Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Kenaikan Upah Buruh Terus Merosot
Kesejahteraan buruh secara umum masih jadi pekerjaan rumah
yang harus diselesaikan pemerintahan mendatang. Data yang diolah Litbang Kompas
menunjukkan kenaikan upah buruh terus turun akibat formula pengupahan yang
terus berubah selama satu dekade terakhir. Kondisi ini tidak sebanding dengan
biaya hidup yang semakin meningkat. Pada periode 2015-2024, kenaikan rata-rata
upah minimum provinsi (UMP) berkisar 0,6-13,1 % atau rata-rata 6,6 % per tahun.
Puncak kenaikan terjadi pada 2014, yakni 22,2 %, lalu turun sejak pemerintah
mengeluarkan PP No 78/2015 hingga PP No 51/2023 tentang perubahan atas PP No
36/2021 tentang Pengupahan. Terkini, kenaikan rata-rata UMP tahun 2024 hanya
2,4 %. Di sisi lain, kinerja industri manufaktur secara umum terus membaik. BPS
melaporkan kontribusi industri pengolahan pada PDB naik jadi 18,67 % pada 2023
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 18,34 %.
Adapun porsi biaya buruh industri manufaktur sepanjang
2016-2022 rata-rata hanya 2,2 %. Jika ditambah pajak dan tunjangan tak lebih
dari 5 %. Sekjen Federasi Serikat Buruh Garmen, Kerajinan, Tekstil, Kulit, dan
Sentra Industri afiliasi Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia Trisnur
Priyanto, Senin (29/1) di Jakarta, berpendapat, sejak pemerintah mengganti
formula kebutuhan hidup layak (KHL) dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi,
keberpihakan pemerintah kepada pekerja secara tidak langsung tidak ada lagi.
Kenaikan upah cenderung kalah cepat dengan kenaikan biaya hidup. Ketika pekerja
tidak bisa menutupi kebutuhan ekonominya, posisi tawar pun akan turun dan
berpotensi memengaruhi produktivitas. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja
Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, hasil survei KSPI menunjukkan, dalam lima
tahun terakhir, daya beli pekerja turun 30 %, berarti pekerja harus tombok setiap
bulan karena upah yang diterima kurang mencukupi. (Yoga)
Bansos di Tahun Politik
Serangan kritis publik terhadap penggelontoran program
bantuan sosial atau bansos skala masif oleh pemerintah di tahun politik terus bergulir
beberapa pekan terakhir. Isu bansos di tahun politik sangat seksi karena
melibatkan jumlah dana yang sangat besar, yakni Rp 496,8 triliun, dan rawan
konflik kepentingan atau disalah gunakan. Salah satu yang disoroti adalah
munculnya tiba-tiba nomenklatur bansos baru, bantuan langsung tunai (BLT)
mitigasi risiko pangan yang sebelumnya tak masuk dalam penganggaran. Selain
pengucurannya dicurigai diboncengi kepentingan elektoral karena dilakukan pada
bulan pemungutan suara, kemunculan tiba-tiba bansos baru ini dinilai berpotensi
membuat tata kelola kas negara menjadi tidak sehat (Kompas, 3/2). Para pengamat
mempertanyakan pendanaan program BLT baru yang dikhawatirkan mengor bankan
anggaran kementerian/lembaga (K/L).
Dalam situasi normal, bansos, sebagai bagian dari program
perlindungan sosial, sebenarnya merupakan program rutin, instrumen APBN, dan
wujud kehadiran negara untuk melindungi kelompok rentan, dimana semestinya program
bansos steril dari kepentingan elektoral. Dalam kenyataan di lapangan, hal itu
tak selalu terjadi. Meski tudingan pemanfaatan program bansos untuk mendulang
suara dibantah Presiden dan sejumlah menterinya, kita melihat praktik
penyimpangan masih banyak terjadi di lapangan. Selain buruk bagi pendidikan
politik, praktik ini juga mencederai tujuan dari program bansos. Menkeu Sri
Mulyani mengatakan, program BLT dalam APBN 2024 sudah melalui persetujuan DPR.
Mengenai munculnya pos baru bansos mitigasi risiko pangan, Menkeu mengatakan,
meski bansos telah dibagi dalam pos-pos, realisasinya bisa disesuaikan dengan
kondisi di lapangan. Dalam hal ini, dimungkinkan ada tambahan atau modifikasi dari
program-program itu, menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada, contohntya BLT El
Nino pada 2023. (Yoga)
NASA Membangun PLTN di Bulan
Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) siap membangun
pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN pertama di Bulan. Pembangkit ini akan
menyediakan energi bersih, aman, dan andal guna menopang kolonisasi manusia
secara berkelanjutan di Bulan. Jika semua berjalan lancar, PLTN ini akan mulai
beroperasi pada awal dekade 2030-an. Penggunaan energi nuklir dalam misi
eksplorasi luar angkasa makin masif. Sejak 1961, nuklir sudah digunakan sebagai
sumber daya sejumlah wahana antariksa yang melakukan perjalanan ke tepian tata
surya, atau satelit yang mengorbit Bumi. Saat ini NASA dan Badan Riset Pertahanan
Maju AS (DARPA) juga sedang menyiapkan roket peluncur berbahan nuklir untuk
diluncurkan pada 2026. NASA juga tengah menuntaskan rencana pembangunan reaktor
nuklir pertama di Bulan. Energi nuklir ini akan dikonversi menjadi energi
listrik demi menopang misi saat di Bulan sedang malam hari.
Disebabkan panjang waktu siang atau malam di Bulan mencapai
14 hari. Panjangnya malam di Bulan membuat energi Matahari tak bisa diandalkan
sebagai penghasil energi listrik. Diperlukan energi alternatif yang andal,
bersih, dan aman, mengingat pembangkit ini akan beroperasi di lingkungan yang
secara hukum internasional harus dijaga keasliannya. ”Malam hari di Bulan memberikan
tantangan teknis tersendiri. Keberadaan reaktor nuklir yang beroperasi secara independen
terhadap Matahari menjadi pilihan paling memungkinkan, baik untuk kepentingan
ilmiah maupun eksplorasi jangka panjang di Bulan,” kata Direktur Program Misi
Uji Teknologi NASA Trudy Kortes, Rabu (31/1), seperti dikutip Livescience, Jumat
(2/2).
Sekarang, pembangunan reaktor ini dalam tahap pengembangan
konsep. Mengutip situs NASA, dari dua pilihan teknologi pembangkit nuklir yang
biasa digunakan dalam misi luar angkasa, pilihan jatuh pada reaktor dengan
teknologi fisi (FPS), mirip dengan yang digunakan pada PLTN di Bumi. Teknologi
ini mengandalkan proses fisi (pembelahan inti berat secara berkelanjutan) dengan
menggunakan isotop uranium-235. Proses ini mampu menghasilkan listrik dengan
kapasitas mulai dari rentang kilowatt hingga megawatt. NASA mematok reaktor tersebut
mampu menghasilkan energi listrik sebesar 40 kilowatt. Selain itu, reaktor juga
diharapkan mampu bekerja setidaknya selama 10 tahun. Pembangkit ini berbahan
bakar uranium dengan pengayaan rendah, yang bobot bahan bakarnya dibatasi
maksimal 6.000 kg. (Yoga)
Biaya Kian Murah, Industri Peluncuran Satelit China Terus Berkembang
Industri peluncuran satelit komersial China diprediksi
berkembang pesat. Salah satu faktor pendorongnya adalah keberhasilan menekan
biaya peluncuran. China semakin mampu bersaing dengan SpaceX, perusahaan AS,
yang saat ini merupakan penyedia jasa peluncuran satelit komersial dengan tarif
termurah. Roket China, Jielong-3, meluncur pada Sabtu (3/2) membawa sembilan
satelit sekaligus ke orbit. Jielong-3 diluncurkan dari tongkang terapung di
lepas Pantai Yangjiang, Guangdong, China selatan. Peluncuran Jielong-3 merupakan
yang ketiga dalam dua bulan terakhir. Dikembangkan oleh China Rocket Co,
Jielong-3 pertama kali mengangkasa pada Desember 2022. China Rocket Co
merupakan cabang komersial dari produsen wahana peluncuran milik negara.
China menganggap, sektor peluncuran satelit komersial ini penting
dalam membangun konstelasi satelit untuk komunikasi, penginderaan jauh, dan
navigasi. Pada 2023, terdapat 67 peluncuran satelit orbital di seluruh China,
termasuk 17 peluncuran satelit komersial dengan satu kegagalan. Kemampuan China
untuk meluncurkan satelit terus meningkat dan semakin mengatasi ketertinggalan
dari AS. Pada 2023, China menjadi negara kedua dalam daftar negara yang
meluncurkan satelit ter banyak. Posisi pertama adalah AS yang melakukan 116
peluncuran, termasuk 100 peluncuran oleh SpaceX milik Elon Musk. Kemajuan
paling pesat yang berhasil dicapai China adalah menekan biaya peluncuran.
Perkembangan lain adalah semakin banyak jendela peluncuran,
semakin beragamnya jenis roket untuk mengakomodasi berbagai ukuran muatan, serta
bertambahnya jumlah lokasi peluncuran. Dalam hal menekan biaya, Jielong-3 dapat
membawa muatan seberat 1.500 kg ke orbit sinkron matahari sepanjang 500 km
dengan biaya kurang dari 10.000 USD (Rp 157,1 juta) per kg untuk roket kecil.
Harga ini bersaing dengan tarif SpaceX, yaitu 5.500 USD per kg (Rp 86,4 juta).
Namun, SpaceX bakal menerapkan biaya tambahan. China terus berupaya mengejar AS
dalam mengusai teknologi luar angkasa. Namun, upaya itu memancing kritik AS.
Washington menduga China sedang merancang dan menguji senjata antiruang
angkasa. Beijing jelas menampiknya. (Yoga)
Pinjaman Pendidikan, Mungkinkah?
Konsep pinjaman biaya pendidikan APBN tengah dirumuskan oleh Kemenkeu
bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kemungkinan akan seperti
student loan di AS. Wacana ini menguat setelah muncul polemik mahasiswa yang membayar
biaya kuliah menggunakan pinjaman daring. Tanggapan warga dan mahasiswa
beragam. Bayyu Putra Hadhiana (29) Karyawan swasta sekaligus mahasiswa S-1
mengatakan, Aku setuju student loan, yang memudahkan orang berpenghasilan
bulanan rendah bisa mendapat pendidikan yang sama. Aku setuju kalau skemanya
tak berbunga karena selama ini yang bikin berat adalah bunganya. Kalau ada
bunga, bisa jadi uang kuliah tunggal (UKT) jauh lebih mahal pada akhir
perhitungan. Skema lainnya, jangka waktu pelunasan tak ditentukan, tetapi
peminjam bisa mengembalikan setelah memiliki pendapatan tertentu.
Elisabeth Dian Selvita (24) Karyawati swasta di Jakarta
mengatakan, buat aku yang punya impian untuk studi Psikologi Profesi, setuju
saja dan mendukung adanya program student loan. Apalagi sekarang kondisi finansial
orangtua sudah enggak seperti dulu dan studi Psikologi Profesi itu juga enggak
bisa disambi kerja. Perlu ada asesmen lewat background checking seperti orang
mau ambil kredit di lembaga keuangan supaya tepat sasaran dan benar-benar uangnya
bisa dikembalikan. Carolus Arya Pandu Yasa (26), Karyawan swasta di Jakarta, sepakat
denganprogram student loan untuk pendidikan. Cuma, harus ada pengawasan yang
ketat. Pemerintah sebaiknya selektif dalam memilih orang-orangnya, juga profil
universitasnya, yang berkualitas dan tepercaya, serta pastikan penerimanya bisa
mendapatkan pekerjaan. Jangan sampai ketika sudah dapat student loan, nanti si
penerima justru kesulitan mengembalikan karena susah cari kerja. (Yoga)
Dari Terobosan Inklusi Keuangan ke Stigma Hitam
Perbincangan mengenai pinjaman daring (pindar) atau pinjaman
online menghangat setelah polemik pembayaran uang kuliah tunggal ITB mencuat di
media sosial beberapa hari terakhir. Terlepas dari klaim setiap pihak yang
terlibat, penggunaan terminologi pindar telah mengalami pergeseran makna dan
telanjur melekat kesan-kesan negatif di dalamnya. Pinjaman daring sebagaimana
dikenal masyarakat luas sejatinya merupakan layanan jasa keuangan yang mempertemukan
pihak pemberi pinjaman (lender) dengan penerima pinjaman (borrower) dalam rangka
perjanjian pinjaman berbasis teknologi. Istilah lainnya financial technology
(fintech) peer to peer lending (P2P lending). Layanan jasa keuangan tersebut
mulai berkembang di Indonesia pada 2016. Saat itu, pihak regulator menerbitkan
regulasi berupa Peraturan OJK No 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam
Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.
Kendati sudah berpayung hukum, pinjaman daring yang telah
mengantongi izin harus menghadapi situasi yang sulit dengan munculnya pindar
ilegal. Selain tidak tedaftar secara legal, pindar-pindar ilegal tersebut membuat
gaduh masyarakat dengan tingkat bunga yang tak masuk akal. Tak sedikit kalangan
masyarakat merasa resah dan terganggu lantaran dihubungi oleh nomor-nomor tak
dikenal. Pesan-pesan singkat dan suara di balik telepon tersebut mengancam
mereka yang dianggap memiliki hubungan dengan peminjam. Selama 2023, OJK dan
Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas Pasti) telah memberangus
2.248 pinjaman daring ilegal dan menerima 8.891 pengaduan dari masyarakat
mengenai pinjaman daring ilegal. Secara keseluruhan sejak 2017, sudah ada 6.680
pindarilegal yang dihentikan.
Director of Corporate Communication AFPI Andrisyah Tauladan mengatakan,
kata pindar sudah terasosiasi dengan pindar ilegal. Akibat penggunaan diksi tersebut,
isu pembayaran UKT di ITB meledak. ”Stop bilang kami pinjol, karena pinjol itu
(terasosiasi dengan) pinjaman online ilegal. Mereka (pinjaman daring ilegal)
itu ugal-ugalan. Berbeda dengan kami yang diatur dengan ketat sekali,” ujarnya
saat ditemui dJakarta, akhir pekan lalu. Oleh sebab itu, AFPI berharap agar ada
penamaan baru terhadap layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi
(LPBBTI) sehingga industri pinjaman daring berbasis teknologi tersebut dapat
keluar dari stigma negatif. Sebab, industri ini tidak hanya membiayai kebutuhan
konsumtif masyarakat, tetapi juga kegiatan produktif. (Yoga)
Status Maloy Batuta Terancam Dicabut
Sejak berdiri tahun 2019, Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta
di Kaltim hanya mendapatkan investasi Rp 100 miliar. Jika tidak berkembang,
status KEK terancam dicabut oleh pemerintah pusat pada Juni 2024. Pj Gubernur
Kaltim Akmal Malik mengatakan, ia telah berkunjung ke KEK Maloy Batuta
Trans-Kalimantan (MBTK) di Kutai Timur pada 1 Februari 2024. Ia juga berdiskusi
dengan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman dan pemangku kepentingan di KEK
MBTK. ”Saya minta laporan detail. Identifikasi semua masalahnya dan segera
benahi. Biar enak saya berjuang di Jakarta,” kata Akmal dalam keterangan tertulis,
Minggu (4/2).
Hingga 2023, kata Akmal, investasi yang masuk ke KEK ini baru
Rp 100 miliar. Padahal, jika dibandingkan dengan KEK di daerah lain, investasinya
sudah mencapai triliunan rupiah. Dari diskusi dengan sejumlah pemangku di KEK
MBTK, kata Akmal, ada sejumlah kendala yang membuat KEK di Kaltim ini stagnan, di antaranya adalah persoalan kelembagaan, infrastruktur yang kurang
memadai, dan rendahnya minat investor. Dengan perkembangan yang lambat itu,
pemerintah pusat berencana mencabut KEK untuk Maloy jika Pemprov Kaltim tak mampu
membenahi persoalan yang ada, termasuk memenuhi sejumlah persyaratan dalam perizinan.
”Batas akhir keputusan pemerintah pusat itu Juni tahun ini,” kata Akmal. Salah
satu pertimbangan calon investor adalah infrastruktur dasar. Instalasi
pengolahan air limbah (IPAL) dan persampahan jadi dua hal krusial. Keduanya
belum sepenuhnya siap dan tersedia.
KEK MBTK ditetapkan melalui PP No 85 Tahun 2014. KEK ini merupakan salah satu proyek strategis nasional yang ditargetkan menarik investasi Rp 34,4 triliun dan menyerap 55.700 tenaga kerja sampai tahun 2025. KEK MBTK yang memiliki lahan 509 hektar dibentuk untuk jadi pusat hilirisasi kelapa sawit dan komoditas lain. Selain itu, kawasan ini juga ditargetkan menjadi pusat bagi industri energi, seperti industri mineral, gas, batubara, dan industri turunannya. Untuk itu, Akmal berharap KEK MBTK bisa tetap berjalan. Sebab, kawasan ini amat potensial untuk industri di Kaltim. Hal ini juga dinilai bisa mengungkit ekonomi di kawasan sekitar Kaltim. (Yoga)
Jerit Peternak karena Harga Pakan Melambung
Sejumlah peternak ayam di Jateng berjuang mati-matian
mempertahankan usahanya yang kembang kempis di tengah terus melambungnya harga
pakan. Cipto (45), peternak asal Slawi, Tegal, Jateng, sulit tidur nyenyak
beberapa bulan terakhir. Usaha ternak ayam yang sudah dilakoni sepuluh tahun
terakhir pelan-pelan menuju ”senja”. Mulanya, Cipto punya delapan kandang,
masing-masing sekitar 10.000 ayam pedaging. Seiring waktu, satu per satu
kandang kosong dan tidak berproduksi lagi. Kini, tinggal tiga kandang yang
beroperasi dengan enam pekerja. Lima kandang lain tutup dan 10 pekerja harus
berhenti. ”Mereka tulang punggung keluarga, maka saya pusing kalau kepikiran
mereka,” ujarnya, Sabtu (3/2).
Usahanya berjatuhan lantaran tak ada lagi perusahaan
pembibitan ayam yang menyuplai bibit kepadanya. Selama ini ia jadi mitra
perusahaan, tidak hanya mendapatkan bibit, tetapi juga suplai pakan ternak,
obat-obatan, dan jaminan pemasaran dengan harga sesuai perjanjian. Biasanya, ia
mendapat suplai bibit ayam 35-40 hari sekali. Namun, tiga bulan terakhir,
mayoritas suplai bibit terhenti karena harga pakan meroket. Cipto menduga,
perusahaan memilih membesarkan sendiri bibit ayamnya untuk memangkas
pengeluaran dan menekan kerugian. Kondisi itu membuat kandang milik Cipto
menganggur. Tiga tahun terakhir, 90 % dari seluruh peternak ayam di Kabupaten Tegal
menutup usahanya. Masalah serupa terjadi di hampir seluruh daerah di Jateng.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng Parjuni menyebut, 20
% dari total peternak rakyat di Jateng gulung tikar enam bulan terakhir.
”Sudah ratusan peternakan yang tutup, terutama peternak yang
populasi ayamnya di bawah 10.000 ekor. Yang populasinya 20.000-25.000 ekor ayam
juga ada yang gulung tikar. Mungkin karena beban cicilan bank atau pembayaran yang
tidak bisa dilakukan. Ketimpangan biaya produksi dan harga jual jadi alasannya.
Contoh, ongkos produksi telur Rp 27.000 per kg, sedangkan harga jualnya Rp 22.000-Rp
23.000 per kg. Adapun biaya produksi ayam pedaging hidup Rp 21.000-Rp 22.000
per kg, tetapi harga jualnya Rp 17.000 per kg. Kenaikan biaya produksi jadi
problem utama seiring melonjaknya harga jagung, komponen utama dalam pakan
unggas. ”Selain harganya naik, stok jagung di pasaran itu juga tidak ada,” kata
Parjuni. (Yoga)
SDM Kunci Penyelesaian Masalah Bangsa
Gagal Bayar Pinjaman Online
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









