Rupiah Kena Pukulan Ganda
Faktor Pemicu Pelemahan Kurs Rupiah
Populasi Usia Kerja Tumbuh Melambat
Sejak 2008, sesuai laporan analisis Dana Moneter
Internasional atau IMF, pertumbuhan populasi usia kerja yang berada dalam rentang
usia 15-64 tahun telah melambat. Hal ini dikhawatirkan memicu ketidak seimbangan
pasokan tenaga kerja dunia dan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Laporan
analisis bertajuk ”Slowdown in Global Medium-Term: What Will It Take toTurn the
Tide?” dirilis dalam blog IMF pada Rabu (10/4). Dalam laporan itu disebutkan,
ketika suatu negara mengalami transisi demografi yang ditandai dengan menurunnya
tingkat kesuburan dan populasi yang menua, maka jumlah penduduk usia kerja mulai
menyusut. Sejak 2008, pertumbuhan populasi usia kerja yang berada dalam rentang
15–64 tahun telah melambat 92 % terhadap perekonomian global. Perlambatan ini
terlihat di sebagian besar negara maju dan berkembang.
Adapun negara-negara berpendapatan rendah masih menikmati
bonus demografi. Pergeseran demografis ini berdampak langsung pada pasokan
tenaga kerja global. Pada 2030, dalam laporan analisis yang sama, IMF memperkirakan,
kontribusi tahunan pasokan tenaga kerja terhadap pertumbuhan produk domestic bruto
(PDB) global diperkirakan akan menurun menjadi 0,2 %, atau hanya seperempat rata-rata
kontribusi tahunan pasokan tenaga kerja terhadap PDB global pada tahun
2000-2019. Hal ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan pasokan tenaga kerja
potensial secara global hanya akan sebesar 0,3 % pada 2030. Namun, tren pasokan
tenaga kerja akan bervariasi menurut wilayah. Negara-negara berpendapatan
rendah diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pasokan tenaga kerja yang kuat
sebesar 2,1 %.
Sementara pasokan tenaga kerja di negara-negara berkembang,
kecuali China, akan tumbuh sebesar 0,9 %, dan di AS sebesar 0,5 %. Adapun
penurunan tajam dalam partisipasi kerja akan menyebabkan pasokan tenaga kerja
terkontraksi sebesar 0,6 % di China dan sebesar 0,5 % di Uni Eropa. Potensi
hambatan partisipasi kerja akibat penuaan terlihat di semua negara maju dan
China, sedangkan hambatan pada tingkat lebih rendah ada di Amerika Latin. Akan
tetapi, sejumlah negara maju, kecuali AS, mampu mengatasi dampak penuaan
demografi terhadap pasokan tenaga kerja dengan cara meningkatkan partisipasi
kerja perempuan dan pekerja berusia lebih tua. IMF, dalam laporan itu, juga
menyebutkan, tingkat pertumbuhan ekonomi global, tanpa adanya siklus naik dan
turun, terus melambat sejak krisis keuangan global tahun 2008–2009. (Yoga)
Ekspor Hasil Kehutanan Tembus USD 3,5 Mikiar
Agar Dompet Tidak Tekor Seusai Perayaan Lebaran
Setelah larut dalam euforia hari raya, realita kembali menyapa.
Dompet menipis karena ”jorjoran” pengeluaran. Sementara tanggal gajian masih
lama. Bagaimana cara bertahan hidup? Rully (27) masih ingat pengalaman pahitnya
saat Lebaran tahun lalu. Terlena karena gaji bulanan masuk di tanggal yang sama
dengan hari Idul Fitri, ia belanja sepuas hati. Membeli baju baru, makan-makan,
mudik, membeli oleh-oleh, memberi ”salam tempel” untuk keponakan, dan masih
banyak pengeluaran lainnya. ”Saya belanja jorjoran, mikir uang ada banyak, nih.
Eh, hasilnya, setelah Lebaran tahun lalu itu, saya harus hemat banget sampai
tanggal gajian. Bener-bener boros,” tutur pekerja swasta asal Bekasi itu, Jumat
(12/4).
Akibat tekor, Rully terpaksa menjual tabungannya di saham Rp
1,5 juta sampai Rp 2 juta untuk menambal biaya hidup sampai menunggu tanggal
gajian berikutnya. Belajar dari pengalaman tahun lalu, ia pun berstrategi mengelola
keuangan pada Lebaran ini. Apalagi, ia sadar biaya kebutuhan hidup tahun ini
sudah naik pesat dari tahun lalu. Sementara gaji dan THR masih sama. Salah satu
siasatnya adalah tidak membeli baju baru saat Lebaran seperti tahun lalu. Ia
bisa berhemat sampai sekitar Rp 1 juta. ”Jadi, kami sekeluarga tahun ini pakai
baju Lebaran yang dari tahun-tahun lalu saja,” kata Rully.
Kebetulan, ia hanya mudik ke Bandung, Jabar, sehingga ongkos yang
diperlukan tidak terlalu mahal. Ia memilih membawa mobil sendiri sehingga total
ongkos mudik empat orang bisa ditekan menjadi Rp 600.000 mencakup bensin, tol
pulang-pergi, dan transportasi sehari-hari selama di Bandung. ”Untuk THR (ke
saudara-saudara) juga enggak gede-gede banget, sekitar Rp 600.000 buat
keponakan yang masih kecil-kecil aja. Pokoknya banyak belajar dari pengalaman
tahun lalu,” kata Rully. Dengan strategi keuangan yang tepat masyarakat bisa lebih
tenang mengakhiri libur Lebaran. (Yoga)
Kapal Rampasan, antara Dilelang dan Dibagikan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pemanfaatan
kapal ikan asing yang berasal dari barang rampasan negara untuk dibagikan ke
kelompok nelayan. Saat ini, sebagian besar kapal ikan ilegal yang dirampas
negara berujung dilelang atau dijual lagi. Data KKP, selama 2021-2023, Dirjen Pengawasan
Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP telah menginisiasi pengajuan
permohonan pemanfaatan 49 unit kapal perikanan hasil tindak pidana pada
Kejaksaan RI. Namun, kapal rampasan yang bisa dimanfaatkan nelayan tergolong
minim. Per tanggal 1 April 2024, dari 49 unit kapal perikanan rampasan negara
itu, sebanyak 24 kapal di antaranya telah terjual dengan cara lelang oleh
Kejaksaan di sejumlah daerah. Sementara 2 kapal masih dalam proses lelang, 4
kapal telah dimusnahkan, dan 3 kapal dalam kondisi rusak berat. Selebihnya,
empat kapal telah diserahkan ke KKP, 1 kapal diserahkan ke Universitas
Hasanuddin, dan 3 kapal dalam proses hibah. Selain itu, 5 kapal berpotensi
dimanfaatkan dan 1 kapal dalam proses penerbitan status penggunaan barang rampasan
dari Kemenkeu.
Akhir Maret lalu, 2 kapal sitaan negara diserahkan KKP kepada
Pemkab Banyuwangi untuk diteruskan kepada kelompok usaha bersama nelayan/koperasi
perikanan di Banyuwangi, Jatim, di Pantai Ancol Plengsengan, Kelurahan Lateng,
Banyuwangi. Dua kapal tersebut, KG 9464 TS berukuran 106,67 gros ton (GT) dan
kapal ikan KG 9269 TS berbobot 60,05 GT, merupakan kapal asal Vietnam. Selain
itu, masih ada tiga kapal ikan lain asal Vietnam, yakni TG 94916 TS (80 GT), BV
92602 TS (GT 107), dan BV 92601 TS (GT 62), yang kini dalam tahap perbaikan.
Tiga kapal itu juga akan diserahkan kepada kelompok usaha bersama
nelayan/koperasi perikanan.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kesatuan Nelayan Tradisional
Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mengemukakan, pemberian kapal perikanan hasil
rampasan negara kepada kelompok nelayan merupakan langkah positif. ”Pemerintah
juga perlu memfasilitasi kelompok nelayan penerima hibah kapal melalui akses
terhadap permodalan dan perizinan,” ujar Dani, pekan lalu. Agar dapat mengatasi
biaya operasional yang besar, lanjut dia, hibah kapal sebaiknya diberikan
kepada nelayan-nelayan yang tergabung dalam koperasi. Dengan demikian, koperasi
dapat ditugaskan untuk mengelola kapal, termasuk pembiayaan operasional melaut.
(Yoga)
Hiu Paus Teluk Saleh di Sumbawa Diminati Wisatawan
Potensi wisata bahari NTB tak akan pernah habis dijelajahi.
Salah satu yang tengah naik daun adalah wisata whale shark atau hiu paus di
kawasan Teluk Saleh, Desa Labuan Jambu, Sumbawa. Wisata hiu paus (Rhincodon typus)
di Teluk Saleh dibuka sejak 2018, bersamaan dengan acara Sail Moyo Tambora. Menurut
Munawir Gazali (34), pemilik operator wisata Tukang Holiday, wisata hiu paus di
Teluk Saleh semakin menggeliat dalam dua tahun terakhir. ”Pascapandemi
Covid-19, open trip ke sana semakin ramai,” kata Munawir, di Mataram, Senin
(15/4). Selain paket sehari ke hiu paus, ada juga yang memanfaatkan one trip Lombok-Komodo.
”Untuk paket sehari ke hiu paus, peminatnya banyak lokal dan
domestik atau dari luar NTB. Terutama komunitas selam bebas (free dive).
Sementara paket yang langsung ke Komodo didominasi turis mancanegara,” kata
Munawir. Paket perjalanan Lombok-Komodo, awalnya dibuka dua tahun lalu. Kala
itu, tamunya 150 orang per minggu. Kini, jumlahnya mencapai dua kali lipat, 90 %
di antaranya wisatawan mancanegara. Untuk kunjungan sehari ke area hiu paus,
sedikitnya 30 orang per bulan. ”Pada musim ramai kunjungan wisatawan seperti
Mei-Agustus, peminatnya (wisata hiu paus) semakin meningkat. Bahkan, kami
sampai tolak amu karena penuh. Kami alihkan ke teman operator wisata lain agar
tamunya tidak kecewa,” kata Mulyadi(36) dari Best Komodo Island, operator wisata
di Gili Trawangan.
Munawir menambahkan, untuk paket sehari ke hiu paus saja, ia
mematok tariff Rp 500.000 per orang, sudah termasuk kapal, alat snorkeling, sarapan,
dan dokumentasi. Sementara tarif untuk paket perjalanan Lombok-Komodo yang
berlangsung empat hari tiga malam mulai dari Rp 3 juta per orang. Jika
mengikuti paket perjalanan Lombok-Komodo, wisatawan berangkat dari Pelabuhan
Kayangan di Lombok Timur. Lalu, mereka dibawa menuju Teluk Saleh. Sementara
kunjungan sehari harus menyeberang dulu dari Lombok menggunakan kapal. Setelah
itu, baru melanjutkan perjalanan sekitar empat jam menuju Labuan Jambu. (Yoga)
Darurat Sampah, TPA Tangerang Nyaris Penuh
Tempat Pemrosesan Akhir Rawa Kucing, Kelurahan Kedaung Wetan,
Tangerang, Banten, nyaris tidak mampu lagi menampung timbunan sampah. Tanpa pengelolaan
terpadu dari hulu, darurat sampah ada di depan mata. Penerapan ekonomi sirkular
untuk pengelolaan sampah juga mendesak dilakukan. Kondisi Tempat Pemrosesan
Akhir (TPA) Rawa Kucing yang nyaris penuh terlihat dari sampah yang menggunung
dengan ketinggian 25 meter. Volume timbunan sampah mencapai 1.600 ton per hari.
Kondisi ini diperparah de- ngan bencana kebakaran TPA Rawa Kucing yang
berulang.
Puncaknya terjadi pada 20 Oktober 2023 dengan luas area terbakar
27 hektar atau 80 persen total 34,8 hektar lahan TPA. Proses pemadaman
berlangsung 12 hari. Selama itu pula Pemkota Tangerang memberlakukan status
tanggap bencana darurat daerah. Koordinator Presidium Koalisi Aktivis Lingkungan
Hidup Kota Tangerang Ade Yunus, Senin (15/4) menyatakan, Kota Tangerang sudah berstatus
darurat sampah. Menurut dia, kebijakan terintegrasi diperlukan agar volume
sampah yang sudah menggunung di TPA Rawa Kucing dapat dikurangi. Pengelolaan
sampah harus berjalan terintegrasi mulai dari penegakan aturan, pengelolaan dengan
teknologi yang tepat, hingga internalisasi budaya mengelola sampah dari hulu.
Berbagai aksi bersih-bersih hanya mampu merelokasi atau memindahkan
sampah ke TPA. Untuk mengelola sampah di TPA, diperlukan langkah konkret yang
lebih ekstrem dan tepat guna, salah satunya melalui program Pengelolaan Sampah
Menjadi Energi Listrik (PSEL). ”Sampah yang dapat didaur ulang memiliki potensi
ekonomi sirkular. Bank sampah membantu mengelola sampah yang dapat didaur ulang
dan masih memiliki nilai ekonomis. Komposter mengelola sampah rumah tangga dan
sampah organik lain yang dapat dijadikan kompos,” kata Ade. (Yoga)
Rengkuh Banyu Mahandaru ”Plepah” untuk Merawat Alam
Di Jaipur, India, Rengkuh Banyu Mahandaru (32) meraih
inspirasi penggunaan piring dan mangkuk kecil dari dedaunan tanaman endemik
seperti jati yang dikeringkan. Sekembalinya ke Tanah Air, Rengkuh mengimplementasikan
seluruh pengalamannya untuk mendirikan ”Plepah”. Rengkuh memilih mengolah
pelepah pinang menjadi kemasan makanan sekali pakai. Dia memilih pelepah pinang
karena ketersediaan material tersebut melimpah, tetapi masih dianggap limbah. Data
terkini sebaran jenis tumbuhan pinang di Sumatera mencakup area 150.000 hektar.
Pelepah pinang yang digunakan Rengkuh baru dari wilayah Jambi dan Sumsel. Kemasan
pelepah, ditujukan sebagai pengganti penggunaan kantong plastik dan styrofoam
sebagai kemasan makanan sekali pakai.
Atas dukungan dana BRI Ventures serta BRIN pada tahun 2022
Rengkuh mendirikan unit produksi kemasan makanan dari pelepah pinang di
Cibinong, Jabar. Kapasitas produksinya 160.000 kemasan per bulan dengan pasar
utama ekspor hingga 80 %. Selebihnya, 18-20 persen untuk memenuhi pasar dalam negeri.
Di dalam negeri, harga satu kemasan pelepah pinang Rp 2.500 sampai Rp 4.500. Produk
kemasan pelepah pinang itu diberi jenama Plepah. Pada April 2023, ia diminta
ikut pameran di Jerman. Di sana banyak permintaan dari luar negeri. Namun,
regulasi dalam negeri tentang kandungan kimia, bakteri, dan bukan hasil
deforestasi belum dianggap sebagai patokan global.
Hanya dari Australia yang bisa dipenuhi. Itu pun melalui perantara
pengusaha Dubai yang datang ke Jakarta pada November 2023. Baru-baru ini
terkirim satu kontainer berisi 150.000 kemasan. Selanjutnya, Australia minta
dikirim bahan mentahnya. Rengkuh tak berhenti pada usaha produksi kemasan
pelepah pinang. Ia mengembangkan produksi sumber energi biomassa di Kabupaten
Kubu Raya, Kalbar, dengan biomaterial, di antaranya tandan sawit kosong, ampas
tebu, kayu, dan kulit beras. ”Pada Oktober 2023 sudah terkirim beberapa ton
biomassa untuk bahan bakar pembangkit listrik di Jateng,” ujar Rengkuh saat
dihubungi Kompas, Rabu (27/3). (Yoga)









