NASA Membangun PLTN di Bulan
Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) siap membangun
pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN pertama di Bulan. Pembangkit ini akan
menyediakan energi bersih, aman, dan andal guna menopang kolonisasi manusia
secara berkelanjutan di Bulan. Jika semua berjalan lancar, PLTN ini akan mulai
beroperasi pada awal dekade 2030-an. Penggunaan energi nuklir dalam misi
eksplorasi luar angkasa makin masif. Sejak 1961, nuklir sudah digunakan sebagai
sumber daya sejumlah wahana antariksa yang melakukan perjalanan ke tepian tata
surya, atau satelit yang mengorbit Bumi. Saat ini NASA dan Badan Riset Pertahanan
Maju AS (DARPA) juga sedang menyiapkan roket peluncur berbahan nuklir untuk
diluncurkan pada 2026. NASA juga tengah menuntaskan rencana pembangunan reaktor
nuklir pertama di Bulan. Energi nuklir ini akan dikonversi menjadi energi
listrik demi menopang misi saat di Bulan sedang malam hari.
Disebabkan panjang waktu siang atau malam di Bulan mencapai
14 hari. Panjangnya malam di Bulan membuat energi Matahari tak bisa diandalkan
sebagai penghasil energi listrik. Diperlukan energi alternatif yang andal,
bersih, dan aman, mengingat pembangkit ini akan beroperasi di lingkungan yang
secara hukum internasional harus dijaga keasliannya. ”Malam hari di Bulan memberikan
tantangan teknis tersendiri. Keberadaan reaktor nuklir yang beroperasi secara independen
terhadap Matahari menjadi pilihan paling memungkinkan, baik untuk kepentingan
ilmiah maupun eksplorasi jangka panjang di Bulan,” kata Direktur Program Misi
Uji Teknologi NASA Trudy Kortes, Rabu (31/1), seperti dikutip Livescience, Jumat
(2/2).
Sekarang, pembangunan reaktor ini dalam tahap pengembangan
konsep. Mengutip situs NASA, dari dua pilihan teknologi pembangkit nuklir yang
biasa digunakan dalam misi luar angkasa, pilihan jatuh pada reaktor dengan
teknologi fisi (FPS), mirip dengan yang digunakan pada PLTN di Bumi. Teknologi
ini mengandalkan proses fisi (pembelahan inti berat secara berkelanjutan) dengan
menggunakan isotop uranium-235. Proses ini mampu menghasilkan listrik dengan
kapasitas mulai dari rentang kilowatt hingga megawatt. NASA mematok reaktor tersebut
mampu menghasilkan energi listrik sebesar 40 kilowatt. Selain itu, reaktor juga
diharapkan mampu bekerja setidaknya selama 10 tahun. Pembangkit ini berbahan
bakar uranium dengan pengayaan rendah, yang bobot bahan bakarnya dibatasi
maksimal 6.000 kg. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023