;

Mudik Gratis, Balik Kembang Kempis

Mudik Gratis, Balik
Kembang Kempis

Anis Julaicha (39), pemudik di Brebes, Jateng mengikuti program mudik gratis yang diselenggarakan   perusahaan otomotif. Bersama suami dan dua anak, mereka berangkat dari Bekasi, Jabar, pada 5 April 2024. Perusahaan otomotif tersebut begitu murah hati. Para peserta mudik gratis tersebut sebelum berangkat dihadiahi bingkisan. Isinya kaus dan makanan. Fasilitas kendaraan yang mereka tumpangi pun prima. Suspensi bus nyaman, pendingin udara pas, ruang duduk luas, dan selimut untuk tidur pulas. Bahkan, di atas semua hadiah itu, setiap pemudik diberi uang saku Rp 250.000. ”Total, keluarga saya mendapat Rp 1 juta,” kata Anis melalui telepon, Sabtu (13/4). Setelah menikmati liburan dan Lebaran di kampung halaman, Anis dan keluarga menyadari mereka belum menyiapkan cara kembali ke perantauan. Program mudik gratis yang keluarganya ikuti ternyata tidak menyediakan balik gratis.

Anis pun rutin membuka media sosial Facebook dan mencari informasi, tetapi, berbagai program balik gratis yang ia temukan titik keberangkatannya tidak ada yang dari kampungnya di Bumiayu. Semua dari wilayah yang berjarak 40-70 km dari kampungnya. Tiket bus Bumiayu-Bekasi yang semula Rp 170.000 per orang, saat arus balik Lebaran melonjak menjadi Rp 380.000 hingga Rp 400.000 per orang. Dibandingkan uang saku yang ia dapat dari program mudik gratis, Anis menombok Rp 500.000 untuk ongkos balik ke Bekasi. ”Sementara ini, saya menunggu ada tiket bus murah. Tahu sendiri kalau pulang kampung, entek-entekan (habis-habisan mengeluarkan uang),” kata Anis.

Ia menarget balik ke Bekasi sebelum anaknya masuk sekolah pada 22 April. Ia masih mencari tiket bus yang harganya lebih terjangkau agar keluarganya masih memiliki uang simpanan saat kembali ke Bekasi. Pada mudik kali ini, lanjut Anis, dirinya sudah mengeluarkan uang banyak untuk liburan di kampung halaman. Uangnya juga dipakai untuk membagi salam tempel kepada kemenakan, membeli kebutuhan makanan Lebaran, hingga memberi uang kepada orangtua.

Lika-liku perantau di Jakarta dan wilayah aglomerasinya adalah persoalan pelik. Kebingungan para pemudik mencari moda untuk kembali ke tanah rantau bisa jadi karena tidak terpusatnya program mudik gratis di dalam satu pintu. Akibatnya, tidak ada standar pelayanan dalam pelaksanaan program tersebut, misalnya mensyaratkan sponsor mudik gratis turut menyertakan program balik gratis. Di sisi lain, fenomena itu menyiratkan bahwa Jabodetabek masih jadi magnet untuk meningkatkan taraf ekonomi dan kualitas kehidupan bagi orang-orang dari luar daerah. Mereka merantau untuk turut mencoba peruntungan supaya sukses secara karier dan ekonomi seperti saudara atau tetangga di kampung yang sudah merantau lebih dulu. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :