Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Asanudin, Berjuang dengan Akar Wangi
Asanudin (57) yang akrab dipanggil Asa, bersama ratusan
petani memperjuangkan hak atas tanah di Desa Sukamukti, Kabupaten Garut, Jabar,
selama puluhan tahun. Lewat budidaya akar wangi, mereka kini berjuang untuk
hidup lebih baik. Dulu, Asa keluar kampung mencari rezeki di tanah rantau
karena lahan yang ada di sekitar tempat tinggalnya dikuasai pihak lain. Hingga
akhirnya tahun 1998, ia memilih pulang karena istrinya menjadi korban
intimidasi saat menggarap lahan HGU yang dikuasai sebuah perusahaan di
Sukamukti, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, yang berakhir pada 1997. Berdasarkan
data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), lahan sengketa ini mencapai 402 hektar
yang digarap sedikitnya 600 keluarga petani. Lama hidup di jalanan Jakarta membuat
nyali Asa tidak gampang terintimidasi. Dia dikenal sebagai salah satu warga
yang berani berhadapan dengan aparat. “Kami orang desa, tetapi kami ada hak
dari warga desa untuk lahan itu,” ujar Asa yang berjuang bersama Serikat Petani
Pasundan (SPP) sejak tahun 2000.
Berdasar catatan KPA,represi aparat yang besar terjadi dalam
kurun 2012 hingga 2014. Asa menjadi salah satu orang yang dicari karena vokal
memperjuangkan haknya atas lahan yang digarap. ”Saya dicari satu truk berisi
aparat. Rumah digeledah beberapa kali. Jika ada yang mencari, saya sembunyi di
kebun di antara semak akar wangi,” ujarnya. Nyali Asa tidak ciut. Dia tetap aktif
berkegiatan bersama SPP, mulai dari kegiatan pemberdayaan masyarakat sampai
aksi menyuarakan pendapat. Asa sadar perjuangan itu tidak akan berarti jika
kehidupan warga tidak diperbaiki. Dia lalu mencari cara untuk menggarap lahan dengan
maksimal. ”Saat itu kami memilih akar wangi yang sudah tumbuh di desa ini sejak
lama. Selain punya harga jual yang tinggi,ternyata tanamannya juga bisa mengurangi
erosi,” kata Asa. Harganya pernah mencapai Rp 2,8 juta per kg. Kesejahteraan
masyarakat terangkat. Usulan menjadikan akar wangi menjadi komoditas utama itu
dimulai tahun 2004. Asa mengajak warga menanam akar wangi di samping
sayur-mayur dan tembakau. Lahan garapan seluas 1.400 meter persegi dijadikan
percontohan.
Total lahan yang ditanam akar wangi di Sukamukti diperkirakan
240 hektar dengan potensi produksi minyak 7,2 ton. Warga juga didorong membuka
pabrik penyulingan akar wangi. Sekarang ada sedikitnya 10 pabrik. Satu pabrik
dengan dua mesin penyulingan mampu memproduksi 3 kuintal minyak akar wangi sebulan,
yang laku dijual Rp 2 juta per kg. Asa juga mencari mitra dan pendampingan
bersama SPP agar akar wangi yang ditanam kian menguntungkan. Konsumennya berasal
dari Bandung, Bogor, dan Tangerang. Sebagian dari pembeli ini menjual kembali
ke luar negeri, seperti Perancis dan AS. Akar wangi biasanya digunakan untuk
bahan pembuatan parfum. Lahan yang produktif itu memang belum dimiliki
sepenuhnya oleh ratusan warga yang tinggal di kaki Gunung Cikuray ini. Meskipun
tidak ada lagi tekanan dari berbagai pihak, status lahan ini masih dalam
sengketa. Asa ingin terus berjuang sampai akhir. Sama seperti pejuang reforma agraria
lainnya di seluruh penjuru negeri, dia ingin tanah yang digarap memiliki legalitas
agar bisa dimanfaatkan dengan maksimal dan tanpa rasa khawatir. (Yoga)
Usut Tuntas Penyelewengan Pupuk Subsidi
Panjang Sabar Suku Bunga Turun
Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,25%—5,5% dalam pertemuan perdana 30—31 Januari 2024. Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini diambil oleh anggota komite dengan suara bulat. Gubernur The Fed Jerome Powell, dalam pidatonya usai rapat FOMC, menyatakan membuka ruang penurunan suku bunga pada 2024, tetapi kecil kemungkinan bakal dilakukan pada pertemuan FOMC kedua pada 19—20 Maret. Sebagai catatan, pertemuan FOMC dilakukan sebanyak delapan kali pada tahun ini untuk mengevaluasi kondisi ekonomi, memutuskan kebijakan moneter, dan menentukan suku bunga acuan. FOMC Meeting pada 2024 menjadi perhatian dunia karena perekonomian global tengah menanti sinyal dan kabar baik menyangkut sinyal berakhirnya tren suku bunga tinggi di AS yang bertahan di level tinggi sejak 26 Juli 2023. Selain itu, ada sejumlah data yang menjadi pertimbangan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, di antaranya produk domestik bruto (PDB), pengeluaran konsumen, dan produksi industri. Tentu saja, peristiwa-peristiwa besar seperti krisis keuangan, pandemi global hingga krisis geopolitik juga menjadi pertimbangan. Sebagai catatan, inflasi di AS mulai mendingin, dari 7% pada 2021 menjadi 6,5% pada 2022 dan kemudian turun lagi menjadi 3,4% pada 2023. Namun, merujuk pada data inflasi AS sepanjang 2013—2020 yang berkisar 0,7% hingga 2,3%; tentu saja inflasi 2023 belum cukup ideal. Persoalannya adalah inflasi di AS pada Januari 2024 tercatat 3,1%; lebih tinggi dari proyeksi di level 2,9%. Artinya, laju inflasi belum mereda seperti yang diharapkan. Pada saat bersamaan, Indonesia bakal memasuki bulan Ramadan pada Maret, yang biasanya diikuti dengan kenaikan sejumlah komoditas pangan sehingga berpotensi memacu laju inflasi nasional. Menjelang pekan terakhir Februari 2024 saja, sejumlah komoditas pangan di beberapa daerah terpantau naik. Memanasnya laju inflasi, baik di AS maupun nasional tentu bisa menjadi bola liar jika tidak terkendali. Pada saat bersamaan, perekonomian pun harus lebih banyak bersabar menanti penurunan suku bunga.
Menanti Tuah Guyuran Subsidi Pajak Baru
Pemerintah kembali mengguyur subsidi fiskal untuk mendorong industri mobil listrik dan properti pada tahun ini. Namun di tengah pelemahan daya beli kelas menengah, subsidi fiskal ini dinilai hanya menahan risiko perlambatan ekonomi, alias tak bisa mengungkit pertumbuhan signifikan. Kementerian Keuangan baru saja merilis tiga aturan baru insentif pajak untuk industri kendaraan listrik, juga properti. Pertama, pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) untuk pembelian mobil listrik yang diproduksi lokal yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 8/2024. Kedua, insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) DTP atas impor mobil listrik completely built up (CBU) dan penyerahan mobil listrik completely knocked-down (CKD) yang diatur melalui PMK Nomor 9/2024. Insentif PPnBM DTP atas impor CBU dan CKD diberikan 100% dari jumlah PPnBM yang terutang. Ketiga, insentif PPN DTP untuk pembelian rumah Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar yang diatur melalui PMK Nomor 7/2024. Selama ini, sokongan industri otomotif terhadap produk domestik bruto (PDB) tak terlalu besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, industri alat angkutan hanya berkontribusi 1,49% terhadap PDB.
Sementara perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya menyumbang 2,24% ke PDB. Adapun real estate berkontribusi 2,42% terhadap PDB dan sektor konstruksi menyumbang 9,29% ke PDB. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita melihat pemberian insentif PPN DTP untuk mobil listrik tak signifikan mengerek penjualan lantaran terbatasnya infrastruktur pendukung mobil listrik. Ia juga menilai, pemberian insentif untuk impor CBU tak tepat. "Karena sama dengan mensubsidi orang kaya," terang dia, Rabu (21/2). Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri juga berpendapat, insentif ini tidak bisa diharapkan menggerakkan ekonomi lantaran daya beli masyarakat yang masih lemah. Sementara kunci untuk mendorong perekonomian dalam negeri adalah memacu daya beli masyarakat. Direktur Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal menilai, insentif mobil listrik yang diberikan oleh pemerintah belum akan kelihatan dampaknya dalam waktu singkat, atau setidaknya dalam waktu 10 tahun. Alhasil, belum akan berdampak signifikan terhadap perekomian.
Tangkap Peluang Investasi 2204, Bank Mandiri gelar Mandiri Investment Forum
Menyambut positivisme tahun ini, Bank Mandiri bersama anak perusahaan Mandiri Sekuritas akan kembali menggelar Mandiri Investment Forum (MIF) 2024. Forum investasi tahunan terbesar ini akan berlangsung 5 hari, 4-8 Maret 2024. Rangkaian acaranya terdiri atas: Macro Day, Investmen Day, Site Visit dan Corporate Day. Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Eka Fitria menjelaskan, MIF 2024 menjadi penyelenggaraan ke 13 dari wujud konsistensi Bank Mandiri mendorong keran investasi di Indonesia dengan melibatkan ragam investor dan pembicara terkemuka dari dalam dan luar negeri.
Mengusung tema "Thriving Through Transition," Forum investasi bertaraf internasional ini membahas isu-isu strategis terkait proyek ekonomi Indonesia di tengah tahun pemilu global (superelection year). "MIF kali ini membahas sumber-sumber pertumbuhan penting bagi Indonesia, diantaranya sektor manufaktur dan pertanian," kata Eka di Jakarta, Rabu (21/2). Untuk MIF 2024, Mandiri Sekuritas melalui Site Visit dan Corporate Day akan menghadirkan 200 investor dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Hongkong, negara-negara Eropa dan AS. (Yoga)
Fajar Mulia, Mengubah Sampah Jadi Berkah
Sudah lama Fajar Mulia (42) gerah melihat sampah bertumpuk di
mana-mana. Ia tergerak menyedekahkan waktu untuk mengatasi persoalan sampah dan
mengubahnya menjadi berkah. Berkeliling di perumahan Althia Park, Bintaro, Tangsel,
Banten, pada Minggu (18/2) kita bisa menangkap kegairahan warga mengolah sampah
rumah tangga. Sekitar 70 % dari 122 rumah tangga di kompleks itu telah memilah
sendiri sampah dalam lima kategori: kardus/kertas, plastik, kemasan makanan,
beling, dan logam. Sampah yang masih punya nilai ekonomi itu mereka setorkan ke
tiga titik penampungan di kompleks tersebut. Setelah penuh, sampah diangkut ke
depo bank sampah di sisi belakang kompleks.
Sebulan sekali sampah itu ditimbang dan dijual kepada
pengepul. Sampah sisa makanan (organik) yang tidak bisa disetor ke bank sampah
diolah jadi kompos dan eco-enzyme. Di kompleks itu, ada 11 titik komposer kolektif
dan 60-an komposer individu milik warga. Kompos dipakai mereka untuk media
tanam taman pribadi dan kebun milik bersama. Ekoenzim dipakai untuk activator pembuatan
kompos, pupuk, dan sarana edukasi. Warga juga memanfaatkan ekoenzim untuk bahan
pembuatan sabun, pembersih lantai, dan produk ramah lingkungan lainnya.
”Semuanya masih kecil-kecilan, baru skala rumah tangga.
Tetapi, yang penting, kesadaran warga untuk mengolah sampah sudah muncul,” ujar
Fajar Mulia, inisiator gerakan pengolahan sampah yang ditunjuk warga sebagai Ketua
Bank Sampah Althia Bahagia. Sejak gerakan swakelola sampah dilakukan warga pada
akhir 2018 hingga akhir 2023, sampah bernilai ekonomi yang berhasil dipilah dan
dijual jumlahnya lebih dari 18 ton. Adapun sampah organik yang berhasil diubah
menjadi kompos dan ekoenzim sekitar 50 % dari sampah warga. Sampah yang dibuang
warga tinggal sampah yang benar-benar tak bisa diolah, seperti sampah B3. Menurut
Fajar, hasil penjualan sampah setiap tahun Rp 6 juta-Rp 9 juta. Jika diakumulasikan
pada 2018-2023, totalnya Rp 41 juta. Uang itu dimasukkan ke kas RT dan
digunakan untuk membiayai kegiatan kompleks. (Yoga)
Makan Siang Gratis dan Jebakan Ilusi Fiskal
Gaduh seputar program makan siang gratis dengan anggaran
jumbo mengingatkan adagium klasik, there is no such thing as free lunch. Tidak
ada makan siang yang gratis di dunia ini. Pemberian makan siang gratis sebagai
program andalan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada prinsipnya tidak
gratis. Ada”harga” yang harus ditanggung negara dan masyarakat selaku pembayar
pajak, entah sekarang atau di masa depan. Apalagi, anggaran untuk program makan
siang gratis tidak kecil. Menurut estimasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran,
diperlukan Rp 400 triliun per tahun untuk makan siang gratis 80 juta penerima
manfaat yang terdiri dari anak sekolah, anak balita, dan ibu hamil di seluruh
Indonesia.
Kebutuhan untuk makan siang gratis itu saja sudah mencakup 12
% dari total belanja negara di APBN 2024 yang nilainya Rp 3.325,1 triliun. Bahkan,
lebih besar dari total anggaran untuk berbagai program di bidang kesehatan (Rp
187,5 triliun), ketahanan pangan (Rp 114,3 triliun), dan program subsidi (Rp
286 triliun). Mengacu pada hitungan Bappenas, Januari 2024, anggaran yang
dibutuhkan bisa lebih kecil, yakni Rp 185,2 triliun per tahun. Meski lebih
kecil dari hitungan TKN, estimasi ini tetap memakan porsi anggaran yang besar, yakni
5,6 % dari total belanja APBN 2024. Sepanjang tahun lalu, pemerintah menyerap utang
Rp 347,6 triliun demi menutupi berbagai kebutuhan belanja. Hanya beda tipis
dari total kebutuhan anggaran makan siang gratis yang sebesar Rp 400 triliun.
Jika mengandaikan program makan siang gratis berjalan sejak
2024 dan tanpa terobosan pemasukan negara, 76,5 % dari ”kuota” defisit itu
berpotensi terpakai hanya untuk membiayai program makan siang gratis. Di tengah
ruang gerak defisit yang terbatas itu, laju penerimaan pajak selama satu dekade
terakhir melambat. Ke depan, tren perlambatan penerimaan perpajakan
diperkirakan berlanjut seiring ketidakpastian geopolitik, resesi global dan
perdagangan dunia yang melambat. Selain itu, juga dipengaruhi faktor
melandainya harga komoditas unggulan.
Dibutuhkan terobosan besar-besaran untuk mendongkrak
penerimaan pajak jika Prabowo-Gibran ingin membiayai program makan siang gratis
tanpa menambah utang. Ketidakjelasan sumber anggaran untuk program makan siang
gratis ini memunculkan kekhawatiran terjadinya ”ilusi fiskal” atau fiscal
illusion di kemudian hari. Diksi ini ditenarkan peraih Nobel Ekonomi James M
Buchanan. Ia menyebut bahwa pemilih (rakyat) cenderung terlena oleh kebijakan
dan belanja yang ”berpihak” pada mereka, tanpa menyadari risiko fiscal yang harus ditanggung di kemudian hari
akibat belanja tersebut. Untuk merealisasikannya, ada ”harga” yang harus ikut
ditanggung dan hal itu tidak disadari rakyat, biasanya berbentuk kenaikan tarif
pajak, beban utang negara yang membengkak, serta terjadinya inflasi. (Yoga)
Dua Perusahaan Tekstil Pecat 5.300 Pekerja
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN)
Ristadi, Rabu (21/2) mengungkapkan, dua perusahaan tekstil yang berlokasi di
Semarang, Jateng, pada Januari-Februari ini total sudah melakukan PHK terhadap 5.300
pekerja. Satu perusahaan telah mem-PHK 5.000 karyawan dan perusahaan yang lain
300 karyawan. Ia menjelaskan, PHK itu dilakukan karena terjadinya penurunan
permintaan. Akibatnya, perusahaan tidak mampu lagi membiayai upah para pekerja.
Kendati demikian, lanjut Ristadi, hak-hak dan pesangon dari karyawan yang
di-PHK sudah diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Ristadi menambahkan,
sejak 2020 hingga kini, pihaknya mencatat ada 62.000 pekerja industri tekstil
dan produk tekstil yang mengalami PHK. Mereka tersebar di Banten, Jabar dan Jateng.
Perusahaan yang melakukan PHK itu ada yang produknya berorientasi pasar ekspor
dan ada pula yang memiliki pasar dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan SDM Nurdin Setiawan mengatakan, pihaknya belum memperoleh laporan resmi mengenai PHK di dua perusahaan itu. Namun, dia tidak menampik bahwa pada 2024, yang belum genap berjalan dua bulan ini, memang sudah terjadi PHK di industri tekstil dan produk tekstil. ”Pada 2024 ada (PHK), tapi tidak masif seperti 2022 dan 2023,” ujar Nurdin, dihubungi pada Rabu. Ia menambahkan, kini utilitas produksi industri ini berkisar 60-70 %. Angka ini tidak banyak berubah dalam 2-3 tahun terakhir yang juga berkisar 65-75 %. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan serapan tenaga kerja di industri initerus menurun. Saatini jumlahnya mendekati 3 juta orang, menurun dibandingkan 2019 yang pernah menyerap hingga 3,5 juta orang. Berkurangnya jumlah tenaga kerja itu disebabkan beberapa faktor, mulai dari langkah merumahkan sementara pekerja hingga PHK. (Yoga)
Nikmat Hasil Kesetiaan Peladang Tangguh Kalbar
Para peladang tangguh dari Kalbar menikmati jalan hidup dan
kesetiaan mereka pada alam. Saat kini harga beras melambung tinggi, mereka
masih dikaruniai cukup persediaan, bahkan hingga tahun depan. ”Kami tidak
terlalu terdampak kenaikan harga beras. Kami punya ladang. Berasnya melimpah,”
kata Igoh (59), warga adat Dayak Iban, di Rumah Panjang Sungai Utik di Kabupaten
Kapuas Hulu, Kalbar, Selasa (20/2). Bahkan, saat stok panen tahun
lalu belum habis, dia akan panen lagi dalam waktu dekat. Menurut Igoh, panennya
diperkirakan 1 ton beras dari sebagian lahan seluas 2 hektar. Jumlah itu akan
mencukupi kebutuhan tiga anggota keluarganya hingga lebih dari setahun. Kondisi
ini, lanjut Igoh, juga dirasakan masyarakat adat Dayak Iban Sungai Utik
lainnya. Saat ini komunitas adat itu berjumlah 281 orang Sebagian tinggal di
rumah tunggal. Namun, ada juga yang masih bermukim di Rumah Panjang khas suku
Dayak. Dibangun pada 1978, rumah sepanjang 168 meter, dimana warga tinggal di
28 bilik. Untuk hidup, mereka memiliki wilayah adat Sungai Utik seluas 10.048
hektar. Seluas 9.480 hektar di antaranya hutan adat.
Di sana, warga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara
mandiri. Tidak hanya beras, juga sayur-mayur dan buah-buah lokal. ”Saya dan
masyarakat di kampung bahkan mengirim beras kepada anak-anak kami yang sedang
bersekolah di luar daerah. Biasanya 5 kg per setiap panen agar mereka juga ikut
menikmati hasil panen,” kata Igoh. Hal serupa terjadi di salah satu wilayah
perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Dusun Sontas, Kecamatan Entikong,
Kabupaten Sanggau. Temenggung (pemimpin adat) Benua Desa Entikong, Kanisius
Kartus (49), Rabu (21/2) mengatakan, dirinya memiliki ladang seluas 2 hektar.
Pekan depan, ia akan panen hingga 300 kg beras. Kartus mengatakan, dari lebih
kurang 1.000 warga adat, 80 % masih berladang. Dengan demikian, kebutuhan pangan
warga tetap terpenuhi. Tahun lalu, panen ladang milik adiknya mencapai 1 ton
beras dan masih ada stok untuk konsumsi. ”Kami bahkan bisa mengirim beras untuk
kerabat di luar daerah melalui taksi (moda transportasi mobil) antar kabupaten,”
ucapnya. (Yoga)
Pelaku UMKM Siasati Tingginya Harga Beras
Pelaku UMKM makanan di sejumlah daerah menyiasati tingginya
harga beras dalam dua pekan terakhir. Mereka berupaya agar harga jual ke konsumen
tidak naik meskipun itu berdampak pada berkurangnya keuntungan. Di kawasan
Surabaya, Jatim, para penjual lontong bersiasat dengan cara mencampur beras
premium dan beras medium. ”Saya biasanya pakai beras premium, tetapi karena harga
sedang tinggi, saya campur dengan beras medium yang dibeli dari tetangga,” ujar
Sugiyanto, warga kampung lontong Sawahan, Surabaya, Rabu (21/2). Dalam sehari,
Sugiyanto mengolah maksimal 5 kg beras menjadi lontong. Dengan pencampuran
beras medium dan premium, ongkos produksi lontong bisa ditekan. Penganan ini
bisa dijual kepada pelanggan dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per lontong. Jika
memakai beras premium seutuhnya, harga jual lontong naik sampai dua kali lipat.
”Dampaknya, bisa tidak laku dan bikin rugi,” katanya.
Suminto, penjual lontong balap di gerobak keliling di Gubeng, Surabaya, mengatakan, saat harga beras tinggi, ukuran lontong yang diterimanya dari pembuat lontong biasanya mengecil dan berbahan beras campuran. Namun, baginya itu tak menjadi masalah karena penjual lontong telah memberitahukan hal tersebut. ”Yang paling penting,lontongnya segar atau dibuat pagi tadi. Saya juga membatasi beli lontong sekaligus mengurangi bikin sayurnya (taoge),” katanya. Menurut Suminto, dengan membatasi produksi, pedagang makanan sebenarnya akan terdampak berupa berkurangnya keuntungan. Padahal, bagi pedagang mikro dan kecil, keuntungan penjualan makanan merupakan sandaran utama keberlangsungan hidup ekonomi keluarga. Suminto dapat menjual 50 porsi lontong balap dengan keuntungan maksimal Rp 100.000 sehari. ”Tiga hari ini, produksi lontong balap turun, ya, keuntungan juga turun sampai Rp 20.000 sehari,” ujarnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









