Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Tak hanya Siap Menang, Juga Harus Siap Kalah
Agar Insiden KPPS dalam Pemilu 2019 Tak Terulang
Pemanasan 1,5 Derajat Celsius Terlampaui
Ragam Cara Melaporkan Kecurangan di TPS
SIDO Perkuat Produk dan Pemasaran
Ancaman Krisis Beras Sudah di Depan Mata
Mengejar Pajak Kaum Tajir
Kendati mengeklaim telah berhasil menjaring puluhan ribu identitas wajib pajak kelompok tajir, pemerintah seakan mulai kehabisan napas mengejar pajak dari kantong-kantong tebal mereka. Padahal, seperangkat regulasi sudah ada, infrastruktur dan sistem perpajakan juga tidak kurang. Lalu, hambatannya di mana?. Kas negara tidak boleh dibiarkan kempis. Itu harus. Apalagi, perjalanan waktu untuk menghabiskan Tahun Naga Kayu ini masih teramat panjang. Tantangan sosial, politik, dan ekonomi ke depan juga semakin besar. Faktanya, suka tidak suka, mengeruk pajak dari saku para sultan lokal ini masih teramat susah. Menurut definisi orang pajak, barisan crazy rich ini kerap disebut high net worth individual (HNWI). Mereka adalah kelompok yang secara individu atau keluarga memiliki nilai aset likuid di atas US$5 juta, alias sekitar Rp75 miliar. Aset mereka tidak termasuk aset pribadi dan properti seperti barang-barang koleksi dan tempat tinggal. Di dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), pendapatan di atas Rp5 miliar bakal dikenakan tarif Pajak Penghasilan (PPh) 35%. Dengan kurs Rp15.000 per dolar AS, potensi pajak para sultan yang berpotensi didulang negara bisa mencapai sekitar Rp1.260 triliun. Sangat fantastis. Apalagi, jumlah orang-orang anti-miskin tersebut dari tahun ke tahun terus mengembang seperti adonan. Pada tahun depan, populasinya ditaksir bahkan bisa menyentuh 45.063 orang. Pastinya jumlah kekayaan kaum tajir melintir ini berbanding lurus dengan potensi pajak yang bisa disabet oleh negara. Dengan catatan, jika semua prosesnya dilaksanakan berdasar peraturan perundangan dan akuntabililtas yang tinggi. Pada 2016, pemerintah mematok target dapat menghimpun dana repatriasi senilai Rp1.000 triliun. Kenyataannya, pemerintah hanya bisa membawa pulang pajak tak kurang dari Rp147 triliun.
Pada 2022, jumlahnya lebih melorot lagi. Total pajak yang dihimpun pemerintah dari kantong mereka hanya Rp59,91 triliun. Dari data di atas dapat ditarik asumsi bahwa minimnya kesadaran dan kepatuhan orang-orang tajir melaksanakan kewajiban membayar pajak bisa jadi didalangi oleh berbagai sebab. Salah satunya karena adanya persepsi bahwa penghindaran pajak adalah hal yang lumrah. Namun, masih ada harapan dalam mengoptimalkan penerimaan pajak orang kaya. Selain tax amnesty, pemerintah perlu punya strategi yang lebih inovatif dan holistik, termasuk peningkatan sistem pemantauan dan penegakan hukum. Penggunaan teknologi untuk mendeteksi penghindaran pajak harus lebih digencarkan.
Mendorong Inovasi dalam Pertumbuhan Ekonomi
BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 sebesar 5,05
%, lebih rendah dari 2022 di 5,31 %. Kenaikan harga, khususnya barang pokok
seperti beras, telah menggerus permintaan domestik. Sementara fragmentasi
ekonomi-politik global menekan aktivitas ekspor. Begitu pun aktivitas investasi
yang mengalami stagnasi di tahun politik ini. Pengeluaran pemerintah menjadi penyangga
utama agar siklus perlambatan bisa ditahan (counter cycle). Di situlah perlunya
kebijakan fiskal yang solid dan kredibel alias bisa dipertanggung jawabkan. Bank
Dunia dalam Global Economic Prospects (GEP) edisi Januari 2024 menyoroti
suramnya perekonomian global. Pertumbuhan global 2024 diproyeksikan mencapai
2,4 % atau mengalami penurunan selama tiga tahun berturutan atau lebih rendah
dibandingkan perkiraan pertumbuhan 2023 sebesar 2,6 %. Sementara pertumbuhan
ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 4,9 % pada 2024 dan 2025. Siklus
perekonomian kita, meski tak seburuk dinamika global, tetap saja mengalami gejala
perlambatan.
Untuk keluar dari jebakan stagnasi ini, Bank Dunia menawarkan
jalan keluar melalui akselerasi investasi berkelanjutan. Sejak lama, lembaga
ini memberikan perhatian pada investasi dan produktivitas sebagai strategi
utama melawan perlambatan ekonomi pasca pandemi. Persoalannya, bagaimana
menerjemahkan strategi besar tersebut dalam konteks kebijakan ekonomi kita.
Pemilu 2024 bisa menjadi peluang agar konsolidasi kebijakan ekonomi lebih fokus
pada peningkatan produktivitas melalui akselerasi investasi berbasis inovasi. Dibanding
banyak negara lain, kita punya peluang lebih besar untuk melakukan transformasi
struktural agar investasi berbasis inovasi bisa terakselerasi dalam jangka
panjang. Pembangunan infrastruktur yang sudah dijalankan hampir sepuluh tahun
terakhir menjadi modal penting. Siapa pun pemenang pemilihan presiden perlu
melakukan ”destruksi kreatif” dalam kerangka keberlanjutan. (Yoga)
Jaga Keberlanjutan JKN
Satu dekade Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berjalan di
Indonesia. Berbagai manfaat program ini dinikmati warga seiring perbaikan akses
dan pembiayaan. Namun, perjalanan panjang pelaksanaan JKN-Kartu Indonesia Sehat
(JKN-KIS) masih menemui sejumlah tantangan. Selain ancaman defisit anggaran
pengelolaan program ini, kualitas layanan bagi peserta juga belum merata. Dalam
10 tahun, angka peserta program JKN terus naik hingga 96 % dari total penduduk
Indonesia. Data BPJS Kesehatan menunjukkan, jumlah peserta pada tahun 2014
sebanyak 133,4 juta orang dan meningkat menjadi 267,3 juta peserta pada tahun
2023. Sementara total pemanfaatan JKN meningkat signifikan.
Pada 2014 rata-rata total pemanfaatan layanan itu per hari 252.000
pemanfaatan. Sementara tahun 2023 tercatat 1,6 juta per hari. Akibatnya, biaya
kesehatan itu meningkat dari Rp 42,6 triliun pada 2014 menjadi Rp 158,8 triliun
pada 2023 (Kompas, 12/2). Sejumlah perbaikan patut diapresiasi. Dengan berbagai
inovasi yang dilakukan, kualitas layanan makin baik. Penerapan digitalisasi
juga mempermudah warga mengakses layanan dalam program ini. Melalui aplikasi,
peserta bisa mendapat berbagai informasi JKN, mengubah data, mendaftar layanan
di fasilitas kesehatan, konsultasi dokter, hingga mengadukan layanan yang
bermasalah. Dari sisi pendanaan, setelah selalu dinyatakan defisit, dana jaminan
kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan dalam kondisi positif.
Aset bersih dana jaminan sosial kesehatan yang dikelola BPJS
Kesehatan meningkat pesat sejak 2021 dan tercatat Rp 56,51 triliun pada tahun
2022 sehingga bisa mencukupi pembayaran klaim beberapa bulan ke depan. Namun,
layanan program ini menghadapi sejumlah tantangan. Di beberapa daerah,
fasilitas kesehatan, peralatan medis, dan tenaga kesehatan terbatas.
Ketimpangan layanan kesehatan antar daerah menyebabkan sebagian peserta JKN
sulit mengakses layanan dan harus antre untuk berobat di fasilitas kesehatan
mitra BPJS Kesehatan. Selain itu, keberlanjutan JKN dibayangi ancaman defisit dana
pengelolaan, seiring semakin banyaknya peserta memanfaatkan layanan dan perluasan
manfaat. Di sisi lain, iuran peserta tak naik dan banyak peserta tak aktif atau
menunggak membayar iuran. Untuk itu, memasuki sepuluh tahun implementasi JKN, perbaikan
pengelolaan anggaran dan layanan menjadi keniscayaan. (Yoga)
Potret Rentan Ekonomi Musiman
Dalam 11 tahun terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh stagnan pada kisaran 5 %. Kinerja ekonomi lebih banyak bergantung pada siklus bisnis dan faktor pola musiman sesaat, seperti pergerakan harga komoditas dunia, hari raya besar keagamaan, dan musim liburan. Dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada pola musiman itu, arah pertumbuhan ekonomi di setiap triwulan (tiga bulanan) biasanya sudah bisa ditebak. Jika divisualisasikan, sepanjang tahun, pola pertumbuhan ekonomi seperti kurva melengkung yang naik sesaat lalu turun secara beruntun. Sesuai polanya, ekonomi akan selalu menyentuh pertumbuhan tertinggi di setiap triwulan II (April-Juni). Pada periode itu, ada momen Ramadhan, Idul Fitri, dan musim liburan sekolah. Daya beli masyarakat pun sedang naik-naiknya setelah menerima THR. Pada periode ini, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama ekonomi negara biasanya akan tumbuh lebih tinggi.
Sebaliknya, pada triwulan lainnya, pertumbuhan ekonomi cenderung moderat, bahkan tumbuh minus. Triwulan I (Januari-Maret), misalnya, menggambarkan periode low season dengan mobilitas masyarakat tidak setinggi triwulan IV saat ada momen liburan akhir tahun. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) ketergantungan ekonomi Indonesia yang cukup kuat terhadap momen musiman sesaat itu salah satunya tampak dari pertumbuhan ekonomi 2023, seiring melemahnya harga komoditas dunia dan tidak adanya musim liburan, ekonomi pada triwulan III-2023 hanya tumbuh 4,94 % secara tahunan dan 1,6 % secara triwulanan. Padahal, sebelumnya, pada triwulan II-2023, ekonomi tumbuh 5,17 % secara tahunan dan 3,86 % secara triwulanan, yang ditopang faktor musiman, seperti Ramadhan, Idul Fitri, Paskah, Idul Adha, Waisak, dan masa libur panjang sekolah.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, perekonomian
Indonesia yang cenderung tumbuh tinggi hanya selama periode harga komoditas
tinggi atau peristiwa musiman menunjukkan potret kondisi ekonomi yang rentan. Kerentanan
ekonomi ini, adalah isu yang belum terselesaikan oleh pemerintahan Jokowi dan
perlu dihadapi oleh pemerintahan berikutnya. Indonesia butuh sumber pertumbuhan
ekonomi baru yang lebih stabil dan kokoh agar tidak terlalu mudah terbuai
siklus harga komoditas dan faktor musiman sesaat. Direktur Eksekutif Center of
Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan, jika pertumbuhan
ekonomi Indonesia bergantung pada faktor dan siklus sesaat, jalan Indonesia menjadi
negara maju pada 2045 semakin sulit. Sebab, untuk mencapai titik itu, pertumbuhan
ekonomi saat ini seharusnya sudah bisa menembus 6 %. Menurut Faisal, Indonesia
butuh industrialisasi yang bukan hanya hilirisasi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









