Ekonomi
( 40465 )Kesehatan Ginjal bagi Semua
Dunia menghadapi epidemi penyakit ginjal kronis. Namun, kebanyakan
orang tidak menyadari telah mengalami gangguan fungsi ginjal. Padahal, selain
menurunkan kualitas hidup, penyakit ini juga membebani ekonomi warga dan bisa
fatal bagi penderitanya. Penyakit ginjal kerap tanpa gejala. Namun, insidensi dan
beban penyakit ini tinggi. Karena itu, menurut Ketua Perhimpunan Nefrologi
Indonesia Pringgodigdo Nugroho, penapisan awal penting guna menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat komplikasi penyakit ginjal kronis (Kompas,
15/3/2024). Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 850 juta
orang di seluruh dunia mengidap beberapa jenis penyakit ginjal. Penyakit ginjal
termasuk salah satu penyebab utama kematian. Dalam laman World Kidney Day
disebutkan, pada 2019 penyakit ginjal kronis (CKD) memicu lebih dari 3,1 juta kematian.
Hal ini menjadikannya menempati peringkat ketujuh dalam hal penyebab utama
kematian di seluruh dunia.
Beberapa tantangan yang dihadapi meliputi, antara lain, tingginya
beban biaya terapi, terbatasnya akses pengobatan dan tenaga kesehatan di fasilitas
kesehatan primer, kesenjangan informasi seputar penyakit itu, serta lemahnya
pencegahan dan diagnosis dini. Penanganan penyakit ginjal menimbulkan beban
anggaran kesehatan besar karena biaya tahunan per pasien untuk hemodialisis. Biaya
hemodialisis atau cuci darah di AS 88.195 USD, di Jerman 58.812 USD, dan di
Belgia 83.616 USD. Di Indonesia, mengutip data BPJS Kesehatan, biaya terapi
gagal ginjal meningkat dalam pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pada tahun
2022 mencapai Rp 2,1 triliun dan naik menjadi Rp 2,9 triliun pada 2023. Sejumlah
studi membuktikan penapisan bisa efektif menurunkan risiko penyakit ginjal pada
tahap akhir, terutama pada populasi berisiko tinggi. Penapisan bisa melalui
pemeriksaan laboratorium dasar. (Yoga)
Dua Bulan Pertama, Impor Beras Naik Signifikan
Volume impor beras pada awal tahun ini meningkat signifikan seiring
penurunan produksi di tengah meningkatnya permintaan dan harga beras pada masa
Ramadhan-Lebaran. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, impor
beras pada Januari-Februari 2024 mencapai 880.820 ton senilai 564,51 juta USD.
Dibanding Januari-Februari 2023, volume dan nilai impor komoditas itu naik
signifikan masing-masing 93 % dan 148,63 persen. ”Beras impor itu berasal dari Thailand
59,11 %, Pakistan 17,82 %, dan Myanmar 14,34 %,” ujarnya dalam konferensi pers
yang digelar secara hibrida di Jakarta, Jumat (15/3).
Tahun ini pemerintah menetapkan kuota impor beras 3,6 juta
ton, lantaran produksi beras pada 2023 turun dan pada Januari-April 2024
diperkirakan lebih rendah disbanding periode sama tahun lalu. BPS mencatat,
produksi beras nasional turun 440.000 ton atau 1,36 % dari 31,54 juta ton pada
2022 menjadi 31,1 juta ton pada 2023. Dari hasil kerangka sampel area, potensi
produksi beras nasional pada Januari-April 2024 sebesar 10,71 juta ton atau
turun 17,52 % dari Januari-April 2023 yang sebesar 12,98 juta ton.
Dalam rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR, Perum Bulog
menyatakan sudah dan akan mendatangkan beras impor 1,3 juta ton yang akan
digunakan untuk menstabilkan harga beras dan bantuan beras bagi 22 juta
keluarga berpenghasilan rendah. Dirut Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan,
awal tahun ini, Bulog telah mendatangkan 500.000 ton beras impor dari sisa
kuota impor tahun lalu. Hingga kini, Bulog juga telah merealisasikan kontrak
impor beras dengan sejumlah negara sekitar 800.000 ton. (Yoga)
Demi Silaturahmi, Siapkan Mudik dengan Serius
Idul Fitri yang jatuh pada pekan kedua April 2024 rasanya
kurang lengkap apabila tak menjalin silaturahmi dengan orangtua, sanak saudara,
dan handai tolan di kampung halaman. Pemerintah memperkirakan pergerakan
masyarakat 71,7 % total penduduk Indonesia atau 193,6 juta orang selama Lebaran
2024, meningkat dibanding pergerakan masyarakat saat Lebaran tahun lalu di 187
juta orang. Mayoritas di antaranya lebih memilih transportasi umum untuk menuju
kampung halaman. Tia (26), karyawati swasta, misalnya, sudah mereka-reka rencana
pulang ke kampung halaman di Medan, Sumut. Sejak awal Maret 2024, ia berburu
tiket pesawat di berbagai laman. ”Keuangan memang jadi seret jelang mudik.
Harga tiket pesawat sudah Rp 2 jutaan. Padahal, pesannya dari Maret, apalagi kalau
dekat hari-H Lebaran,” ujarnya, Kamis (14/3). Di luar tiket, ada pengeluaran lain
yang totalnya Rp 7 juta-Rp 8 juta. ”Jadi, tahun ini pastinya rindu suasana
Lebaran kumpul keluarga.
Alasan mudik itu, ya, karena cuma setahun sekali, masa tidak
bisa diusahakan mudik, apalagi buat yang masih punya orangtua dan masih
single,” ujarnya. Bayu (24), pegawai kantor pemerintahan, memutuskan mudik pada
Lebaran kali ini. Meski harus merogoh kocek lebih mahal lantaran terlambat memesan
tiket, ia tetap pulang kampung demi berjumpa orangtua dan menjalin silaturahmi
dengan sanak saudaranya. Pada mudik kali ini, Bayu mengeluarkan ongkos
transportasi Rp 1,4 juta atau dua kali lipat dari harga tiket normal. Ia baru
memesan tiket awal Maret 2024 lalu dan hanya tersisa tiket kereta api (KA)
Jakarta-Surabaya kelas eksekutif seharga Rp 710.000. Kedua pengalaman itu
mencerminkan bagaimana perencanaan keuangan mudik oleh masyarakat. Penasihat
keuangan sekaligus pendiri Oneshildt Financial Planning, Risza Bambang, menyarankan
pemudik menyiapkan diri sejak awal. Salah satunya dengan menghitung biaya yang akan
dikeluarkan, antara lain, biaya transportasi umum atau kendaraan pribadi,
akomodasi, serta biaya konsumsi selama perjalanan dan di kampung halaman.
Selain itu, ada biaya oleh-oleh, biaya zakat, biaya donasi atau
THR kepada orangtua dan sanak saudara, kebutuhan untuk pakaian yang berkaitan
dengan mudik, serta biaya jasa penjagaan rumah saat ditinggal mudik. Para
pemudik sebaiknya memperhitungkan tujuan mudik, waktu keberangkatan dan
kepulangan, hingga durasi selama di kampung halaman. Lebih lanjut, destinasi
yang akan dikunjungi selama mudik, pilihan akomodasi tinggal, detail jadwal,
dan jenis transportasi akan menentukan anggaran. ”Langkah selanjutnya adalah
menghitung secara detail dan akurat (keseluruhan biaya yang akan dikeluarkan).
Lalu, tambahkan dengan biaya tidak terduga, baik petty cash (kas kecil) lebih
kurang 10 % maupun asuransi perjalanan jika diperlukan,” ujarnya. Perlu dicatat
bahwa anggaran dibuat sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan ”unjuk
gigi” di kampung. Aanggaran untuk mudik seyogianya mempertimbangkan biaya hidup
dan kebutuhan sehari-hari atau disesuaikan kemampuan finansial agar pengeluaran
tak melebihi dana yang disiapkan. (Yoga)
Penjualan Kurma Meningkat
Roda Ekonomi Si Lajang
Banyaknya warga Di China pada medio 2017 yang memutuskan
hidup sendiri dituding menghambat pertumbuhan ekonomi. Mereka bahkan dianggap
lebih malas bekerja karena tidak punya motivasi untuk menghidupi keluarga dan
membesarkan anak. Rama (32), pekerja swasta asal Jakarta, pernah memasang
target ingin menikah di usia 27 tahun. Namun, setelah ayahnya meninggal pada
tahun 2014, rencana hidup Rama berubah. Kini, Rama masih hidup lajang dan
santai. ”Sepertinya gue single itu lebih karena faktor mental. Gue merasa bokap
pergi terlalu cepat dan gue harus menggantikan posisinya di rumah. Sekarang jadi
lebih pengin habisin waktu sama nyokap dulu mumpung masih bisa bareng,”
ujarnya, Kamis (14/3). Sebagai pria lajang, Rama merasa pengeluarannya terhitung
tinggi.
Dalam sebulan, ia menghabiskan Rp 8 juta-Rp 10 juta hanya
untuk diri sendiri, seperti memenuhi hobi, bergaul, serta merawat dan
membahagiakan diri sendiri (self-care). Ia juga mengeluarkan uang untuk
keperluan rutin, seperti membayar tagihan listrik, air, dan internet. Meski tidak
menikah, ia juga punya tanggungan tidak langsung karena mesti membantu menghidupi
saudaranya. Gabriella Tessa (34) yang masih lajang karena pertimbangan mental
dan finansial merasa pengeluarannya terhitung banyak. Tidak hanya menghidupi
diri sendiri, ia juga membiayai perawatan ayahnya yang sakit dan membayar
berbagai kebutuhan rutin keluarganya. ”Kayaknya kalau jomblo itu konsumsinya
sedikit, tidak juga, ya. Generasi sekarang bukannya banyak yang hedon? Justru
karena single, semakin banyak duit dihabiskan untuk kesenangan pribadi. Jadi,
konsumsinya enggak kalah banyak sama yang berkeluarga,” ujarnya.
Seseorang yang lajang, bisa terimpit keharusan menjadi tulang
punggung keluarga, alias generasi sandwich, yang kini tidak memandang status
marital. Meski tanpa tanggungan resmi, belanjanya dapat menyerupai mereka yang
sudah berkeluarga karena mesti menghidupi anggota keluarga yang lain. Di sisi
lain, kesadaran untuk lebih merawat diri, menyenangkan diri, dan menikmati hidup
yang hanya sekali juga mendorong budaya konsumtif yang masif di kalangan
penduduk lajang. Apalagi, jika mereka memang sanggup secara finansial. Tren
melajang justru kini membuka peluang ekonomi baru yang menyasar konsumen
single. Mengutip kajian McKinsey Global Institute pada 2021, ada tren
kebangkitan ekonomi lajang (solo economy) secara global dengan ceruk pasar
menggiurkan, terutama di sektor hiburan, perawatan diri, horeka (hotel,
restoran, dan kafe), serta turisme.
Di Jepang, misalnya, tempat karaoke untuk satu orang dan restoran
barbeku dengan satu kursi dan satu alat pemanggang muncul di mana-mana. Di
China, penjualan produk rumah tangga berukuran kecil dan ringkas serta robot
pembersih bagi rumah tangga lajang naik berkali-kali lipat. Kaum single yang
awalnya dicela karena dianggap minim kontribusi mulai bangkit menjadi kekuatan
ekonomi baru yang menggerakkan konsumsi. Akan tetapi, untuk jangka panjang,
hidup menjomblo bukannya tanpa konsekuensi. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi
dan Masyarakat FEB UI (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, bangkitnya
populasi lajang bisa menghambat pertumbuhan penduduk baru dan mengubah struktur
demografi. Dampaknya, potensi produktivitas dan suplai tenaga kerja di masa
depan bisa semakin rendah. (Yoga)
Dongkrak Minat Warga Naik Angkutan Umum
Minat masyarakat menggunakan transportasi umum masih minim.
Hal ini tak lepas dari moda transportasi yang belum terintegrasi, terutama
antara DKI Jakarta dan daerah satelit lainnya. Berbagai upaya dilakukan guna meningkatkan
minat warga Jakarta untuk beralih dari kendaraan bermotor ke moda transportasi
umum. Ahmad Nasrun (28), warga Kota Tangerang, terbiasa menggunakan kendaraan
pribadi dari tempat tinggalnya di Kota Tangerang menuju Jakbar. ”Dalam
keseharian, saya lebih memilih menggunakan motor daripada angkutan umum,” ujar
Ahmad, Jumat (15/3) karena pekerjaannya di bidang pemasaran menuntutnya
menjelajahi Jakarta. ”Jika dihitung, masih lebih hemat menggunakan sepeda
motor,” ujarnya.
Begitu juga Muhammad Husein (30) yang memilih menggunakan
sepeda motor dibanding kendaraan umum, karena dia harus memboncengkan sang
istri yang juga berkantor di lokasi sejalur dengan kantornya. Selain itu, dia
juga tak terbiasa dengan kondisi KRL yang berdesakan di jam padat. Apalagi
ketepatan waktu angkutan umum di Jakarta masih sulit diprediksi. Berdasarkan
data Dishub DKI Jakarta, penggunaan sepeda motor masih mendominasi. Dari 88
juta perjalanan per hari, penggunaan sepeda motor mencapai 68,3 %. Adapun
pengguna kendaraan umum hanya 18,45 %. Ketimpangan ini membuat permasalahan lalu
lintas, terutama kemacetan, masih terjadi.
Kepala Pusat Data Informasi Perhubungan Dishub DKI Jakarta
Susilo Dewanto memaparkan, berdasarkan Perda DKI Jakarta No 5 Tahun 2014 Pasal
8, untuk mewujudkan sistem transportasi yang efektif, efisien, lancar, dan
terintegrasi harus memenuhi target 60 % perjalanan penduduk menggunakan kendaraan
umum. Namun, dalam pelaksanaannya, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi,
seperti permukiman penduduk dan antarmoda angkutan massal yang belum
terintegrasi. Pemerintah terus berupaya meningkatkan cakupan angkutan umum, dengan
meningkatkan jumlah angkutan umum.
Ia mencontohkan total bus Transjakarta kini 4.543 unit. Jumlah
subsidi pelayanan Transjakarta bertambah dari Rp 663 miliar (2015) menjadi Rp
3,2 triliun (2023). Menurut Kadis Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo, untuk
menekan penggunaan kendaraan pribadi, pemerintah melakukan pembatasan kendaraan
bermotor yang diimplementasikan dalam bentuk ganjil genap. Beragam upaya untuk
mendongkrak minat masyarakat menggunakan angkutan umum harus dilakukan cermat
dan cepat. Harapannya, mobilitas warga tidak terganggu akibat gagalnya sistem
angkutan di Jakarta. Untuk mewujudkannya, butuh peran semua (Yoga)
Investasi Hijau, Cari Cuan Sambil Jaga Bumi
Masyarakat dapat mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan
bumi dengan menjadi investor di produk dan layanan keuangan kategori investasi
hijau. Secara sederhana, investasi hijau berarti investasi yang tidak hanya
fokus pada potensi untung yang dapat diperoleh, tetapi juga memperhatikan
aspek-aspek lingkungan (environment), sosial (social), dan tata kelola yang
baik (governance). Instrumen investasi hijau yang ditawarkan pun sangat beragam
sehingga pilihan investasi dapat disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu
investasi serta profil risiko yang dimiliki. Dengan demikian, investasi yang
dilakukan dapat mempercepat tercapainya tujuan keuangan yang sudah ditetapkan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan, antara lain:
1. Pahami instrumen investasi pada investasi hijau. Instrumen investasi yang
dapat dikategorikan sebagai investasi hijau sangat beragam, seperti sukuk ritel
hijau, saham, dan reksa dana. Investor dapat melihat saham dan reksa dana yang
tergolong saham hijau di Indeks Enviromental, Social and Governance (ESG) Leaders,
yang mengukur kinerja saham yang memiliki penilaian ESG baik dan tidak terlibat
pada kontroversi secara signifikan serta kinerja keuangan yang baik.
2. Sesuaikan pilihan produk dengan tujuan investasi dan profil
risiko Untuk investor dengan profil risiko konservatif, obligasi menjadi
pilihan yang sesuai. Jika profil risiko moderat, dapat berinvestasi di reksa
dana, sedang untuk profil risiko agresif, saham menjadi instrumen yang tepat. 3.
Investasi jangka panjang, untuk perencanaan masa depan, bahkan masa pensiun,
dengan baik. 4. Cek portofolio secara berkala untuk memaksimalkan keuntungan
dari investasi. 5. Lakukan diversifikasi dan disiplin berinvestasi untuk
meminimalkan risiko investasi, Sisihkan dana untuk investasi di awal, bukan
sisa dari pendapatan. Lakukan investasi secara berkala. (Yoga)
Pelemahan Ekspor Berlanjut, Surplus Dagang Menipis
Tren pelemahan ekspor masih berlanjut memasuki
Februari 2024. Pada bulan lalu ekspor turun 9,45 % secara tahunan (year on
year/yoy) menjadi USD 19,3 miliar dari USD 21,3 miliar dan 5,79 % secara
bulanan (month to month/mtm) dari USD 20,49 miliar. Akumulasi surplus neraca
perdagangan pun menipis, turun menjadi hanya USD 2,9 miliar dari tahun lalu di USD
36,9 miliar.
Per Februari 2024, akumulasi ekspor turun 8,8 %
menjadi USD 39,8 miliar, dibanding periode sama tahun lalu USD 43,65 miliar. Plt
Kepala BPS Amalia Adminggar Widyasanti mengatakan, penurunan ekspor secara
bulanan disebabkan kemerosotan pengapalan produk manufaktur. Februari 2024,
ekspor manufaktur turun 9,22 % secara bulanan menjadi USD 13,64 miliar dari USD
15 miliar. (Yetede)
INVESTASI KONTRAK BERJANGKA SAHAM : Mendulang Cuan Lewat SSF
Investor diyakini masih bisa mendulang cuan lewat instrumen investasi kontrak berjangka saham (Single Stock Futures/SSF) meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) sedang lesu atau bearish. Setidaknya, ada lima saham yang menjadi underlying dari SSF yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, yaitu PT Astra International Tbk. (ASII), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). “Ini adalah salah satu produk atau instrumen yang bisa digunakan oleh investor untuk bisa mendapatkan keuntungan, baik pada saat market sedang bullish maupun sedang bearish,” kata Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik dalam Seminar Edukasi BEI, Jumat (15/3). Menurutnya, seiring dengan Single Stock Futures, BEI memberi kesempatan bagi para investor untuk bisa menerapkan strategi baru dalam bertransaksi saham-saham yang ada di Indeks LQ45 dengan inisial modal yang jauh lebih ringan, serendah-rendahnya 4%. Adapun, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 1 BEI Firza Rizqi Putra mengatakan alasan pemilihan kelima saham tersebut sudah sesuai dengan usulan dan surat keputusan Bursa yang akan segera dikeluarkan dalam waktu dekat, bahwa underlying Single Stock Futures adalah saham-saham Indeks LQ45. “Saham BBRI, BBCA, MDKA, TLKM, dan ASII ini memang yang kami keluarkan, kami menentukan beberapa pertimbangan, di antaranya likuiditas, fundamental, volatilitas, dan juga representatif dari market cap LQ45 ataupun IDX30,” jelas Firza. Lebih lanjut dia mengatakan, untuk tahun ini BEI hanya mengeluarkan 5 saham tersebut sebagai underlying SSF, tetapi ke depan tidak menutup kemungkinan seluruh saham konstituen LQ45 akan dikeluarkan secara bertahap dari underlying SSF.
Momentum Evaluasi Layanan Transportasi
Kasus mengenai pilot dan kopilot yang tertidur bersamaan selama 28 menit ketika bertugas dalam sebuah penerbangan aktif layak menjadi perhatian. Insiden ini menyisakan berbagai macam tanda tanya sekaligus kekhawatiran, khususnya bagi masyarakat pengguna penerbangan maupun pengguna transportasi umum lainnya. Apalagi hal ini mengemuka menjelang puncak penggunaan transportasi publik pada masa mudik Lebaran dan arus balik beberapa pekan yang akan datang. Kasus ini mula-mula terungkap ke publik dari laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Komite yang menangani keselamatan transportasi itu menerbitkan laporan tentang adanya pilot dan kopilot sebuah maskapai penerbangan yang tertidur dalam penerbangan dari Kendari ke Jakarta. Pesawat sempat melenceng jauh dari jalur yang seharusnya. Berdasarkan dokumen KNKT Safety Recommendation Number 04.O-2024-02.01 and 04.O-2024-02.02, komite tersebut melaporkan investigasi atas insiden yang terjadi pada Kamis (25/1). Dokumen penyelidikan itu ditandatangani oleh Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono tertanggal 27 Februari 2024. Kementerian Perhubungan selaku regulator telah merespons insiden ini. Kemenhub menyatakan memberikan teguran keras kepada maskapai penerbangan terkait. Selain itu, Kemenhub juga menyatakan akan melakukan investigasi secara khusus terkait kasus ini. Menurut Kemenhub, kru pada penerbangan bernomor BTK6723 itu juga telah di-grounded sesuai SOP internal untuk investigasi lebih lanjut. Regulator menyatakan maskapai perlu memperhatikan waktu dan kualitas istirahat pilot dan awak pesawat lainnya, yang mempengaruhi kewaspadaan dalam penerbangan. Pengamat menyatakan pilot tidur dalam penerbangan jarak jauh adalah biasa, akan tetapi tidak lazim pada penerbangan jarak kurang dari 4 jam, apalagi pilot dan kopilot tidur bersamaan ketika bertugas. Apakah ini semata-mata kelalaian individu, atau ada kaitan dengan prosedur kerja, beban kerja, maupun tata kelola sumber daya manusia yang perlu dikaji ulang oleh maskapai penerbangan. Dengan demikian, kasus serupa tidak dapat terulang kembali. Untunglah bahwa kali ini tidak sampai ada korban maupun kerusakan dalam insiden tersebut. Dunia penerbangan termasuk bidang yang memiliki aturan-aturan yang relatif lebih ketat dibandingkan bidang lain seperti transportasi darat semacam bus atau travel.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









