Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Ragam Cara Melaporkan Kecurangan di TPS
SIDO Perkuat Produk dan Pemasaran
Ancaman Krisis Beras Sudah di Depan Mata
Mengejar Pajak Kaum Tajir
Kendati mengeklaim telah berhasil menjaring puluhan ribu identitas wajib pajak kelompok tajir, pemerintah seakan mulai kehabisan napas mengejar pajak dari kantong-kantong tebal mereka. Padahal, seperangkat regulasi sudah ada, infrastruktur dan sistem perpajakan juga tidak kurang. Lalu, hambatannya di mana?. Kas negara tidak boleh dibiarkan kempis. Itu harus. Apalagi, perjalanan waktu untuk menghabiskan Tahun Naga Kayu ini masih teramat panjang. Tantangan sosial, politik, dan ekonomi ke depan juga semakin besar. Faktanya, suka tidak suka, mengeruk pajak dari saku para sultan lokal ini masih teramat susah. Menurut definisi orang pajak, barisan crazy rich ini kerap disebut high net worth individual (HNWI). Mereka adalah kelompok yang secara individu atau keluarga memiliki nilai aset likuid di atas US$5 juta, alias sekitar Rp75 miliar. Aset mereka tidak termasuk aset pribadi dan properti seperti barang-barang koleksi dan tempat tinggal. Di dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), pendapatan di atas Rp5 miliar bakal dikenakan tarif Pajak Penghasilan (PPh) 35%. Dengan kurs Rp15.000 per dolar AS, potensi pajak para sultan yang berpotensi didulang negara bisa mencapai sekitar Rp1.260 triliun. Sangat fantastis. Apalagi, jumlah orang-orang anti-miskin tersebut dari tahun ke tahun terus mengembang seperti adonan. Pada tahun depan, populasinya ditaksir bahkan bisa menyentuh 45.063 orang. Pastinya jumlah kekayaan kaum tajir melintir ini berbanding lurus dengan potensi pajak yang bisa disabet oleh negara. Dengan catatan, jika semua prosesnya dilaksanakan berdasar peraturan perundangan dan akuntabililtas yang tinggi. Pada 2016, pemerintah mematok target dapat menghimpun dana repatriasi senilai Rp1.000 triliun. Kenyataannya, pemerintah hanya bisa membawa pulang pajak tak kurang dari Rp147 triliun.
Pada 2022, jumlahnya lebih melorot lagi. Total pajak yang dihimpun pemerintah dari kantong mereka hanya Rp59,91 triliun. Dari data di atas dapat ditarik asumsi bahwa minimnya kesadaran dan kepatuhan orang-orang tajir melaksanakan kewajiban membayar pajak bisa jadi didalangi oleh berbagai sebab. Salah satunya karena adanya persepsi bahwa penghindaran pajak adalah hal yang lumrah. Namun, masih ada harapan dalam mengoptimalkan penerimaan pajak orang kaya. Selain tax amnesty, pemerintah perlu punya strategi yang lebih inovatif dan holistik, termasuk peningkatan sistem pemantauan dan penegakan hukum. Penggunaan teknologi untuk mendeteksi penghindaran pajak harus lebih digencarkan.
Mendorong Inovasi dalam Pertumbuhan Ekonomi
BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 sebesar 5,05
%, lebih rendah dari 2022 di 5,31 %. Kenaikan harga, khususnya barang pokok
seperti beras, telah menggerus permintaan domestik. Sementara fragmentasi
ekonomi-politik global menekan aktivitas ekspor. Begitu pun aktivitas investasi
yang mengalami stagnasi di tahun politik ini. Pengeluaran pemerintah menjadi penyangga
utama agar siklus perlambatan bisa ditahan (counter cycle). Di situlah perlunya
kebijakan fiskal yang solid dan kredibel alias bisa dipertanggung jawabkan. Bank
Dunia dalam Global Economic Prospects (GEP) edisi Januari 2024 menyoroti
suramnya perekonomian global. Pertumbuhan global 2024 diproyeksikan mencapai
2,4 % atau mengalami penurunan selama tiga tahun berturutan atau lebih rendah
dibandingkan perkiraan pertumbuhan 2023 sebesar 2,6 %. Sementara pertumbuhan
ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 4,9 % pada 2024 dan 2025. Siklus
perekonomian kita, meski tak seburuk dinamika global, tetap saja mengalami gejala
perlambatan.
Untuk keluar dari jebakan stagnasi ini, Bank Dunia menawarkan
jalan keluar melalui akselerasi investasi berkelanjutan. Sejak lama, lembaga
ini memberikan perhatian pada investasi dan produktivitas sebagai strategi
utama melawan perlambatan ekonomi pasca pandemi. Persoalannya, bagaimana
menerjemahkan strategi besar tersebut dalam konteks kebijakan ekonomi kita.
Pemilu 2024 bisa menjadi peluang agar konsolidasi kebijakan ekonomi lebih fokus
pada peningkatan produktivitas melalui akselerasi investasi berbasis inovasi. Dibanding
banyak negara lain, kita punya peluang lebih besar untuk melakukan transformasi
struktural agar investasi berbasis inovasi bisa terakselerasi dalam jangka
panjang. Pembangunan infrastruktur yang sudah dijalankan hampir sepuluh tahun
terakhir menjadi modal penting. Siapa pun pemenang pemilihan presiden perlu
melakukan ”destruksi kreatif” dalam kerangka keberlanjutan. (Yoga)
Jaga Keberlanjutan JKN
Satu dekade Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berjalan di
Indonesia. Berbagai manfaat program ini dinikmati warga seiring perbaikan akses
dan pembiayaan. Namun, perjalanan panjang pelaksanaan JKN-Kartu Indonesia Sehat
(JKN-KIS) masih menemui sejumlah tantangan. Selain ancaman defisit anggaran
pengelolaan program ini, kualitas layanan bagi peserta juga belum merata. Dalam
10 tahun, angka peserta program JKN terus naik hingga 96 % dari total penduduk
Indonesia. Data BPJS Kesehatan menunjukkan, jumlah peserta pada tahun 2014
sebanyak 133,4 juta orang dan meningkat menjadi 267,3 juta peserta pada tahun
2023. Sementara total pemanfaatan JKN meningkat signifikan.
Pada 2014 rata-rata total pemanfaatan layanan itu per hari 252.000
pemanfaatan. Sementara tahun 2023 tercatat 1,6 juta per hari. Akibatnya, biaya
kesehatan itu meningkat dari Rp 42,6 triliun pada 2014 menjadi Rp 158,8 triliun
pada 2023 (Kompas, 12/2). Sejumlah perbaikan patut diapresiasi. Dengan berbagai
inovasi yang dilakukan, kualitas layanan makin baik. Penerapan digitalisasi
juga mempermudah warga mengakses layanan dalam program ini. Melalui aplikasi,
peserta bisa mendapat berbagai informasi JKN, mengubah data, mendaftar layanan
di fasilitas kesehatan, konsultasi dokter, hingga mengadukan layanan yang
bermasalah. Dari sisi pendanaan, setelah selalu dinyatakan defisit, dana jaminan
kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan dalam kondisi positif.
Aset bersih dana jaminan sosial kesehatan yang dikelola BPJS
Kesehatan meningkat pesat sejak 2021 dan tercatat Rp 56,51 triliun pada tahun
2022 sehingga bisa mencukupi pembayaran klaim beberapa bulan ke depan. Namun,
layanan program ini menghadapi sejumlah tantangan. Di beberapa daerah,
fasilitas kesehatan, peralatan medis, dan tenaga kesehatan terbatas.
Ketimpangan layanan kesehatan antar daerah menyebabkan sebagian peserta JKN
sulit mengakses layanan dan harus antre untuk berobat di fasilitas kesehatan
mitra BPJS Kesehatan. Selain itu, keberlanjutan JKN dibayangi ancaman defisit dana
pengelolaan, seiring semakin banyaknya peserta memanfaatkan layanan dan perluasan
manfaat. Di sisi lain, iuran peserta tak naik dan banyak peserta tak aktif atau
menunggak membayar iuran. Untuk itu, memasuki sepuluh tahun implementasi JKN, perbaikan
pengelolaan anggaran dan layanan menjadi keniscayaan. (Yoga)
Potret Rentan Ekonomi Musiman
Dalam 11 tahun terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh stagnan pada kisaran 5 %. Kinerja ekonomi lebih banyak bergantung pada siklus bisnis dan faktor pola musiman sesaat, seperti pergerakan harga komoditas dunia, hari raya besar keagamaan, dan musim liburan. Dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada pola musiman itu, arah pertumbuhan ekonomi di setiap triwulan (tiga bulanan) biasanya sudah bisa ditebak. Jika divisualisasikan, sepanjang tahun, pola pertumbuhan ekonomi seperti kurva melengkung yang naik sesaat lalu turun secara beruntun. Sesuai polanya, ekonomi akan selalu menyentuh pertumbuhan tertinggi di setiap triwulan II (April-Juni). Pada periode itu, ada momen Ramadhan, Idul Fitri, dan musim liburan sekolah. Daya beli masyarakat pun sedang naik-naiknya setelah menerima THR. Pada periode ini, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama ekonomi negara biasanya akan tumbuh lebih tinggi.
Sebaliknya, pada triwulan lainnya, pertumbuhan ekonomi cenderung moderat, bahkan tumbuh minus. Triwulan I (Januari-Maret), misalnya, menggambarkan periode low season dengan mobilitas masyarakat tidak setinggi triwulan IV saat ada momen liburan akhir tahun. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) ketergantungan ekonomi Indonesia yang cukup kuat terhadap momen musiman sesaat itu salah satunya tampak dari pertumbuhan ekonomi 2023, seiring melemahnya harga komoditas dunia dan tidak adanya musim liburan, ekonomi pada triwulan III-2023 hanya tumbuh 4,94 % secara tahunan dan 1,6 % secara triwulanan. Padahal, sebelumnya, pada triwulan II-2023, ekonomi tumbuh 5,17 % secara tahunan dan 3,86 % secara triwulanan, yang ditopang faktor musiman, seperti Ramadhan, Idul Fitri, Paskah, Idul Adha, Waisak, dan masa libur panjang sekolah.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, perekonomian
Indonesia yang cenderung tumbuh tinggi hanya selama periode harga komoditas
tinggi atau peristiwa musiman menunjukkan potret kondisi ekonomi yang rentan. Kerentanan
ekonomi ini, adalah isu yang belum terselesaikan oleh pemerintahan Jokowi dan
perlu dihadapi oleh pemerintahan berikutnya. Indonesia butuh sumber pertumbuhan
ekonomi baru yang lebih stabil dan kokoh agar tidak terlalu mudah terbuai
siklus harga komoditas dan faktor musiman sesaat. Direktur Eksekutif Center of
Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan, jika pertumbuhan
ekonomi Indonesia bergantung pada faktor dan siklus sesaat, jalan Indonesia menjadi
negara maju pada 2045 semakin sulit. Sebab, untuk mencapai titik itu, pertumbuhan
ekonomi saat ini seharusnya sudah bisa menembus 6 %. Menurut Faisal, Indonesia
butuh industrialisasi yang bukan hanya hilirisasi. (Yoga)
Derita Tak Berkesudahan di Nusa Tenggara Timur
Hampir tiga bulan terakhir nasib nelayan di NTT tak menentu
karena cuaca buruk. Mereka hanya bisa mencari ikan di laut dangkal. Petani pun
demikian. Akibat El Nino, mayoritas lahan pertanian gagal panen. Nestapa
nelayan dan petani kian berat di tengah terus naiknya harga kebutuhan pokok. Syarief
Laode (38), nelayan dari Desa Tablolong, Kabupaten Kupang, NTT, Minggu (11/2)
siang, baru pulang mencari ikan di Teluk Kupang. Hasil tangkapannya tak
seberapa, tetapi cukup menghidupi ekonomi keluarganya hari itu. Syarief
menyandarkan perahu motor berbobot 3 gros ton (GT) itu di dekat Pasar Oesapa.
Pedagang ikan di pasar menghampiri kapalnya. ”50 ekor kepiting laut diborong
pedagang, yang juga langganan, dengan harga Rp 50.000. Sementara ikan dibeli Rp
20.000. Total dapat Rp 70.000 hari ini.
Beberapa jenis ikan yang tidak diambil pedagang, saya bawa untuk
konsumsi di rumah. Saya berangkat pukul 04.00 Wita. Kebetulan cuaca relative aman
di sekitar Teluk Kupang,” kata Syarief. Jika cuaca normal, Syarief menjual ikan
langsung kepada pedagang ikan di Desa Tablolong. Harga ikan itu pun relatif murah.
Ikan kembung, satu ember berisi 150 ekor dijual Rp 100.000. Ikan itu oleh
pedagang dijual di pasar tradisional dengan harga Rp 20.000 per 10 ekor. Syarief
mengaku terkadang menjual sampai tujuh ember sekali melaut. Okto Nifu (46) petani
lahan kering di Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, mengatakan, lahan jagung seluas
3.000 meter persegi miliknya terancam gagal panen. Jagung hampir berbuah,
tetapi nyaris habis diserang ulat grayak yang muncul setelah panas selama satu
pekan.
Petani hanya pasrah menerima keadaan hama tersebut. ”Kalau
jagung sudah diserang hama, kami hanya berharap pada singkong, kacang, dan
jenis tanaman lain di ladang itu,” kata Nifu. Petani lahan kering lain di Desa
Kadahang, Kabupaten Sumba Timur, Agus Napu (51), mengatakan, jagungnya mulai
diserang belalang yang muncul tiap musim tanam tiba. Belalang muncul dalam
jumlah jutaan ekor dan menghabiskan tanaman dalam hitungan jam. Di tengah
kondisi sulit yang dialami nelayan dan petani, harga kebutuhan pokok terus bergerak
naik. Harga beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, dan daging terus
naik. Bagi nelayan dan petani kecil, harga beras saat ini semakin tak
terjangkau. Derita nelayan dan petani di NTT seperti tak berkesudahan. (Yoga)
Mengolah Sampah APK Menjadi Cuan
Muhammad Aldino (28) memilih sejumlah baliho kampanye dari tumpukan
bahan serupa di halaman tempat kerajinan barang bekas miliknya di Jagakarsa,
Jaksel, kemudian didaur ulang. Di dalam studio berukuran 12 x 6 meter itu, ia
dan sejumlah rekannya menghasilkan berbagai barang, seperti tas, kursi, meja,
dan papan, berbahan limbah alat peraga kampanye (APK). Kelompok perekayasa barang
Gudskul Rekayasa dan Dicoba-coba (GudRnD) menginisiasi program daur ulang
limbah APK bersama merek lokal ramah lingkungan Stuffo. Aldino adalah salah
satu anggota dalam tim kolaborasi tersebut. Sampah APK itu didapat dari
kegiatan pembersihan atribut pemilu pada masa tenang sejak Minggu (11/2).
Selain mendapat dari warga dan petugas, kelompok tersebut
turun ke lapangan untuk membantu proses pencabutan di beberapa wilayah Jaksel. ”Kami
mengolah limbah spanduk atau banner menjadi berbagai barang yang bermanfaat dan
bernilai jual. Untuk olahan, bisa menjadi kursi, lantai portabel, meja, papan multipleks,
hingga bata. Harga bervariasi, mulai dari Rp 38.000 hingga Rp 1 jutaan (per
barang),” kata Aldino saat ditemui, Senin (12/2). Aldino menyebutkan, papan multipleks
terbuat dari beberapa lapis banner. Karakteristik dan ketebalan multipleks yang
mirip dengan papan kayu membuat hasil olahannya menjadi pengganti kayu.
Riset mengenai multipleks itu dimulai tiga bulan lalu, saat ada
pemilik percetakan elektronik datang ke studionya menawarkan sisa banner untuk diolah.
Sebab, banyak banner yang sering dibakar di tempat pembuangan sampah. Setelah
berkali-kali mencoba, Aldino dan rekannya berhasil menemukan formula untuk
mengolah banner berbahan flexi frontlite asal Korea dan China itu. Bahan
tersebut banyak digunakan karena murah. Mereka juga membuat tas dari flexi asal
Jerman karena bahannya tebal. Namun, tidak cocok jika menggunakan flexi Korea
dan China karena bahannya cepat robek. Adapun hasil cacahan banner berbahan flexi
juga bisa diolah menjadi bata. Hasil olahan limbah itu dijual di lokapasar
(marketplace) situs web, sejumlah toko, dan berdasarkan pemesanan. Pengerjaan
olahan paling cepat tiga jam dan paling lama empat hari, tergantung dari tingkat
kesulitannya. (Yoga)
Menuntut Kecerdasan Buatan Menghargai Hak Cipta
Penerbit media ternama AS, The New York Times (NYT),
menggugat perusahaan pengembang kecerdasan buatan OpenAI dan pendirinya,
Microsoft, atas dugaan pelanggaran hak cipta. NYT menuding keduanya menggunakan
karya jurnalistik NYT untuk ChatGPT. ChatGPT milik OpenAI dan Microsoft lalu
memberikan materi NYT ke orang-orang yang mencari jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan.
(Kompas, 29/12/2023). Gugatan NYT menunjukkan adanya persoalan penghargaan terhadap
hak cipta yang dibawa teknologi kecerdasan buatan (AI). Jika didiamkan,
pelanggaran hak cipta akan mengancam kelangsungan hidup media, baik secara
ekonomi maupun jurnalistik. Teknologi digital tak menghargai hak ekonomi
penerbit. Padahal, penerbit seperti NYT berinvestasi besar-besaran untuk
menghasilkan jurnalisme berkualitas. Perusahaan pengembang AI mengambil begitu
saja karya jurnalistik tanpa izin dan pembayaran. Pengambilan berita atau materi
media arus utama serta mengomersialisasikannya, telah lama dilakukan perusahaan
platform digital.
Perusahaan pengembang AI dan perusahan platform digital menciptakan
ekosistem bisnis media yang timpang yang bisa berdampak pada kualitas jurnalisme.
Perusahaan media atau penerbit kehilangan kapital untuk mengembangkan jurnalisme
berkualitas. Ibarat pepatah, membangun jurnalisme berkualitas di tengah ekosistem
bisnis media yang tak sehat serupa menanam padi di padang pasir. Indonesia
memerlukan regulasi yang spesifik mengatur AI, termasuk pengaturan hak cipta, serupa
di Uni Eropa (UE). Pada April 2023, parlemen Eropa menyetujui proposal regulasi
yang mengatur AI generatif, seperti ChatGPT, mengungkap materi berhak cipta. Persetujuan
ini dianggap membuka jalan bagi UU komprehensif pertama di dunia yang mengatur
teknologi AI. UE kini sudah membuat pengaturan komprehensif terkait AI.
Parlemen Eropa dijadwalkan menggelar pemungutan suara untuk pengesahan rancangan
UU penggunaan AI pada Januari 2024. Aturan ini diharapkan mulai berlaku 2026.
Sebagai pengaturan komprehensif, UU tersebut kiranya juga mengatur pengungkapan
materi berhak cipta.
Adapun kantor berita The Associated Press dan perusahaan
media Axel Springer memilih bekerja sama dengan OpenAI yang bersifat sukarela
dalam bentuk business to business. Sejumlah negara mengatur perusahaan platform
digital wajib bekerja sama dengan perusahaan media atau penerbit. Australia pemberlakuan
news bargaining code sukses ”memaksa” Google dan Facebook membayar perusahaan media
200 juta dollar Australia pada 2022. Kanada yang memberlakukan online news act
berhasil ”memaksa” Google menyepakati membayar penerbit lokal 100 juta dollar
Kanada per tahun. Indonesia memiliki rancangan Peraturan Presiden tentang Tanggung
Platform Digital dan Perusahaan Pers untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas. Rancangan
perpres ini kelak mewajibkan perusahaan platform digital menghargai hak ekonomi
penerbit melalui bagi hasil, lisensi berbayar, dan bentuk kerja sama lain. Karena
mewajibkan perusahaan platform digital memenuhi hak ekonomi penerbit melalui
kerja sama, regulasi ini biasa disebut perpres publisher right (hak penerbit). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









