Darurat Sampah, TPA Tangerang Nyaris Penuh
Tempat Pemrosesan Akhir Rawa Kucing, Kelurahan Kedaung Wetan,
Tangerang, Banten, nyaris tidak mampu lagi menampung timbunan sampah. Tanpa pengelolaan
terpadu dari hulu, darurat sampah ada di depan mata. Penerapan ekonomi sirkular
untuk pengelolaan sampah juga mendesak dilakukan. Kondisi Tempat Pemrosesan
Akhir (TPA) Rawa Kucing yang nyaris penuh terlihat dari sampah yang menggunung
dengan ketinggian 25 meter. Volume timbunan sampah mencapai 1.600 ton per hari.
Kondisi ini diperparah de- ngan bencana kebakaran TPA Rawa Kucing yang
berulang.
Puncaknya terjadi pada 20 Oktober 2023 dengan luas area terbakar
27 hektar atau 80 persen total 34,8 hektar lahan TPA. Proses pemadaman
berlangsung 12 hari. Selama itu pula Pemkota Tangerang memberlakukan status
tanggap bencana darurat daerah. Koordinator Presidium Koalisi Aktivis Lingkungan
Hidup Kota Tangerang Ade Yunus, Senin (15/4) menyatakan, Kota Tangerang sudah berstatus
darurat sampah. Menurut dia, kebijakan terintegrasi diperlukan agar volume
sampah yang sudah menggunung di TPA Rawa Kucing dapat dikurangi. Pengelolaan
sampah harus berjalan terintegrasi mulai dari penegakan aturan, pengelolaan dengan
teknologi yang tepat, hingga internalisasi budaya mengelola sampah dari hulu.
Berbagai aksi bersih-bersih hanya mampu merelokasi atau memindahkan
sampah ke TPA. Untuk mengelola sampah di TPA, diperlukan langkah konkret yang
lebih ekstrem dan tepat guna, salah satunya melalui program Pengelolaan Sampah
Menjadi Energi Listrik (PSEL). ”Sampah yang dapat didaur ulang memiliki potensi
ekonomi sirkular. Bank sampah membantu mengelola sampah yang dapat didaur ulang
dan masih memiliki nilai ekonomis. Komposter mengelola sampah rumah tangga dan
sampah organik lain yang dapat dijadikan kompos,” kata Ade. (Yoga)
Rengkuh Banyu Mahandaru ”Plepah” untuk Merawat Alam
Di Jaipur, India, Rengkuh Banyu Mahandaru (32) meraih
inspirasi penggunaan piring dan mangkuk kecil dari dedaunan tanaman endemik
seperti jati yang dikeringkan. Sekembalinya ke Tanah Air, Rengkuh mengimplementasikan
seluruh pengalamannya untuk mendirikan ”Plepah”. Rengkuh memilih mengolah
pelepah pinang menjadi kemasan makanan sekali pakai. Dia memilih pelepah pinang
karena ketersediaan material tersebut melimpah, tetapi masih dianggap limbah. Data
terkini sebaran jenis tumbuhan pinang di Sumatera mencakup area 150.000 hektar.
Pelepah pinang yang digunakan Rengkuh baru dari wilayah Jambi dan Sumsel. Kemasan
pelepah, ditujukan sebagai pengganti penggunaan kantong plastik dan styrofoam
sebagai kemasan makanan sekali pakai.
Atas dukungan dana BRI Ventures serta BRIN pada tahun 2022
Rengkuh mendirikan unit produksi kemasan makanan dari pelepah pinang di
Cibinong, Jabar. Kapasitas produksinya 160.000 kemasan per bulan dengan pasar
utama ekspor hingga 80 %. Selebihnya, 18-20 persen untuk memenuhi pasar dalam negeri.
Di dalam negeri, harga satu kemasan pelepah pinang Rp 2.500 sampai Rp 4.500. Produk
kemasan pelepah pinang itu diberi jenama Plepah. Pada April 2023, ia diminta
ikut pameran di Jerman. Di sana banyak permintaan dari luar negeri. Namun,
regulasi dalam negeri tentang kandungan kimia, bakteri, dan bukan hasil
deforestasi belum dianggap sebagai patokan global.
Hanya dari Australia yang bisa dipenuhi. Itu pun melalui perantara
pengusaha Dubai yang datang ke Jakarta pada November 2023. Baru-baru ini
terkirim satu kontainer berisi 150.000 kemasan. Selanjutnya, Australia minta
dikirim bahan mentahnya. Rengkuh tak berhenti pada usaha produksi kemasan
pelepah pinang. Ia mengembangkan produksi sumber energi biomassa di Kabupaten
Kubu Raya, Kalbar, dengan biomaterial, di antaranya tandan sawit kosong, ampas
tebu, kayu, dan kulit beras. ”Pada Oktober 2023 sudah terkirim beberapa ton
biomassa untuk bahan bakar pembangkit listrik di Jateng,” ujar Rengkuh saat
dihubungi Kompas, Rabu (27/3). (Yoga)
Perputaran Uang Rp 386 T, Ekonomi Kuartal II Terdongkrak
Timteng Memanas, Ekonomi Rawan Terguncang
Penurunan Tingkat Bunga Ganggu Kerja Fintech
Pasar Ponsel Global Rebound, Samsung Rebut Posisi Apple
Riset : Konsumen RI Belum Bisa Tinggalkan Belanja Offline
Para Pengembang Properti Kumpulkan Pendapatan Rp 97,46 Triliun
Segmen Perumahan Menjadi Otot Penjualan Gapuraorima
Industri Manufaktur Berisiko Tekan Volume Produksi
Pelemahan nilai tukar rupiah secara terus-menerus berisiko menyebabkan
sebagian besar industri manufaktur menekan volume produksi. Beban biaya nonproduksi
akan melonjak jika pelemahan rupiah berkelanjutan. Meski perdagangan spot rupiah
selama sepekan terakhir atau selama periode Lebaran belum dibuka, berbagai pemberitaan
menyebutkan, rupiah telah menembus Rp 16.000 per dollar AS. Berdasarkan data
Google Finance, pelemahan rupiah menyentuh titik tertingginya pada level Rp 16.089
per dollar AS pada Jumat (12/4). Data
Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan, rupiah berada di level
Rp 15.873 per dollar AS pada penutupan pasar Jumat (5/4).
Pelemahan rupiah sempat menyentuh level tertingginya sebesar
Rp 15.923 per dollar AS atau terdepresiasi 2,9 % dibandingkan dengan awal tahun
2024. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Senin
(15/4) mengatakan, pelemahan rupiah dipastikan berdampak negatif, terutama terhadap
industri manufaktur nasional. Sebab, industri manufaktur masih bergantung pada
impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal.
”Terbuka kemungkinan kenaikan harga jual di pasar apabila
pelemahan ini terjadi lebih dari sebulan. Imbasnya, inflasi harga pasar bisa menjadi
lebih tinggi, pertumbuhan penjualan atau konsumsi pasar melambat dan memengaruhi
inflasi apabila pemerintah tidak bisa menstabilkan penguatan nilai tukar. Kami
sangat berharap pemerintah dapat menciptakan intervensi moneter yang dibutuhkan
untuk menciptakan stabilitas atau penguatan nilai tukar,” katanya.
Sekitar 80 % total impor nasional merupakan bahan baku, bahan
penolong, serta barang modal industri. Ini mengakibatkan biaya nonproduksi
(overhead cost) industri manufaktur seluruh subsektor melonjak dan sangat
memberatkan. Apindo memperkirakan, sebagian besar industri manufaktur akan
menekan volume produksi akibat kenaikan beban biaya nonproduksi yang disebabkan
oleh pelemahan rupiah. (Yoga)









