Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Romansa dan Cerita Rupiah di Batas Negara
Rombongan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 tiba di
terminal penumpang Pelabuhan Kelas III Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, Nunukan,
Kaltara, Sabtu (24/2) setelah menempuh 10 jam perjalanan dari Dermaga Pangkalan
Utama TNI AL XIII Tarakan. Rombongan ERB 2024 terdiri dari pegawai BI, prajurit
TNI AL, dan anggota Baznas. Misinya, memberi layanan penukaran uang rupiah dan
layanan kesehatan, juga menyalurkan bantuan program sosial kepada masyarakat
yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Harian Kompas
dan beberapa media lain bergabung dalam rombongan ini. Warung Muliyati (48) hanya
berjarak 10 langkah dari Patok Perbatasan Indonesia-Malaysia (PB-02) Sebatik.
Meski Muliyati mengantongi identitas warga negara Indonesia, warungnya terletak
di luar patok perbatasan atau berdiri di wilayah negeri jiran. Warung yang diba
ngun Muliyati pada Juni 2023 itu kerap disambangi pelancong yang tergugah untuk
melihat batas negara sekaligus mengunjungi Wisata Rumah Dua Negara.
”Di sini, orang bisa membayar pakai dua mata uang, ringgit
dan rupiah, ada juga yang pakai QRIS. Tapi, paling banyak pembayaran pakai rupiah,”
katanya. Peredaran kedua mata uang itu menjadi fenomena yang wajar mengingat
kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan hanya dibatasi garis imajiner yang
memisahkan teritori dua negara. Beberapa meter dari patok perbatasan, sejumlah
prajurit TNI selalu mencatat lalu lalang warga lintas negara. Barang dagangan
di warung Muliyati yang banyak diminati pembeli adalah ragam produk minuman
saset buatan Malaysia. Kehidupan di perbatasan tidak hanya berkait urusan ekonomi
bagi Muliyati, tetapi juga menyangkut urusan keluarga. Muliyati menikah dengan
warga negara Malaysia dan dikaruniai enam anak. ”Saya orang Indonesia, tetapi
menikah dengan orang Malaysia. Anak saya Malaysia semua. Tapi, saya tetap cinta
Indonesia,” imbuhnya.
Sugianto (66) pemilik kebun sawit di Desa Aji Kuning,
Kabupaten Nunukan, menceritakan, tak sedikit orang Malaysia yang tinggal di
perbatasan membeli hasil kebun sawitnya. Kendati demikian, Sugianto yang kerap
singgah di warung Muliyati untuk sekadar menikmati secangkir kopi masih menyimpan
uang rupiah dalam jumlah lebih banyak ketimbang ringgit. Ringgit yang ia terima
akan ditukarkan dengan rupiah di bank atau digunakan untuk membeli kebutuhan
pokok di kota Tawau, Sabah, Malaysia, yang terpisah perairan laut dengan Pulau
Sebatik, karena lebih dekat dan harga barang-barang kebutuhan pokok di Tawau
pun lebih murah ketimbang di kota terdekat di wilayah Indonesia. Harga 10 kg beras,
27 ringgit 60 sen atau Rp 90.000. Sementara beras domestik Rp 130.000 per 10
kg. Harga minyak goreng di Malaysia Rp 16.000 per liter. Sementara minyak
goreng dalam negeri Rp 20.000 per liter. (Yoga)
Dapur Umum Jadi Andalan Mahasiswa AS
Susah sekali menjadi mahasiswa di AS. Tidak hanya terlilit utang
pinjaman kuliah, sekarang banyak mahasiswa yang kesulitan membeli makanan. Saking
tidak punya uang untuk memasak sendiri atau makan di kantin, mereka mengandalkan
dapur umum gratis. Karenanya, Universitas West Virginia menambah dapur umum mereka.
Dilaporkan oleh surat kabar lokal, Dominion Post, Jumat (23/2) di perguruan
tinggi itu kini ada dapur umum di tiga lokasi. Sejak tahun 2010, masalah
kesulitan membeli makanan di kalangan mahasiswa telah menjadi perhatian.
”Dulu, mahasiswa selalu bercanda, makanan pokoknya mi instan.
Sekarang, untuk membeli mi saja tidak bisa,” kata Sydni Vega, Asisten Pengawas Keterlibatan
dan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas West Virginia. Ia bertanggung jawab atas
operasionalisasi dapur umum di sana. Selama periode 2022-2023, ada 1.000
mahasiswa yang bergantung pada dapur umum ini. Menurut angket Universitas West
Virginia, uang kuliah yang terus naik, disertai meningkatnya harga sewa kamar
indekos ataupun asrama mengakibatkan uang mahasiswa terkuras. Selain itu,
mereka juga masih harus membeli peralatan kuliah, seperti alat tulis, komputer,
dan penunjang lain. Makanan bergizi semakin tergeser dari daftar prioritas.
”Kesulitan membeli makanan membuat mahasiswa sakit, tidak
produktif, depresi, serta berdampak buruk pada kehidupan akademis dan sosial mereka,”
demikian tulis laporan angket tersebut. Media CBS edisi Rabu (21/2) menerbitkan
laporan hasil penelitian Universitas Temple bersama Universitas California Davis,
menemukan, di AS, satu dari tiga mahasiswa kelaparan. Mulai dari kampus besar
dan elite sampai kampus kecil, semua mengalami kasus kesulitan membeli makanan.
Setiap hari mahasiswa yang tidak memiliki uang ini mengantre di dapur umum
untuk makan.
Dapur umum
mengandalkan sumbangan dari masyarakat lokal. Sejumlah kampus dan asrama
mengembangkan lahan pertanian sendiri, termasuk pertanian hidroponik. Hasil
panennya disumbangkan ke dapur umum. Kegiatan memasak dan pelayanannya dikelola
unit kerja mahasiswa. ”Setiap hari saya mengantre 90 menit supaya dapat kursi
di dapur umum,” kata Erin Cashin, mahasiswa tingkat akhir di UC Davis. Ia
bahkan mengatur jadwal kuliahnya sedemikian rupa agar bisa memastikan memperoleh
makanan di dapur umum. (Yoga)
Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir Balik Mengelola Keuangan
Sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun jumpalitan
mengatur pengeluaran. Salah satu caranya dengan menambah pekerjaan lantaran sisa
gajinya kurang dari nol alias minus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari
102,48 juta penduduk usia 17-40 tahun, sebanyak 48,49 juta orang atau 47,32 %
tergolong dalam masyarakat calon kelas menengah. Yang tergolong kelas menengah sebesar
21,01 juta orang (20,51 %) sedangkan yang kaya hanya 463.469 orang (0,45 %). Rentang
usia 17-40 tahun oleh KPU dikategorikan sebagai pemilih muda. Pemilih muda yang
masuk kelompok calon kelas menengah, ternyata pengeluarannya lebih besar dari
pendapatannya.
Mereka tak punya sisa gaji bahkan minus Rp 181.724 per kapita
per bulan. Sementara pemilih muda yang masuk kategori kelas menengah juga
pendapatannya minus Rp 65.529 per kapita per bulan. Angka-angka tersebut adalah
hasil pengolahan data mikro pengeluaran dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) 2021 serta pendapatan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas)
2021. Berdasarkan data pengeluaran dan pendapatan itu, Bank Dunia mengelompokkan
menjadi calon kelas menengah (pengeluaran 1,5-3,5 kali lipat garis kemiskinan
per kapita per bulan) dan kelas menengah (3,5-17 kali lipat).
Ani (27), warga Kaltim, harus bekerja keras mencari tambahan
untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di rekeningnya untuk kebutuhan hidup. Saat
ini, ia bekerja sebagai pekerja lepas di bidang fotografi, copy writer, dan
kreator konten. Dalam sebulan, pengeluarannya Rp 6 juta untuk menghidupi dua
anggota keluarga di rumah, dimana, 40 % atau Rp 2,4 juta digunakan untuk biaya
makan harian. Sementara biaya operasional listrik, air, dan internet Rp 800.000.
Dia juga bertekad mengumpulkan tabungan dana pendidikan untuk anaknya menggunakan
instrument investasi reksadana dengan besaran Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Nominalnya tak menentu bergantung jumlah proyek yang diterimanya bulan itu.
Jika butuh uang mendadak, dia biasanya pinjam uang ke teman dekat atau kantor
dan menghindari meminjam dari pinjaman daring.
Dedi Setiawan (30) warga Konawe Selatan, Sultra, setahun ini
bekerja sebagai pengontrol kualitas pengelasan di galangan kapal. Setelah
mendapat promosi jabatan, gaji Dedi naik Rp 300.000 menjadi Rp 3,2 juta per
bulan. Kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta membuat Dedi bisa menyisihkan
gajinya untuk tabungan. Pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari, susu, dan
popok untuk tiga anak balitanya serta cicilan perabot rumah mencapai Rp 3,5
juta per bulan. ”Ini belum bisa nabung. Hidup pas-pasan, ngepres banget, untuk
membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya tak terduga,” kata Dedi, awal
Februari lalu. Untuk menutupi biaya pengeluarannya yang minus, Dedi bekerja
sampingan berjualan tas daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi memainkan
peran sebagai reseller tas berjenama Imori yang dibeli dari Batam, Kepri. ”Lumayan,
per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi.
(Yoga)
Kelas Menengah Indonesia Sulit Menjadi Orang Kaya
Ada kesenjangan sisa gaji per bulan antara kelas menengah dan
kelas kaya usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2021. Sisa gaji warga kelas
atas Rp 1,59 juta per orang per bulan yang nilainya setara 3,64 kali lebih
besar dari warga kelas menengah. Dengan rata-rata sisa gaji kelas menengah pada
2021 senilai Rp 435.888 per bulan, tidak banyak uang yang bisa ditabung dan
diinvestasikan. Kondisi ini menyulitkan kelas menengah yang jumlahnya 38,5 juta
jiwa (20,7 % penduduk Indonesia) naik kelas menjadi orang kaya. Sebagai
gambaran, untuk membeli 1 gram emas senilai Rp 1,1 juta (Antam per 9 Februari
2024), kelas menengah dan kelas kaya membutuhkan waktu yang berbeda.
Warga kelas menengah perlu dua bulan untuk membeli 1 gram emas.
Adapun warga kaya hanya membutuhkan waktu 21 hari. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas
menemukan fakta itu dari olahan data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS tahun 2012-2021. Sisa gaji
merupakan selisih pendapatan dengan pengeluaran rata-rata per orang per bulan
dari warga usia produktif usia 15-64 tahun. Pendapatan yang dimaksud berasal dari
pekerjaan utama warga.
Kelas menengah yang merujuk pada publikasi Bank Dunia
berjudul ”Aspiring Indonesia-Expanding The Middle Class (2019)”. Bank Dunia membagi
kelas menengah menjadi dua kelompok, yakni calon kelas menengah (aspiring
middle class) dan kelas menengah (middle class). Rentang pengeluaran kelas
menengah adalah 3,5 hingga 17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan.
Merujuk garis kemiskinan BPS (2021), rentang pengeluaran kelas menengah Rp 1,7
juta-Rp 8,2 juta per orang per bulan.
Rachmat Fadillah (43), pengojek daring di Tangsel, Banten,
menjadi bagian dari kelas menengah usia produktif. Rachmat harus bekerja dari
pukul 06.00 hingga tengah malam untuk menutupi kebutuhan harian. ”Akun saya lagi
’anyep’, nih, sulit dapat orderan,” kata bapak dua anak ini. Meski sudah
bekerja seharian, Rachmat baru mendapat uang Rp 150.000 setiap harinya. Jika
bekerja enam hari per minggu, ia bisa mendapatkan uang Rp 3,9 juta sebulan. Pendapatan
itu tidak bisa menutupi pengeluaran keluarganya sebesar Rp 6 juta per bulan kebutuhan
hidup sehari-hari dan membiayai kuliah anak pertamanya di Kota Bandung. (Yoga)
Aku Punya Tabungan, maka Aku Aman
Memiliki tabungan adalah sebuah keniscayaan. Namun, bukan
perkara mudah bagi sebagian kelas menengah menabung sisa gaji. Alih-alih
bersisa, pendapatan justru habis untuk menyambung hidup. Arin Setiawan (24),
buruh pabrik di Jayapura, Papua, menceritakan kesulitan itu. ”Sejak kecil, saya
terbiasa hidup hemat. Apalagi sekarang ada target ke depan, jadi harus bisa semakin
menahan diri untuk segala hal yang tidak terlalu penting,” ucapnya, Senin (29/1)
malam. Sederhana yang dimaksud tergambar pada minuman yang dipesannya,
secangkir cokelat seharga Rp 7.000. Ia pun memilih pakaian merek lokal dengan
harga terjangkau. Ia pun mengedit memakai ponsel bekasnya, untuk menunjang
pekerjaan, karena tidak memiliki laptop. Selesai SMA pada 2019, Arin lebih
banyak berkecimpung sebagai pekerja lepas di bidang videografi. Pertengahan 2023,
ia bekerja sebagai buruh pabrik dengan sumber penghasilan tetap dari Senin
hingga Jumat pukul 08.00-17.00. Hari Sabtu, ia masuk kantor setengah hari. Disela
waktu luangnya, dia manfaatkan untuk proyek videografi yang setiap bulan
mendapat satu atau dua garapan dengan pendapatan Rp 2 juta- Rp 5 juta.
Pengeluarannya berkisar Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per bulan untuk
bayar indekos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Ia mengirimkan sebagian uang
untuk ibunya yang tinggal di kota lain. ”Saya berusaha menabung 40 %
pendapatan. Jika ada kebutuhan lain, saya menunda sehingga pengeluaran tetap
tidak lebih dari 60 %,” ujarnya. Arin yakin dengan cara tersebut akan
membawanya pada target tabungan rumah dan modal menikah. Stigma hidup boros,
kesulitan menabung, dan terjebak utang agaknya melekat pada kelompok kelas
menengah. Padahal, belum tentu gajinya digunakan untuk hal konsumtif. Merujuk
pada Bank Dunia, kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran pada
rentang 3,5-17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan. Hitungan Kompas,
pengeluarannya Rp 1,7 juta-Rp 8,2 juta per kapita per bulan. Hidup di wilayah
Indonesia timur sering terdengar sulit.
Ria Tanlain (27), pengelola penginapan keluarga di Maluku
Tenggara. ”Setelah pindah (Maluku) malah lebih hemat, mungkin karena ini
tempatnya kecil dan tidak banyak apa-apa, jadi bisa menabung. Membeli barang
dari Pulau Jawa juga jarang karena mahal,” kata Ria yang pernah merantau enam
tahun di Surabaya. Untuk berhemat, dia juga jarang membeli makan di restoran,
tetapi memasak di rumah. Ia juga tak banyak bepergian ke luar kota. Ini sejalan
dengan pekerjaan tambahan yang dilakukannya sebagai ilustrator. Dengan
pendapatan Rp 7 juta per bulan, dia menyisihkan 45 % untuk investasi dan
tabungan. ”Menjaga tabungan penting karena bila ikut tren, tabungan setiap
tahun pasti habis,” kata Ria. Memiliki tabungan tak hanya membuat aman, tetapi
juga lebih tenang. (Yoga)
Manis Legit Kue Warisan Nenek
Berbekal resep dari nenek, sejumlah produsen kue tradisional
terus berinovasi agar bisa merebut lidah dan hati warga urban yang akrab dengan
roti dan aneka pastri. Mereka mempertahankan rasa dan memoles citra ke level
premium. Dengan cara itu, gerai kue tradisional eksis di mal, bandara, hingga
istana. Di kompleks ruko Villa Melati Mas, Serpong, Tangsel, Banten, Rabu (21/2)
sejumlah pekerja produsen dan toko kue tradisional Iki Koue Citarasa Nusantara mengirim
pesanan ke pelanggan penting. Kontainer plastik dan kardus berisi aneka kue
tradisional berpenampilan cantik dan menggugah selera dikirim untuk pelantikan
menteri baru di Istana Negara pagi itu.
Setiap hari, dapur Iki Koue menerima pesanan paling lambat
pukul 17.00 untuk diantarkan keesokan harinya, ujar Laura Wiramihardja, salah
satu pendiri sekaligus pemilik Dapur Iki Koue, yang bisa membuat 46 macam kue tradisional,
dari yang manis dan asin. Sampai yang dikukus, digoreng, atau dibuat bolu. Ada
juga aneka bubur tradisional ala jajanan pasar, yang bisa dikemas dalam mangkuk
plastik atau dalam paket besar di beberapa bejana tanah liat. Semua kue dan bubur
dibuat dengan resep dan cita rasa orisinal warisan keluarga. Rentang harganya mulai
Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per potong atau sajian. Segmen pasar Iki Koue berkategori
premium sehingga harga menyesuaikan.
Iki Koue juga membuka gerai di salah satu mal eksklusif di
kawasan Senopati, Jakarta. Di sana pengunjung dapat menikmati menu inovatif,
aneka bubur jajanan pasar, yang ditempatkan di dalam wadah eksotik dari tanah
liat tadi. Para tamu dapat memilih sendiri topping tambahan meniru cara penyajian
produk yoghurt merek kekinian. Selain itu, penataan gerai yang cantik memungkinkan
para pembeli jika ingin berfoto dan mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pendekatan-pendekatan
itu dilakukan terutama untuk menarik pembeli muda, yang dinilai mulai kurang
akrab dengan jajanan tradisional.
Monami Bakery juga tetap eksis di pasar kue tradisional kelas
premium sejak 1976, ketika gaya hidup ngemal menjangkiti warga Urban, Monami
juga masuk ke mal, dengan 38 gerai yang tersebar di mal, toko, dan bandara. Sandi
Gunawan dan istrinya, Florean Hadinata bilang, kunci keberhasilan usaha mereka
bertahan selama ini adalah selalu berusaha mempertahankan rasa otentik sesuai
warisan nenek dan membuat produk yang inovatif. Salah satunya, menggunakan santan
segar dari kelapa tua utuh. ”Bahkan, untuk membuat kue lumpur, kami masih menggunakan
arang untuk memanaskan bagian atas kue seperti cara nenek dulu. Kami akan terus
mempertahankan agar rasa kue dan kelumerannya sama seperti buatan beliau,” ucap
Florean. (Yoga)
Eskalator Stasiun Manggarai dan Kisah ”Boncos” Pengguna Angkutan Umum
Eskalator yang mati di Stasiun Manggarai, Jaksel, sore itu
tiba-tiba bergerak sendiri, membuat calon penumpang yang menaiki tangga
berjalan itu terkejut. Apalagi eskalator itu bergerak turun, berlawanan arah
dengan langkah mereka. Dalam video di kanal Youtube Kompas TV dan media sosial
lain, terekam kepanikan orang-orang, mereka berteriak, dan ada yang terjatuh. Siaran
pers resmi dari PT KAI Commuter Indonesia (KCI) pada Kamis (22/2) menyatakan,
insiden itu terjadi pada Rabu (21/2) pukul 18.06 di eskalator menuju peron 11 dan
12. Tidak ada korban jiwa dan luka. Petugas di stasiun sigap menolong mereka
yang jatuh. Kejadian itu menambah panjang daftar berbagai gangguan fasilitas di
stasiun kereta komuter di Jabodetabek.
Dengan berbagai kekurangannya, kualitas layanan angkutan umum
kereta komuter Jabodetabek dan jaringan bus Transjakarta diakui membaik berkali
lipat dibandingkan 10-20 tahun lalu. Bangunan stasiun dan halte saat ini sudah
sangat bagus. Armada bus atau rangkaian kereta dalam kondisi di atas lumayan. Pembangunan
angkutan umum terbukti sukses menarik pekerja kerah biru yang masuk kelas
ekonomi menengah menjadi pengguna setia. Para pekerja ini mendominasi jumlah
penduduk Jabodetabek yang menembus 30 juta jiwa. Mereka datang dari banyak
daerah untuk mengejar rezeki di aglomerasi urban terbesar di Indonesia
sekaligus pusat ekonomi.
Bepergian dengan KRL dan bus Transjakarta yang memiliki jalur
khusus dipastikan memangkas waktu perjalanan. Walaupun berdiri sepanjang waktu
dan berdesakan, sebagian pengguna menyebutkan bahwa naik angkutan umum tak
selelah mengendarai sepeda motor berjam-jam di tengah kepadatan lalu lintas dan
terpaan asap kendaraan bermotor, juga kebisingan. Daya tarik lain beralih naik angkutan
umum adalah biaya bisa ditekan dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi,
khususnya mobil. Meskipun demikian, menggunakan angkutan umum tidak sehemat dan
seefektif yang dibayangkan, karena cakupan layanan dan integrasi antarmoda
belum maksimal. Akibatnya, pengguna tetap harus memakai kendaraan pribadi atau
angkutan daring untuk mengakses angkutan umum terdekat.
Hasil survei Dewan Transportasi Kota Jakarta pada 2021,
sebanyak 62,6 % pengguna transportasi umum di Jakarta harus merogoh kocek Rp
500.000 per bulan. Kemudian 25,7 % mengeluarkan Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Sebanyak 7,2 % lainnya mengeluarkan Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan dan 4,9 %
merogoh Rp 2 juta. Biaya untuk transportasi umum itu di luar biaya transportasi
pribadi, termasuk kendaraan pribadi, ojek daring atau ojek pangkalan, dan
taksi. Jika setiap pengguna angkutan umum juga memakai kendaraan pribadi, total
pengeluaran pada 80 % responden berkisar Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan. Dengan
kenaikan harga BBM dan tarif dasar ojek daring dan taksi daring, pada 2024 ini
total biaya transportasi di Jakarta pun dipastikan naik. Angka itu terbilang
besar mengingat UMP DKI Jakarta dan kota sekitarnya pada 2024 rata-rata Rp 5
juta per bulan. Rasanya makin boncos alias terus rugi dan tak terlihat segera
ada solusi yang diidamkan. (Yoga)
Golkar Ingatkan Parpol Lain, Posisi Menteri Terbatas
Sejalan dengan keinginan calon presiden Prabowo Subianto
bahwa semua unsur akan dirangkul, Partai Golkar pun terbuka jika ada partai
politik lain yang ingin bergabung dalam koalisi pendukung calon presiden-calon wakil
presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Meski demikian, Partai Golkar
juga mengingatkan agar parpol yang akan ikut bergabung tak memaksakan jumlah
dan posisi menteri tertentu dalam kabinet Prabowo-Gibran. Hal itu, disampaikan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Firman Soebagyo saat dihubungi dari Jakarta,
Sabtu (24/2).
Menurut dia, dengan semakin banyak unsur yang bergabung dalam
koalisi pendukung Prabowo-Gibran, Koalisi Indonesia Maju (KIM), artinya semua
pihak harus menyadari ada keterbatasan posisi di kabinet nanti. Sejak
didaftarkan sebagai kandidat Pilpres 2024, Prabowo-Gibran didukung sembilan
parpol di KIM, yakni Partai Gerindra, Demokrat, Partai Golkar, PAN, PSI, PBB,
Partai Gelora, Partai Garuda, dan Partai Prima. Namun, beberapa hari setelah
pemungutan suara Pemilu 2024 usai, Presiden Jokowi yang juga ayah Gibran memanggil
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk menemuinya di Istana Merdeka,
Jakarta. Dalam kontestasi pilpres, Nasdem merupakan partai pendukung
capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
Sehari setelah pertemuan itu, Presiden mengungkap pertemuannya
dengan Paloh sebagai pertemuan politik. Presiden pun tak menampik saat ditanya apakah
ia menjembatani hubungan Partai Nasdem dengan Prabowo (Kompas.id, 19/2). Ketua
Dewan Pakar PAN Dradjad Wibowo mengakui, untuk memperkuat koalisi parpol
pendukung pemerintah ke depan, ada upaya melobi dari pihak Prabowo-Gibran ke
parpol pengusung Anies-Muhaimin ataupun Ganjar Pranowo-Mahfud MD agar masuk
dalam barisan koalisi (Kompas, 23/2). Firman menekankan, pembagian ”kue”
kekuasaan tidak selalu di kementerian. Mereka bisa berpartisipasi melalui
legislatif, dunia usaha, atau bahkan di sektor yudikatif. (Yoga)
Kenaikan Harga Beras Masih Bisa Berlanjut
Kenaikan harga beras diprediksi berlanjut setidaknya hingga
Maret 2024. Sebab, sejumlah sentra produksi belum memasuki musim panen raya.
Namun, pasokan beras dari Perum Bulog dinilai meredam kenaikan harga beras di
pasar. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) BI mencatat, harga rata-rata
beras nasional pada Jumat (23/2) mencapai Rp 15.650 per kg, naik 5,4 % dibanding
satu bulan sebelumnya atau naik 14,2 % dibanding Januari 2023. Ketua Koperasi
Pasar Induk Beras Cipinang Zulkifli Rasyid berpendapat, kondisi cuaca yang
tidak pasti mengakibatkan panen tidak jelas. Area panen relatif masih terbatas
sehingga harga beras belum dapat dipastikan kembali ke harga normal.
”Harga beras dipastikan kembali normal jika sudah panen raya.
Untuk itu, tingginya harga beras masih akan berlangsung hingga pertengahan atau
akhir Maret (2024),” katanya, Sabtu (24/2). BPS memperkirakan produksi beras
pada Maret 2024 mencapai 3,51 juta ton. Kendati neraca bulanan mulai surplus, volume
produksi pada Maret tahun ini lebih rendah dari realisasi produksi beras pada Maret
2023 yang mencapai 5,13 juta ton. Surplus beras pada Maret 2024 diperkirakan 970.000
ton atau lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Maret 2023 yang mencapai
2,59 juta ton (Kompas.id, 19/2/2024).
Menurut Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Kementan Mohammad Ismail Wahab, meski tidak setinggi Maret tahun lalu, panen
pada Maret tahun ini akan berdampak terhadap penurunan harga beras. Pada Maret
2024, produksi gabah kering giling (GKG) diperkirakan 6,1 juta ton atau turun
2,82 juta ton dari produksi Maret 2023 di 8,92 juta ton. Akan tetapi, angka produksi itu lebih tinggi
dari produksi GKG pada Januari dan Februari 2024, masing-masing 1,58 juta ton
dan 2,42 juta ton. Kendati harga masih tinggi, kata Mentan Zulkifli Hasan, stok
beras untuk kebutuhan warga Jakarta masih aman. Ia memastikan pasokan beras
dari Perum Bulog dapat meredam kenaikan harga beras di Ibu Kota. (Yoga)
Pola Rekrutan Tenaga Kerja Sektor Formal Bergeser
Model perekrutan tenaga kerja untuk pekerjaan formal mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan semakin diandalkannya faktor jejaring dan sistem perekrutan hibrida. Pada saat bersamaan, perusahaan juga cenderung mencari tenaga kerja yang sudah memiliki paket keterampilan siap pakai. Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar saat dihubungi, Jumat (23/2) di Jakarta, berpendapat, tak semua perusahaan mau menyediakan program pelatihan kerja bagi karyawan baru. Perusahaan saat ini dituntut cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan ketidakpastian kondisi perekonomian global.
”Perekrutan kandidat baru menggunakan faktor jejaring menitik beratkan pemberi rekomendasi harus bisa memastikan kandidat punya paket keterampilan siap kerja. Pemberi rekomendasi pasti mempertaruhkan kariernya,” ujar Timboel. Kendati pemerintah mewajibkan perusahaan-perusahaan melaporkan perkembangan ketenagakerjaannya, kenyataannya kebijakan ini tak berjalan optimal. Alasan pertama, adanya kecenderungan perusahaan mengandalkan perekrutan berbasis jejaring profesional ataupun agen. Alasan kedua, sistem basis data pasar ketenagakerjaan di Indonesia belum berkembang secara ideal. ”Situasinya berbeda dengan negara lain, di mana sistem informasi pasar kerja untuk lowongan pekerjaan sector formal selalu ter-update setiap minggu,” ucap Timboel. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









