Romansa dan Cerita Rupiah di Batas Negara
Rombongan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 tiba di
terminal penumpang Pelabuhan Kelas III Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, Nunukan,
Kaltara, Sabtu (24/2) setelah menempuh 10 jam perjalanan dari Dermaga Pangkalan
Utama TNI AL XIII Tarakan. Rombongan ERB 2024 terdiri dari pegawai BI, prajurit
TNI AL, dan anggota Baznas. Misinya, memberi layanan penukaran uang rupiah dan
layanan kesehatan, juga menyalurkan bantuan program sosial kepada masyarakat
yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Harian Kompas
dan beberapa media lain bergabung dalam rombongan ini. Warung Muliyati (48) hanya
berjarak 10 langkah dari Patok Perbatasan Indonesia-Malaysia (PB-02) Sebatik.
Meski Muliyati mengantongi identitas warga negara Indonesia, warungnya terletak
di luar patok perbatasan atau berdiri di wilayah negeri jiran. Warung yang diba
ngun Muliyati pada Juni 2023 itu kerap disambangi pelancong yang tergugah untuk
melihat batas negara sekaligus mengunjungi Wisata Rumah Dua Negara.
”Di sini, orang bisa membayar pakai dua mata uang, ringgit
dan rupiah, ada juga yang pakai QRIS. Tapi, paling banyak pembayaran pakai rupiah,”
katanya. Peredaran kedua mata uang itu menjadi fenomena yang wajar mengingat
kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan hanya dibatasi garis imajiner yang
memisahkan teritori dua negara. Beberapa meter dari patok perbatasan, sejumlah
prajurit TNI selalu mencatat lalu lalang warga lintas negara. Barang dagangan
di warung Muliyati yang banyak diminati pembeli adalah ragam produk minuman
saset buatan Malaysia. Kehidupan di perbatasan tidak hanya berkait urusan ekonomi
bagi Muliyati, tetapi juga menyangkut urusan keluarga. Muliyati menikah dengan
warga negara Malaysia dan dikaruniai enam anak. ”Saya orang Indonesia, tetapi
menikah dengan orang Malaysia. Anak saya Malaysia semua. Tapi, saya tetap cinta
Indonesia,” imbuhnya.
Sugianto (66) pemilik kebun sawit di Desa Aji Kuning,
Kabupaten Nunukan, menceritakan, tak sedikit orang Malaysia yang tinggal di
perbatasan membeli hasil kebun sawitnya. Kendati demikian, Sugianto yang kerap
singgah di warung Muliyati untuk sekadar menikmati secangkir kopi masih menyimpan
uang rupiah dalam jumlah lebih banyak ketimbang ringgit. Ringgit yang ia terima
akan ditukarkan dengan rupiah di bank atau digunakan untuk membeli kebutuhan
pokok di kota Tawau, Sabah, Malaysia, yang terpisah perairan laut dengan Pulau
Sebatik, karena lebih dekat dan harga barang-barang kebutuhan pokok di Tawau
pun lebih murah ketimbang di kota terdekat di wilayah Indonesia. Harga 10 kg beras,
27 ringgit 60 sen atau Rp 90.000. Sementara beras domestik Rp 130.000 per 10
kg. Harga minyak goreng di Malaysia Rp 16.000 per liter. Sementara minyak
goreng dalam negeri Rp 20.000 per liter. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023