;

Aku Punya Tabungan, maka Aku Aman

Aku Punya
Tabungan, maka
Aku Aman

Memiliki tabungan adalah sebuah keniscayaan. Namun, bukan perkara mudah bagi sebagian kelas menengah menabung sisa gaji. Alih-alih bersisa, pendapatan justru habis untuk menyambung hidup. Arin Setiawan (24), buruh pabrik di Jayapura, Papua, menceritakan kesulitan itu. ”Sejak kecil, saya terbiasa hidup hemat. Apalagi sekarang ada target ke depan, jadi harus bisa semakin menahan diri untuk segala hal yang tidak terlalu penting,” ucapnya, Senin (29/1) malam. Sederhana yang dimaksud tergambar pada minuman yang dipesannya, secangkir cokelat seharga Rp 7.000. Ia pun memilih pakaian merek lokal dengan harga terjangkau. Ia pun mengedit memakai ponsel bekasnya, untuk menunjang pekerjaan, karena tidak memiliki laptop. Selesai SMA pada 2019, Arin lebih banyak berkecimpung sebagai pekerja lepas di bidang videografi. Pertengahan 2023, ia bekerja sebagai buruh pabrik dengan sumber penghasilan tetap dari Senin hingga Jumat pukul 08.00-17.00. Hari Sabtu, ia masuk kantor setengah hari. Disela waktu luangnya, dia manfaatkan untuk proyek videografi yang setiap bulan mendapat satu atau dua garapan dengan pendapatan Rp 2 juta- Rp 5 juta.

Pengeluarannya berkisar Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per bulan untuk bayar indekos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Ia mengirimkan sebagian uang untuk ibunya yang tinggal di kota lain. ”Saya berusaha menabung 40 % pendapatan. Jika ada kebutuhan lain, saya menunda sehingga pengeluaran tetap tidak lebih dari 60 %,” ujarnya. Arin yakin dengan cara tersebut akan membawanya pada target tabungan rumah dan modal menikah. Stigma hidup boros, kesulitan menabung, dan terjebak utang agaknya melekat pada kelompok kelas menengah. Padahal, belum tentu gajinya digunakan untuk hal konsumtif. Merujuk pada Bank Dunia, kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran pada rentang 3,5-17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan. Hitungan Kompas, pengeluarannya Rp 1,7 juta-Rp 8,2 juta per kapita per bulan. Hidup di wilayah Indonesia timur sering terdengar sulit.

Ria Tanlain (27), pengelola penginapan keluarga di Maluku Tenggara. ”Setelah pindah (Maluku) malah lebih hemat, mungkin karena ini tempatnya kecil dan tidak banyak apa-apa, jadi bisa menabung. Membeli barang dari Pulau Jawa juga jarang karena mahal,” kata Ria yang pernah merantau enam tahun di Surabaya. Untuk berhemat, dia juga jarang membeli makan di restoran, tetapi memasak di rumah. Ia juga tak banyak bepergian ke luar kota. Ini sejalan dengan pekerjaan tambahan yang dilakukannya sebagai ilustrator. Dengan pendapatan Rp 7 juta per bulan, dia menyisihkan 45 % untuk investasi dan tabungan. ”Menjaga tabungan penting karena bila ikut tren, tabungan setiap tahun pasti habis,” kata Ria. Memiliki tabungan tak hanya membuat aman, tetapi juga lebih tenang. (Yoga) 

Tags :
#Varia #Keuangan
Download Aplikasi Labirin :