Bom Waktu Lonjakan Petani Gurem
HASIL Sensus Pertanian yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal pekan ini menguatkan dugaan ihwal kian berkurangnya lahan subur pertanian di Tanah Air dari waktu ke waktu. Salah satu indikatornya adalah kenaikan drastis jumlah petani gurem alias petani dengan lahan di bawah 0,5 hektare. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah petani gurem bertambah, dari 14,25 juta rumah tangga pada 2013 menjadi 16,89 juta rumah tangga pada 2023. Proporsi rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga petani di Indonesia meningkat dari 55,33 persen pada 2013 menjadi 60,84 persen pada 2023.
Berkurangnya lahan subur pertanian juga diestimasikan Badan Pangan Nasional. Dalam sebuah forum diskusi, kemarin, Direktur Ketersediaan Badan Pangan Nasional Budi Waryanto mengatakan indikator lain dari kondisi tersebut adalah fenomena harga beras yang terus tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Produksi beras setiap tahun pun relatif stagnan, bahkan turun sejak 2019. “Saya lihat sejak 2017, sudah berapa kilometer jalan tol terbangun. Itu sudah menyebabkan konversi lahan. Satu hektare lahan diestimasikan bisa menghasilkan 5 ton beras. Itu belum ada penggantinya di luar Jawa,” ujar Budi. Masifnya alih fungsi lahan itu menyebabkan naiknya jumlah petani gurem. “Kalau ini tidak dikelola, tentu akan menjadi bom waktu di kemudian hari.” (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023