Utang Biaya Kuliah, Berkah atau Kutuk
Dalam dua dekade ini, biaya kuliah naik lebih dari dua kali
lipat. Terkait kondisi itu, pemerintah dan pengelola perguruan tinggi
menawarkan utang sebagai cara membayar uang kuliah. Namun, di sebagian negara,
utang itu membelit selama puluhan tahun. Dalam risalah edisi Rabu (7/2) Federal
Reserve mencatat, total utang uang kuliah AS mencapai 1,7 triliun USD. Bank sentral
AS itu juga mencatat, total kredit kendaraan bernilai 1,5 triliun USD. Sebagai
pembanding, PDB Indonesia 1,18 triliun USD. Sementara di Inggris, total utang
biaya kuliah mencapai 206 miliar pound sterling. Menurut Education Data Initiative,
rata-rata kenaikan biaya kuliah AS dalam dua dekade terakhir mencapai 179,2 %.
Pada beberapa perguruan tinggi, kenaikannya bisa lebih tinggi. Debitor di
sejumlah negara bolak-balik mengeluhkan jumlah cicilan yang mereka bayar.
Alumni West Chester University di Pennsylvania, Broke Samuelian,
mengaku telah mencicil rutin selama sepuluh tahun. Meski demikian, nilai utang
biaya kuliahnya tetap 25.000 USD. ”Saya cemas utang ini akan terus jadi beban keuangan
saya,” kata perempuan yang belajar forensik dan toksikologi itu. Ia salah satu
dari 43 juta warga AS yang menanggung utang biaya kuliah. Seperti Sa-muelian,
94 % debitor utang itu mengaku terbebani. Bahkan, 64 % debitor mengaku akan
berhenti membayar. Sementara 9 % debitor malah sudah benar-benar berhenti
membayar karena tidak mampu lagi mencicil. Jika tidak membayar, utang semakin
besar karena ada bunga. AS menetapkan bunga 5,5 % per tahun untuk pinjaman
bersubsidi. Untuk utang yang tidak disubsidi, bunganya 7,5 %. Pinjaman yang diajukan
atas nama orangtua mahasiswa dikenai bunga 8,05 %. Tingkat bunga berubah sesuai
kondisi pasar. Bunga itu berlaku untuk pinjaman yang disediakan pemerintah.
Sementara untuk kredit dari bank atau lembaga swasta, bunganya
lebih tinggi lagi. AS memberi peluang perpanjangan tenor hingga 25 tahun. Ahli
pendidikan berpendapat sistem pembayaran pinjaman mahasiswa yang terbaik adalah
sistem yang sederhana berdasarkan pendapatan mahasiswa. Adapun tenor ditetapkan
berjangka panjang dan penagihan secara otomatis. ”Jangka waktu yang lebih
pendek berarti lulusan berpenghasilan rendah akan selalu kesulitan dan berisiko
gagal bayar,” kata Lorraine Dearden, Profesor Statistik Ekonomi dan Sosial
University College London, di The New York Times. Sistem pinjaman pendidikan tak
bisa melupakan tujuannya untuk meningkatkan harkat peminjam. Sistem yang abai pada
sisi manusiawi peminjam justru akan menuai masalah di kemudian hari. Apalagi,
jika utang pendidikan dibiarkan menjadi ajang mencari cuan bagi pinjaman
daring. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023