Hilirisasi untuk Siapa?
Hilirisasi adalah pemurnian mineral untuk mendapatkan nilai
tambah dari hasil tambang, khususnya nikel yang banyak ada di Sulteng, Sultra,
dan Maluku Utara. Hilirisasi sangat penting tidak hanya untuk mendapatkan nilai
tambah, tetapi juga untuk industrialisasi. Pada awal 2000-an, dengan kebutuhan
nikel yang besar di China dan harga yang menarik, mulailah tambang-tambang nikel
yang tersebar di Sultra dan Sulteng mengekspor nikel dalam bentuk bijih nikel
mentah tanpa nilai tambah. Pada era pemerintahan Jokowi dengan UU No 3/2020 hilirisasi
booming dengan memberi banyak kemudahan dan insentif. Dengan aturan baru ini,
banyak investasi atau penanaman modal asing dari China masuk ke industri
smelter nikel.
Hilirisasi sebagai program dan konsep tentu sangat penting
dan didukung semua pihak karena tujuannya untuk memajukan ekonomi nasional dengan
harapan memberi nilai tambah dan manfaat kepada masyarakat. Menurut Presiden
Jokowi, salah satu pencapaian luar biasa hilirisasi adalah pada 2022 ekspor
nikel mencapai 33,8 juta USD atau Rp 519 triliun. Dari ekspor nikel sebesar
itu, pendapatan negara berupa royalty (penerimaan negara bukan pajak/PNBP) yang
menurut PP No 26 Tahun 2022 tarifnya 2 % dari harga, tetapi khusus nikel hanya
1,5 %, sekitar Rp 8 triliun. PPN sangat kecil karena hampir semua pajak
ekspornya 0 %. PPh badan smelter mendapatkan fasilitas tax holiday sampai 20
tahun. Dari angka tersebut, ternyata pendapatan negara dari hilirisasi nikel
sangat kecil.
Pertumbuhan ekonomi daerah naik 15 % karena investasi dan
ekspor itu, tetapi pertumbuhan ini menimbulkan kesenjangan baru karena sebagian
besar dinikmati investor sendiri. Pendapatan para pengusaha daerah, seperti
petambang nikel,tentu besar dan pemerintah mendapat PPh dan PPN 1 % dari
penjualan dengan harga nikel yang lebih rendah, tetapi kerusakan lingkungan akibat
tambang juga besar. Pendapatan masyarakat akan berdampak pada angka kemiskinan.
Berdasarkan data BPS, 17 Juli 2023, tingkat kemiskinan di provinsi penghasil nikel
di Sultra, Sulteng, dan Maluku Utara dari tahun 2022 ke tahun 2023 justru naik.
Artinya, hilirisasi nikel tak mengurangi kemiskinan di provinsi-provinsi
tersebut. Lalu hilirisasi ini bermanfaat untuk siapa ? (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023