;

Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir Balik Mengelola Keuangan

Ekonomi Yoga 26 Feb 2024 Kompas
Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir
Balik Mengelola Keuangan

Sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun jumpalitan mengatur pengeluaran. Salah satu caranya dengan menambah pekerjaan lantaran sisa gajinya kurang dari nol alias minus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari 102,48 juta penduduk usia 17-40 tahun, sebanyak 48,49 juta orang atau 47,32 % tergolong dalam masyarakat calon kelas menengah. Yang tergolong kelas menengah sebesar 21,01 juta orang (20,51 %) sedangkan yang kaya hanya 463.469 orang (0,45 %). Rentang usia 17-40 tahun oleh KPU dikategorikan sebagai pemilih muda. Pemilih muda yang masuk kelompok calon kelas menengah, ternyata pengeluarannya lebih besar dari pendapatannya.

Mereka tak punya sisa gaji bahkan minus Rp 181.724 per kapita per bulan. Sementara pemilih muda yang masuk kategori kelas menengah juga pendapatannya minus Rp 65.529 per kapita per bulan. Angka-angka tersebut adalah hasil pengolahan data mikro pengeluaran dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021 serta pendapatan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2021. Berdasarkan data pengeluaran dan pendapatan itu, Bank Dunia mengelompokkan menjadi calon kelas menengah (pengeluaran 1,5-3,5 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan) dan kelas menengah (3,5-17 kali lipat).

Ani (27), warga Kaltim, harus bekerja keras mencari tambahan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di rekeningnya untuk kebutuhan hidup. Saat ini, ia bekerja sebagai pekerja lepas di bidang fotografi, copy writer, dan kreator konten. Dalam sebulan, pengeluarannya Rp 6 juta untuk menghidupi dua anggota keluarga di rumah, dimana, 40 % atau Rp 2,4 juta digunakan untuk biaya makan harian. Sementara biaya operasional listrik, air, dan internet Rp 800.000. Dia juga bertekad mengumpulkan tabungan dana pendidikan untuk anaknya menggunakan instrument investasi reksadana dengan besaran Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan. Nominalnya tak menentu bergantung jumlah proyek yang diterimanya bulan itu. Jika butuh uang mendadak, dia biasanya pinjam uang ke teman dekat atau kantor dan menghindari meminjam dari pinjaman daring.

Dedi Setiawan (30) warga Konawe Selatan, Sultra, setahun ini bekerja sebagai pengontrol kualitas pengelasan di galangan kapal. Setelah mendapat promosi jabatan, gaji Dedi naik Rp 300.000 menjadi Rp 3,2 juta per bulan. Kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta membuat Dedi bisa menyisihkan gajinya untuk tabungan. Pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari, susu, dan popok untuk tiga anak balitanya serta cicilan perabot rumah mencapai Rp 3,5 juta per bulan. ”Ini belum bisa nabung. Hidup pas-pasan, ngepres banget, untuk membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya tak terduga,” kata Dedi, awal Februari lalu. Untuk menutupi biaya pengeluarannya yang minus, Dedi bekerja sampingan berjualan tas daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi memainkan peran sebagai reseller tas berjenama Imori yang dibeli dari Batam, Kepri. ”Lumayan, per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :