Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Bertemu Surya Paloh, Jokowi Ingin Menjadi Jembatan untuk Semua
Bahaya Data di Luar Negeri
Listrik Premium Hijau dari PLTS Terapung
Penundaan Rekapitulasi Suara di Kecamatan Munculkan Kecurigaan
Keputusan KPU menunda proses rekapitulasi suara Pemilu 2024
di tingkat kecamatan demi memperbaiki data dalam Sistem Informasi Rekapitulasi
atau Sirekap memunculkan kecurigaan. Langkah memperbaiki Sirekap dengan
menyinkronkan data di formulir C1.Hasil Plano dan data dalam Sirekap seharusnya
tidak sampai mengganggu proses rekapitulasi. Informasi bahwa KPU menunda proses
rekapitulasi suara di tingkat kecamatan diungkapkan kelompok masyarakat sipil
pemantau pemilu dan peserta pemilu, Minggu (18/2). Informasi salah satunya
berangkat dari adanya surat pemberitahuan dari KPU Kota Tangerang, Banten, yang
memberitahukan adanya penundaan proses rekapitulasi tingkat kecamatan. Dalam
surat itu, Ketua KPU Kota Tangerang Qori Ayatullah meminta agar rapat pleno rekapitulasi
suara oleh Panitia Pemilihan Kecamatan dijadwalkan ulang menjadi 20 Februari
2024.
Khusus bagi yang sudah berjalan, rapat diminta diskors, juga
hingga 20 Februari. Permintaan disebut atas arahan KPU RI pada 18 Februari 2024
untuk memastikan kualitas data Sirekap yang akan digunakan untuk rekapitulasi
di kecamatan agar lebih akurat. Jika mengacu Peraturan KPU No 5 Tahun 2024,
jadwal rekapitulasi dan penetapan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan
suara di kecamatan berlangsung pada 15 Februari hingga 2 Maret 2024. Selain di
Tangerang, informasi serupa diterima dari penyelenggara pemilu di Kaltara, seperti
disampaikan politikus PDI-P yang juga calon anggota legislatif Kaltara, Deddy
Yevri Sitorus. ”Ada informasi di daerah, KPU pusat memerintahkan penghentian
rekapitulasi suara di kecamatan, yang tidak dikonsultasikan dengan peserta
pemilu dan Komisi II DPR,” kata Deddy melalui keterangan tertulis. Deddy
memperoleh informasi alasan penghentian karena Sirekap mengalami kendala di
pembacaan data. Ia pun kaget dengan alasan itu karena Sirekap bukan metode penghitungan
suara yang resmi.
Ditambah lagi, penghentian proses rekapitulasi suara
seharusnya hanya bisa dilakukan dalam kondisi force majeure, seperti gempa bumi
atau kerusuhan massa. Akibatnya, muncul kecurigaan bahwa hal itu untuk mengakali
suara peserta pemilu tertentu. Untuk itu, Deddy meminta KPU memberi penjelasan.
”Kalau dibiarkan, akan banyak yang teriak bahwa kuat kecenderungan KPU sedang melakukan
kejahatan kepemiluan kalau dasarnya Sirekap, bukan force majeure yang
sebenarnya,” katanya. Ketua Tim Khusus Pemenangan Partai Buruh Said Salahudin
yang menerima informasi serupa pun bingung dengan keputusan KPU. Adanya problem
perbedaan data antara formulir C1.Hasil Plano (berisi jumlah raihan suara setiap
peserta pemilu) di sejumlah TPS dan data di Sirekap seharusnya tidak sampai menunda
proses rekapitulasi suara. Ini terutama karena hasil resmi pemilu diperoleh
dari proses rekapitulasi suara secara berjenjang dari TPS hingga tingkat
nasional, bukan Sirekap. (Yoga)
Ramai-ramai Mengatur ”Giant Tech”
Pemerintah di berbagai belahan bumi bergerak bersama mengatur
perusahaan raksasa teknologi atau giant tech. Tingkat urgensi dan cakupannya
masif, belum pernah dialami oleh industri mana pun sebelumnya. Langkah ini
berpotensi mengubah cara kerja internet dan mengubah arus data digital secara
global. Mengutip Axios, terdapat lima bentuk utama regulasi yang diterapkan terhadap
perusahaan raksasa teknologi oleh sejumlah negara. Bentuknya meliputi peraturan
perpajakan, privasi konsumen, antimonopoli, moderasi konten, dan kecerdasan buatan.
Soal peraturan perpajakan, negara-negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerja
Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) bahkan membuat solusi mengenakan pajak bagi
perusahaan raksasa teknologi. Beberapa negara bagian AS, mengenakan pajak bagi
perusahaan raksasa teknologi dari Eropa. Terkait peraturan privasi konsumen,
peraturan perundang-undangan privasi data Uni Eropa, yakni Peraturan Perlindungan
Data Umum (GDPR), sudah berlaku enam tahun. Peraturan ini memaksa
perusahaan-perusahaan raksasa teknologi, termasuk dari AS, tunduk.
Soal pengaturan antimonopoli, Eropa adalah yang paling getol.
Eropa terus melakukan penyelidikan dan memperkenalkan peraturan perundang-undangan
pasar digital (Digital Markets Act). Melalui peraturan ini, perusahaan-perusahaan
raksasa teknologi dari AS didefinisikan sebagai ”penjaga gerbang”. Maksudnya,
mereka adalah pihak yang memberikan layanan penting bagi bisnis karena
menjangkau pelanggan secara luas, tetapi sekaligus menjadi penghambat. Mengutip
The New York Times, China Tahun 2021, memaksa perusahaan raksasa internetnya,
seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance, untuk secara terbuka berjanji mengikuti
aturan mereka dalam melawan monopoli.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira
berpendapat, pengaturan perpajakan kepada perusahaan raksasa teknologi sama
susahnya dengan mengatur monopoli yang berpotensi mereka lakukan. Oleh karena
itu, pembahasan peraturan, seperti perpajakan yang dilakukan oleh OECD, juga
sempat berlangsung alot. ”Salah satu tujuan beberapa negara mengatur perusahaan
teknologi asing adalah melindungi barang dalam negeri. Dalam konteks platform e-dagang,
misalnya, pasar yang diciptakan sebenarnya bukan pasar yang sempurna karena ada
risiko dijadikan ruang memasukkan barang ilegal,” katanya. (Yoga)
Warga Eks Kampung Bayam Diintimidasi
Warga eks Kampung Bayam yang kini tinggal di Kampung Susun
Bayam yang berada di kawasan Jakarta International Stadium (JIS), Jakut,
kembali diintimidasi dengan beragam berita bohong di media sosial. Mulai dari
kabar warga telah menerima kompensasi hingga menunggangi masalah untuk
keuntungan pribadi. Kelompok Tani Kampung Bayam Madani yang dipimpin Muhammad
Furkon, Minggu (18/2) menuturkan, sejak menempati Kampung Susun Bayam,
intimidasi dan fitnah tak pernah usai. ”Setelah dikriminalisasi, sekarang beragam
berita bohong terus berdatangan agar kami segera hengkang dari rumah susun
ini,” katanya. Salah satu berita bohong yang santer terdengar adalah tudingan
warga Kampung Susun Bayam telah menerima kompensasi dari pembangunan JIS.
Padahal, warga tidak pernah mendapatkan kompensasi sepeser pun. ”Yang diterima
adalah uang kerahiman sebesar Rp 47,5 juta yang ditujukan untuk kelompok tani,
bukan individu,” kata Furkon.
Uang tersebut digunakan untuk membangun hunian sementara di
atas lahan seluas 2.000 meter persegi untuk 50 unit. Hunian sementara berlokasi
di Jalan Tongkol X Pergudangan Krapu, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, di
lahan aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas peminjaman PT Jakarta
Propertindo. Furkon menjelaskan, dirinya telah memiliki dasar yang jelas penggunaan
uang tersebut, yakni untuk membangun hunian sementara selama rumah susun
dibangun. Selain itu, dirinya menerima kabar jika ada pihak yang menganggap
warga yang menempati rumah susun saat ini bukanlah warga Kampung Bayam.
Padahal, mereka yang tinggal di rumah susun merupakan warga asli Kampung Bayam.
”Itulah sebabnya, kami tetap bertahan untuk tinggal di sini karena inilah
satu-satunya ruang hidup yang kami punya,” kata Furkon. (Yoga)
Penyadap Nira Kelapa
Utak-atik Anggaran untuk Makan Siang Gratis
Dua hari setelah pemungutan suara, Prabowo Subianto-Gibran
Rakabuming Raka menjadi sorotan karena ingin mengurangi subsidi energi demi
mendanai program makan siang gratis, janji populis yang mereka umbar selama
kampanye. Rencana itu dilontarkan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran,
Eddy Soeparno, dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Kamis (15/2). Di situ, Eddy
ditanyai soal sumber dana untuk merealisasikan program makan siang gratis
senilai Rp 400 triliun yang menjadi ”senjata” andalan Prabowo-Gibran selama
kampanye. Eddy menjawab, cara pertama dengan meningkatkan rasio perpajakan (tax
ratio) Indonesia hingga mengimbangi negara tetangga di kawasan. Kedua,
mengurangi subsidi yang tidak terlalu dibutuhkan, seperti subsidi energi yang
penyalurannya kerap salah sasaran. Ia optimistis sumber dana itu bisa didapat
dalam waktu 2-3 bulan setelah Prabowo menjabat.
”Saat ini, Indonesia punya anggaran subsidi energi Rp 350
triliun. Sebanyak 80 % dari subsidi itu dinikmati mereka yang tidak berhak
mendapatkannya. Jadi, kami akan melakukan penyesuaian (finetune) terhadap subsidi
itu,” kata Eddy, dikutip dari tayangan Bloomberg TV. Ucapan Eddy sontak menjadi
pembicaraan hangat. Narasi yang muncul di media sosial, Prabowo-Gibran ingin
memangkas subsidi BBM dan menaikkan pajak. Warganet pun khawatir harga BBM
naik, inflasi meroket, dan tarif pajak ke depan lebih mahal. Saat dihubungi
pada Jumat (16/2), Eddy menjelaskan, TKN Prabowo-Gibran tidak ingin memangkas
subsidi BBM. Pihaknya hanya mau mengevaluasi pemberian subsidi energi yang saat
ini dinikmati masyarakat mampu supaya lebih tepat sasaran. Misalnya, untuk
masyarakat miskin, UMKM dan yayasan kemanusiaan, dengan menyempurnakan data penerima.
Lalu menyempurnakan peraturan untuk menegaskan kriteria masyarakat yang berhak
menerima subsidi energi, lengkap dengan sanksi jika ada yang melanggar. (Yoga)
Menjinakkan Gonjang-ganjing Beras
Lonjakan harga beras ke rekor tertinggi terjadi sebulan
terakhir. Di sejumlah daerah, beras premium dan medium juga raib dari pasar tradisional
dan toko ritel modern. Kenaikan harga beras jauh di atas HET yang ditetapkan
pemerintah itu terjadi seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan
dari sentra produksi (Kompas, 17/2/2024). Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai
kesempatan juga melontarkan sinyal ancaman inflasi pangan. Lonjakan harga beras
berpotensi mendongkrak inflasi, yang berarti memukul daya beli masyarakat. Untuk
meredam gejolak harga, pemerintah terus melakukan operasi pasar, mengguyur
pasar dengan beras Bulog. Bantuan pangan melalui penyaluran beras bantuan 10 kg
kepada 22 juta keluarga penerima manfaat dilanjutkan hingga Juni 2024.
Setelah Juni 2024, pemerintah menyatakan akan melihat
kemampuan APBN. Bulog menjamin, stok beras 1,180 juta ton aman hingga Ramadhan
dan Lebaran. Stok ini ditopang beras impor karena pengadaan dalam negeri
terkendala produksi yang turun dan tingginya harga gabah tingkat petani. Defisit
produksi dalam negeri terjadi delapan bulan terakhir, tetapi BPS memprediksi
puncak panen dan surplus beras akan terjadi Maret 2024. Ironisnya, jelang panen
raya Maret, pemerintah justru berencana impor beras 1 juta ton. Jumlah ini
gabungan sisa kuota impor 2023 dan sebagian dari kuota impor 2024 (2 juta ton).
Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras memang penting, tetapi pemerintah
juga harus memastikan penggelontoran beras impor tak menekan harga gabah kering
panen petani.
Meski sempat mengalami surplus secara sporadis, produksi beras
nasional relatif stagnan, bahkan turun rata-rata 1 % per tahun sepuluh tahun
terakhir. Padahal, konsumsi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan
penduduk. Kita memahami, dengan defisit produksi beras dalam negeri yang masih
harus ditutup dengan impor, stabilisasi harga dan pasokan beras tak bisa
mengabaikan situasi global. Kenaikan harga beras dewasa ini juga merupakan
fenomena global. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga beras akibat El Nino
dan kebijakan larangan ekspor negara produsen masih akan berlanjut pada 2024,
dengan harga diperkirakan belum akan turun hingga 2025. (Yoga)
Apresiasi Pasar Pemilu Lancar
Performa indeks harga saham gabungan atau IHSG ngegas dalam 2 hari terakhir perdagangan pekan lalu. Pemilihan umum presiden dan legislatif yang berjalan lancar dan aman tentu menjadi katalis yang direspons positif oleh pelaku pasar. Kami tidak sedang berspekulasi bahwa keunggulan pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming dalam hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei telah menghadirkan sentimen positif ke bursa saham. Kendati, tak sedikit analis di lini masa meyakini bahwa kemenangan kedua pasangan itu dalam satu putaran pemilihan suara bakal menghadirkan kepastian lebih cepat atas keberlanjutan proyek-proyek ekonomi yang melibatkan dunia usaha ke depan. Di samping, stabilitas politik dan keamanan nasional bakal relatif lebih kondusif. Tak heran, pelaku pasar saham sungguh mengapresiasi situasi politik yang bergulir saat ini. Buktinya, saat banyak bursa global terkoreksi pada akhir pekan lalu, IHSG justru melanjutkan penguatan selepas pemilu yang digelar Rabu (14/2). Indeks-indeks Wall Street, misalnya, berguguran oleh sentimen laporan inflasi Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran pemangkasan suku bunga The Fed tidak akan terjadi secepat yang diperkirakan tahun ini. S&P 500 terperosok 0,48% ke level 5.005,57. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 145,13 poin atau turun 0,37% menjadi 38.627,99. Adapun, Nasdaq Composite juga jatuh 0,82% ke level 15.775,65. Kondisi ini terjadi karena situasi geopolitik yang memicu tingkat permintaan domestik di sejumlah negara menuju ketidakpastian. Banyak negara bahkan telah diproyeksikan mengalami resesi sejak akhir 2023. Setelah Inggris, Jepang ikut terseret ke jurang resesi setelah perekonomiannya menyusut selama dua kuartal berturut-turut. Pekan lalu, investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp8,22 triliun di Bursa Efek Indonesia. Dari pantauan kami, asing mengoleksi saham-saham big cap di sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Derasnya aliran dana asing ke pasar saham pekan lalu mendorong indeks komposit tumbuh 1,39% dalam sepekan ke level 7.335,54.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









