjap Haji di Jalan Burangrang, Jumat (12/4) siang. Mereka rela
mengantre lebih dari 45 menit agar bisa menyantap bakso yang menggugah selera. Ratusan
orang tampak sabar menanti giliran. Sebagian terpaksa menunggu di bawah payung
di depan restoran. Sebagian lagi berlindung menghindari tempias hujan.
”Lebaran biasanya menunya santan dan ketupat. Sekarang saya mencari
yang kuahnya segar seperti bakso. Di sini (Bakso Tjap Haji) lebih enak. Jadi,
sengaja jauh-jauh datang, ngantre juga tidak apa-apa,” ujar Isna yang berasal
dari Kecamatan Rancasari. Tidak hanya Isna, pesohor dari Jakarta pun rela mengantre
demi semangkuk bakso. Gitaris band Maliq & D’Essentials Arya Aditya yang
dipanggil Lale juga berbaur dengan pengunjung sambil menyantap bakso. Dia
datang bersama istrinya, Fikha Effendi.
”Setiap momen lebaran pasti makan bakso. Kebetulan disini
langganan, weekday juga pas ke Bandung pasti ke sini,” ujar Fikha. Manajer Operasional
Bakso Tjap Haji Rati Kurniati menjelaskan, saat Lebaran, setiap hari mereka melayani
lebih dari 2.000 pengunjung yang menghabiskan 2.500 porsi. Jumlah ini meningkat
lima kali lipat di- bandingkan hari-hari biasa. ”Salah satu bakso kami sampai
keluar lebih dari 20.000 butir. Menu Bakso Spesial 1 menjadi favorit. Biasanya
keramaian seperti ini terjadi sampai cuti Lebaran beres,” ujarnya. Oleh-oleh
makanan ringan di Kota Bandung juga diserbu para penggemar kuliner.
Putri (37), warga Ciputat, Tangsel, menunggu giliran makanan
ringannya ditimbang di toko Sari Milo Shultoniah. Warung oleh-oleh di Jalan
Kemuning, Kecamatan Sumur Bandung, ramai pada Jumat pagi. Neni Rosmawati (32),
pengelola toko Sari Milo Shultoniah, menyebutkan, Kentang Manohara, keripik
kentang renyah berwarna kuning keemasan menjadi salah satu favorit yang dijual
di sana bersama Kentang Putih dan Cireng Ariel. Dalam sehari, dia menjual lebih
dari 60 kg keripik Kentang Manohara. ”Kentang Putih dan Cireng Ariel juga
rata-rata bisa habis 60 kg sehari. Ada belasan jenis makanan ringan, cuma yang
sering dibeli tiga jenis itu setiap lebaran dan waktu libur,” paparnya. (Yoga)
Mudik dan Pelesiran via Tol Trans-Sumatera
Melakukan perjalanan mudik Lebaran 2024 lewat Jalan Tol
Trans-Sumatera menjadi pengalaman menarik yang perlu dicoba. Tahun ini lonjakan
harga tiket pesawat yang tak masuk akal membuat banyak warga memilih jalur darat.
Apalagi testimoni warga Ibu Kota yang kerap bepergian ke wilayah Sumatera
menggunakan jalur darat menyatakan kehadiran ruas Jalan Tol Trans-Sumatera
(JTTS) yang saat ini sudah beroperasi dari Bakauheni, Lampung, hingga Prabumulih,
Sumsel, telah mempersingkat waktu tempuh dan meningkatkan kenyamanan
berkendara. Pernyataan mereka seragam, yaitu ” Sekarang, sejak ada jalan tol,
dari Bakauheni ke Palembang cuma 5 jam.”
Agar terhindar dari puncak arus mudik yang diprediksi terjadi
pada 6-7 April 2024, Kompas berangkat pada Kamis (4/4) pukul 04.00. Sekitar
pukul 09.00, Kompas sudah memasuki Gerbang Tol (GT) Bakauheni. Kota Palembang
menjadi destinasi persinggahan di malam pertama pada perjalanan menuju
Bukittinggi, Sumbar. Untuk mencapai Palembang dari Bakauheni, terdapat tiga ruas
jalan tol yang harus dilalui, yakni ruas Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar
sepanjang 141 km, lalu ruas Jalan Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung sejauh 189 km,
dan yang terakhir ruas Tol Kayu Agung-Palembang yang berjarak 42,5 km. Di
sepanjang jalan tol, terdapat sekitar 9 rest area permanen dan sejumlah rest
area fungsional. Kendaraan siaga, seperti kendaraan patroli dan kendaraan derek
juga terlihat siap bertugas.
Tarif jalan tol dari GT Bakauheni Selatan ke GT Tol Kayu
Agung/Kayu Agung Utama untuk kendaraan golongan I sebesar Rp 360.000. Sementara
tarif tol dari GT Kayu Agung Utama menuju GT Palembang untuk kendaraan golongan
I sebesar Rp 75.000. Tiba di Palembang pada pukul 15.00, rombongan mudik punya
waktu banyak untuk berpelesir di Jembatan Ampera dan berwisata kuliner menikmati
sajian pempek dan pindang patin di waktu berbuka puasa. Sesuai rencana awal, mudik
kali ini memang menjadi sebuah perjalanan wisata. Ternyata, banyak pula
keluarga-keluarga yang berpelesir di kota-kota yang mereka lalui dalam
perjalanan mudik.
Keberadaan jalan tol telah menciptakan potensi perekonomian
baru di wilayah sekitar jalan tol. Dimulai dari daerah di sekitar pintu gerbang
tol hingga di sejumlah area istirahat. Sejalan dengan berlanjutnya ruas JTTS di
area selatan dan utara yang akan saling terhubung, potensi pertumbuhan ekonomi
di wilayah di sekitar pintu gerbang tol sebagai wilayah transit juga akan terus
berkembang. Pemerintah daerah perlu memanfaatkan situasi ini, misalnya dengan
membangun kawasan industri dan perdagangan yang dekat dengan akses jalan tol
sehingga akan tercipta kawasan ekonomi baru. (Yoga)
Tergiur Melihat Sukses Perantau
Arus balik Lebaran menjadi momen bagi banyak orang untuk
mulai merantau. Siapa yang tak tergiur melihat kilau kesuksesan mereka yang
pulang ke kampung halaman. Kesuksesan perantau tergambar pada hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional BPS (Susenas BPS). Pada kelompok 20 % keluarga paling
sejahtera di Jabodetabek, 54,2 % adalah perantau. Bagi banyak orang, hidup
merantau jauh dari kampung halaman merupakan pilihan demi harapan memperoleh
kehidupan yang lebih baik.
Berdasarkan data mikro Susenas BPS Maret 2022, dari total 72,8
juta keluarga, 13,9 % atau 10,1 juta merupakan keluarga perantau. Kategori
keluarga perantau diperoleh dari status setiap kepala dan anggota keluarga yang
tidak lahir di provinsi tempat tinggalnya saat ini. Kategori ini termasuk dalam
keluarga perantau lebih dari lima tahun. Ada juga kategori keluarga perantau
kurang dari lima tahun karena baru pindah ke provinsi domisili sekarang. Dua
kategori keluarga perantau itu membentuk kondisi kesejahteraan yang hampir sama.
Dari 10 kelompok kesejahteraan, hanya 3,3 % keluarga perantau yang masuk dalam
Desil 1. Angka tersebut terus meningkat di desil-desil di atasnya hingga di
Desil 10 yang mencapai 20,9 %.
Ukuran kesejahteraan keluarga ini dilihat dari pengeluaran per
kapita per bulan di setiap keluarga. Desil 5-8 masuk dalam 40 % keluarga dengan
pengeluaran per kapita menengah di atas Desil 1-4. Desil 9-10 termasuk dalam 20
% keluarga dengan pengeluaran per kapita teratas atau dapat juga disebut
keluarga paling sejahtera. Rentang pengeluaran per kapita Desil 1 hingga 4 berkisar
Rp 427.000 hingga Rp 985.000 per bulan. Desil 5 hingga 8 di rentang Rp 986.000 hingga
Rp 2,1 juta per bulan. Desil 9-10 lebih dari Rp 2,2 juta per bulan. Pengeluaran
ini termasuk untuk kebutuhan sehari-hari, baik makanan maupun nonmakanan.
Bram (26), warga Rempoa, Tangsel, Banten, merupakan warga
kelahiran Semarang dan merantau ke Jabodetabek sejak 2022. Pengeluaran per
kapita rata-rata Bram, istri, dan seorang anak lebih dari Rp 2 juta per bulan,
masuk Desil 9-10 atau keluarga sejahtera. Menurut Bram, kesempatan bekerja di
kota perantauan selalu terbuka lebar. Modalnya pendidikan tinggi dan pengalaman
bekerja. Bram mengaku tidak butuh waktu lama dari pekerjaan sebelumnya hingga
mendapatkan pekerjaannya saat ini di Jakarta. Untuk mendapatkan pekerjaan di
perusahaan besar, sudah banyak lamaran pekerjaan Bram yang ditolak. Ia tak
patah arang dan terus berusaha hingga akhirnya mendapat pekerjaan yang layak di
perantauan. (Yoga)
Ketika Penilaian Dewan Pers Jadi Dasar Gugatan Perdata kepada Media
Arus Balik Dimulai Hari Ini
Rekayasa lalu lintas satu arah (one way) dan lawan arah
(contraflow) di Tol Trans-Jawa dari Gerbang Tol (GT) KM 414 Kalikangkung,
Semarang, Jateng, sampai KM 72 GT Cikampek Utama belum diterapkan pada Jumat (12/4).
Skema yang direncanakan mulai pukul 14.00 ini ditunda karena arus balik Lebaran
belum terpantau padat. Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Aan Suhanan
menjelaskan, volume kendaraan dari arah timur yang masuk GT Kalikangkung
sebanyak 1.178 kendaraan dalam rata-rata tiga jam, di bawah parameter kepadatan
2.800 kendaraan per jam. Selain itu, kendaraan yang masuk dari arah Pejagan dan
pintu masuk lain setelah GT Kalikangkung juga masih berada di angka 881 kendaraan.
”Secara keseluruhan masih berada di bawah parameter sampai
tadi jam 10.00. Trennya ada kenaikan di setiap traffic counting walau belum signifikan,”
kata Aan. Puncak arus balik diprediksi terjadi Minggu (14/4) sampai Senin
(15/4), mengingat waktu libur dan cuti bersama nasional akan berakhir dan masyarakat
mulai kembali bekerja pada Selasa (16/4). Aan mengimbau pemudik kembali ke
perantauan lebih awal guna menghindari puncak arus balik. Faktor keselamatan
harus menjadi yang utama dengan tidak memaksa sopir menyetir lebih dari delapan
jam dan memastikan kendaraan dalam kondisi prima. (Yoga)
Salam Tempel Ajarkan Literasi Keuangan
Danik (14), siswi salah satu SMP swasta di Jaksel, sudah
menyiapkan cara apabila sanak saudaranya ingin memberi salam tempel saat
Lebaran, Rabu (10/4). Sistem pembayaran berbasis QR atau QRIS disiapkan dalam
aplikasi pembayaran digitalnya untuk dipindai oleh keluarganya. Setelah
QRIS-nya jadi, sekitar minggu kedua Ramadhan, dia menyampaikan kepada om dan
tantenya untuk menyiapkan uang yang pada hari Idul Fitri ditransfer melalui QRIS
tersebut agar tidak repot. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk jajan dan
keperluan sehari-hari. ”Sekarang, kan, semua kios maunya transfer QRIS. Enggak
ada lagi yang terima uang tunai. Kalaupun ada, jarang yang ada duit kembalian.
Makanya, nanti THR (tunjangan hari raya) ditransfer saja,”
kata Danik. Menurut dia, praktik salam tempel digital ini lumrah bagi dirinya
dan kalangan teman-teman sekolahnya. Bagi mereka, cara ini menghindari risiko
”investasi bodong”, yaitu ketika salam tempel berupa uang tunai harus disetor
kepada orangtua. Setelah itu, anak tidak akan pernah melihat uang itu selamanya.
Entah oleh orangtua memang ditabung untuk masa depan anak atau dipakai untuk
berbelanja sayur. Tradisi salam tempel memang tak lepas dari tradisi silaturahmi
hari raya. Orang yang sudah berpenghasilan biasanya akan memberikan uang kepada
anak-anak atau orang yang membutuhkan saat mereka bertemu dalam momen tersebut.
(Yoga)
Wastra Aceh Punya Cerita
Di tangan anak-anak muda, kain tradisional Aceh bertransformasi
dan menggeliat bersama industri mode Wastra Aceh bukan sekadar simbol kebudayaan.
Kain-kain tradisional Aceh menyimpan potensi ekonomi yang besar, apalagi jika
dikembangkan sepe nuhnya dari hulu ke hilir. Bunyi ketukan alat tenun bukan
mesin bersahut-sahutan dari lantai dua rumah produksi Tenun Kutaraja di Ulee Lheue,
Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Sabtu (30/3). Pesanan 40 lembar kain dari BI
Kantor Perwakilan Aceh harus segera rampung. ”Untuk sementara, kami fokus
selesaikan pesanan BI. Pekerja kami hanya tiga orang, tak bisa terima banyak orderan,”
kata Zulhelmi (29) pemilik usaha Tenun Kutaraja. Dia memulai usaha itu pada
tahun 2022. Pada 2021, Helmi mengikuti program Muslim Fashion Collaboration
(MFC) yang digulirkan BI Perwakilan Aceh.
Seusai pelatihan, BI Perwakilan Aceh menawarkan kepada Helmi
untuk belajar menenun, ia menerimanya. ”Saya tertarik, pertama untuk merawat kebudayaan dan kedua ini peluang bisnis.
Sebab, perajinnya sedikit,” katanya. Motivasi yang tinggi membuat dia tidak
sulit menguasai tekniknya. Setelah pelatihan, Helmi diberi bantuan berupa alat produksi
tenun oleh BI Perwakilan Aceh. Dari situ, ia membuat tenun motif sederhana,
seperti pintu aceh reubong (rebung), dan awan berarak; hingga motif yang lebih rumit,
seperti ornamen pada batu nisan kuno dan simbol-simbol perjalanan Kerajaan Aceh
Darussalam. Dalam sebulan, Tenun Kutaraja hanya mampu memproduksi 40 lembar kain
tenun. Padahal, pesanan jauh lebih banyak. Terkadang, pemesan harus menunggu
sebulan baru pesanan rampung. Helmi masih kekurangan penenun. ”Aceh butuh
banyak penenun. Kain tenun Aceh mulai diminati, bahkan oleh perancang busana
nasional,” katanya.
Saat ini, jumlah penenun di provinsi itu bisa dihitung dengan
jari. Generasi muda tidak tertarik belajar tenun. Padahal, tenun memiliki
potensi bisnis yang besar. Harga per lembar kain tenun buatan Helmi berkisar Rp
700.000-Rp 1 juta. Terpaut 4 kilometer dari rumah produksi Tenun Kutaraja, di
sebuah rumah di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Suryani Marzuki (27), istri
Helmi, tengah memeriksa pakaian hasil jahitan dua karyawannya. Jika Helmi
bermain di hulu, Suryani, yang berprofesi sebagai perancang dan penjahit
pakaian, bermain di hilir. Tak jarang kain produksi Helmi menjadi bahan
pembuatan pakaian bagi Suryani. Pada bulan Ramadhan, pemesanan pakaian mengalir
deras. Tarif jasa membuat satu pakaian Rp 200.00 hingga Rp 300.000. Selama
Ramadhan, dia mampu menyelesaikan 200 potong pakaian.
Perancang mode kenamaan Wignyo Rahadi menuturkan, wastra
Aceh, baik tenun maupun songket, memiliki potensi untuk bersaing di panggung
nasional, bahkan internasional. Pada 2022, kain songket Aceh pernah tampil di
acara Paris Fashion Week. ”Motif wastra Aceh sangat menarik dan berkarakter
kuat, seperti motif pintu aceh. Di daerah lain tidak ada motif pintu Aceh,
bahkan yang mirip pun tidak ada,” kata Wignyo. Wignyo mendorong para pelaku
usaha di bidang mode, penenun, perancang, hingga pembuat pakaian berkolaborasi untuk
mengembangkan usaha mode dari hulu ke hilir. Kain tenun dan songket perlu
didekatkan dengan warga Aceh dalam bentuk pakaian jadi siap pakai. (Yoga)









