Disiapkan Tim Tangani Calon Dokter Spesialis dengan Gejala Depresi
Kemenkes menyiapkan tim khusus untuk menangani peserta
program pendidikan dokter spesialis atau PPDS yang mengalami depresi selama
menjalani pendidikan. Kemenkes menunjuk RS Jiwa dr H Marzoeki Mahdi Bogor
sebagai Pusat Kesehatan Jiwa Nasional yang akan membentuk tim tersebut. Menurut
Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Kesehatan Azhar Jaya saat dihubungi dari
Jakarta, Selasa (16/4) metode terapi juga akan disiapkan sebagai intervensi kepada
calon dokter spesialis yang terindikasi mengalami depresi. ”Kami akan fokus untuk yang depresi berat
karena ini yang perlu diterapi segera. RSJ MM (Rumah Sakit Jiwa dr H Marzoeki
Mahdi Bogor) sebagai Pusat Kesehatan Jiwa Nasional yang akan membentuk tim dan
metode terapi yang akan dilakukan,” katanya
Hasil penapisan yang dilakukan terhadap 21.121 peserta PPDS
di 28 rumah sakit vertikal Kemenkes menunjukkan 22,4 % peserta mengalami gejala
depresi berat hingga ringan. Dalam penapisan itu ditemukan pula 3,3 % peserta PPDS
atau 399 peserta merasa lebih baik mengakhiri hidup atau ingin melukai diri
sendiri dengan cara apa pun. Para calon dokter spesialis yang mengalami gejala
depresi ditemukan berasal dari RS Cipto Mangunkusumo, RS Hasan Sadikin, dan RS
Sardjito. Dirut Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Jiwa dr H Marzoeki
Mahdi Bogor Nova Riyanti Yusuf menuturkan, penegakan diagnosis akan dilakukan
terlebih dahulu terhadap hasil skrining peserta PPDS yang dilakukan melalui
pengisian kuesioner Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9).
Penegakan diagnosis akan dilakukan oleh psikiater atau dokter
spesialis kesehatan jiwa yang telah ditunjuk. Ia memastikan data para peserta
PPDS akan terjamin kerahasiaannya dan tidak akan dikembalikan ke pusat pendidikan
atau RS vertikal tempat peserta PPDS bertugas. Evaluasi pada rumah sakit vertikal
dan fakultas kedokteran terkait akan dilakukan dengan melihat data keseluruhan,
bukan data individu. ”Dari hasil ini akan dilanjutkan dengan wawancara. Data
tetap akan dimiliki kami (Kemenkes) dan data mereka (peserta PPDS) akan dijaga
privasinya. Direncanakan wawancara oleh psikiater untuk diagnosis awal akan dilakukan
daring melalui telemedicine,” kata Nova. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023