Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir Balik Mengelola Keuangan
Sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun jumpalitan
mengatur pengeluaran. Salah satu caranya dengan menambah pekerjaan lantaran sisa
gajinya kurang dari nol alias minus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari
102,48 juta penduduk usia 17-40 tahun, sebanyak 48,49 juta orang atau 47,32 %
tergolong dalam masyarakat calon kelas menengah. Yang tergolong kelas menengah sebesar
21,01 juta orang (20,51 %) sedangkan yang kaya hanya 463.469 orang (0,45 %). Rentang
usia 17-40 tahun oleh KPU dikategorikan sebagai pemilih muda. Pemilih muda yang
masuk kelompok calon kelas menengah, ternyata pengeluarannya lebih besar dari
pendapatannya.
Mereka tak punya sisa gaji bahkan minus Rp 181.724 per kapita
per bulan. Sementara pemilih muda yang masuk kategori kelas menengah juga
pendapatannya minus Rp 65.529 per kapita per bulan. Angka-angka tersebut adalah
hasil pengolahan data mikro pengeluaran dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) 2021 serta pendapatan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas)
2021. Berdasarkan data pengeluaran dan pendapatan itu, Bank Dunia mengelompokkan
menjadi calon kelas menengah (pengeluaran 1,5-3,5 kali lipat garis kemiskinan
per kapita per bulan) dan kelas menengah (3,5-17 kali lipat).
Ani (27), warga Kaltim, harus bekerja keras mencari tambahan
untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di rekeningnya untuk kebutuhan hidup. Saat
ini, ia bekerja sebagai pekerja lepas di bidang fotografi, copy writer, dan
kreator konten. Dalam sebulan, pengeluarannya Rp 6 juta untuk menghidupi dua
anggota keluarga di rumah, dimana, 40 % atau Rp 2,4 juta digunakan untuk biaya
makan harian. Sementara biaya operasional listrik, air, dan internet Rp 800.000.
Dia juga bertekad mengumpulkan tabungan dana pendidikan untuk anaknya menggunakan
instrument investasi reksadana dengan besaran Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Nominalnya tak menentu bergantung jumlah proyek yang diterimanya bulan itu.
Jika butuh uang mendadak, dia biasanya pinjam uang ke teman dekat atau kantor
dan menghindari meminjam dari pinjaman daring.
Dedi Setiawan (30) warga Konawe Selatan, Sultra, setahun ini
bekerja sebagai pengontrol kualitas pengelasan di galangan kapal. Setelah
mendapat promosi jabatan, gaji Dedi naik Rp 300.000 menjadi Rp 3,2 juta per
bulan. Kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta membuat Dedi bisa menyisihkan
gajinya untuk tabungan. Pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari, susu, dan
popok untuk tiga anak balitanya serta cicilan perabot rumah mencapai Rp 3,5
juta per bulan. ”Ini belum bisa nabung. Hidup pas-pasan, ngepres banget, untuk
membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya tak terduga,” kata Dedi, awal
Februari lalu. Untuk menutupi biaya pengeluarannya yang minus, Dedi bekerja
sampingan berjualan tas daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi memainkan
peran sebagai reseller tas berjenama Imori yang dibeli dari Batam, Kepri. ”Lumayan,
per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi.
(Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023