Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )LTLS Mengincar Pertumbuhan 12%
Elegi Buruh Terjerat Upah Murah dan Ketidakpastian
Dua buruh pabrik, Rizky (24) dan Dayat (24), duduk di sebuah
warung melepas lelah seusai bekerja seharian di sebuah pabrik di Kawasan
Industri Medan, Sumut, Rabu (31/1) sore. ”Kami sudah dua tahun bekerja di
pabrik ini. Kontraknya berakhir Februari dan belum ada pemberitahuan perpanjangan
kontrak. Kalau tidak ada perpanjangan, saya akan batal menikah,” kata Rizky.
Rizky menjadi gambaran buruh yang hidup pas-pasan dan dibayang-bayangi PHK atau
putus kontrak tanpa kepastian. Di tengah ketidakpastian itu, Rizky harus
memikirkan bagaimana menutupi cicilan kredit sepeda motornya Rp 1 juta per
bulan, biaya indekos Rp 500.000 per bulan dan kebutuhan makan sehari-hari.
Meski bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik, tiada uang yang bisa dia tabung
dari penghasilan Rp 3,4 juta per bulan.
Dayat mengalami hal serupa. Dia sudah menjadi buruh pabrik di
beberapa perusahaan di Kawasan Industri Medan (KIM) selama enam tahun terakhir.
Namun, sampai sekarang dia tidak bisa menabung. ”Cicilan sepeda motor kami
anggap sebagai tabungan,” kata Dayat. Meski upah buruh naik dari tahun ke
tahun, itu tidak sebanding dengan kenaikan harga bahan pokok. Dayat mencontohkan
harga beras Rp 9.000 per kg saat pertama bekerja enam tahun lalu. Saatini
harganya Rp 15.000 per kg. ”Semua harga kebutuhan serba naik mulai dari sewa
rumah hingga BBM. Dulu gaji saya Rp 3 juta dan sekarang naik jadi Rp 3,4 juta. Kenaikan
gaji enggak cukup menutupi kenaikan biaya hidup,” kata Dayat.
Di Jatim, sebagian buruh di Kabupaten Sidoarjo mendapat upah
rendah yang jauh dari upah minimum kabupaten (UMK). Padahal, UMK di Sidoarjo
relatif tinggi karena berada di sentra industri di Jatim. Tak pelak, banyak
pekerja jauh dari sejahtera. Beni (28), warga Desa Kloposepuluh, yang bekerja
sebagai karyawan di pabrik plastik pada 2020, setelah menganggur dua tahun selepas
tamat SMK jurusan mesin. Bekerja empat tahun, statusnya masih karyawan tidak tetap.
Gajinya Rp 1,5 juta per bulan, jauh dari UMK Sidoarjo Rp 4.638.582 per bulan.
Ia pun mesti berhemat, demi menyiasati standar biaya hidup yang tinggi di
Sidoarjo. Alih-alih menabung, Beni justru kerap meminta tambahan uang dari
orangtuanya, Suwarni (45), yang juga bekerja sebagai buruh cuci pakaian di
perumahan. Padahal, penghasilan Suwarni hanya Rp 1 juta per bulan dan tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sehari-hari. (Yoga)
Ikhtiar Lindungi Pekerja Informal
KERJA SAMA ANTARDAERAH : Pelayanan Publik Diakselerasi
Kerja sama antardaerah atau KAD terus ditingkatkan tidak hanya untuk menggarap potensi daerah, melainkan juga dalam hal peningkatan layanan publik.Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menjalin kesepakatan bersama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan; Pemkab Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu; Pemkab Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah; dan Pemkab Tojo Una Una, Provinsi Sulawesi Tengah.Tujuan kesepakatan tersebut adalah untuk pengembangan potensi daerah dan peningkatan pelayanan publik.Kesepakatan itu akan ditindaklanjuti secara spesifik yang didasarkan pada potensi juga kebutuhan kerja sama dari kedua belah pihak a.l soal manajemen aparatur sipil negara (ASN), reformasi birokrasi, dan pengembangan dinas komunikasi dan informatika mengenai persandian dan stastistik.Penjabat (Pj.) Gubernur Jabar Bey Machmudin mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan bukti sinergi dalam mengembangkan potensi daerah, serta meningkatkan pelayanan publik bagi masyarakat.
Menurutnya, sejauh ini Pemprov Jabar sudah menjalin 76 kerja sama, yang terdiri atas 27 kesepakatan dengan kabupaten/kota di wilayah Jabar, 20 kesepakatan kerja sama dengan berbagai provinsi di Indonesia, dan 29 kesepakatan kerja sama dengan kabupaten/kota di luar Provinsi Jabar.
Kerja sama tersebut fokus untuk mewujudkan tujuan daerah yang berdaya, inovatif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.
PHK MARAK PADA 2023 : APINDO USUL PERKUAT PASAR DOMESTIK
Asosiasi Pengusaha Indonesia mengusulkan kepada pemerintah untuk memperkuat pasar dalam negeri seiring dengan sepinya order luar negeri akibat gejolak geopolitik global. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengatakan bahwa pemerintah bisa memberikan insentif pajak untuk mendorong iklim usaha. “Perkuat daya saing industri yang menciptakan lapangan kerja dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memangkas birokrasi serta policy yang menghambat industri,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (5/2). Dia beralasan setiap tahun ada 3 juta pencari kerja baru dan 300.000 orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membutuhkan pekerjaan baru. Di sisi lain, salah satu yang didorong untuk menjaga daya saing industri yaitu kehadiran neraca komoditas, khususnya untuk bahan baku. Melihat kondisi tersebut, menurut Bob, yang paling utama untuk dilakukan yaitu membesarkan pasar dalam negeri sehingga perusahaan tumbuh dan membangun daya saing agar mampu memperluas pasar ekspor.
Berdasarkan data Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengungkapkan lonjakan jumlah PHK pada 2023 mencapai 1.328% daripada tahun sebelumnya menjadi 358.809 dipicu banyaknya perusahaan yang tutup akibat sepinya order. Sementara itu, Kemenaker melaporkan terdapat 63.806 orang tenaga kerja yang mengalami PHK selama periode Desember 2023. “Tenaga kerja ter-PHK paling banyak terdapat di provinsi Jawa Barat, yaitu sekitar 30,13% dari jumlah keseluruhan,” sebut Satu Data Kemnaker. Data yang dihimpun Bisnis pada Sabtu (3/2) di Jawa Barat, sebanyak 125.748 tenaga kerja kena PHK, menjadikannya sebagai provinsi dengan PHK tertinggi di Indonesia sepanjang Januari-Desember 2023. Posisi selanjutnya ditempati oleh Jawa Tengah sebanyak 69.286 orang, diikuti Banten 61.161 orang, Kalimantan Selatan 13.169 orang, Riau 11.242 orang, dan Jawa Timur 11.038 orang. Selanjutnya, DKI Jakarta sebanyak 10.358 orang, Sulawesi Tengah 9.669 orang, Kalimantan Timur 7.839 orang, dan Kalimantan Utara 7.407 orang. Sementara itu, Sulawesi Barat menempati posisi pertama sebagai provinsi dengan PHK terendah di Indonesia. Tercatat, Sulawesi Barat melakukan PHK pada 29 orang tenaga kerja, diikuti Papua 56 orang, NTT 80 orang, Bengkulu 117 orang, dan Papua Barat 132 orang. Lalu, Sulawesi Utara 201 orang, Sumatra Barat 295 orang, Maluku 404 orang, Lampung 454 orang, dan Bali 627 orang.
Adapun sepanjang 2023, PHK tertinggi terjadi pada Desember 2023 yang mencapai 63.806 orang tenaga kerja, sedangkan PHK terendah terjadi pada Januari 2023 sebanyak 2.867 orang.
Sementara itu, Ketua Umum Indonesia Digital Empowerment Community (Idiec) Tesar Sandikapura berharap pemerintah mengkaji potensi kelalaian atau kecurangan dari sebuah perusahaan rintisan (startup) yang gulung tikar tak lama setelah mendapatkan pendanaan.
Sepanjang 2023-2024, sudah puluhan startup berbasis teknologi yang melakukan efi siensi karyawan atau menutup bisnis. Beberapa nama besar juga turut terseret, mulai dari Gojek Tokopedia, Zenius, Fabelio, Flip, Halodoc, hingga Xendit.
Menjaga Keyakinan dan Daya Beli Masyarakat
Pascadebat, TKN Prabowo-Gibran Optimistis Pilpres Sekali Putaran
Rumitnya Rute Transjakarta
Sejumlah calon penumpang tengah menunggu datangnya bus
Transjakarta di Halte GBK 2, Jakapus, Senin (5/2). Beberapa calon penumpang
hanya duduk sembari memainkan gawai, sedangkan dua penumpang lain sibuk melihat
peta di dinding halte. Hampir setahun menggunakan layanan Transjakarta, warga
Jakpus, Ayu Utami (28), masih kebingungan mengenai rute Transjakarta. Jika tidak
melihat peta di dinding halte atau di gawainya, ia tidak paham. ”Banyak sekali
rute yang dioperasikan Transjakarta, tetapi saya masih bingung. Harus melihat
dengan jeli rute yang dituju lewat halte mana saja,” ujarnya. Ayu hanya
menghafal nama halte terakhir yang dituju. Biasanya, ia akan bertanya ke petugas.
Tidak adanya petugas pramusapa di halte dinilai menyusahkan penumpang awam sepertinya.
”Transjakarta juga sering melakukan perubahan rute. Jadi, saya harus menghafal
ulang,” kata Ayu.
Warga Ciputat, Tangsel, yang juga pembaca Kompas, Renville
Almatsier, menyebut, kurangnya petunjuk rute bus di halte Transjakarta bagi calon
pengguna jasa. ”Untuk mempermudah pengguna transportasi, perlu leaflet khusus
rute perjalanan Transjakarta yang dicetak, secara lengkap memuat rute
perjalanan KRL, MRT, dan LRT yang terintegrasi,” katanya. Di luar negeri, di
tiap halte ada informasi mengenai nomor-nomor bus yang melalui halte
bersangkutan. Bahkan, di London dan Tokyo, penumpang dapat membeli kartu pos
khusus bergambar jaringan lalu lintas kereta yang dibedakan warnanya sesuai
jalur masing-masing. Sementara di Singapura, informasi jaringan transportasi
kota dititipkan pada brosur pusat belanja.
Warga Depok, Rini Fitrasari (26), sangat menyesali sejumlah
kendala pada layanan Transjakarta. Sejak adanya penyesuaian rute Terminal
Depok-Halte BKN, ia harus membayar dua kali lipat, yang menyebabkan Rini beralih
ke transportasi publik lain. ”Biasanya untuk ke tujuan mana pun, dari Depok
hanya perlu transit di BKN dan tidak perlu membayar lagi. Tapi ini harus keluar
dari halten dulu dan tap-in lagi. Jadi, memakan biaya dua kali lipat. Belum
lagi tidak ada petunjuk yang jelas di pemberhentian tersebut,” ujarnya.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia
(MTI), David Tjahja, mengatakan, ”Halte yang ganti nama juga membuat bingung
penumpang. Banyak juga peta belum diganti jika ada perubahan. Jadi, agak menyulitkan.
Terutama bagi orang baru,”. David mengatakan, peta Transjakarta harus ada di semua
halte karena tidak semua pengguna layanan mengakses internet. Apalagi, banyak
turis atau warga luar kota di Jakarta. Peta yang tertera di halte juga harus
sesuai dengan rute yang dioperasikan saat ini, lengkap dengan nomor bus. Tidak
hanya bus, pada layanan Mikrotrans, kode dan informasi terkait rute juga masih
sulit dihafalkan. (Yoga)
Gebyar Diskon Pupuk di Cirebon
Bansos, dari Rakyat untuk Rakyat
Akhir-akhir ini, wajah cemberut Menkeu Sri Mulyani viral di
media sosial. Ia tampak berdiri di samping Menko Bidang
Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengumumkan penyaluran Bantuan Langsung
Tunai atau BLT Mitigasi Risiko Pangan, program bantuan sosial yang mendadak
muncul menjelang pemilu. Airlangga, yang juga Ketum Partai Golkar, pendukung
pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka,
menjelaskan, bansos baru itu akan dibagikan untuk tiga bulan selama
Januari-Maret 2024. Namun, penyalurannya akan ”dirapel” sekaligus pada bulan
Februari. Besarannya Rp 600.000 per keluarga penerima manfaat (KPM). Selama
Airlangga berbicara, raut wajah Sri Mulyani tampak kesal. Berbeda dari menteri
dan pimpinan lembaga negara lain yang hadir dalam konferensi pers bansos, 29
Januari 2024, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu tidak tersenyum atau
”manggut-manggut” menganggukkan kepala tanda setuju.
Ekspresi Sri Mulyani dapat dipahami, ia adalah sosok yang
paling pusing saat ini. Selaku bendahara negara, ia tiba-tiba harus
”mencarikan” sumber anggaran untuk mendanai BLT Pangan. Pasalnya, sampai
sekarang, asal-usul anggaran untuk program bansos baru itu tidak jelas karena
belum direncanakan dalam APBN 2024. Bukan
hanya sumber anggaran yang penuh tanda tanya, momentum pembagian bansos BLT
Pangan yang direncanakan disalurkan sekaligus menjelang hari pemungutan suara
14 Februari 2024 itu juga memancing curiga. Bansos itu sebenarnya bantuan dari
siapa dan dari mana sumber dananya. Ditengah hiruk-pikuk politisasi bansos,
penting untuk menyadari asal-usul anggaran bansos agar publik tidak mudah terkesima
oleh akrobat politik para elite.
Pendanaan bansos pada dasarnya berasal dari APBN, yang
didapat dari pajak. Pendapatan dari pajak kemudian disalurkan ke rakyat tak
mampu melalui program-program bansos di bawah anggaran perlindungan sosial
(perlinsos). Di APBN 2024, anggaran perlinsos sudah dialokasikan Rp 496,8
triliun. BLT Pangan tak masuk rincian bansos yang sudah dianggarkan itu. Sebab,
APBN hanya menganggarkan program bansos rutin yang selama ini dikucurkan pemerintah,
seperti Program Keluarga Harapan, Program Kartu Sembako, dan BLT Desa. Mengutip
kata-kata Sri Mulyani belakangan ini, rakyat perlu tahu dari mana asal-usul
uang yang dipakai untuk menyalurkan bansos. Dengan demikian, rakyat tak perlu
terus-menerus tertipu oleh pertunjukan politik dan populisme yang muncul sesaat
setiap lima tahun sekali. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









