Kolaborasi Tak Haram di Otomotif
Honda dan Nissan telah mengumumkan kemitraan strategis untuk
mengembangkan kendaraan listrik. Kolaborasi dipicu oleh persaingan sengit industri
otomotif yang memang keras dan kolaborasi memang tidak diharamkan dalam industri otomotif. Pemimpin pasar pun hadir silih berganti. Tesla,
misalnya, baru ikut bertarung pada era 2000-an, tetapi telah mencatatkan diri
sebagai perusahaan otomotif dengan kapitalisasi terbesar di dunia. Lahir pada
era yang sama, BYD, perusahaan otomotif asal China, baru-baru ini dinobatkan
sebagai ”pembunuh” Tesla dengan teknologi yang tak kalah canggihnya, dengan
harga lebih bersahabat. Tesla dan BYD adalah dua nama besar yang kini telah singgah
di hati pengguna dan penggila otomotif. Seiring bermunculannya mobil listrik
terkini, kita makin mengenal pendatang-pendatang baru mulai dari Wuling, Great
Wall Motors, Nio, Xpeng, Geely, hingga kelak Xiaomi.
Kendaraan asal pabrikan baru itu, terutama dari China, makin
hari makin mengisi garasi rumah-rumah warga. Bahkan, di Eropa, jalan protokol
tidak lagi hanya dilintasi oleh Mercedes-Benz, BMW, VW, Audi, atau Fiat.Demikian
juga di Asia. Toyota, Honda, Suzuki, Daihatsu, mulai tergantikan dengan kendaraan-kendaraan
asal China. Tidak ingin tergusur begitu saja, Honda dan Nissan memutuskan
bersinergi membangun kendaraan listrik. Kedua pabrikan ini menyadari membangun
mobil listrik tidak dapat dikerjakan dalam semalam. Percepatan harus dilakukan.
Membangun kendaraan listrik harus disertai pembuatan perangkat-perangkat lunak.
Kolaborasi tidak hanya soal modal, tetapi
terkait pengalaman, visi, bahkan hingga gairah, passion. Gairah dari seorang
Carroll Shelby hingga Elon Musk, misalnya, mampu menggerakkan industri otomotif
dunia. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023