;

Potret Rentan Ekonomi Musiman

Ekonomi Yoga 13 Feb 2024 Kompas
Potret Rentan
Ekonomi
Musiman

Dalam 11 tahun terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh stagnan pada kisaran 5 %. Kinerja ekonomi lebih banyak bergantung pada siklus bisnis dan faktor pola musiman sesaat, seperti pergerakan harga komoditas dunia, hari raya besar keagamaan, dan musim liburan. Dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada pola musiman itu, arah pertumbuhan ekonomi di setiap triwulan (tiga bulanan) biasanya sudah bisa ditebak. Jika divisualisasikan, sepanjang tahun, pola pertumbuhan ekonomi seperti kurva melengkung yang naik sesaat lalu turun secara beruntun. Sesuai polanya, ekonomi akan selalu menyentuh pertumbuhan tertinggi di setiap triwulan II (April-Juni). Pada periode itu, ada momen Ramadhan, Idul Fitri, dan musim liburan sekolah. Daya beli masyarakat pun sedang naik-naiknya setelah menerima THR. Pada periode ini, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama ekonomi negara biasanya akan tumbuh lebih tinggi. 

Sebaliknya, pada triwulan lainnya, pertumbuhan ekonomi cenderung moderat, bahkan tumbuh minus. Triwulan I (Januari-Maret), misalnya, menggambarkan periode low season dengan mobilitas masyarakat tidak setinggi triwulan IV saat ada momen liburan akhir tahun. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) ketergantungan ekonomi Indonesia yang cukup kuat terhadap momen musiman sesaat itu salah satunya tampak dari pertumbuhan ekonomi 2023, seiring melemahnya harga komoditas dunia dan tidak adanya musim liburan, ekonomi pada triwulan III-2023 hanya tumbuh 4,94 % secara tahunan dan 1,6 % secara triwulanan. Padahal, sebelumnya, pada triwulan II-2023, ekonomi tumbuh 5,17 % secara tahunan dan 3,86 % secara triwulanan, yang ditopang faktor musiman, seperti Ramadhan, Idul Fitri, Paskah, Idul Adha, Waisak, dan masa libur panjang sekolah.

Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, perekonomian Indonesia yang cenderung tumbuh tinggi hanya selama periode harga komoditas tinggi atau peristiwa musiman menunjukkan potret kondisi ekonomi yang rentan. Kerentanan ekonomi ini, adalah isu yang belum terselesaikan oleh pemerintahan Jokowi dan perlu dihadapi oleh pemerintahan berikutnya. Indonesia butuh sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih stabil dan kokoh agar tidak terlalu mudah terbuai siklus harga komoditas dan faktor musiman sesaat. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung pada faktor dan siklus sesaat, jalan Indonesia menjadi negara maju pada 2045 semakin sulit. Sebab, untuk mencapai titik itu, pertumbuhan ekonomi saat ini seharusnya sudah bisa menembus 6 %. Menurut Faisal, Indonesia butuh industrialisasi yang bukan hanya hilirisasi. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :