Manis Legit Kue Warisan Nenek
Berbekal resep dari nenek, sejumlah produsen kue tradisional
terus berinovasi agar bisa merebut lidah dan hati warga urban yang akrab dengan
roti dan aneka pastri. Mereka mempertahankan rasa dan memoles citra ke level
premium. Dengan cara itu, gerai kue tradisional eksis di mal, bandara, hingga
istana. Di kompleks ruko Villa Melati Mas, Serpong, Tangsel, Banten, Rabu (21/2)
sejumlah pekerja produsen dan toko kue tradisional Iki Koue Citarasa Nusantara mengirim
pesanan ke pelanggan penting. Kontainer plastik dan kardus berisi aneka kue
tradisional berpenampilan cantik dan menggugah selera dikirim untuk pelantikan
menteri baru di Istana Negara pagi itu.
Setiap hari, dapur Iki Koue menerima pesanan paling lambat
pukul 17.00 untuk diantarkan keesokan harinya, ujar Laura Wiramihardja, salah
satu pendiri sekaligus pemilik Dapur Iki Koue, yang bisa membuat 46 macam kue tradisional,
dari yang manis dan asin. Sampai yang dikukus, digoreng, atau dibuat bolu. Ada
juga aneka bubur tradisional ala jajanan pasar, yang bisa dikemas dalam mangkuk
plastik atau dalam paket besar di beberapa bejana tanah liat. Semua kue dan bubur
dibuat dengan resep dan cita rasa orisinal warisan keluarga. Rentang harganya mulai
Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per potong atau sajian. Segmen pasar Iki Koue berkategori
premium sehingga harga menyesuaikan.
Iki Koue juga membuka gerai di salah satu mal eksklusif di
kawasan Senopati, Jakarta. Di sana pengunjung dapat menikmati menu inovatif,
aneka bubur jajanan pasar, yang ditempatkan di dalam wadah eksotik dari tanah
liat tadi. Para tamu dapat memilih sendiri topping tambahan meniru cara penyajian
produk yoghurt merek kekinian. Selain itu, penataan gerai yang cantik memungkinkan
para pembeli jika ingin berfoto dan mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pendekatan-pendekatan
itu dilakukan terutama untuk menarik pembeli muda, yang dinilai mulai kurang
akrab dengan jajanan tradisional.
Monami Bakery juga tetap eksis di pasar kue tradisional kelas
premium sejak 1976, ketika gaya hidup ngemal menjangkiti warga Urban, Monami
juga masuk ke mal, dengan 38 gerai yang tersebar di mal, toko, dan bandara. Sandi
Gunawan dan istrinya, Florean Hadinata bilang, kunci keberhasilan usaha mereka
bertahan selama ini adalah selalu berusaha mempertahankan rasa otentik sesuai
warisan nenek dan membuat produk yang inovatif. Salah satunya, menggunakan santan
segar dari kelapa tua utuh. ”Bahkan, untuk membuat kue lumpur, kami masih menggunakan
arang untuk memanaskan bagian atas kue seperti cara nenek dulu. Kami akan terus
mempertahankan agar rasa kue dan kelumerannya sama seperti buatan beliau,” ucap
Florean. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023