Jerit Peternak karena Harga Pakan Melambung
Sejumlah peternak ayam di Jateng berjuang mati-matian
mempertahankan usahanya yang kembang kempis di tengah terus melambungnya harga
pakan. Cipto (45), peternak asal Slawi, Tegal, Jateng, sulit tidur nyenyak
beberapa bulan terakhir. Usaha ternak ayam yang sudah dilakoni sepuluh tahun
terakhir pelan-pelan menuju ”senja”. Mulanya, Cipto punya delapan kandang,
masing-masing sekitar 10.000 ayam pedaging. Seiring waktu, satu per satu
kandang kosong dan tidak berproduksi lagi. Kini, tinggal tiga kandang yang
beroperasi dengan enam pekerja. Lima kandang lain tutup dan 10 pekerja harus
berhenti. ”Mereka tulang punggung keluarga, maka saya pusing kalau kepikiran
mereka,” ujarnya, Sabtu (3/2).
Usahanya berjatuhan lantaran tak ada lagi perusahaan
pembibitan ayam yang menyuplai bibit kepadanya. Selama ini ia jadi mitra
perusahaan, tidak hanya mendapatkan bibit, tetapi juga suplai pakan ternak,
obat-obatan, dan jaminan pemasaran dengan harga sesuai perjanjian. Biasanya, ia
mendapat suplai bibit ayam 35-40 hari sekali. Namun, tiga bulan terakhir,
mayoritas suplai bibit terhenti karena harga pakan meroket. Cipto menduga,
perusahaan memilih membesarkan sendiri bibit ayamnya untuk memangkas
pengeluaran dan menekan kerugian. Kondisi itu membuat kandang milik Cipto
menganggur. Tiga tahun terakhir, 90 % dari seluruh peternak ayam di Kabupaten Tegal
menutup usahanya. Masalah serupa terjadi di hampir seluruh daerah di Jateng.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jateng Parjuni menyebut, 20
% dari total peternak rakyat di Jateng gulung tikar enam bulan terakhir.
”Sudah ratusan peternakan yang tutup, terutama peternak yang
populasi ayamnya di bawah 10.000 ekor. Yang populasinya 20.000-25.000 ekor ayam
juga ada yang gulung tikar. Mungkin karena beban cicilan bank atau pembayaran yang
tidak bisa dilakukan. Ketimpangan biaya produksi dan harga jual jadi alasannya.
Contoh, ongkos produksi telur Rp 27.000 per kg, sedangkan harga jualnya Rp 22.000-Rp
23.000 per kg. Adapun biaya produksi ayam pedaging hidup Rp 21.000-Rp 22.000
per kg, tetapi harga jualnya Rp 17.000 per kg. Kenaikan biaya produksi jadi
problem utama seiring melonjaknya harga jagung, komponen utama dalam pakan
unggas. ”Selain harganya naik, stok jagung di pasaran itu juga tidak ada,” kata
Parjuni. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023