Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Menjaga Kesejahteraan dan Mengurangi Tingkat Kemiskinan
Aturan Harga Benih Lobster Disiapkan
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan harga
patokan terendah benih bening lobster di tingkat nelayan, yakni Rp 8.500 per
ekor. Ini menindaklanjuti rencana pemerintah untuk membuka kembali ekspor benih
bening lobster. Hingga awal Februari 2024, tercatat ada lima perusahaan asal
Vietnam siap masuk dan berinvestasi budidaya lobster di Indonesia, sekaligus
mengirim benih bening lobster ke luar negeri. Dalam draf Rancangan Kepmen KP
tentang Harga Patokan Terendah Benih Bening Lobster (Puerulus) di Nelayan
disebutkan, harga patokan ditentukan dengan mempertimbangkan biaya variabel
produksi, biaya tetap produksi, dan margin keuntungan. Patokan harga terendah
dievaluasi paling sedikit satu kali dalam enam bulan atau sewaktu-waktu apabila
diperlukan.
TAHUN BARU IMLEK 2575, Warga Berharap Indonesia Tetap Aman
Perayaan tahun baru Imlek 2575 di sejumlah daerah di Tanah Air diwarnai doa dari masyarakat agar Indonesia tetap aman, perekonomian semakin maju, dan rakyat makin sejahtera. Imlek juga menjadi momentum untuk menguatkan persaudaraan menjelang Pemilu 2024. ”Harapan kami, di tahun Naga Kayu ini, semua masyarakat sehat, bahagia, dan ekonomi semakin maju. Yang paling penting negara aman. Ekonomi kita baru bangkit dari pandemi Covid-19, sekarang akan ada pergantian pemerintah. Semoga negara kita semakin baik,” kata salah seorang warga, Eliana (45), seusai sembahyang di Wihara Borobudur, Medan, Sumut, Sabtu (10/2).
Wapres Ma’ruf Amin menuturkan, tahun baru Imlek merupakan momen refleksi dan perayaan syukur yang penting. Imlek diharapkan menjadi momen memperkuat komitmen berbangsa dan bernegara. ”Selamat tahun baru China, Imlek 2575 Kongzili, kepada segenap warga yang merayakan,” ujarnya. Terkait Pemilu 2024, Wapres Amin mengajak masyarakat menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan matang dalam berdemokrasi, dewasa dalam mengelola perbedaan, serta mampu bangkit dari keterpurukan. (Yoga)
Galeri Bersemi sampai Tanah Reklamasi
Galeri seni kekinian bersemi di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2,
kawasan yang diharapkan menjadi salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi di
Jakarta dan Banten. Di kawasan hasil reklamasi pantai ini, pelaku usaha seni
berusaha membuka pasar seni yang baru. Indonesia Design District (IDD), ruang
ekspo dan ritel desain serta gaya hidup dibuat semiterbuka, seluas 12,1 hektar,
ada Linda Gallery yang baru mulai berpameran dua bulan lalu, Desember 2023.
Selain itu, ada 200-an gerai yang menawarkan produk gaya hidup urban, termasuk
restoran. Selasa siang (6/2) diadakan pameran tunggal seniman Tulus Warsito
(71). ”Kali ini sudah ada yang laku,” ujar Lisa Sharon, petugas Linda Gallery.
Lukisan dan patung karyaTulus yang dipamerkan dibanderol dengan harga mulai
puluhan hingga ratusan juta rupiah. Ali Kusno Fusin, pemilik dan pengelola
Linda Gallery, mengatakan, karya seniman senior seperti Tulus sengaja ia pilih
untuk mengisi pameran di galeri yang baru di PIK 2.
4 km dari IDD, tumbuh Orange Groves, ruang seni dan gaya
hidup urban. Di antara banyak gerai yang memanjakan gaya hidup urban di Orange
Groves, ada tiga galeri seni, yakni Ganara Art, galeri kolektif dari Asosiasi
Galeri Seni Rupa Indonesia (AGSI), dan Meramu.id yang baru mulai berpameran
pada 31 Januari 2024. Di pottery house Ganara Art, pengunjung bisa belajar
membuat tembikar dari tanah liat. Karya mereka bisa langsung dibakar di tungku
pembakaran yang ada di halaman luar. ”Kami membuat program seni bagi siapa saja
yang berkunjung. Misalnya, dengan investasiRp 75.000 sampaiRp 100.000, setiap
pengunjung bisa membuat karya seni dengan tanah liat seberat 500 gram dalam waktu
45 menit sampai 1 jam,” ujar pemilik dan pengelola Ganara Art, Tita Djumaryo. Denyut
seni rupa juga terasa di galeri kolektif dari AGSI, tak jauh dari Ganara Art.
Galeri kolektif menggelar pameran yang diikuti sembilan galeri, yakni 1
Artspace, Andi’s Gallery, Artserpong Gallery, CGartspace, Can’s Gallery, D
Gallerie, Edwin’s Gallery, Puri Art Gallery, dan Zen1 Gallery. Pameran berlangsung
hingga 29 Februari 2024.
Munculnya galeri atau ruang aktivitas seni di PIK 2 adalah fenomena
paling mutakhir dalam dinamika industri seni rupa di sekitar Jakarta. Tak banyak
orang mengira galeri-galeri mentereng akan tumbuh di pesisir utara Jakarta dan Banten
yang wajahnya campur aduk: ada pelabuhan, pergudangan, tempat wisata, perumahan
elite, dan permukiman kumuh. Galeri dan ruang seni rupa di PIK 2 tampaknya
mengikuti pola, tumbuh di kawasan yang sedang berkembang menjadi motor
pertumbuhan ekonomi dan dekat ke lokasi-lokasi hunian orang berduit. Para
pemilik dan pengelola ga- leri berharap berkah dari lokasi-lokasi seperti itu. Hal
itu diakui Tita Djumaryo. ”Atmosfer di sini sangat berbeda. PIK 2 menawarkan
tempat liburan yang memiliki potensi besar bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk
pertumbuhan ekonomi dari seni rupa,” ujar Tita. (Yoga)
Utang Biaya Kuliah, Berkah atau Kutuk
Dalam dua dekade ini, biaya kuliah naik lebih dari dua kali
lipat. Terkait kondisi itu, pemerintah dan pengelola perguruan tinggi
menawarkan utang sebagai cara membayar uang kuliah. Namun, di sebagian negara,
utang itu membelit selama puluhan tahun. Dalam risalah edisi Rabu (7/2) Federal
Reserve mencatat, total utang uang kuliah AS mencapai 1,7 triliun USD. Bank sentral
AS itu juga mencatat, total kredit kendaraan bernilai 1,5 triliun USD. Sebagai
pembanding, PDB Indonesia 1,18 triliun USD. Sementara di Inggris, total utang
biaya kuliah mencapai 206 miliar pound sterling. Menurut Education Data Initiative,
rata-rata kenaikan biaya kuliah AS dalam dua dekade terakhir mencapai 179,2 %.
Pada beberapa perguruan tinggi, kenaikannya bisa lebih tinggi. Debitor di
sejumlah negara bolak-balik mengeluhkan jumlah cicilan yang mereka bayar.
Alumni West Chester University di Pennsylvania, Broke Samuelian,
mengaku telah mencicil rutin selama sepuluh tahun. Meski demikian, nilai utang
biaya kuliahnya tetap 25.000 USD. ”Saya cemas utang ini akan terus jadi beban keuangan
saya,” kata perempuan yang belajar forensik dan toksikologi itu. Ia salah satu
dari 43 juta warga AS yang menanggung utang biaya kuliah. Seperti Sa-muelian,
94 % debitor utang itu mengaku terbebani. Bahkan, 64 % debitor mengaku akan
berhenti membayar. Sementara 9 % debitor malah sudah benar-benar berhenti
membayar karena tidak mampu lagi mencicil. Jika tidak membayar, utang semakin
besar karena ada bunga. AS menetapkan bunga 5,5 % per tahun untuk pinjaman
bersubsidi. Untuk utang yang tidak disubsidi, bunganya 7,5 %. Pinjaman yang diajukan
atas nama orangtua mahasiswa dikenai bunga 8,05 %. Tingkat bunga berubah sesuai
kondisi pasar. Bunga itu berlaku untuk pinjaman yang disediakan pemerintah.
Sementara untuk kredit dari bank atau lembaga swasta, bunganya
lebih tinggi lagi. AS memberi peluang perpanjangan tenor hingga 25 tahun. Ahli
pendidikan berpendapat sistem pembayaran pinjaman mahasiswa yang terbaik adalah
sistem yang sederhana berdasarkan pendapatan mahasiswa. Adapun tenor ditetapkan
berjangka panjang dan penagihan secara otomatis. ”Jangka waktu yang lebih
pendek berarti lulusan berpenghasilan rendah akan selalu kesulitan dan berisiko
gagal bayar,” kata Lorraine Dearden, Profesor Statistik Ekonomi dan Sosial
University College London, di The New York Times. Sistem pinjaman pendidikan tak
bisa melupakan tujuannya untuk meningkatkan harkat peminjam. Sistem yang abai pada
sisi manusiawi peminjam justru akan menuai masalah di kemudian hari. Apalagi,
jika utang pendidikan dibiarkan menjadi ajang mencari cuan bagi pinjaman
daring. (Yoga)
Mereka Sewakan Lumbung Pangan
Program lumbung pangan alias food estate di Humbang Hasundutan,
Sumut, berjalan tidak sesuai harapan petani. Lumbung pangan yang semula
diharapkan jadi andalan petani nyatanya tak menghasilkan secara memadai. Hasil
panen minim. Harga jual pun rendah. Apalagi, perusahaan penampung yang ditunjuk
pemerintah dinilai tidak adil dalam kerja sama. Bahkan, ada sejumlah perusahaan
keluar dari program. Lantaran pesimistis akan program itu, petani tak lagi serius
menggarap. Sebagian lahan jadi terbengkalai. Sebagian lagi disewakan petani. ”Dari
215 hektar (ha) lahan food estate Humbang Hasundutan, 50 ha sudah disewakan
(petani) ke perusahaan. Mereka (para petani) memilih menyewakan tanah lumbung pangan (food estate) karena hasilnya tak
memuaskan,” kata petani lumbung pangan Humbang Hasundutan, Tua Siregar (66),
Jumat (9/2). Tua, salah satu dari 70 petani yang punya lahan di lumbung pangan
Desa Siria-Ria, Kecamatan Pollung. Dia punya 7 ha di area lumbung pangan
pemerintah yang difokuskan untuk bawang merah, bawang putih, kentang, dan
tanaman hortikultura lain.
Pada awal pencanangan program, petani mendapat bantuan bibit,
pupuk, pestisida, serta alat dan mesin pertanian. Pemerintah juga membangun
jaringan air. Lahan lumbung pangan itu milik petani dan sebagian merupakan
lahan yang dilepaskan pemerintah dari kawasan hutan negara. Pada Januari 2024,
sebagian lahan ditumbuhi rumput dan ilalang. Banyak yang kini ditanami kopi, cabai,
dan tanaman lain. Tua menyebut, program tanaman pangan yang dicanangkan
pemerintah, yakni bawang merah, bawang putih, dan kentang, tidak memberi hasil
memuaskan bagi petani. Saat menanam 7 ha bawang merah, dia hanya mendapat hasil
2 ton, jauh di bawah target 20 ton per ha. Masalah lain yang mereka hadapi,
perusahaan penampung yang ditunjuk pemerintah dinilai tidak adil dalam kerja
sama, khususnya dalam bagi hasil. Ada perusahaan penampung memanen kentang
petani tanpa pemberitahuan dan menimbang sendiri hasil tanpa disaksikan petani.
Beberapa perusahaan sudah keluar dari food estate. (Yoga)
Magang Kerja, Bikin Traumatis atau Optimistis?
Program magang kerja bisa memberi hasil yang berbeda bagi
peserta yang menjalaninya. Ada yang merasa mendapat tambahan pengetahuan dan
keterampilan. Ada pula yang malah trauma dan akhirnya memutuskan tidak akan menggeluti
bidang di mana ia magang. Aisha Ferkin (22) mahasiswa Antropologi Sosial UI,
yang magang di sebuah organisasi LSM terkaget-kaget saat mendapat tugas turun
ke lapangan untuk mencari data dalam waktu singkat. Akibatnya, ia harus
uber-uberan dengan waktu dan terpaksa mengorbankan waktu libur demi lembur menyelesaikan
tugas. ”Selama kuliah, aku menangkap kalau antrop (antropologi) berkaitan
dengan turun langsung ke masyarakat adat, tinggal bersama mereka, dan
mempelajari kehidupan mereka,” ujarnya pada Rabu (31/1) di Kampus UI, Depok, Jabar.
Awalnya ia mengira, ketika turun lapangan selama magang lima bulan di LSM yang
berfokus pada advokasi masyarakat adat, ia akan punya cukup waktu untuk tinggal
dan mempelajari kelompok masyarakat adat yang jadi sasaran pendataan. Ternyata
ia salah.
Proses pengumpulan data lapangan hanya satu-dua minggu
sehingga tak cukup waktu untuk mengenal kelompok adat lain. Ia kalang kabut
ketika harus mencari data masyarakat adat di Kalimantan. Keterbatasan waktu
membuat pengerjaan tugas kerap tak mulus walau ada teman magang lain dalam satu
kelompok. Mendata masyarakat adat tidak bisa dilakukan secara cepat, mengingat
perlu pendekatan pada sasaran. Waktu luang warga juga tak menentu, tergantung kesibukan
mereka. Selain itu, tak semua warga mau berkompromi. ”Kami harus siap
mengalokasikan waktu libur untuk turlap (turun lapangan). Ketika turlap pun diwarnai
berbagai dinamika. Misalnya, ada kelompok masyarakat menolak advokasi yang kami
lakukan dan memberi data yang kami butuhkan dalam waktu singkat,” ungkap Aisha.
Pengalaman itu membuatnya trauma dan ragu menekuni karier di LSM.
Fatma Bandar (21) justru mendapat pengalaman magang yang
menyenangkan dan mendapat tambahan pengetahuan dan ilmu baru sesuai jurusan
kuliah. Fatma, yang baru lulus dari Ilmu Komunikasi peminatan periklanan UI,
merasakan hal tersebut ketika magang di posisi marketing communication. Praktik
kerja dia lakukan di sebuah industri pendidikan psikologi di Jaksel. ”Pekerjaan
aku copywriting, riset konten, riset audiens, dan desain. Tren selalu
berkembang. Jadi, pengalaman yang aku sukai adalah gimana aku tetap beradaptasi
dengan tren, menganalisis perilaku konsumen yang dinamis, dan lainnya,”
tuturnya, di Depok, Sabtu (27/1). Posisi saat magang memang sejalan dengan
jurusan, tetapi Fatma menyadari bahwa tetap ada Ilmu-ilmu yang baru ia dapat
saat magang. Salah satunya, belajar menyajikan data dan kreativitas dalam
konten dapat hadir secara bersamaan. Berkat magang selama empat bulan, ia
optimistis akan berkarier di bidang periklanan. Apalagi, ia sudah tertarik pada
industri kreatif dan riset sejak SMA. (Yoga)
Amarah Kampus kepada Jokowi
Operasi Penggembosan Gerakan Kampus
Paman Sayur dan Lumbung Pangan Kalimantan
10 tahun terakhir, banyak ladang warga Kalteng ditinggalkan
setelah muncul larangan membakar lahan. Imbasnya, warga yang dulu mandiri kini
bergantung kepada ”paman sayur” atau penjual sayur keliling. Kemandirian di
daerah yang dulu merupakan lumbung pangan pun terancam. Rabu (7/2) pagi, Suwanto
(37) sudah memacu kencang sepeda motor tuanya ke rumah Deni Irmanto (32),
petani di Kalampangan, Kota Palangkaraya, Kalteng. Sudah dua tahun Suwanto melakukan
aktivitas serupa. Setiap pagi, dia selalu mengisi keranjang di jok sepeda motornya
dengan semua sayuran yang dipanen Deni, perantau asal Ngawi, Jatim. ”Ada cabai
rawit, bayam, sawi, mentimun, tomat, hingga bawang merah,” katanya. Seperti
Deni, Suwanto juga berasal dari Ngawi. Minim kesempatan kerja di daerah asal, dia
datang menggunakan kapal laut lima tahun lalu ke Palangkaraya, menjadi ”paman” (penjual
keliling) untuk beragam jenis pekerjaan.
Ia pernah menjadi paman pentol (makanan seperti bakso), berkeliling
SD-SD di Palangkaraya menjajakan jualannya demi bayaran Rp 100.000 per hari. Jika
dagangan ludes dalam sehari, dia mendapat bonus 10 %. ”Biasanya jual 500-1.000
pentol per hari. Harganya Rp 1.000-Rp 5.000 per biji, bergantung ukuran,”
ucapnya. Tiga tahun jadi paman pentol, dia mencoba jadi paman lainnya. Merasa
bisa meraup untung lebih besar, pilihannya jatuh menjadi penjual sayur keliling.
Tabungan milik dia dan istrinya, Rp 8 juta digunakan untuk membuat keranjang
sayur. Usahanya membuahkan hasil. ”Sekarang, sehari bisa bawa Rp 500.000,
untung bersihnya lebih dari Rp 200.000,” ujarnya. Keuntungan Suwanto setara
dengan perjalanan jauh yang mesti ia tempuh sejauh 85 km. Sasarannya adalah
pelanggan di desa-desa sekitar Kabupaten Pulang Pisau, bahkan Kabupaten Kapuas.
Di sana, kehadiran Suwanto dan paman pentol lainnya sangat
ditunggu warga. ”Saya pernah sampai ke Kalumpang di Kabupaten Kapuas. Jaraknya
120 km dari Kota Palangkaraya. Semua sayurnya berasal dari Deni,” katanya.
Sanyo (54), warga Kalumpang, Kapuas, salah satu tempat Suwanto berjualan sayur
adalah salah satu peladang yang rindu berladang lagi. Kini, Sanyo merasakan rumitnya
harus membeli semua kebutuhan pangannya, baik beras maupun sayuran. ”Jadi,
karena sekarang sudah tidak ke ladang, tidak ada padi dan tidak ada sayur. Ujungnya,
kami beli di paman sayur. Setiap bulan bisa habis Rp 1 juta. Dulu, uang hanya untuk
menabung,” tutur Sanyo yang kini hanya menjaga kios di desanya sambil berharap
tas anyaman rotan istrinya laku. Penghasilannya tak menentu, ditambah kini ia
sakit-sakitan. ”Ada yang bekerja di perkebunan sawit hingga tambang ilegal.
Semua karena larangan membakar,” katanya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









