Ekonomi
( 40465 )Kejar Nilai Tambah dengan Minyak Merah
Presiden Jokowi meresmikan pabrik minyak makan merah yang
pertama di Indonesia, Kamis (14/3), di Kecamatan Pagar Merbau, Deli Serdang,
Sumut. Pabrik itu akan meningkatkan nilaitambah yang diperoleh petani karena
pabrik dikelola oleh koperasi petani sawit. ”Minyak makan merah ini sudah
dicoba beberapa chef. Mereka menyampaikan minyak makan merah itu beda, lebih enak
dan gizinya lebih baik. Saya nanti mau beli, mau coba juga,” kata Presiden.
Pabrik minyak makan merah, menurut Presiden, sangat penting bagi program
hilirisasi kelapa sawit petani. Indonesia memiliki 15,3 juta hektar kebun sawit.
Sebanyak 6,2 juta hektar atau 40,5 % di antaranya merupakan kebun sawit yang dikelola
petani. Oleh karena itu, peran petani dinilai sangat penting dalam membangun
industri sawit nasional.
Minyak makan merah merupakan produk turunan kelapa sawit.
Produk ini bisa dimanfaatkan untuk menggoreng layaknya minyak goreng atau dikonsumsi
langsung sebagai minyak makan. Kandungan beta karoten, vitamin A, fitonutrien,
dan komposisi asam lemaknya dinilai strategis untuk mengatasi tengkes
(stunting). Selain itu, beberapa kandungannya bisa dimanfaatkan sebagai bahan
aktif kosmetik dan farmasi. ”Pabrik minyak makan merah ini diharapkan
memberikan nilai tambah yang baik bagi petani sawit. Jadi, harga tandan buah
segar (TBS) sawit tidak naik dan turun karena di sini semuanya diolah menjadi
barang jadi, yaitu minyak makan merah,” kata Presiden. (Yoga)
Destinasi Kuliner Ruang Terbuka Dibidik
Destinasi kuliner di Jakarta terus semarak dengan
bertambahnya ritel-ritel baru makanan dan minuman. Summarecon Mall Kelapa
Gading meresmikan Gafoy, destinasi kuliner untuk melengkapi fasilitas pusat
perbelanjaan di Jakut itu. Merujuk data BPS tahun 2022, jumlah usaha penyedia
makanan dan minuman skala menengah besar sebanyak 10.900 usaha, tumbuh 20,76 %
secara tahunan. Usaha penyedia makanan dan minuman skala menengah besar di
Pulau Jawa terbanyak berada di Provinsi DKI Jakarta dan Jabar. Sekitar 50,44 %
usaha makanan dan minuman tersebut berlokasi di mal/pertokoan. Presdir PT Summarecon
Agung Tbk Adrianto P Adhi mengemukakan, industri makanan dan minuman bertumbuh
sangat pesat, tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga inovasi. Pihaknya
menangkap peluang bisnis makanan dan minuman itu dengan melakukan transformasi
bisnis serta destinasi kuliner yang kekinian dan menyasar berbagai lapis usia.
Pusat kuliner Gafoy di kawasan Mal Kelapa Gading yang terdiri
dari beragam restoran dan kafe berkonsep semiterbuka dinilai melengkapi
eksplorasi kuliner dan hiburan kaum urban modern di segala usia. Kawasan itu
menempati area seluas 11.000meter persegi (m2) dengan luasan area sewa 8.500 m2
yang akan diisi 22 tenant. Nilai investasi pembangunan Gafoy Rp 100 miliar. ”Gafoy
melengkapi destinasi kuliner dan transformasi bisnis makanan dan minuman sehingga
mengundang tenant-tenant pilihan,” ujar Adrianto dalam peresmian pusat kuliner
Gafoy, di Jakarta, Kamis (14/3). Director Summarecon Soegianto Nagaria
menambahkan, masyarakat semakin menyukai dan mencari konsep ruang terbuka
dengan sirkulasi udara yang baik. Gafoy didesain dengan konsep ruang terbuka
(outdoor) sekaligus ruang tertutup (indoor), serta ruang untuk komunitas.
Konsep ruang semiterbuka itu juga akan terus dikembangkan pada proyek-proyek
township Summarecon lainnya. (Yoga)
Penjualan Mobil Triwulan I-2024 Diproyeksikan Turun
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo
memproyeksikan penjualan mobil triwulan I-2024 akan lebih rendah ketimbang
periode sama tahun lalu, didasarkan penjualan Januari-Februari yang di bawah
realisasi periode sama tahun lalu. Namun, Gaikindo menargetkan penjualan 2024
bisa mencapai 1,1 juta unit. Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiharto mengatakan,
penjualan mobil dua bulan pertama tahun ini menurun secara tahunan. Salah satu
penyebabnya, pada Januari-Februari banyak konsumen yang masih menanti hasil
pemilu. Mereka menahan belanja karena berhati-hati mengantisipasi unsur ketidak
pastian yang mungkin muncul karena pemilu. ”Konsumen banyak juga yang wait and
see menanti jalannya dan hasil pemilu. Jadi, menahan dulu belanja mobil,” ujar Jongkie
saat dihubungi, Kamis (14/3).
Mengutip data Gaikindo, penjualan mobil pada Januari dan Februari
2024 secara wholesales (pabrik ke dealer) mencapai 140.275 unit, turun 22,64 %
dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 181.329 unit. Penjualan
mobil secara bulanan pada awal 2024 juga stagnan. Pada Februari 2024, penjualan
mencapai 70.656 unit atau hanya tumbuh 1 % dibandingkan Januari 2024 sebanyak
69.619 unit. Penjualan ritel (dealer ke konsumen) juga berkurang 15 % secara
tahunan, dari 174.921 unit pada Januari-Februari 2023 menjadi 148.649 unit pada
Januari-Februari 2024. Selain pemilu, penyebab lainnya adalah pertumbuhan
ekonomi Indonesia yang stagnan atau sedikit melambat. Mengutip data BPS pertumbuhan
ekonomi Indonesia pada 2023 mencapai 5,05 %, turun dibanding 2022 sebesar 5,31
%. Hal ini turut memengaruhi penjualan mobil nasional. (Yoga)
Sahur Jadi Waktu Favorit ”Check Out” Belanja Daring
Selama Ramadhan, perilaku belanja melalui platform
perdagangan secara elektronik atau e-dagang mengalami pergeseran. Waktu sahur
diyakini para pengelola lokapasar sebagai waktu saat paling banyak terjadi
transaksi belanja daring. ”Waktu check out (bayar belanja daring) selama
Ramadhan dan hari biasa itu berbeda. Selama Ramadhan, check out meningkat
signifikan pada waktu sahur sampai pagi (memasuki jam kerja). Siang (masih di
jam kerja) juga masih ada yang check out,” ujar Senior Vice President
Campaigns, Traffic, and Onsite Marketing Lazada Indonesia Amelia Tediarjo,
Kamis (14/3) di Jakarta.
Pada jam-jam tertentu yang difavoritkan untuk belanja daring
selama bulan Ramadhan, imbuh Amelia, platform lokapasar, seperti Lazada, bisa
mencatatkan kenaikan transaksi hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Berdasarkan
survei yang digelar Lazada Indonesia baru-baru ini terhadap 600 pelanggan
berusia 19-35 tahun, 89 % di antaranya mengaku kebutuhan untuk Ramadhan cenderung
lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Sebanyak 88 % responden mengatakan sudah
memiliki perencanaan daftar belanja Ramadhan sejak satu-dua peKan sebelum hari
pertama puasa. Amelia menambahkan, di antara pengguna platform Lazada, terdapat
kelompok konsumen yang selalu memaksimalkan diskon. (Yoga)
Masifkan Pencegahan Antraks di DIY
Kasus antraks yang berulang di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) menunjukkan perlunya penyakit itu ditangani secara tuntas dan
ada upaya pencegahan secara masif. Penyakit hewan yang dapat menular kepada
manusia ini berbahaya. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Nanung Danar Dono, menyebutkan,
langkah memutus berulangnya kasus antraks di DIY memerlukan upaya dari
masyarakat, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Sejak 2019, kasus antraks setiap
tahun selalu muncul di DIY, terutama di Kabupaten Gunungkidul.
”Kepada masyarakat, mohon jangan lagi mengonsumsi ternak yang
sudah mati. Kalau ada ternak yang sakit, jangan disembelih juga, laporkan ke
petugas dinas peternakan setempat,” ujarnya, Kamis (14/3). Pada Rabu (13/3),
Pemerintah DIY menetapkan Dusun Kalinongko Kidul, Prambanan, Kabupaten Sleman,
dan Dusun Kayoman, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, sebagai zona merah
antraks. Meski beda kabupaten, kedua desa itu secara geografis bertetangga dan
banyak warganya yang terikat hubungan kekerabatan.
Zonasi dilakukan untuk memfokuskan penanganan terhadap ternak
agar kasus tak menyebar. Zona merah juga melarang lalu lintas ternak ke luar
dusun Nanung berharap pemerintah melakukan penanganan secara cepat dan tuntas
jika ada kasus antraks yang muncul. Hal ini untuk mencegah spora antraks
menyebar ke area yang lebih luas. Salah satu solusinya ialah dengan mengkremasi
bangkai hewan yang diduga mati tak wajar. Menurut dia, kremasi akan memusnahkan
spora antraks secara total. Hal itu dilakukan dengan alat bernama onsite mobile
incinerator yang dapat diterjunkan ke lokasi jika terjadi kasus kematian hewan
ternak yang tak wajar. (Yoga)
Tata Kelola Buruk, Utang BUMN Karya Bengkak
Masalah beban utang menumpuk yang membelit sejumlah BUMN di
sektor konstruksi atau BUMN Karya ditengarai muncul karena permasalahan
internal dalam tata kelola. Situasi ini diperparah beban penugasan proyek dari pemerintah
yang tidak dilandasi perencanaan matang. Salah satu BUMN Karya yang terbelit
beban utang adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Berdasarkan laporan keuangan
triwulan III-2023, perseroan tercatat memiliki liabilitas Rp 84,1 triliun,
tertinggi dibanding beban utang BUMN karya lainnya. Proporsi utang terhadap
total aset perseroan mencapai 87,1 %. Sementara itu, PT Wijaya Karya (Persero)
Tbk tercatat sebagai BUMN Karya dengan nilai liabilitas tertinggi kedua sebesar
Rp 55,6 triliun. Dengan total aset Rp 66,6 triliun, proporsi utang perseroan
terhadap total aset sebesar 83,5 %.
Pengamat BUMN dari UI, Toto Pranoto, mengatakan, tumpukan beban
utang yang ditanggung BUMN Karya dipicu masalah internal terkait tata kelola
perseroan. Contohnya, Waskita Karya yang enam tahun terakhir mengubah model
bisnis dari kontraktor menjadi investor. ”Bisnis model investor adalah mereka
berupaya membangun banyak jalan tol, untuk kemudian dijual. Keuntungan yang
lebih tinggi dari hasil penjualan akan dinvestasikan atau digunakan untuk
proyek di tempat lain,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (14/3). Persoalan
di Waskita Karya, terjadi sebab kecepatan perseroan mendivestasi aset tol yang
mereka kerjakan terhambat oleh sejumlah hal.
Salah satunya adalah harga jual yang kelewat mahal. Padahal,
modal pembangunan tol, mulai dari untuk akuisisi lahan hingga konstruksi jalan
tol, bersumber dari berbagai instrumen utang. Di tengah upaya merestrukturisasi
utang, perseroan mendapatkan penugasan-penugasan pemerintah untuk membangun
infrastruktur lain. Kondisi ini justru malah menambah beban keuangan dari
Waskita Karya. Terlebih lagi, penugasan pemerintah kerap tidak diimbangi dengan
penempatan ekuitas. ”Akhirnya semua menumpuk hingga tiba di suatu masa mereka
mengalami problem likuiditas. Itu menyebabkan BUMN Karya berada dalam situasi
seperti saat ini di mana kebutuhan kreditor tidak bisa dipenuhi dan utang jatuh
tempo tidak bisa dibayar,” ujar Toto. (Yoga)
”Guremisasi” dan ”Miskinisasi”
BPS merilis hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) mengenai
jumlah usaha pertanian tahun 2023 yang sebanyak 29,36 juta unit. Berkurang 2,35
juta unit atau 7,42 % dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013)
yang 31,71 juta. Dampak langsung dari penurunan jumlah usaha pertanian adalah
menurunnya penyerapan tenaga kerja di sektor ini. BPS mencatat, tahun 2013, sektor
pertanian menyerap 39.220.261 tenaga kerja atau berkontribusi 34,78 % terhadap
total penyerapan tenaga kerja nasional. Angka ini menurun di 2022 menjadi
38.703.996 tenaga kerja atau 28,61 % dari total penyerapan tenaga kerja
nasional. Menurunnya jumlah usaha pertanian yang berdampak pada menurunnya penyerapan
tenaga kerja disebabkan oleh banyaknya petani yang mengganti profesinya ke
bidang usaha lain atau ”pensiun” dan relatif sedikitnya muncul ”petani baru”.
Mayoritas petani di Indonesia adalah petani yang melakukan
usaha pertanian dengan penguasaan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar atau
dikenal sebagai petani gurem. Pada 2013, terdapat 14,25 juta rumah tangga
petani gurem. Proporsi rumah tangga petani gurem terhadap total rumah tangga
petani di Indonesia tahun 2013 sebesar 55,33 %. Kondisi ini memburuk pada 2023,
di mana jumlah rumah tangga petani gurem naik 18,49 % menjadi 16,89 juta rumah
tangga. Akibatnya, proporsi rumah tangga petani gurem juga meningkat menjadi
60,84 % pada 2023. Dengan jumlah petani gurem yang sangat besar, maka
transformasi usaha pertanian ke nonpertanian hanya menunggu waktu. Apalagi, di
2023, ketika jumlah petani gurem semakin meningkat.
Di Indonesia, pengangguran bukanlah kelompok terbesar dari
penduduk miskin, melainkan petani. BPS mencatat, pada 2023 sebesar 48,86 % rumah
tangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari bertani, sementara yang
tidak bekerja hanya 12,07 %. Artinya, mayoritas orang miskin di Indonesia
merupakan pekerja keras, yang sekaligus merupakan elemen penting tercapainya Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2-4, tetapi berusaha dalam sistem bisnis yang
tak mendukung. Para petani gurem merupakan cerminan dari kemiskinan tersebut. Pemerintah
perlu mengkaji kriteria kemiskinan ini karena bisa menyebabkan bansos jadi
salah sasaran. Kenyataan menunjukkan bahwa pertanian bukan sektor yang menarik
untuk digeluti oleh anak muda karena menjadi petani hanya akan menjadi miskin
dan kelak melahirkan generasi-generasi miskin. (Yoga)
BERAS, Pasokan Naik, Warga Diimbau Tidak Panik
Pasokan gabah dan beras ke pasaran diprediksi meningkat
seiring meluasnya area panen padi hingga 1-2 bulan ke depan. Masyarakat diimbau
tidak panik dalam membeli barang kebutuhan pokok, khususnya beras, karena dapat
berdampak pada kenaikan harga. Stok beras di Jabar, salah satu sentra produksi
beras nasional, diperkirakan dalam kondisi surplus 50.000 ton selama Maret
2024. Produksi akan meningkat pada puncak panen raya yang diperkirakan terjadi
bulan depan. Pergeseran masa tanam membuat panen padi di Jabar meningkat dan
mencapai 1,27 juta ton pada April 2024. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan
Hortikultura Jabar Dadan Hidayat memaparkan, produksi padi di Jabar diprediksi
mencapai 620.989 ton dalam bentuk gabah kering giling (GKG) pada Maret 2024.
Jumlah ini jauh lebih tinggi disbanding produksi pada Februari yang sebanyak 148.560
ton GKG, sementara pada Januari 2024 angkanya 243.362 ton GKG.
Menurut Dadan, selain pada volume produksi, fenomena El Nino
berdampak pada pergeseran masa tanam hingga 2-3 bulan. Akibatnya, masa tanam
dimulai pada Desember 2023 hingga Januari 2024. ”Secara kumulatif, pada Maret
2024, Jabar surplus hingga 50.000 ton. Memang ini cukup kecil. Namun, ini memastikan
masih ada kecukupan pangan. Potensi panen yang besar ada pada April 2024 karena
masa tanam bergeser jadi akhir tahun lalu dan Januari tahun ini,” ujarnya
seusai rapat pembahasan ketahanan pangan di Bandung, Jabar, Rabu (13/3). ”Dalam
kurun Oktober 2023 sampai 15 Februari 2024, ada 6.299 hektar lahan yang
terdampak bencana karena perubahan iklim. Namun, dari jumlah tersebut, yang
puso hanya 874 hektar. Jadi, kondisi awal tahun ini tidak dipengaruhi oleh bencana-bencana
tersebut,” ujarnya. Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengatakan, stok pangan
yang dinilai aman ini diharapkan bisa menenangkan masyarakat. Dia mengimbau
warga untuk tidak panik saat bulan Ramadhan karena dapat berdampak pada
kenaikan harga. (Yoga)
RISIKO ANOMALI EKONOMI RAMADAN
Geliat konsumsi pada Ramadan tahun ini diprediksi penuh dengan tantangan. Bulan yang biasanya diiringi dengan melonjaknya permintaan, kali ini dibayangi oleh perubahan pola konsumsi. Bukannya tanpa alasan konsumen menunda belanja pada periode krusial ini. Besarnya pengeluaran untuk belanja pokok dan antisipasi membengkaknya pengeluaran pada mudik Lebaran sedikit mengerem konsumsi Ramadan. Ada dua faktor yang menjadi pemberat konsumsi masyarakat pada bulan ini. Pertama, mahalnya harga beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Bahkan, pemerintah baru-baru ini menaikkan harga eceran tertinggi (HET) beras premium dari Rp13.900—Rp14.800 per kilogram (kg) menjadi Rp14.900—Rp15.800 per kg berdasarkan zonasi. Kedua, naiknya tarif sejumlah ruas jalan tol yakni Jalan Tol Jakarta—Cikampek (Japek), Jalan Tol Serpong—Cinere, Jalan Tol Jombang—Mojokerto, hingga Jalan Tol Surabaya—Gresik. Tentu keduanya akan memberatkan masyarakat sehingga konsumsi pada bulan ini diestimasi tertahan. Terlebih, sebelum memasuki Ramadan ada aksi menahan pengeluaran dari konsumen. Hal itu tecermin dalam Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia (BI) yang mencatat proporsi pengeluaran konsumsi terhadap pendapatan turun dari 74,6% pada Januari 2024 menjadi 73% pada Februari 2024. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat, tecermin dari IKK Februari 2024 yang berada pada level 123,1. "IKE juga tetap terjaga didukung oleh optimisme pada semua komponen pembentuknya," katanya, Rabu (13/3). Pemerintah pun menyiapkan berbagai cara untuk menjaga stabilitas harga pada bulan puasa sehingga konsumsi yang menjadi mesin utama produk domestik bruto (PDB) mampu tumbuh maksimal. Persoalannya, terjadi ketidaksinkronan aksi dalam mengelola infl asi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda).
Mengacu pada data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), per kemarin ada 250 daerah yang belum melakukan operasi pasar sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga. Irjen Kemendagri Tomsi Tohir, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Infl asi kemarin mengatakan ada banyak daerah yang tidak melaksanakan operasi pasar meski memiliki stok beras melimpah. Optimisme senada juga disampaikan Kementerian Perindustrian, yang juga berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya bersama pemerintah terkait dalam rangka menjaga daya beli masyarakat. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantji Punguan Pintaria, mengatakan momentum Ramadan cukup potensial untuk mendongkrak kinerja industri. Sementara itu, kalangan pelaku usaha menyadari adanya perubahan pola konsumsi karena besarnya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan dan antisipasi membengkaknya biaya mudik. Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo, mengatakan pengusaha akan mengerahkan sejumlah strategi seperti meningkatkan keterjangkauan produk, produksi minuman rendah kalori, hingga menjamin ketersediaan pasokan. Pelaku usaha pun memandang urgensi untuk menguatkan proteksi konsumsi sangat tinggi. Sebab menurutnya, tahun ini merupakan waktu yang tepat bagi industri minuman ringan untuk reboundpasca Covid-19 yang menurunkan penjualan hingga 40%—50%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan pemerintah harus mulai mendesain kebijakan untuk membantu kelas menengah yang selama ini belum tersentuh bantuan sosial. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, menambahkan tantangan ekonomi yang masih muncul dari harga pangan yang masih tinggi akibat El-Nino. "Ini tentu cukup signifi kan dampaknya terhadap daya beli masyarakat," katanya.
Menjaga Daya Beli & Pengendalian Inflasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Inflasi pada Februari 2024 sebesar 2,75% secara year-on-year (YoY) yang ditunjukkan dengan naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, seperti makanan, minuman, dan tembakau hingga rekreasi dan budaya. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi secara YoY pada Februari 2024, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,36%, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (3,09%), penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,38%), kesehatan (1,95%), rekreasi, olahraga, dan budaya (1,68%), pendidikan (1,55%), dan transportasi (1,40%). Selanjutnya, kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami kenaikan 1,13%, pakaian dan alas kaki (0,90%), perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga (0,57%). Sebaliknya, hanya kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang membukukan penurunan 0,13% pada Februari 2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Inflasi atau kenaikan harga ini dapat menjadi indikator mengenai daya beli konsumen, di mana kenaikan harga menunjukkan adanya peningkatan permintaan atau dengan kata lain konsumsi masih bertumbuh. Peningkatan permintaan ini tentu saja, salah satunya dipicu oleh bulan suci Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri, di mana menjadi kelaziman bahwa pedagang berharap adanya lonjakan permintaan.
Pasalnya, survei Indeks Kepercayaan Konsumen yang dirilis Bank Indonesia selaku otoritas moneter menunjukkan adanya tren penurunan belanja atau pengeluaran konsumsi di seluruh golongan pada Februari 2024. Situasi ini disebabkan oleh tingginya harga komoditas pangan yang membebani masyarakat sehingga memengaruhi pola konsumsi secara keseluruhan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









