BAHAN POKOK : Harga Pangan Terpacu Restriksi
Center for Indonesian Policy Studies menyatakan harga pangan di Indonesia tidak bisa diatasi hanya melalui swasembada pangan. Peneliti Bidang Pertanian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi menyampaikan fakta harga beras domestik jauh lebih tinggi bahkan hingga 89,74% dari harga grosir internasional pada 2021 dan 77% pada 2020, meskipun Indonesia mengalami swasembada pangan pada 2019 hingga 2021. “Kita sudah lihat sendiri di tahun-tahun di mana kita swasembada itu tidak menjamin harga beras jadi lebih murah dan terjangkau juga,” katanya dalam diskusi bertajuk Kemandirian vs Ketahanan Pangan di Jakarta, Selasa (5/12). Berkaca dari hal tersebut, Azizah menyebutkan ada cara lain yang dapat dilakukan untuk menekan harga pangan yang melonjak tinggi yaitu dengan memastikan keterjangkauan pangan. Sayangnya, Azizah menilai kebijakan perdagangan pangan di Indonesia masih restriktif. Hal itu bisa dilihat dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah seperti pengaturan kuota impor oleh sistem perizinan impor. Menurutnya, sistem perizinan impor di Indonesia masih sangat rumit. Kerumitan sistem perizinan, lanjut dia, membuat importir membebankan biaya-biaya tersebut kepada masyarakat. Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai pembangunan bendungan merupakan salah satu langkah pemerintah dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan. “Semua pembangunan bendungan plus irigasinya itu memang dalam rangka strategi besar kita ke ketahanan pangan—ke kedaulatan pangan,” ujarnya sepertit dikutip melalui Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (5/12). Hal itu disampaikan Jokowi setelah meninjau progres pembangunan Bendungan Mbay di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Negara menuturkan pembangunan Bendungan Mbay telah dimulai sejak akhir 2021 dan ditargetkan akan selesai pada akhir 2024. Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) harga beras di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah seperti beras premium pada Selasa (5/12) pukul 14.17 WIB berada di level Rp14.980 per kg.
Hindari Politisasi Bantuan Sosial Menjelang Pemilu
Pemerintah diminta berhati-hati menerapkan kebijakan bansos
menjelang Pemilihan Umum 2024 agar tidak disalahgunakan atau disalahartikan. Salah
satu cara menghindari politisasi bansos adalah menyederhanakan mekanisme
penyalurannya dengan sistem digitalisasi tanpa tunai dan transparansi data. Mensos
Tri Rismaharini menjelaskan, sejak Januari 2021, semua program bantuan tak lagi
memakai mekanisme melalui e-Warong untuk program Kartu Sembako atau Bantuan
Pangan Nontunai (BPNT). Bantuan disalurkan lewat transfer bank ke rekening Keluarga
Penerima Manfaat (KPM) melalui bank Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara, sesuai
Perpres No 63 Tahun 2017 tentang Penyaluran Bantuan Sosial secara Nontunai. Kebijakan
bantuan nonbarang diambil karena pemberian bantuan berupa barang rawan
penyimpangan. Pemerintah dan Komisi VIII DPR menyepakati, penyaluran bansos
selanjutnya berbentuk uang tunai melalui
Bank Himbara dan bisa ditarik lewat ATM rekening masing-masing KPM.
”Ada atau tak ada pemilu kami harus disiplin dan tepat waktu
agar mereka tak kesulitan karena yang kami bantu sekarang kami teliti betul,
kami punya data sampai gambar rumahnya,” kata Risma di Jakarta, Senin (4/12). Ketua
Banggar DPR Said Abdullah menegaskan, penyaluran program perlindungan sosial
oleh Kemensos atau kementerian dan lembaga lain harus tetap pada tujuan
utamanya, yaitu menjawab masalah krisis pangan dan kerentanan rumah tangga
miskin, serta menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai target APBN 2023. Said meminta
Kemensos menyempurnakan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) disinkronisasi
dengan Data Registrasi Sosial Ekonomi hingga ke level desa dan kelurahan. Sebab,
DTKS jadi acuan program bansos berdasarkan tipologi kelompok sasaran dari
masing-masing program. ”Setiap program penyaluran bansos harus bertumpu pada cashless
(nontunai), digital, dan data terbuka untuk mengurangi interaksi antarpihak,
menjaga akuntabilitas, dan partisipasi publik,” kata Said. (Yoga)
Mencari Keseimbangan Pengaturan Pinjaman ”Online”
Pada awal November 2023, OJK meluncurkan Peta Jalan
Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi
Informasi 2023-2028. Langkah ini sebagai upaya pengembangan dan penguatan
industri layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi atau lebih umum
dikenal sebagai fintech pinjaman online. Peta jalan itu merupakan kolaborasi
dari OJK, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), serta kalangan
akademisi dan pengamat ekonomi Indonesia. Kualitas penyaluran pinjaman
teknologi finansial (tekfin) membaik seiring dengan pemulihan ekonomi dan
meningkatnya kolaborasi dengan perbankan sebagai pemberi pinjaman. Berdasarkan
laporan OJK, saldo pinjaman online periode September 2023 tercatat Rp 55,7
triliun atau naik 14,28 % secara tahunan (yoy) dengan tingkat wanprestasi (TWP
90) 2,82 %. Secara kumulatif, tekfin pinjaman telah menyalurkan Rp 677,51
triliun dari 1,13 juta pemberi pinjaman kepada 119,7 juta penerima pinjaman.
Tekfin pinjaman online menggunakan inovasi digital untuk
meningkatkan skalabilitas, mengubah model bisnis, dan memperbaiki manajemen
risiko. Jika dimanfaatkan dengan baik, mendukung pertumbuhan dan inklusi keuangan
nasional. Beberapa aspek dapat dijadikan pertimbangan OJK mengatur pinjaman
online : Aspek pertama adalah keseimbangan literasi dengan inklusi keuangan
masyarakat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi keuangan oleh OJK pada 2022
menunjukkan, Indeks Literasi Keuangan kita 48,68 %, sementara Indeks Inklusi
Keuangan jauh lebih tinggi di level 85,1 %. Kesenjangan indeks literasi dan
inklusi harus menjadi pertimbangan OJK dalam mengatur seberapa ketat industri
pinjaman online. Aspek kedua adalah keseimbangan peran tekfin pinjaman online
terhadap perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya. Aspek ketiga adalah
keseimbangan kemampuan manajemen dan pertumbuhan industri. Kebanyakan tekfin pinjaman
online mulai dari level perusahaan rintisan alias start up dengan manajemen
relatif muda yang belum semapan perbankan. Aspek keempat adalah keseimbangan
kepentingan bersama dan kepentingan individual pelaku industri. Pengaturan OJK
hendaknya mendorong kolaborasi yang efektif untuk menekan biaya kredit,
operasional, dan dana. (Yoga)
Asing Waspada Pemilu, Bursa Saham Tetap Melaju
Impor Dibatasi, Transaksi E-Commerce Menyusut
Otoritas Tunda Papan Pemantauan Khusus
Laba Melejit, JSMR Pastikan Bakal Membagikan Dividen
Ekspansi Jadi Amunisi Buat HEAL
Obligasi Jadi Sumber Dana Multifinance
TAHUN MENANTANG GALANG DANA
Kombinasi antara outlook pertumbuhan ekonomi, kebijakan suku bunga bank sentral, dan tahun politik membayangi prospek penggalangan dana di pasar modal pada 2024. Target moderat pun disematkan sejalan dengan sikap korporasi yang cenderung wait and see.Hingga akhir November 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penggalangan dana di pasar modal sudah mencapai Rp230,59 triliun dari 197 aksi korporasi initial public offering (IPO), penawaran umum terbatas atau rights issue, serta emisi obligasi dan sukuk korporasi.Realisasi itu termasuk rekor 78 emiten baru yang menghimpun total dana publik Rp53,92 triliun. Meski sudah menembus target Rp200 triliun yang dipatok OJK, realisasi penghimpunan dana itu belum melampaui capaian dalam 11 bulan 2022 yang tercatat sebanyak 210 penawaran umum senilai total Rp244,47 triliun.Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan OJK optimistis tetapi konservatif memandang 2024 yang merupakan tahun Pemilu dengan menargetkan penghimpunan dana pada level sama seperti 2023.
Inarno menjelaskan pandangan OJK itu mempertimbangkan prediksi IMF dan World Bank yang merevisi ke bawah target pertumbuhan ekonomi global. Ditambah lagi, pemerintah Indonesia juga memproyeksikan ekonomi tumbuh 5,2% pada 2024 atau di bawah outlooktahun ini sebesar 5,3%.Optimisme terhadap prospek penggalangan dana di pasar modal juga tecermin dalam pipeline yang digenggam OJK sebanyak 96 aksi penawaran umum dengan nilai indikatif Rp41,11 triliun. Pipeline itu, lanjutnya, termasuk rencana go public 64 perusahaan.Ditelisik secara historis, data OJK mencatat penghimpunan dana di pasar modal cenderung merosot pada tahun politik 2009, 2014, dan 2019.
Terpisah, Direktur Utama BEI Iman Rachman berharap tren positif fundraisingdapat berlanjut pada 2024.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menambahkan BEI juga mengincar perusahaan berskala besar untuk melantai di bursa lewat IPO."Setiap tahun kami selalu targetkan paling tidak tiga termasuk lighthouse atau mercusuar, kategorinya market cap Rp15 triliun dan sisi free float 15%."Saat ini, BEI masih memiliki 26 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Mayoritas berasal dari sektor konsumer, industri, infrastruktur, dan basic materials.
Senada, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) Yuddy Renaldi mengungkapkan penerbitan obligasi senilai kurang lebih Rp3 triliun sudah masuk dalam rencana bisnis perseroan pada 2024.
Bisnis mencatat Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Muhammad Abdul Ghani telah menyatakan bahwa rencana IPO akan difokuskan usai subholding PalmCo dan SupportingCo terbentuk.Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan pola penurunan emisi saham pada tahun Pemilu diproyeksi kembali terjadi pada tahun depan.









