Potret Rentan Ekonomi Musiman
Dalam 11 tahun terakhir, perekonomian Indonesia tumbuh stagnan pada kisaran 5 %. Kinerja ekonomi lebih banyak bergantung pada siklus bisnis dan faktor pola musiman sesaat, seperti pergerakan harga komoditas dunia, hari raya besar keagamaan, dan musim liburan. Dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada pola musiman itu, arah pertumbuhan ekonomi di setiap triwulan (tiga bulanan) biasanya sudah bisa ditebak. Jika divisualisasikan, sepanjang tahun, pola pertumbuhan ekonomi seperti kurva melengkung yang naik sesaat lalu turun secara beruntun. Sesuai polanya, ekonomi akan selalu menyentuh pertumbuhan tertinggi di setiap triwulan II (April-Juni). Pada periode itu, ada momen Ramadhan, Idul Fitri, dan musim liburan sekolah. Daya beli masyarakat pun sedang naik-naiknya setelah menerima THR. Pada periode ini, konsumsi rumah tangga sebagai motor utama ekonomi negara biasanya akan tumbuh lebih tinggi.
Sebaliknya, pada triwulan lainnya, pertumbuhan ekonomi cenderung moderat, bahkan tumbuh minus. Triwulan I (Januari-Maret), misalnya, menggambarkan periode low season dengan mobilitas masyarakat tidak setinggi triwulan IV saat ada momen liburan akhir tahun. Berdasarkan kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) ketergantungan ekonomi Indonesia yang cukup kuat terhadap momen musiman sesaat itu salah satunya tampak dari pertumbuhan ekonomi 2023, seiring melemahnya harga komoditas dunia dan tidak adanya musim liburan, ekonomi pada triwulan III-2023 hanya tumbuh 4,94 % secara tahunan dan 1,6 % secara triwulanan. Padahal, sebelumnya, pada triwulan II-2023, ekonomi tumbuh 5,17 % secara tahunan dan 3,86 % secara triwulanan, yang ditopang faktor musiman, seperti Ramadhan, Idul Fitri, Paskah, Idul Adha, Waisak, dan masa libur panjang sekolah.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, perekonomian
Indonesia yang cenderung tumbuh tinggi hanya selama periode harga komoditas
tinggi atau peristiwa musiman menunjukkan potret kondisi ekonomi yang rentan. Kerentanan
ekonomi ini, adalah isu yang belum terselesaikan oleh pemerintahan Jokowi dan
perlu dihadapi oleh pemerintahan berikutnya. Indonesia butuh sumber pertumbuhan
ekonomi baru yang lebih stabil dan kokoh agar tidak terlalu mudah terbuai
siklus harga komoditas dan faktor musiman sesaat. Direktur Eksekutif Center of
Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menambahkan, jika pertumbuhan
ekonomi Indonesia bergantung pada faktor dan siklus sesaat, jalan Indonesia menjadi
negara maju pada 2045 semakin sulit. Sebab, untuk mencapai titik itu, pertumbuhan
ekonomi saat ini seharusnya sudah bisa menembus 6 %. Menurut Faisal, Indonesia
butuh industrialisasi yang bukan hanya hilirisasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023