Timteng Memanas, Ekonomi Rawan Terguncang
Penurunan Tingkat Bunga Ganggu Kerja Fintech
Pasar Ponsel Global Rebound, Samsung Rebut Posisi Apple
Riset : Konsumen RI Belum Bisa Tinggalkan Belanja Offline
Para Pengembang Properti Kumpulkan Pendapatan Rp 97,46 Triliun
Segmen Perumahan Menjadi Otot Penjualan Gapuraorima
Industri Manufaktur Berisiko Tekan Volume Produksi
Pelemahan nilai tukar rupiah secara terus-menerus berisiko menyebabkan
sebagian besar industri manufaktur menekan volume produksi. Beban biaya nonproduksi
akan melonjak jika pelemahan rupiah berkelanjutan. Meski perdagangan spot rupiah
selama sepekan terakhir atau selama periode Lebaran belum dibuka, berbagai pemberitaan
menyebutkan, rupiah telah menembus Rp 16.000 per dollar AS. Berdasarkan data
Google Finance, pelemahan rupiah menyentuh titik tertingginya pada level Rp 16.089
per dollar AS pada Jumat (12/4). Data
Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan, rupiah berada di level
Rp 15.873 per dollar AS pada penutupan pasar Jumat (5/4).
Pelemahan rupiah sempat menyentuh level tertingginya sebesar
Rp 15.923 per dollar AS atau terdepresiasi 2,9 % dibandingkan dengan awal tahun
2024. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Senin
(15/4) mengatakan, pelemahan rupiah dipastikan berdampak negatif, terutama terhadap
industri manufaktur nasional. Sebab, industri manufaktur masih bergantung pada
impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal.
”Terbuka kemungkinan kenaikan harga jual di pasar apabila
pelemahan ini terjadi lebih dari sebulan. Imbasnya, inflasi harga pasar bisa menjadi
lebih tinggi, pertumbuhan penjualan atau konsumsi pasar melambat dan memengaruhi
inflasi apabila pemerintah tidak bisa menstabilkan penguatan nilai tukar. Kami
sangat berharap pemerintah dapat menciptakan intervensi moneter yang dibutuhkan
untuk menciptakan stabilitas atau penguatan nilai tukar,” katanya.
Sekitar 80 % total impor nasional merupakan bahan baku, bahan
penolong, serta barang modal industri. Ini mengakibatkan biaya nonproduksi
(overhead cost) industri manufaktur seluruh subsektor melonjak dan sangat
memberatkan. Apindo memperkirakan, sebagian besar industri manufaktur akan
menekan volume produksi akibat kenaikan beban biaya nonproduksi yang disebabkan
oleh pelemahan rupiah. (Yoga)
Airlangga Janjikan Respons Terukur
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjanjikan
langkah kombinasi terukur dalam merespons dampak ekonomi menyusul konflik
Iran-Israel. Langkah yang dimaksud mencakup sektor perbankan dan pasar modal,
pengendalian inflasi, serta rencana koordinasi bauran kebijakan fiskal-moneter
guna pengendalian nilai tukar dan pengelolaan defisit anggaran pemerintah. ”Rambatan
dampak (eskalasi konflik Iran-Israel) kepada pasar finansial Indonesia baru akan
terlihat saat pembukaan pasar besok pagi (Selasa, 16/4). Namun, langkah-langkah
antisipatif akan disiapkan untuk menjaga kepercayaan pasar atas dampak potensi
semakin meningkatnya harga komoditas terutama minyak akibat terganggunya pasokan,
serta kenaikan harga emas, sebagai aset safe haven, dan rambatan ke sektor
lainnya,” katanya.
Airlangga menyelenggarakan rapat terbatas dengan seluruh unsur
kedeputian pada Kemenko Bidang Perekonomian dengan sejumlah Dubes di Jakarta, Senin
(15/4), merespons eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan udara Iran
ke Israel pada Minggu (14/4) yang diklaim sebagai balasan atas serangan Israel
yang menghancurkan gedung Konsulat Iran di Damaskus, Suriah, 1 April 2024. Rapat
tersebut, membahas respons kebijakan terhadap dampak konflik di tingkat
regional dan global, kinerja sektor perbankan dan pasar modal, pengendalian
inflasi, serta rencana koordinasi bauran kebijakan fiskal moneter dengan
otoritas terkait untuk strategi pengendalian nilai tukar dan pengelolaan
defisit anggaran ke depan.
Konflik Iran-Israel, Airlangga menambahkan, juga akan menimbulkan
gangguan pada rantai pasokan melalui Terusan Suez. Ini akan berdampak langsung
setidaknya pada kenaikan biaya kargo. Produk yang terganggu antara lain gandum,
minyak, dan komponen alat-alat produksi dari Eropa. Secara fundamental, perekonomian
Indonesia relatif cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi masih terjaga di atas 5 %
dengan inflasi terkendali. Sampai Februari 2024, neraca perdagangan Indonesia
juga masih mengalami surplus dan menopang cadangan devisa yang pada posisi
terakhir di Maret 2024 tercatat masih kuat. (Yoga)
Sulitnya Transpuan Klaim Dana Kematian
Harapan 163 transpuan dan warga miskin untuk mendapatkan klaim
atas program jaminan kematian (JKM) dari BPJS Ketenagakerjaan untuk kategori
bukan penerima upah (BPU) lagi-lagi kandas. Kendati menjadi peserta aktif program
tersebut, mereka tetap tidak bisa menikmati manfaat dari program itu. BPJS
Ketenagakerjaan tetap menolak pengajuan klaim mereka atas program jaminan
kematian kategori BPU meskipun sudah ada upaya mediasi antara Perkumpulan Suara
Kita (perwakilan transpuan dan orang miskin) dan BPJS Ketenagakerjaan. Mediasi
dengan mediator Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) hingga akhir Maret 2024
pun gagal. Dalam ”Risalah Gagal Mediasi oleh Mediator DJSN” yang ditandatangani
Ketua DJSN Agus Suprapto dan mediator DJSN, Subiyanto, disebutkan sikap BPJS
Ketenagakerjaan yang tidak dapat menjalankan anjuran DJSN.
Sebelumnya, DJSN menyampaikan dua anjuran kepada BPJS
Ketenagakerjaan. Pertama, DJSN menganjurkan ketentuan Pasal 218 Ayat (5)
Peraturan Direksi BPJS Ketenagakerjaan No 36 Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM harus segera dicabut
karena bertentangan dengan regulasi jamsostek. Kedua, DJSN menganjurkan BPJS
Ketenagakerjaan agar membayar klaim JKM yang diajukan Perkumpulan Suara Kita
yang menggunakan surat wasiat, baik surat wasiat di-waarmerking maupun tidak, berdasarkan
regulasi yang berlaku dalam jamsostek. Waarmerking adalah tindakan notaris yang
melakukan pembukuan atas akta bawah tangan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait
dengan memasukkannya ke dalam buku khusus. Namun, BPJS Ketenagakerjaan selaku
terlapor menyatakan sikap tidak dapat menjalankan kedua anjuran yang
disampaikan DJSN.
Atas penolakan BPJS Ketenagakerjaan tersebut, Perkumpulan
Suara Kita dan Jaringan Komunitas untuk BPJS Ketenagakerjaan menyatakan sangat
kecewa. ”BPJS Ketenagakerjaan bukan cuma tidak peka dan tidak sensitif,
melainkan juga tidak bisa memahami maksud dan tujuan program jaminan sosial
yang telah didesain negara,” ujar Hartoyo, mewakili Jaringan Komunitas untuk BPJS
Ketenagakerjaan, Senin (15/4). Bagi para transpuan dan warga miskin, klaim dana
kematian bagi peserta program jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan kategori
BPU sangat berarti. Selain untuk membantu pengurusan saat mereka meninggal,
dana tersebut bisa bermanfaat untuk solidaritas sosial bagi komunitas
transpuan. (Yoga)
Dua Perusahaan Rintisan Inovator dari Indonesia Dapat Suntikan Dana
Dua perusahaan rintisan atau start up dari Indonesia mendapat
suntikan dana sebesar 250.000 dollar Singapura atau Rp 2,9 miliar di ajang
Konferensi Filantropi Asia atau Philanthropy Asia Summit 2024 di Singapura,
Senin (15/4). Keduanya dianggap sebagai inovator di bidang iklim dan alam karena
telah berinovasi dalam pengelolaan limbah. Mereka adalah, Mycotech Lab (MYCL) dan
Sampangan. MYCL adalah perusahaan bioteknologi bersertifikat B Corp, yang membuat
produk dari limbah tanaman pertanian yang diikat dengan miselium jamur. Bahan
serbaguna itu untuk berbagai keperuan, mulai dari alas kaki hingga interior
otomotif dan bahan bangunan. Adapun Sampangan menyediakan produk karbon negatif
melalui teknologi karbonisasi dengan mengubah semua jenis sampah yang tidak
disortir menjadi bahan baku serbaguna dan berkelanjutan.
Total ada lima perusahaan rintisan yang mendapat suntikan
dana. Tiga lainnya, Circ yang berbasis di AS, GRST di Hong Kong, dan MAYANI di
Filipina. ”Program amplifier yang berlangsung selama setahun ini bertujuan
membina start up yang berdampak menjadi layak secara komersial dan memberikan
dampak positif di Asia,” kata Chief Executive Officer (CEO) Center for Impact
Investing and Practices (CIIP) Dawn Chan. Menurut Chan, program ini menerima
139 pengajuan dari 35 negara. Temanya beragam, seperti energi dan listrik,
pangan berkelanjutan dan konservasi lahan, konservasi lautan, serta
sirkularitas dan limbah. Semuanya mencerminkan minat yang signifikan terhadap dampak
pasar serta keinginan pendiri dan inovator untuk mengatasi tantangan iklim juga
alam di Asia. (Yoga)









