;
Kategori

Ekonomi

( 40465 )

Arus Mudik Memuncak pada 8 April, Arus Balik 14 April

18 Mar 2024

Arus mudik pada Lebaran 2024 diperkirakan berlangsung dalam tiga gelombang dengan puncaknya pada 8 April alias H-2. Adapun puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 14 April atau H+3. Perkiraan ini merupakan hasil survei yang digelar Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub. Survei dilakukan secara daring terhadap 48.372 responden di 38 provinsi. Margin of error survei ini +/- 0,46 %. Laporan hasil survei bertajuk ”Potensi Pergerakan Angkutan Lebaran Tahun 2024” dipaparkan Kemenhub bersama pemangku kepentingan terkait pada konferensi pers secara daring, Minggu (17/3). Merujuk hasil survei, puncak arus mudik akan terjadi pada H-2 Lebaran atau Senin (8/4). Sebanyak 13,7 % responden mewakili 26,6 juta orang akan bepergian pada gelombang ini.

Gelombang berikutnya terjadi pada 6 April atau H-4 Lebaran. Sebanyak 11,9 % responden mewakili 23,2 juta orang akan melakukan perjalanan. Gelombang ketiga terjadi 7 April atau H-3 Lebaran dengan 11,94 % responden atau 23,1 juta orang akan melakukan perjalanan. Sementara itu, ledakan arus balik diprediksi terjadi pada H+3 Lebaran atau Minggu (14/4). Sebanyak 21,16 % responden mewakili 40,99 juta orang diperkirakan kembali ke perantauan. Guna mengantisipasi lonjakan pergerakan masyarakat, Kemenhub melakukan persiapan secara operasional serta melalui kebijakan pengendalian dan pengaturan transportasi.

Penanganan komprehensif antarinstansi, baik pemerintah maupun swasta, juga dilakukan. Menhub Budi Karya Sumadi menyatakan, Kemenhub bersama Korps Lalu Lintas Polri serta Kementerian PUPR telah menerbitkan surat keputusan bersama (SKB) pada Selasa (5/3). SKB itu memuat pengaturan lalu lintas jalan serta penyeberangan selama masa arus mudik dan balik angkutan Lebaran 2024. SKB juga mengatur pembatasan angkutan barang. Hasil survei juga menunjukkan, 71,7 % responden akan mudik pada Lebaran kali ini. Angka tersebut setara 193,6 juta orang. ”Ini mengindikasikan terdapat kecenderungan peningkatan minat masyarakat untuk mudik Lebaran pada 2024 jika dibandingkan dengan tahun 2023 yang sebesar 123,8 juta orang,” kata Budi Karya. (Yoga)

RAMADHAN DI LUAR NAGERI, Walau Dingin dan Sepi, Kami Tetap Berpuasa

18 Mar 2024

Di tengah suhu awal musim semi di negara-negara belahan bumi utara yang dingin, sejumlah diaspora Indonesia tetap memantapkan niat berpuasa. Berstatus sebagai pendatang sekaligus kelompok agama minoritas di Barat membuat suasana bulan Ramadhan nyaris tidak terasa. Akan tetapi, semua dijalani dengan ikhlas. ”Sekarang ada tarhib Ramadhan di Frankfurt. Lumayanlah untuk menambah keceriaan suasana bulan puasa,” kata Ashleika Adelea, warga negara Indonesia yang sejak tahun 2016 tinggal di Frankfurt, Jerman, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (13/3). Untuk pertama kalinya, kota Frankfurt mengizinkan berbagai atribut Ramadhan menghiasi sejumlah kawasan, terutama di Jalan Grosse Bockenheimer. Pemerintah Kota Frankfurt mengatakan, pemasangan pernak-pernik Ramadhan ini adalah pengakuan keberadaan komunitas Muslim sebagai bagian dari masyarakat kota itu, sekaligus merayakan kemajemukan di masyarakatnya (Kompas.id, 8/3/2024).

”Ramadhan sekarang jadwalnya mirip dengan di Indonesia. Waktu imsakiah pukul 05.00 dan berbuka pukul 08.30,” ucap Ashleika. Suhu musim semi di Frankfurt 8 derajat celsius dari malam hingga pagi dan 15 derajat celsius pada siang hingga sore. Namun, lanjutnya, ada pergeseran waktu pada 10 hari terakhir Ramadhan karena waktunya berganti dari waktu Eropa Tengah menjadi waktu musim panas Eropa Tengah. Artinya, waktu berkegiatan aktif mundur dua jam. Waktu berbuka puasa nanti pukul 20.30. Menurut Ashleika, ini masih normal dibandingkan dengan berpuasa saat musim panas. Dari segi beribadah, Ashleika mengatakan juga cukup mudah. Di Frankfurt, para warga negara Indonesia (WNI) mendirikan yayasan yang memiliki satu masjid. Saat ini, masjid itu masih menyewa satu lantai di gedung perkantoran. Yayasan masih mencari bangunan atau lahan yang bisa menjadi tempat permanen masjid Indonesia.

Cerita berbeda dialami Ditha Nursanti, WNI yang merantau di Muenchen. Meskipun sama-sama berada di Jerman, suasana kota Muenchen berbeda dengan Frankfurt. Hawa Ramadhan tidak terasa di kota itu. Puasa menjadi kegiatan yang sangat pribadi karena komunitas Muslim di Muenchen relatif lebih kecil. Kegiatan buka bersama komunitas Muslim, misalnya, hanya mungkin dilakukan pada Minggu, bukan harian seperti di masjid-masjid di Frankfurt. ”Memotivasi diri pada bulan Ramadhan justru dengan merencanakan kegiatan puasa sehari-hari. Saya mencari resep-resep unik di internet mengenai menu yang cocok untuk sahur dan berbuka,” ucap Ditha. Jika ada waktu, ia dan teman-temannya menyempatkan untuk berbuka bersama di restoran. Berpuasa sendirian seperti ini merupakan pengalaman yang umum dialami mahasiswa Indonesia di negara-negara lain. Ketiadaan orang lain membuat diri harus berdisiplin.  (Yoga)

Investasi Adil, Solusi Atasi Pengungsi

18 Mar 2024

Bersama Jordania dan Iran, Turki menempati peringkat teratas sebagai penampung pengungsi. Dari 108 juta pengungsi, menurut data Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), 10 juta ada di tiga negara tersebut. Bahkan, Uganda dan Etiopia menampung hampir 2,5 juta pengungsi. Dari berbagai lokasi penampungan sementara itu, pengungsi bergerak menuju negara-negara lain yang dianggap lebih aman. Sejumlah pihak mendapat uang banyak dari pengangkutan pengungsi dan imigran gelap. Dilaporkan The Australian Financial Review pada Minggu, Corporate Travel Management akan mendapat untung besar dari jasa akomodasi dan transportasi pencari suaka Inggris. Perusahaan Australia itu memenangi kontrak 2 miliar USD untuk mengurus para pencari suaka di Inggris.

Indonesia dan sejumlah negara menekankan penyelesaian masalah pengungsi harus melihat akarnya. Pada kasus Rohingya, Suriah, dan Afghanistan, akarnya adalah kekerasan di kampung halaman. Pada kondisi tersebut, keamanan harus dihadirkan di kampung asal para pengungsi. Rasa terancam mendorong orang  terpaksa mengungsi keluar dari kampung halamannya. Pendorong lain orang meninggalkan kampung  halaman adalah kondisi ekonomi. Hasrat mencari penghasilan lebih baik mendorong orang merantau. Pada kondisi ini, pemberian suaka hanya salah satu solusi sementara. Solusi jangka panjangnya dengan menggerakkan perekonomian di negara asal pengungsi dan pencari suaka. Investasi adil secara ekologi dan sosial menjadi salah satu cara.

Aspek keadilan itu penting sebab sebagian investasi tidak membawa peningkatan kesejahteraan bagi warga di sekitar lokasi penanaman modal. Porsi terbesar manfaat investasi kembali ke negara asal investor atau setidaknya kota besar di negara lokasi investasi. Warga di sekitar lokasi penanaman modal dilibatkan sekadarnya pada aktivitas ekonomi dari investasi itu. Sebagian hanya menjadi buruh berupah rendah. Sebagian lagi mendapatkan tetesan dengan membuka warung makan atau menyediakan persewaan tempat tinggal. Jika kue manfaat investasi diberikan lebih besar untuk warga sekitar, hasrat merantau berpeluang ditekan. Buat apa merantau kalau di kampung halaman bisa kerja bergaji baik dan hidup tenang. (Yoga)

Kolaborasi Tak Haram di Otomotif

18 Mar 2024

Honda dan Nissan telah mengumumkan kemitraan strategis untuk mengembangkan kendaraan listrik. Kolaborasi dipicu oleh persaingan sengit industri otomotif yang memang keras dan kolaborasi memang tidak diharamkan dalam industri otomotif. Pemimpin pasar pun hadir silih berganti. Tesla, misalnya, baru ikut bertarung pada era 2000-an, tetapi telah mencatatkan diri sebagai perusahaan otomotif dengan kapitalisasi terbesar di dunia. Lahir pada era yang sama, BYD, perusahaan otomotif asal China, baru-baru ini dinobatkan sebagai ”pembunuh” Tesla dengan teknologi yang tak kalah canggihnya, dengan harga lebih bersahabat. Tesla dan BYD adalah dua nama besar yang kini telah singgah di hati pengguna dan penggila otomotif. Seiring bermunculannya mobil listrik terkini, kita makin mengenal pendatang-pendatang baru mulai dari Wuling, Great Wall Motors, Nio, Xpeng, Geely, hingga kelak Xiaomi.

Kendaraan asal pabrikan baru itu, terutama dari China, makin hari makin mengisi garasi rumah-rumah warga. Bahkan, di Eropa, jalan protokol tidak lagi hanya dilintasi oleh Mercedes-Benz, BMW, VW, Audi, atau Fiat.Demikian juga di Asia. Toyota, Honda, Suzuki, Daihatsu, mulai tergantikan dengan kendaraan-kendaraan asal China. Tidak ingin tergusur begitu saja, Honda dan Nissan memutuskan bersinergi membangun kendaraan listrik. Kedua pabrikan ini menyadari membangun mobil listrik tidak dapat dikerjakan dalam semalam. Percepatan harus dilakukan. Membangun kendaraan listrik harus disertai pembuatan perangkat-perangkat lunak.  Kolaborasi tidak hanya soal modal, tetapi terkait pengalaman, visi, bahkan hingga gairah, passion. Gairah dari seorang Carroll Shelby hingga Elon Musk, misalnya, mampu menggerakkan industri otomotif dunia. (Yoga)

Menjaga Inflasi Pangan

18 Mar 2024

Setiap memasuki bulan Ramadhan harga kebutuhan pangan selalu naik. Pengalaman empiris menunjukkan harga kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) akan terus naik hingga Lebaran tiba. Salah satu pemicunya, meningkatnya permintaan masyarakat. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis BI, 6 Maret 2024, melaporkan kenaikan harga beberapa komoditas pangan, antara lain, bawang putih, semua jenis beras dari kualitas bawah hingga kualitas super, cabai rawit hijau, gula pasir lokal dan premium, serta minyak goreng curah. Kenaikan harga paling signifikan terjadi pada komoditas daging ayam ras segar Rp 38.900 per kg, naik Rp 1.200 per kg atau 3,18 %. Disusul telur ayam ras segar Rp 31.750 per kg, naik Rp 850 per kg atau 2,75 %.

Meski menunjukkan tren melandai setelah mengalami kenaikan cukup signifikan selama beberapa bulan terakhir, harga beras masih sangat tinggi, dalam kisaran Rp 14.500-Rp17.300 per kg. Kenaikan harga beras menjadi penyumbang utama angka inflasi bulan Februari 2024. BPS melaporkan, inflasi Februari 2024 sebesar 0,37 %. Penyumbang inflasi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi1 % dengan andil 0,29 %. Ada dua alasan pemerintah harus menjaga angka inflasi pada angka yang rendah. Pertama, inflasi yang tinggi akan menggerus daya beli masyarakat miskin. Apalagi jika pemicu inflasi itu adalah naiknya harga kelompok volatile food seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir. Belanja pangan keluarga miskin menyumbang 60 % total pengeluaran mereka. Kedua, inflasi yang tinggi akan mendongkrak suku bunga dan membuat nilaitukar rupiah terpuruk.

Pemerintah melalui unit-unit kerjanya perlu lebih terlibat dalam penguatan stok penyangga pangan. BUMN dan BUMD menjadi off taker beberapa komoditas pangan strategis untuk dijadikan stok penyangga dengan volume dan lokasi penyimpanan yang jelas. Pemerintah perlu memetakan puncak kebutuhan pangan terukur untuk mengantisipasi gejolak harga. Melalui pengaturan kalender tanam komoditas sayuran, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah, dapat diatur kapan waktu panennya. Saatnya Perum Bulog juga menjadi pelaku produksi pangan dan penguat stok penyangga berbagai komoditas pangan, serta off taker komoditas pangan strategis, seperti kedelai, tebu, komoditas hortikultura, dan komoditas pangan penting lain. Tim pemantau dan pengendali inflasi daerah dapat melakukan langkah strategis untuk stabilisasi harga pangan melalui berbagai instrumen, seperti operasi pasar dan penyelenggaraan pasar murah. Semua ini diharapkan dapat membantu menjaga inflasi karena meningkatnya harga pangan. (Yoga)

Konsesi Penambangan Pasir Laut Mulai Ditawarkan

18 Mar 2024

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menawarkan penambangan pasir laut kepada para pengusaha. Lokasi eksploitasi tersebar di Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Natuna-Natuna Utara.  Potensi hasil sedimentasi laut itu mencapai 17,64 miliar meter kubik. Penetapan lokasi penambangan itu mengacu pada PP No 26 Tahun 2023 tentang Pengelola-an Hasil Sedimentasi di Laut berikut aturan turunannya. Aturan yang dimaksud adalah Peraturan Menteri KP No 33 Tahun 2023 dan Keputusan Menteri KP No 16 Tahun 2024 tentang Dokumen Perencanaan Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut.

Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono mengemukakan, penetapan lokasi pemanfaatan sedimentasi laut itu telah melalui koordinasi dengan sejumlah pihak dan kajian ilmiah. KKP mempersilakan pelaku usaha memanfaatkan hasil sedimentasi yang ada. Pendaftaran berlaku sampai dengan 28 Maret 2024. Pemasukan dokumen persyaratan dimulai sejak diumumkan sampai dengan tanggal berakhirnya pengumuman. ”Pelaku usaha yang dimaksud memiliki kriteria bergerak di bidang pembersihan hasil sedimentasi di laut dan pemanfaatan hasil sedimentasi di laut, serta memiliki peralatan dengan teknologi khusus,” ujar Trenggono dalam siaran pers, akhir pekan lalu. (Yoga)

Ekspor Manufaktur Triwulan I-2024 Diperkirakan Turun

18 Mar 2024

Sejalan dengan tren melemahnya permintaan global, performa ekspor industri pengolahan nasional pada triwulan pertama I-2024 diperkirakan turun dibanding periode sama tahun lalu. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memperkirakan, kinerja ekspor industri pengolahan pada triwulan I-2024 akan turun dibandingn periode yang sama tahun lalu. ”Kinerja ekspor bakal lesu,” ujarnya yang dihubungi Minggu (17/3). Benny menjelaskan, penurunan ini disebabkan melemahnya permintaan dari negara tujuan ekspor seiring melambatnya perekonomian global. Namun, Benny meyakini Indonesia masih akan mencatat surplus neraca perdagangan pada triwulan I-2024. Alasannya, impor Indonesia juga akan turun, baik volume maupun harga.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, kinerja ekspor industri pengolahan triwulan I-2024 kemungkinan besar akan turun atau stagnan. Menurut Shinta, hal ini karena tidak ada tanda-tanda peningkatan permintaan yang signifikan di pasar tujuan ekspor utama. Selain itu, Shinta juga tidak melihat ada peningkatan diversifikasi tujuan ekspor yang signifikan. Indikasi penurunan kinerja ekspor industri pengolahan pada triwulan I-2024 sudah terendus dari data ekspor dua bulan pertama tahun ini. Berdasarkan data BPS, ekspor Industri pengolahan pada dua bulan pertama tahun ini mencapai 28,66 miliar USD atau lRp 446,93 triliun, turun 11,49 % dibanding periode yang sama pada 2023. (Yoga)

Belanja Masyarakat Saat Ramadhan Meningkat

18 Mar 2024
Dekorasi bertema Ramadhan dan Lebaran nampak menghiasi etalase gerai pakaian di pusat perbelanjaan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (16/3/2024). Bulan Ramadhan selalu diharapkan bisa meningkatkan penjualan dibandingkan bulan-bulan biasanya sebagaimana terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan ini diharapkan bisa dirasakan berbagai sektor ekonomi  ritel, mulai dari makanan-minuman, busana, gerai toko kebutuhan sehari-hari, hingga usaha lainnya, seperti parsel atau hamper. (Yoga)

Berburu Manisnya Takjil yang Meluruhkan Sekat

18 Mar 2024

Ramadhan tahun ini ada fenomena baru yang seru, yakni war takjil lintas agama. Berburu takjil di pasar kini tak hanya dilakukan warga Muslim yang sedang berpuasa, tetapi warga lain dari beragam agama. Fenomena ini ternyata meluruhkan sekat suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. Belakangan ini, Clara (24) sering memperhatikan jam tangan atau jam dinding ruang kerjanya di perkantoran kawasan Jakpus, pikirannya bukan soal kapan jam kerja berakhir atau waktunya pulang. Warga Rawa Belong, Jakbar ini memikirkan jeli, puding, dan agar-agar yang dijajakan penjual takjil. Dia tak sabar untuk membelinya dan berbuka puasa bersama teman-teman Muslim.

”Ikut berburu takjil, tetapi tidak ikut puasa. Enggak tahu kenapa, jajanan yang dijual saat Ramadhan lebih menarik dan menggoda,” seloroh Clara, Minggu (17/3). Andini (27) juga merasakan hal yang sama. ”Heboh, semangat cari takjil. Padahal, saya yang puasa anteng-anteng saja. Tapi di situ keseruannya,” ujar Andini. Selain berburu takjil, teman-temannya yang tak berpuasa juga antusias untuk buka puasa bersama. Mereka semangat merekomendasikan tempat dan menu yang pas bagi semua. ”Biasanya satu kali seminggu. Dibayari kantor, gratis. Pastinya semua senang,” kata Andini sembari tertawa. Keriuhan berburu takjil hingga buka puasa bersama juga merambat ke jagat maya. Warganet menyebut berburu takjil sebagai ”war takjil”. yang jadi topik hangat, seperti di X, dulu Twitter. Utas @FashionReco,

”Berburu takjil, persaingan lintas agama-a thread-”. Utas berisi potongan tangkapan layar tentang berburu takjil yang bernuansa candaan atau gurauan telah dilihat 1,4 juta kali, dicuitkan 816 kali, ditandai 702 kali, dan disukai 11.000 kali. Ramadhan membawa berkah bagi semua warga, baik yang berpuasa maupun tidak. Mereka sama-sama kecipratan rezeki, seperti Vicky Amelia (28), warga non-Muslim yang berjualan takjil di Pasar Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jaksel. Di lapak berukuran 1 meter x1meter dia menjajakan kolak pisang, biji salak, martabak, lontong sayur, dan oncom, risol, serta berbagai penganan berbuka lainnya.

Sejak subuh, Vicky sudah berbelanja di Pasar Minggu hingga meracik berbagai makanan mulai pukul 06.00 dibantu dua pegawai yang melaksanakan ibadah puasa. “Biasanya pukul 15.00 sudah banyak konsumen yang datang. Kami tidak ingin kehilangan momen,” kata Vicky. Di Pasar Rawajati juga ada puluhan lapak nenjajakan takjil di kanan dan kiri jalan. Ratusan pembeli tumpah ruah berburu takjil. Di tahun pertama membuka usaha jualan takjil, Vicky mendapatkan omzet lumayan. Dalam satu hari, dia bisa mengantongi Rp 1,5 juta dengan keuntungan bersih Rp 400.000. Erni (45), salah satu pegawai Vicky, cukup terbantu dengan usaha ini. Dalam sehari, ia memperoleh upah Rp 100.000. Uang itu ditabung untuk  pulang kampung ke Sukabumi, Jabar, pada Idul Fitri nanti. (Yoga)

Penganggur Berlimpah, Gen Z Gerah dengan Pameran Kemewahan

18 Mar 2024

Warganet, terutama kelompok anak muda yang masuk dalam generasi Z, merasa bahwa para pemengaruh media sosial tidak hidup di dunia yang dihuni warga kebanyakan. Fakta ada jutaan penganggur di antara mereka membuat generasi Z lelah dan gerah dengan pameran itu. Produsen perlu menimbang ulang strategi pemasaran mereka. Apalagi, ada gerakan de-influencing. Dalam laporan Yahoo News pada Sabtu (16/3) 53 % generasi Z kini memilih mengonsumsi sesuatu berdasarkan rekomendasi orang biasa. Adapun 43 % generasi Z atau gen Z menganggap kekuatan pemengaruh (influencer) sudah berkurang pada mereka. ”Dulu saya suka mereka. Lalu, saya sadar betapa tidak realistisnya setiap hari hanya ke pusat kebugaran atau membeli berbagai hal mahal. Saya sadar, kebanyakan orang di sekitar saya kesulitan untuk hidup sederhana sekalipun,” kata Emma (16) kepada majalah Vogue.

Majalah gaya hidup itu melaporkan, pada 2022, sebanyak 28 % pengguna Tiktok membeli karena terpengaruh para pemilik akun besar di pelantar itu. Sekarang, semakin sedikit orang membeli barang-barang yang dipromosikan para pemenga ruh itu. Intinya, orang-orang merasa diperas agar para pemengaruh itu bisa hidup mewah. Para pemengaruh mempromosikan barang-barang mahal. Padahal, orang-orang sedang kesulitan, antara lain akibat inflasi tinggi di AS dan sejumlah negara. Kemarahan itu diungkap saat puluhan juta orang di AS kesulitan akibat lonjakan inflasi. Mengacu pada data Organisasi Buruh Internasional (ILO), sebanyak 5,3 % angkatan kerja global 2024 menganggur. Di China, setidaknya 13 juta generasi muda jadi penganggur. Sebagian amat frustrasi karena tidak kunjung diterima kerja meski sudah mengirimkan ratusan lamaran. Di sejumlah negara lain, fenomena itu juga terjadi.  Fakta itu membuat cara pemasaran dengan memanfaatkan pemengaruh menjadi tidak relevan.

Para pemengaruh menyajikan gaya hidup mewah. Sementara itu, kebanyakan pengguna media sosial hidup susah payah. Kemarahan orang-orang tidak hanya ditunjukkan lewat komentar di unggahan pada pemengaruh. Sebagian juga membuat unggahan yang mengajak orang berpikir ulang sebelum membeli aneka hal yang dipromosikan pemengaruh. Fenomena itu dikenal sebagai de-influencing. Analis media sosial pada Ruby Media Group, Kris Ruby, menyebut fenomena itu memberi pendapat tandingan atas aneka promosi dan dukungan di media sosial. Pada dasarnya gerakan ini mencoba mengingatkan konsumen untuk tidak membeli produk tertentu hanya karena dipromosikan oleh pemengaruh. Padahal, produk itu dinilai kurang berguna atau nilainya tidak sepadan dengan harga yang dibayarkan. Tren ini mendorong konsumen untuk mempertimbangkan apakah mereka membutuhkan produk itu sebelum membelinya. (Yoga)