Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Utak-atik Anggaran untuk Makan Siang Gratis
Dua hari setelah pemungutan suara, Prabowo Subianto-Gibran
Rakabuming Raka menjadi sorotan karena ingin mengurangi subsidi energi demi
mendanai program makan siang gratis, janji populis yang mereka umbar selama
kampanye. Rencana itu dilontarkan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran,
Eddy Soeparno, dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Kamis (15/2). Di situ, Eddy
ditanyai soal sumber dana untuk merealisasikan program makan siang gratis
senilai Rp 400 triliun yang menjadi ”senjata” andalan Prabowo-Gibran selama
kampanye. Eddy menjawab, cara pertama dengan meningkatkan rasio perpajakan (tax
ratio) Indonesia hingga mengimbangi negara tetangga di kawasan. Kedua,
mengurangi subsidi yang tidak terlalu dibutuhkan, seperti subsidi energi yang
penyalurannya kerap salah sasaran. Ia optimistis sumber dana itu bisa didapat
dalam waktu 2-3 bulan setelah Prabowo menjabat.
”Saat ini, Indonesia punya anggaran subsidi energi Rp 350
triliun. Sebanyak 80 % dari subsidi itu dinikmati mereka yang tidak berhak
mendapatkannya. Jadi, kami akan melakukan penyesuaian (finetune) terhadap subsidi
itu,” kata Eddy, dikutip dari tayangan Bloomberg TV. Ucapan Eddy sontak menjadi
pembicaraan hangat. Narasi yang muncul di media sosial, Prabowo-Gibran ingin
memangkas subsidi BBM dan menaikkan pajak. Warganet pun khawatir harga BBM
naik, inflasi meroket, dan tarif pajak ke depan lebih mahal. Saat dihubungi
pada Jumat (16/2), Eddy menjelaskan, TKN Prabowo-Gibran tidak ingin memangkas
subsidi BBM. Pihaknya hanya mau mengevaluasi pemberian subsidi energi yang saat
ini dinikmati masyarakat mampu supaya lebih tepat sasaran. Misalnya, untuk
masyarakat miskin, UMKM dan yayasan kemanusiaan, dengan menyempurnakan data penerima.
Lalu menyempurnakan peraturan untuk menegaskan kriteria masyarakat yang berhak
menerima subsidi energi, lengkap dengan sanksi jika ada yang melanggar. (Yoga)
Menjinakkan Gonjang-ganjing Beras
Lonjakan harga beras ke rekor tertinggi terjadi sebulan
terakhir. Di sejumlah daerah, beras premium dan medium juga raib dari pasar tradisional
dan toko ritel modern. Kenaikan harga beras jauh di atas HET yang ditetapkan
pemerintah itu terjadi seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan
dari sentra produksi (Kompas, 17/2/2024). Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai
kesempatan juga melontarkan sinyal ancaman inflasi pangan. Lonjakan harga beras
berpotensi mendongkrak inflasi, yang berarti memukul daya beli masyarakat. Untuk
meredam gejolak harga, pemerintah terus melakukan operasi pasar, mengguyur
pasar dengan beras Bulog. Bantuan pangan melalui penyaluran beras bantuan 10 kg
kepada 22 juta keluarga penerima manfaat dilanjutkan hingga Juni 2024.
Setelah Juni 2024, pemerintah menyatakan akan melihat
kemampuan APBN. Bulog menjamin, stok beras 1,180 juta ton aman hingga Ramadhan
dan Lebaran. Stok ini ditopang beras impor karena pengadaan dalam negeri
terkendala produksi yang turun dan tingginya harga gabah tingkat petani. Defisit
produksi dalam negeri terjadi delapan bulan terakhir, tetapi BPS memprediksi
puncak panen dan surplus beras akan terjadi Maret 2024. Ironisnya, jelang panen
raya Maret, pemerintah justru berencana impor beras 1 juta ton. Jumlah ini
gabungan sisa kuota impor 2023 dan sebagian dari kuota impor 2024 (2 juta ton).
Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras memang penting, tetapi pemerintah
juga harus memastikan penggelontoran beras impor tak menekan harga gabah kering
panen petani.
Meski sempat mengalami surplus secara sporadis, produksi beras
nasional relatif stagnan, bahkan turun rata-rata 1 % per tahun sepuluh tahun
terakhir. Padahal, konsumsi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan
penduduk. Kita memahami, dengan defisit produksi beras dalam negeri yang masih
harus ditutup dengan impor, stabilisasi harga dan pasokan beras tak bisa
mengabaikan situasi global. Kenaikan harga beras dewasa ini juga merupakan
fenomena global. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga beras akibat El Nino
dan kebijakan larangan ekspor negara produsen masih akan berlanjut pada 2024,
dengan harga diperkirakan belum akan turun hingga 2025. (Yoga)
Apresiasi Pasar Pemilu Lancar
Performa indeks harga saham gabungan atau IHSG ngegas dalam 2 hari terakhir perdagangan pekan lalu. Pemilihan umum presiden dan legislatif yang berjalan lancar dan aman tentu menjadi katalis yang direspons positif oleh pelaku pasar. Kami tidak sedang berspekulasi bahwa keunggulan pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming dalam hitung cepat oleh sejumlah lembaga survei telah menghadirkan sentimen positif ke bursa saham. Kendati, tak sedikit analis di lini masa meyakini bahwa kemenangan kedua pasangan itu dalam satu putaran pemilihan suara bakal menghadirkan kepastian lebih cepat atas keberlanjutan proyek-proyek ekonomi yang melibatkan dunia usaha ke depan. Di samping, stabilitas politik dan keamanan nasional bakal relatif lebih kondusif. Tak heran, pelaku pasar saham sungguh mengapresiasi situasi politik yang bergulir saat ini. Buktinya, saat banyak bursa global terkoreksi pada akhir pekan lalu, IHSG justru melanjutkan penguatan selepas pemilu yang digelar Rabu (14/2). Indeks-indeks Wall Street, misalnya, berguguran oleh sentimen laporan inflasi Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran pemangkasan suku bunga The Fed tidak akan terjadi secepat yang diperkirakan tahun ini. S&P 500 terperosok 0,48% ke level 5.005,57. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 145,13 poin atau turun 0,37% menjadi 38.627,99. Adapun, Nasdaq Composite juga jatuh 0,82% ke level 15.775,65. Kondisi ini terjadi karena situasi geopolitik yang memicu tingkat permintaan domestik di sejumlah negara menuju ketidakpastian. Banyak negara bahkan telah diproyeksikan mengalami resesi sejak akhir 2023. Setelah Inggris, Jepang ikut terseret ke jurang resesi setelah perekonomiannya menyusut selama dua kuartal berturut-turut. Pekan lalu, investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp8,22 triliun di Bursa Efek Indonesia. Dari pantauan kami, asing mengoleksi saham-saham big cap di sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Derasnya aliran dana asing ke pasar saham pekan lalu mendorong indeks komposit tumbuh 1,39% dalam sepekan ke level 7.335,54.
Niretika
Setumpuk PR dari Pesta Demokrasi
Prabowo Mulai Melakukan Konsolidasi
Seperti janji di pidato kemenangannya yang akan merangkul
semua unsur dan kekuatan, calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, mulai
melakukan konsolidasi awal dengan menemui Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat
Susilo Bambang Yudhoyono di Pacitan, Jatim, Sabtu (17/2). Golkar, salah satu
partai pengusung Prabowo, pun menyatakan pertemuan itu untuk memperkuat
persaudaraan, termasuk membahas hal-hal ke depan demi melanjutkan pembangunan.
Partai Amanat Nasional (PAN) juga menilai pertemuan itu sebagai hal positif. Namun,
konsolidasi awal ini dinilai belum sampai pada pembicaraan pembagian jabatan di
kabinet, tetapi baru pada fase transisi pembentukan pemerintahan baru. Apalagi
mengingat perolehan suara Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo tak memperoleh
efek ekor jas atau dampak dari pencalonan Prabowo di Pilpres 2024 sehingga membutuhkan
dukungan dari parpol lain untuk memastikan stabilitas politik.
Seusai pertemuan, Prabowo menyampaikan, pertemuannya dengan
Yudhoyono bertujuan untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan yang
diberikan terhadapnya. Ia mengaku dukungan Yudhoyono sangat luar biasa baginya.
Pertemuan itu juga sekaligus sebagai konsolidasi awal untuk memberikan posisi
terhormat dan strategis kepada kader-kader terbaik Demokrat di pemerintahannya
nanti. ”Pada intinya saya datang ke sini untuk sowan dan ucapkan terima kasih
dan lapor kepada senior saya (di militer),” kata Prabowo kepada wartawan. Ketua
Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Andi Arief menyampaikan, pertemuan itu terkait
hasil pilpres dan pemilu. Apalagi kemenangan Prabowo di Pacitan mencapai 70 %.
Hasil perolehan suara sementara yang dipublikasi Sistem Informasi Rekapitulasi
Pemilu (Sirekap) KPU menunjukkan Prabowo-Gibran unggul di Kabupaten Pacitan
69,65 %. (Yoga)
Pengin ”Nyoblos”, tapi Takut Dompet ”Boncos ”
Pencoblosan pemilu baru saja usai, tapi tak semua warga
menikmatinya dengan menggunakan hak pilih atau nyoblos. Uang terbatas dan
ketiadaan waktu menghalangi sebagian warga Indonesia mendatangi tempat
pemungutan suara (TPS) guna memilih calon pemimpin dan wakil mereka. Seperti Lusinem
(52) asisten rumah tangga di Ciputat, Tangsel, Banten, beserta suami dan dua
anaknya. Ketika sebagian besar orang berbondong-bondong ke TPS, Lusinem sibuk
mengurus pekerjaan rumah tangga di kontrakannya di Ciputat, Rabu (14/2) pagi.
Setelah itu, ia bergegas ke rumah majikannya dan tenggelam dalam
pekerjaan rumah tangga hingga matahari meninggi dan pemungutan suara di TPS
rampung. ”Saya memutuskan tidak ikut pemilu tahun ini. Enggak punya uang untuk
pulang kampung,” ucap Lusinem yang ber-KTP Gombong, Jateng. Suami dan dua anak
laki-lakinya juga ber-KTP Gombong. Seperti Lusinem, mereka juga tak menggunakan
hak pilihnya tahun ini karena alasan yang sama.
Ia mengikuti perkembangan politik melalui media sosial dan
tahu, warga yang punya hak pilih bisa menggunakan hak pilihnya di daerah
lain di luar daerah asalnya. ”Tapi mengurusnya, kan, repot dan makan waktu.
Lha, saya, kan, kerja, bapaknya (suami) juga kerja. Kapan bisa ngurus
begituan,” ujarnya. ”Saya sih pengen
nyoblos tapi takut dompetnya boncos. Sebentar lagi Lebaran, mending duitnya ditabung
untuk mudik nanti,” kata Lusinem. Jika saat pemilu Rabu lalu ia pulang bersama
suami dan kedua anaknya, perlu ongkos besar, naik bus dari Jakarta ke Gombong, keluar
uang Rp 600.000 pergi-pulang. Belum ongkos ojek, makan, beli oleh-oleh, dan
bagi-bagi sedikit uang kepada keluarga di kampung. Habisnya bisa jutaan rupiah.
”Kalaupun saya ikut nyoblos, toh, enggak akan ada perubahan langsung pada nasib
orang kecil seperti saya. Siapa pun yang menang, saya tetap (kerja) jadi
pembantu rumah tangga. Bapaknya (suami) tetap jadi kuli proyek. Enggak mungkin
jadi pembantu presiden,” katanya, diikuti tawa. (Yoga)
Memetik Manfaat sebagai Petugas Survei
Kesuksesan hitung cepat Litbang Kompas tak luput dari peran
penting lebih dari 2.000 petugas lapangan dan war room (ruangan hitung cepat)
yang hampir seluruhnya mahasiswa. Selain mendapat uang saku, mereka mendapat
banyak manfaat dari keterlibatan mereka dalam hitung cepat dan survei. Grace
Efata (24), tenaga lepas hitung cepat Litbang Kompas asal Bekasi, mendapat banyak
pengalaman berharga saat menjadi bagian dari tim survei Litbang Kompas. Ia
telah terlibat dalam berbagai proyek, termasuk survei debat capres-cawapres yang
lalu, survei dari klien, serta Survei Kepemimpinan Nasional (SKN) Kompas.
Grace pertama kali mengetahui kesempatan menjadi tenaga lepas
survei Litbang Kompas melalui sebuah blog. Penulis blog berbagi pengalaman menjadi
petugas survei hitung cepat Litbang Kompas pada Pemilu 2019, yang menumbuhkan
rasa penasaran Grace. Ia pun mendaftar sebagai tenaga lepas hitung cepat dan diterima.
”Motivasi aku ikut pekerjaan sampingan ini sebenarnya memperluas jaringan kerja,
pengalaman juga tentunya,” ujar Grace, Senin (12/2). Bagi Grace, pengalaman ini
juga meningkatkan keterampilan dalam percakapan.
Maulana Yusuf Iskandar (24) sebelumnya pernah terlibat dalam
survei Litbang Kompas. Ia mendapatkan informasi awal dari temannya. Maulana
terlibat dalam pekerjaan lepas sebagai petugas survei untuk mendapatkan penghasilan
tambahan. Jika ada panggilan, dengan senang hati ia akan mendaftarkan diri
lagi. Uang saku yang ia terima bervariasi tergantung dari kerumitan survei, antara
Rp 300.000 dan Rp 600.000 untuk satu proyek, yang menurut Maulana dan petugas
survei lainnya cukup sepadan. Apalagi, mereka juga mendapatkan pengalaman dan
pengetahuan baru yang tidak bisa dinilai dengan uang. Selain itu, mereka bisa
merasakan kebersamaan dengan petugas survei lainnya dari kampus-kampus berbeda.
(Yoga)
Aktivitas Pelayaran Berisiko Tinggi
Gelombang tinggi pada Februari ini berisiko bagi pelayaran. Di Laut Arafuru, tanker minyak MT Koan tenggelam dihantam ombak. Cuaca ekstrem juga masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 2,5 meter terjadi di wilayah perairan Maluku. Masyarakat pesisir yang hendak melaut dan berlayar diimbau waspada mengingat risiko terhadap keselamatan cukup tinggi. Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Suaif Iriyanto, menjelaskan, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di Maluku terjadi di Laut Arafuru, Laut Seram, Laut Banda, perairan Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Babar.
Hal ini didorong oleh pola angin kencang dengan kecepatan 6 hingga 25 knot yang bergerak dari bagian utara hingga timur laut Indonesia. Selain itu, gelombang tinggi juga didorong angin yang bergerak dengan kecepatan 4-25 knot di wilayah barat daya Indonesia. Dengan kondisi tersebut, aktivitas masyarakat yang menggunakan perahu nelayan, tongkang, dan feri masuk dalam kategori risiko tinggi keselamatan pelayaran. ”Selain di Laut Arafuru, kecepatan angin tertinggi terjadi di Selat Makassar dan Laut Natuna Utara serta diprediksi terjadi hingga Minggu (18/2). Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter berisiko bagi perahu nelayan,” ucapnya di Ambon, Maluku, Sabtu (17/2). (Yoga)
Kalteng Tunggu Satgas Sawit
Pemprov Kalteng masih menunggu hasil evaluasi pemerintah
pusat tentang perkebunan sawit masuk kawasan hutan. Ketegasan aturan dinilai
bisa mencegah konflik agraria di lapangan. Pada April 2023, Presiden Jokowi
menandatangani Kepres No 9 Tahun 2023 tentang Satgas Tata Kelola Industri
Kelapa Sawit dan Optimalisasi Penerimaan Negara. Satgas yang diketuai Menko Bidang
Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tersebut dibentuk, mempertimbangkan
masih terdapat persoalan tata kelola industri kelapa sawit. Satgas ini dibentuk
untuk penanganan dan perbaikan tata kelola industri sawit. Salah satu perhatiannya
adalah melihat dan mengevaluasi kembali perkebunan sawit yang masuk kawasan
hutan.
Plt Kadis Perkebunan Kalteng Rizky Badjuri menjelaskan, satgas
bekerja sejak April 2023, untuk menyelesaikan problem perkebunan masuk kawasan
hutan hingga Desember 2023. Namun, hingga kini hasilnya belum jelas. ”Kami
masih menunggu, begitu juga pengusaha. Satgas ini punya peranan penting dan
bisa berdampak pada iklim investasi di Kalteng, terutama mencegah konflik
dengan masyarakat,” ungkap Rizky, di Palangkaraya, Kalteng, Jumat (16/2). Rizky
mengatakan, pihaknya tidak terlibat jauh dalam kerja satgas sawit di Kalteng
sehingga hanya bisa menunggu. ”Semakin lama hasilnya keluar, dampaknya banyak,”
ujarnya. Kalteng, merupakan salah satu wilayah fokus kerja satgas sawit, karena
ada 632.133,96 hektar (ha) kebun sawit di Kalteng yang dinilai masuk kawasan
hutan. Jumlah itu merupakan bagian dari total 3,3 juta ha kawasan perkebunan sawit
di Indonesia yang diduga masuk kawasan hutan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









