Arus Balik Meningkat, ASN Bisa Kerja dari Rumah
Rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah atau one way
mulai dilakukan di ruas Tol Trans-Jawa pada Sabtu (13/4) karena meningkatnya
arus balik Lebaran. Puncak arus balik diprediksi terjadi pada Minggu sampai Senin
(14-15/4) karena sebagian besar masyarakat harus kembali bekerja pada Selasa
(16/4). Guna mengurangi potensi kemacetan saat puncak arus balik, pemerintah
mengizinkan sebagian ASN bekerja dari rumah pada 16-17 April 2024. ASN yang
bekerja dari rumah (work from home/WFH) paling banyak 50 % dari jumlah pegawai,
yang secara teknis diatur instansi masing-masing.
Bidangnya, antara lain, kesekretariatan, keprotokolan, perumusan
kebijakan, penelitian, dan analisis. Sementara itu, instansi yang berkaitan
langsung dengan publik, seperti bidang kesehatan, keamanan dan ketertiban, penanganan
bencana, energi, logistik, pos, transportasi dan distribusi, obyek vital
nasional, dan proyek strategis nasional tetap harus bekerja dari kantor seperti
biasa. ”Karena itu, arus balik bisa semakin lancar, tidak ada penumpukan yang
menimbulkan kemacetan panjang,” kata Menteri PAN dan RB Abdullah Azwar Anas
dalam keterangan tertulis, Sabtu.
Pada saat yang sama, pelayanan langsung publik tetap dapat
berjalan optimal karena ASN yang terkait hal itu tetap bekerja sesuai jadwal. Menko
PMK Muhadjir Effendy menuturkan, kebijakan WFH bagi sebagian ASN ini diambil karena,
dari hasil kajian Jasa Marga dan Korlantas Polri, derajat kejenuhan lalu lintas
(volume to capacity ratio atau V/C ratio) sudah di atas batas ideal, yaitu 0,7.
Bahkan, ada yang mencapai 0,96. ”Jadi, kami tidak ingin ada risiko terjadinya
kemacetan,” katanya. (Yoga)
Angkutan Gelap Dijajakan lewat Media Sosial
Kecelakaan maut Tol Jakarta-Cikampek KM 58 menjadi momentum menertibkan
angkutan gelap. Menhub Budi Karya Sumadi telah meminta dilakukan razia mobil
pribadi yang digunakan menjadi angkutan travel gelap. Namun, angkutan gelap ini
masih banyak beroperasi dan dipasarkan secara daring. Dari penelusuran Kompas, Jumat
(12/4) angkutan gelap ini menawarkan jasa melalui media sosial. Di Facebook, jasa
travel ini mudah ditemukan hanya dengan mengetikkan kata kunci rute yang
dibutuhkan, seperti travel dari Jakarta. Kompas menghubungi salah satu angkutan
gelap yang menawarkan jasa travel rute Brebes-Jabodetabek dan sebaliknya. Ia
mengaku sebagai Rudin, sopir sekaligus pemilik mobil travel yang ia gunakan.
Dari foto yang ia kirim, mobil yang ia gunakan ialah Daihatsu
Gran Max bernomor polisi warna hitam atau mobil pribadi. Melalui telepon, Rudin
mematok tarif Rp 250.000 untuk tujuan Depok-Brebes. Sekali berangkat, angkutan
itu hanya membawa enam penumpang. ”Bawa motor juga bisa,” ujarnya. Selain itu,
ada Acong Tour and Travel yang menawarkan rute Jabodetabek-Sukabumi dan
sebaliknya. Melalui pesan Whatsapp, ia menjamin penumpang dijemput di rumah dan
diantar sampai ke rumah tujuan. Acong Tour and Travel juga menawarkan biaya Rp
250.000 per orang untuk rute Jabodetabek-Sukabumi. ”Armadanya Avanza, maksimal
enam orang,” katanya.
Menteri Budi Karya Sumadi meminta kepolisian merazia angkutan
travel gelap saat arus balik Lebaran 2024. Ia meminta kepolisian menegakkan
hukum bagi jasa travel tak berizin itu. ”Bagi mereka yang akan kembali ke kota
asal, cari kendaraan yang laik jalan dan sopir yang segar. Pastikan jumlah
penumpang di mobil tidak melebihi kapasitas,” ucap Budi. Direktur Lalu Lintas
Polda Jateng Komisaris Besar Sonny Irawan mengatakan, kepolisian kesulitan
membedakan mana angkutan travel gelap dan mana mobil pribadi. Sebab, jumlah
kendaraan pribadi sangat banyak. (Yoga)
Ancaman Sampah Plastik Hasil Mudik Lebaran
Data Industri Tekstil dan Pakaian Bekas Impor
Mengapa Penjualan Pakaian Bekas Impor Tetap Marak
Kuota Wisata untuk Perairan Konservasi
Kementerian Kelautan dan Perikanan atau KKP akan memberlakukan
pembatasan pada kegiatan pariwisata alam perairan di kawasan konservasi
nasional, untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumber daya ekosistem di
dalam kawasan konservasi. Namun, penerapannya dinilai perlu mempertimbangkan
dampak sosial dan ekonomi. Salah satu kawasan konservasi prioritas yang
direncanakan akan menerapkan pembatasan atau sistem kuota adalah kawasan
konservasi Pulau Gili Matra di NTB yang merupakan konservasi perairan nasional.
Penerapan kuota bertujuan untuk menghindari wisatawan berlebih yang
mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya alam sebagai nilai jual pariwisata.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University
Luky Adrianto berpendapat, penetapan sebuah kawasan sebagai kawasan konservasi
berimplikasi pada tujuan pengelolaan kawasan tersebut, yaitu konservasi ekosistem
dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Karena itu, pembatasan jumlah wisatawan
atau kegiatan wisata di kawasan konservasi merupakan salah satu instrumen untuk
menjaga ekosistem, sumber daya hayati, dan keberlanjutan kawasan konservasi.
Meski demikian, penetapan kuota wisata dalam kawasan konservasi
perlu mempertimbangkan daya dukung sosial dan ekologis (sosial-ekologis) dalam satu
kesatuan kawasan, meliputi faktor ekologis, sosial ekonomi, dan manajemen
sebagai parameter untuk menentukan kuota wisata. ”Secara ekonomi, pembatasan
kuota wisata di kawasan konservasi dapat diukur dengan pemberlakuan wisata
premium sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
lokal dan sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Luky, Jumat (12/4).
(Yoga)
Berburu Kuliner di Hari Raya
Suasana lebaran tak hanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi
dan bermaaf-maafan. Di Kota Bandung, Jabar, masyarakat hingga pengunjung dari
luar kota berburu kuliner memanjakan lidah dalam kebersamaan. Hujan yang
mengguyur Bandung tidak menyurutkan niat Isna (50) bersama lima temannya
menikmati Bakso Tjap Haji di Jalan Burangrang, Jumat (12/4) siang. Mereka rela
mengantre lebih dari 45 menit agar bisa menyantap bakso yang menggugah selera. Ratusan
orang tampak sabar menanti giliran. Sebagian terpaksa menunggu di bawah payung
di depan restoran. Sebagian lagi berlindung menghindari tempias hujan.
”Lebaran biasanya menunya santan dan ketupat. Sekarang saya mencari
yang kuahnya segar seperti bakso. Di sini (Bakso Tjap Haji) lebih enak. Jadi,
sengaja jauh-jauh datang, ngantre juga tidak apa-apa,” ujar Isna yang berasal
dari Kecamatan Rancasari. Tidak hanya Isna, pesohor dari Jakarta pun rela mengantre
demi semangkuk bakso. Gitaris band Maliq & D’Essentials Arya Aditya yang
dipanggil Lale juga berbaur dengan pengunjung sambil menyantap bakso. Dia
datang bersama istrinya, Fikha Effendi.
”Setiap momen lebaran pasti makan bakso. Kebetulan disini
langganan, weekday juga pas ke Bandung pasti ke sini,” ujar Fikha. Manajer Operasional
Bakso Tjap Haji Rati Kurniati menjelaskan, saat Lebaran, setiap hari mereka melayani
lebih dari 2.000 pengunjung yang menghabiskan 2.500 porsi. Jumlah ini meningkat
lima kali lipat di- bandingkan hari-hari biasa. ”Salah satu bakso kami sampai
keluar lebih dari 20.000 butir. Menu Bakso Spesial 1 menjadi favorit. Biasanya
keramaian seperti ini terjadi sampai cuti Lebaran beres,” ujarnya. Oleh-oleh
makanan ringan di Kota Bandung juga diserbu para penggemar kuliner.
Putri (37), warga Ciputat, Tangsel, menunggu giliran makanan
ringannya ditimbang di toko Sari Milo Shultoniah. Warung oleh-oleh di Jalan
Kemuning, Kecamatan Sumur Bandung, ramai pada Jumat pagi. Neni Rosmawati (32),
pengelola toko Sari Milo Shultoniah, menyebutkan, Kentang Manohara, keripik
kentang renyah berwarna kuning keemasan menjadi salah satu favorit yang dijual
di sana bersama Kentang Putih dan Cireng Ariel. Dalam sehari, dia menjual lebih
dari 60 kg keripik Kentang Manohara. ”Kentang Putih dan Cireng Ariel juga
rata-rata bisa habis 60 kg sehari. Ada belasan jenis makanan ringan, cuma yang
sering dibeli tiga jenis itu setiap lebaran dan waktu libur,” paparnya. (Yoga)
Mudik dan Pelesiran via Tol Trans-Sumatera
Melakukan perjalanan mudik Lebaran 2024 lewat Jalan Tol
Trans-Sumatera menjadi pengalaman menarik yang perlu dicoba. Tahun ini lonjakan
harga tiket pesawat yang tak masuk akal membuat banyak warga memilih jalur darat.
Apalagi testimoni warga Ibu Kota yang kerap bepergian ke wilayah Sumatera
menggunakan jalur darat menyatakan kehadiran ruas Jalan Tol Trans-Sumatera
(JTTS) yang saat ini sudah beroperasi dari Bakauheni, Lampung, hingga Prabumulih,
Sumsel, telah mempersingkat waktu tempuh dan meningkatkan kenyamanan
berkendara. Pernyataan mereka seragam, yaitu ” Sekarang, sejak ada jalan tol,
dari Bakauheni ke Palembang cuma 5 jam.”
Agar terhindar dari puncak arus mudik yang diprediksi terjadi
pada 6-7 April 2024, Kompas berangkat pada Kamis (4/4) pukul 04.00. Sekitar
pukul 09.00, Kompas sudah memasuki Gerbang Tol (GT) Bakauheni. Kota Palembang
menjadi destinasi persinggahan di malam pertama pada perjalanan menuju
Bukittinggi, Sumbar. Untuk mencapai Palembang dari Bakauheni, terdapat tiga ruas
jalan tol yang harus dilalui, yakni ruas Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar
sepanjang 141 km, lalu ruas Jalan Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung sejauh 189 km,
dan yang terakhir ruas Tol Kayu Agung-Palembang yang berjarak 42,5 km. Di
sepanjang jalan tol, terdapat sekitar 9 rest area permanen dan sejumlah rest
area fungsional. Kendaraan siaga, seperti kendaraan patroli dan kendaraan derek
juga terlihat siap bertugas.
Tarif jalan tol dari GT Bakauheni Selatan ke GT Tol Kayu
Agung/Kayu Agung Utama untuk kendaraan golongan I sebesar Rp 360.000. Sementara
tarif tol dari GT Kayu Agung Utama menuju GT Palembang untuk kendaraan golongan
I sebesar Rp 75.000. Tiba di Palembang pada pukul 15.00, rombongan mudik punya
waktu banyak untuk berpelesir di Jembatan Ampera dan berwisata kuliner menikmati
sajian pempek dan pindang patin di waktu berbuka puasa. Sesuai rencana awal, mudik
kali ini memang menjadi sebuah perjalanan wisata. Ternyata, banyak pula
keluarga-keluarga yang berpelesir di kota-kota yang mereka lalui dalam
perjalanan mudik.
Keberadaan jalan tol telah menciptakan potensi perekonomian
baru di wilayah sekitar jalan tol. Dimulai dari daerah di sekitar pintu gerbang
tol hingga di sejumlah area istirahat. Sejalan dengan berlanjutnya ruas JTTS di
area selatan dan utara yang akan saling terhubung, potensi pertumbuhan ekonomi
di wilayah di sekitar pintu gerbang tol sebagai wilayah transit juga akan terus
berkembang. Pemerintah daerah perlu memanfaatkan situasi ini, misalnya dengan
membangun kawasan industri dan perdagangan yang dekat dengan akses jalan tol
sehingga akan tercipta kawasan ekonomi baru. (Yoga)
Tergiur Melihat Sukses Perantau
Arus balik Lebaran menjadi momen bagi banyak orang untuk
mulai merantau. Siapa yang tak tergiur melihat kilau kesuksesan mereka yang
pulang ke kampung halaman. Kesuksesan perantau tergambar pada hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional BPS (Susenas BPS). Pada kelompok 20 % keluarga paling
sejahtera di Jabodetabek, 54,2 % adalah perantau. Bagi banyak orang, hidup
merantau jauh dari kampung halaman merupakan pilihan demi harapan memperoleh
kehidupan yang lebih baik.
Berdasarkan data mikro Susenas BPS Maret 2022, dari total 72,8
juta keluarga, 13,9 % atau 10,1 juta merupakan keluarga perantau. Kategori
keluarga perantau diperoleh dari status setiap kepala dan anggota keluarga yang
tidak lahir di provinsi tempat tinggalnya saat ini. Kategori ini termasuk dalam
keluarga perantau lebih dari lima tahun. Ada juga kategori keluarga perantau
kurang dari lima tahun karena baru pindah ke provinsi domisili sekarang. Dua
kategori keluarga perantau itu membentuk kondisi kesejahteraan yang hampir sama.
Dari 10 kelompok kesejahteraan, hanya 3,3 % keluarga perantau yang masuk dalam
Desil 1. Angka tersebut terus meningkat di desil-desil di atasnya hingga di
Desil 10 yang mencapai 20,9 %.
Ukuran kesejahteraan keluarga ini dilihat dari pengeluaran per
kapita per bulan di setiap keluarga. Desil 5-8 masuk dalam 40 % keluarga dengan
pengeluaran per kapita menengah di atas Desil 1-4. Desil 9-10 termasuk dalam 20
% keluarga dengan pengeluaran per kapita teratas atau dapat juga disebut
keluarga paling sejahtera. Rentang pengeluaran per kapita Desil 1 hingga 4 berkisar
Rp 427.000 hingga Rp 985.000 per bulan. Desil 5 hingga 8 di rentang Rp 986.000 hingga
Rp 2,1 juta per bulan. Desil 9-10 lebih dari Rp 2,2 juta per bulan. Pengeluaran
ini termasuk untuk kebutuhan sehari-hari, baik makanan maupun nonmakanan.
Bram (26), warga Rempoa, Tangsel, Banten, merupakan warga
kelahiran Semarang dan merantau ke Jabodetabek sejak 2022. Pengeluaran per
kapita rata-rata Bram, istri, dan seorang anak lebih dari Rp 2 juta per bulan,
masuk Desil 9-10 atau keluarga sejahtera. Menurut Bram, kesempatan bekerja di
kota perantauan selalu terbuka lebar. Modalnya pendidikan tinggi dan pengalaman
bekerja. Bram mengaku tidak butuh waktu lama dari pekerjaan sebelumnya hingga
mendapatkan pekerjaannya saat ini di Jakarta. Untuk mendapatkan pekerjaan di
perusahaan besar, sudah banyak lamaran pekerjaan Bram yang ditolak. Ia tak
patah arang dan terus berusaha hingga akhirnya mendapat pekerjaan yang layak di
perantauan. (Yoga)









