Tata Kelola Buruk, Utang BUMN Karya Bengkak
Masalah beban utang menumpuk yang membelit sejumlah BUMN di
sektor konstruksi atau BUMN Karya ditengarai muncul karena permasalahan
internal dalam tata kelola. Situasi ini diperparah beban penugasan proyek dari pemerintah
yang tidak dilandasi perencanaan matang. Salah satu BUMN Karya yang terbelit
beban utang adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Berdasarkan laporan keuangan
triwulan III-2023, perseroan tercatat memiliki liabilitas Rp 84,1 triliun,
tertinggi dibanding beban utang BUMN karya lainnya. Proporsi utang terhadap
total aset perseroan mencapai 87,1 %. Sementara itu, PT Wijaya Karya (Persero)
Tbk tercatat sebagai BUMN Karya dengan nilai liabilitas tertinggi kedua sebesar
Rp 55,6 triliun. Dengan total aset Rp 66,6 triliun, proporsi utang perseroan
terhadap total aset sebesar 83,5 %.
Pengamat BUMN dari UI, Toto Pranoto, mengatakan, tumpukan beban
utang yang ditanggung BUMN Karya dipicu masalah internal terkait tata kelola
perseroan. Contohnya, Waskita Karya yang enam tahun terakhir mengubah model
bisnis dari kontraktor menjadi investor. ”Bisnis model investor adalah mereka
berupaya membangun banyak jalan tol, untuk kemudian dijual. Keuntungan yang
lebih tinggi dari hasil penjualan akan dinvestasikan atau digunakan untuk
proyek di tempat lain,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (14/3). Persoalan
di Waskita Karya, terjadi sebab kecepatan perseroan mendivestasi aset tol yang
mereka kerjakan terhambat oleh sejumlah hal.
Salah satunya adalah harga jual yang kelewat mahal. Padahal,
modal pembangunan tol, mulai dari untuk akuisisi lahan hingga konstruksi jalan
tol, bersumber dari berbagai instrumen utang. Di tengah upaya merestrukturisasi
utang, perseroan mendapatkan penugasan-penugasan pemerintah untuk membangun
infrastruktur lain. Kondisi ini justru malah menambah beban keuangan dari
Waskita Karya. Terlebih lagi, penugasan pemerintah kerap tidak diimbangi dengan
penempatan ekuitas. ”Akhirnya semua menumpuk hingga tiba di suatu masa mereka
mengalami problem likuiditas. Itu menyebabkan BUMN Karya berada dalam situasi
seperti saat ini di mana kebutuhan kreditor tidak bisa dipenuhi dan utang jatuh
tempo tidak bisa dibayar,” ujar Toto. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023