Magang Kerja, Bikin Traumatis atau Optimistis?
Program magang kerja bisa memberi hasil yang berbeda bagi
peserta yang menjalaninya. Ada yang merasa mendapat tambahan pengetahuan dan
keterampilan. Ada pula yang malah trauma dan akhirnya memutuskan tidak akan menggeluti
bidang di mana ia magang. Aisha Ferkin (22) mahasiswa Antropologi Sosial UI,
yang magang di sebuah organisasi LSM terkaget-kaget saat mendapat tugas turun
ke lapangan untuk mencari data dalam waktu singkat. Akibatnya, ia harus
uber-uberan dengan waktu dan terpaksa mengorbankan waktu libur demi lembur menyelesaikan
tugas. ”Selama kuliah, aku menangkap kalau antrop (antropologi) berkaitan
dengan turun langsung ke masyarakat adat, tinggal bersama mereka, dan
mempelajari kehidupan mereka,” ujarnya pada Rabu (31/1) di Kampus UI, Depok, Jabar.
Awalnya ia mengira, ketika turun lapangan selama magang lima bulan di LSM yang
berfokus pada advokasi masyarakat adat, ia akan punya cukup waktu untuk tinggal
dan mempelajari kelompok masyarakat adat yang jadi sasaran pendataan. Ternyata
ia salah.
Proses pengumpulan data lapangan hanya satu-dua minggu
sehingga tak cukup waktu untuk mengenal kelompok adat lain. Ia kalang kabut
ketika harus mencari data masyarakat adat di Kalimantan. Keterbatasan waktu
membuat pengerjaan tugas kerap tak mulus walau ada teman magang lain dalam satu
kelompok. Mendata masyarakat adat tidak bisa dilakukan secara cepat, mengingat
perlu pendekatan pada sasaran. Waktu luang warga juga tak menentu, tergantung kesibukan
mereka. Selain itu, tak semua warga mau berkompromi. ”Kami harus siap
mengalokasikan waktu libur untuk turlap (turun lapangan). Ketika turlap pun diwarnai
berbagai dinamika. Misalnya, ada kelompok masyarakat menolak advokasi yang kami
lakukan dan memberi data yang kami butuhkan dalam waktu singkat,” ungkap Aisha.
Pengalaman itu membuatnya trauma dan ragu menekuni karier di LSM.
Fatma Bandar (21) justru mendapat pengalaman magang yang
menyenangkan dan mendapat tambahan pengetahuan dan ilmu baru sesuai jurusan
kuliah. Fatma, yang baru lulus dari Ilmu Komunikasi peminatan periklanan UI,
merasakan hal tersebut ketika magang di posisi marketing communication. Praktik
kerja dia lakukan di sebuah industri pendidikan psikologi di Jaksel. ”Pekerjaan
aku copywriting, riset konten, riset audiens, dan desain. Tren selalu
berkembang. Jadi, pengalaman yang aku sukai adalah gimana aku tetap beradaptasi
dengan tren, menganalisis perilaku konsumen yang dinamis, dan lainnya,”
tuturnya, di Depok, Sabtu (27/1). Posisi saat magang memang sejalan dengan
jurusan, tetapi Fatma menyadari bahwa tetap ada Ilmu-ilmu yang baru ia dapat
saat magang. Salah satunya, belajar menyajikan data dan kreativitas dalam
konten dapat hadir secara bersamaan. Berkat magang selama empat bulan, ia
optimistis akan berkarier di bidang periklanan. Apalagi, ia sudah tertarik pada
industri kreatif dan riset sejak SMA. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023