Banjir Pesanan Saat Ramadan dan Lebaran
Abdul Manaf baru merampungkan perbaikan beduk alias bedug saat Tempo mendatangi rumah sekaligus tempat kerjanya di Jalan Pondok Jati Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Ahad, 7 April lalu. Dia kelar mengerik bulu kambing dan merapikan drum pada beduk itu. "Ini punya masjid dekat sini. Ganti kulit saja," kata Manaf, 46 tahun. Idul Fitri menjadi hari raya tersendiri bagi para perajin beduk seperti Manaf. Sebab, selama Ramadan, orderannya melonjak. "Tahun ini saya membuat 50 beduk, cuma tersisa sepuluh," katanya. Di luar bulan puasa, pesanan yang dialamatkan kepadanya nyaris nihil. Agar dapurnya tetap mengepul, Manaf membuat tempat sampah dan pot bunga dari drum plastik.
Ayah dua anak itu memproduksi beberapa varian ukuran beduk. Mulai dari ukuran terkecil dengan panjang tabung 40 sentimeter, ukuran sedang dengan panjang 70 sentimeter, dan ukuran besar dengan panjang 90 sentimeter. Harganya Rp 200-850 ribu. Manaf mencicil pekerjaannya enam bulan sebelum Ramadan. Jadi, saat bulan suci tiba, dia tinggal menjualnya. Manaf menjadi pandai beduk sejak 2017. Sebelumnya, dia berjualan bahan pokok. Namun aktivis masjid itu sudah lama dikenal sebagai orang yang andal memperbaiki beduk di masjid-masjid seputar Pondok Aren.
Untuk membuat beduk, material utamanya adalah drum bekas dan kulit kambing. Manaf membeli kulit kambing utuh Rp 30 ribu per lembar dari penyedia jasa akikah. Kulit dijemur selama tiga hari sebelum bisa dipasang di drum. Setelah itu, bulu kambing dikerik. Kebanyakan konsumen Manaf remaja masjid dan perorangan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Mereka umumnya menabuh beduk untuk membangunkan orang saat sahur. "Ada juga pesanan dari perusahaan. Biasanya untuk pajangan," ujarnya.(Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023