;

Utang Biaya Kuliah, Berkah atau Kutuk

Ekonomi Yoga 11 Feb 2024 Kompas
Utang Biaya Kuliah, Berkah atau Kutuk

Dalam dua dekade ini, biaya kuliah naik lebih dari dua kali lipat. Terkait kondisi itu, pemerintah dan pengelola perguruan tinggi menawarkan utang sebagai cara membayar uang kuliah. Namun, di sebagian negara, utang itu membelit selama puluhan tahun. Dalam risalah edisi Rabu (7/2) Federal Reserve mencatat, total utang uang kuliah AS mencapai 1,7 triliun USD. Bank sentral AS itu juga mencatat, total kredit kendaraan bernilai 1,5 triliun USD. Sebagai pembanding, PDB Indonesia 1,18 triliun USD. Sementara di Inggris, total utang biaya kuliah mencapai 206 miliar pound sterling. Menurut Education Data Initiative, rata-rata kenaikan biaya kuliah AS dalam dua dekade terakhir mencapai 179,2 %. Pada beberapa perguruan tinggi, kenaikannya bisa lebih tinggi. Debitor di sejumlah negara bolak-balik mengeluhkan jumlah cicilan yang mereka bayar.

Alumni West Chester University di Pennsylvania, Broke Samuelian, mengaku telah mencicil rutin selama sepuluh tahun. Meski demikian, nilai utang biaya kuliahnya tetap 25.000 USD. ”Saya cemas utang ini akan terus jadi beban keuangan saya,” kata perempuan yang belajar forensik dan toksikologi itu. Ia salah satu dari 43 juta warga AS yang menanggung utang biaya kuliah. Seperti Sa-muelian, 94 % debitor utang itu mengaku terbebani. Bahkan, 64 % debitor mengaku akan berhenti membayar. Sementara 9 % debitor malah sudah benar-benar berhenti membayar karena tidak mampu lagi mencicil. Jika tidak membayar, utang semakin besar karena ada bunga. AS menetapkan bunga 5,5 % per tahun untuk pinjaman bersubsidi. Untuk utang yang tidak disubsidi, bunganya 7,5 %. Pinjaman yang diajukan atas nama orangtua mahasiswa dikenai bunga 8,05 %. Tingkat bunga berubah sesuai kondisi pasar. Bunga itu berlaku untuk pinjaman yang disediakan pemerintah.

Sementara untuk kredit dari bank atau lembaga swasta, bunganya lebih tinggi lagi. AS memberi peluang perpanjangan tenor hingga 25 tahun. Ahli pendidikan berpendapat sistem pembayaran pinjaman mahasiswa yang terbaik adalah sistem yang sederhana berdasarkan pendapatan mahasiswa. Adapun tenor ditetapkan berjangka panjang dan penagihan secara otomatis. ”Jangka waktu yang lebih pendek berarti lulusan berpenghasilan rendah akan selalu kesulitan dan berisiko gagal bayar,” kata Lorraine Dearden, Profesor Statistik Ekonomi dan Sosial University College London, di The New York Times. Sistem pinjaman pendidikan tak bisa melupakan tujuannya untuk meningkatkan harkat peminjam. Sistem yang abai pada sisi manusiawi peminjam justru akan menuai masalah di kemudian hari. Apalagi, jika utang pendidikan dibiarkan menjadi ajang mencari cuan bagi pinjaman daring. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :