;

Romansa dan Cerita Rupiah di Batas Negara

Ekonomi Yoga 26 Feb 2024 Kompas
Romansa dan Cerita
Rupiah di Batas Negara

Rombongan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 tiba di terminal penumpang Pelabuhan Kelas III Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltara, Sabtu (24/2) setelah menempuh 10 jam perjalanan dari Dermaga Pangkalan Utama TNI AL XIII Tarakan. Rombongan ERB 2024 terdiri dari pegawai BI, prajurit TNI AL, dan anggota Baznas. Misinya, memberi layanan penukaran uang rupiah dan layanan kesehatan, juga menyalurkan bantuan program sosial kepada masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Harian Kompas dan beberapa media lain bergabung dalam rombongan ini. Warung Muliyati (48) hanya berjarak 10 langkah dari Patok Perbatasan Indonesia-Malaysia (PB-02) Sebatik. Meski Muliyati mengantongi identitas warga negara Indonesia, warungnya terletak di luar patok perbatasan atau berdiri di wilayah negeri jiran. Warung yang diba ngun Muliyati pada Juni 2023 itu kerap disambangi pelancong yang tergugah untuk melihat batas negara sekaligus mengunjungi Wisata Rumah Dua Negara.

”Di sini, orang bisa membayar pakai dua mata uang, ringgit dan rupiah, ada juga yang pakai QRIS. Tapi, paling banyak pembayaran pakai rupiah,” katanya. Peredaran kedua mata uang itu menjadi fenomena yang wajar mengingat kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan hanya dibatasi garis imajiner yang memisahkan teritori dua negara. Beberapa meter dari patok perbatasan, sejumlah prajurit TNI selalu mencatat lalu lalang warga lintas negara. Barang dagangan di warung Muliyati yang banyak diminati pembeli adalah ragam produk minuman saset buatan Malaysia. Kehidupan di perbatasan tidak hanya berkait urusan ekonomi bagi Muliyati, tetapi juga menyangkut urusan keluarga. Muliyati menikah dengan warga negara Malaysia dan dikaruniai enam anak. ”Saya orang Indonesia, tetapi menikah dengan orang Malaysia. Anak saya Malaysia semua. Tapi, saya tetap cinta Indonesia,” imbuhnya.

Sugianto (66) pemilik kebun sawit di Desa Aji Kuning, Kabupaten Nunukan, menceritakan, tak sedikit orang Malaysia yang tinggal di perbatasan membeli hasil kebun sawitnya. Kendati demikian, Sugianto yang kerap singgah di warung Muliyati untuk sekadar menikmati secangkir kopi masih menyimpan uang rupiah dalam jumlah lebih banyak ketimbang ringgit. Ringgit yang ia terima akan ditukarkan dengan rupiah di bank atau digunakan untuk membeli kebutuhan pokok di kota Tawau, Sabah, Malaysia, yang terpisah perairan laut dengan Pulau Sebatik, karena lebih dekat dan harga barang-barang kebutuhan pokok di Tawau pun lebih murah ketimbang di kota terdekat di wilayah Indonesia. Harga 10 kg beras, 27 ringgit 60 sen atau Rp 90.000. Sementara beras domestik Rp 130.000 per 10 kg. Harga minyak goreng di Malaysia Rp 16.000 per liter. Sementara minyak goreng dalam negeri Rp 20.000 per liter. (Yoga) 

Tags :
#Rupiah #Varia
Download Aplikasi Labirin :