Penyerahan Alat dan Mesin Pertanian
Kebutuhan Ahli Keamanan Siber Terus Melonjak
Seiring perkembangan ekonomi digital Indonesia, kebutuhan
ahli keamanan siber juga meningkat. Tanpa pembangunan SDM, pasokan dan
kebutuhan yang saat ini sudah senjang akan semakin senjang. Situasi ini menjadi
tantangan menuju Indonesia maju sekaligus peluang lowongan kerja bagi generasi
muda Tanah Air. Sejumlah kolaborasi di antara pemangku kepentingan mulai
muncul. ”Keamanan siber dimulai dengan pengembangan kapasitas SDM. Jika tidak
memiliki ahli keamanan siber, akan sangat sulit menjalankan ekonomi digital
dalam skala besar,” kata CEO Mastercard, Michael Miebach, dalam wawancara
khusus dengan Kompas di Jakarta, Kamis (18/4).
Keamanan siber menjadi salah satu tema yang Michael bicarakan
dalam pertemuannya secara terpisah dengan empat menteri Kabinet Indonesia Maju,
17-18 April, yaitu Menteri BUMN ErickThohir, Menko Bidang Kemaritiman dan
Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto, serta Menkominfo Budi Arie Setiadi. Salah satu tujuan pertemuan
Michael dengan para menteri itu adalah menjajaki kemitraan strategis. Pengembangan
aspek keamanan siber adalah salah satunya. ”Sebagai bentuk keterlibatan dalam
sebuah pasar dan sebagai perusahaan global, kami harus memahami, mendatangi,
serta menemui pemerintah untuk mengetahui apa misinya.
Dari pertemuan dengan sejumlah kementerian, visi besar yang
hendak dicapai ialah 2045, Indonesia Emas,” katanya. Ia berpendapat, butuh sebuah pendekatan
keamanan siber kuat guna mendapatkan keuntungan dari perkembangan ekonomi
digital. ”Pendekatan kami di sini (dengan Indosat) terkait dengan pengembangan
kapasitas dan kemitraan dengan universitas, mulai dari membuat kurikulum,
pelatihan, hingga akhirnya diharapkan dapat menciptakan efek berganda,” ujar
Michael. Kebutuhan ahli keamanan siber dalam jumlah besar vital mengingat
ancaman keamanan siber di dunia terus meningkat.
Ancaman keamanan siber diperkirakan dapat menyebabkan
kerugian hingga 14 triliun USD pada 2028. Sebuah survei global terbaru
menunjukkan, 72 % serangan siber di Asia disebabkan oleh kurangnya tenaga ahli
di bidang siber. Mastercard dan Indosat Ooredoo Hutchison telah menandatangani
nota kesepahaman sekaligus meresmikan kerja sama dalam bentuk Indosat-Mastercard
Cybersecurity Center of Excellence (CoE). Kerja sama ini juga melibatkan ITB. Fokus
Indosat-Mastercard CoE adalah edukasi, inovasi, serta kolaborasi dengan
industri guna meningkatkan kapasitas tenaga ahli bidang siber. (Yoga)
Tanpa ”Skill” , Merantau Itu Berat
Meski peminatnya berkurang, Jakarta masih jadi tujuan
sejumlah perantau untuk mengadu nasib, terutama setelah Lebaran. Namun, ada banyak persiapan yang harus
dilakukan agar sukses menjadi ”seseorang” di Jakarta. Keputusan untuk merantau sebaiknya
dibarengi dengan "skill" atau keahlian. Banyak perantau membawa harta dan cerita sukacita
saat mudik ke kampung halaman. Hal ini memicu hasrat merantau bagi kerabat. Maya
Septia (23), warga Semarang, Jateng, sejak Selasa (16/4) memutuskan mencari
pekerjaan di Jakarta, seperti kakaknya yang lebih dahulu bekerja di Jakarta. Berbekal
ijazah sarjana akuntansi, Maya lebih dulu mencari lowongan pekerjaan secara
daring.
Ia juga mendapatkan panggilan wawancara kerja di beberapa tempat.
Menurut dia, kesempatan bekerja di kota besar lebih terbuka dibandingkan di perdesaan.
Di kota, lowongan kerja lebih beragam. Merantau ke Jakarta tanpa bekal memadai
tidaklah mudah. Hal ini dialami Muhammad Fahmi (41) asal Solo, pedagang makanan
di Jakpus. Mengambil hikmah pengalamannya merantau di Jakarta 15 tahun
terakhir, ia tak menyarankan calon perantau berangkat tanpa persiapan. 15 tahun
yang lalu. Berbagai pekerjaan pernah ia jalani, seperti jadi kurir hingga
penjual keliling. Beruntung, saat ini ia terbilang sukses memiliki dua warung
makan yang laris dengan penghasilan mencapai dua digit per bulan.
”Pendatang di Jakarta, dari seluruh wilayah Indonesia. Agar
tidak kalah saing, kalau bisa sudah memiliki pengalaman kerja sebelumnya. Harus
punya modal dan bakat tertentu juga. Lalu, pendapatan yang diterima harus disesuaikan
pola hidup di kota. “Buat apa merantau tapi gaji masih kurang,” katanya. Perantau
yang tidak memiliki kemampuan apa pun, menurut Fahmi, hanya akan menyulitkan
dirinya dan orang sekitar. Jika diterima bekerja, mereka juga akan menyulitkan
para rekan kerjanya. ”Yang terpenting para perantau memiliki keahlian di bidangnya
dan ada kemauan bekerja. Tanpa skill yang lebih unggul, perantau baru di Jakarta
tak akan dilirik,” ujarnya. (Yoga)









